
Jam menunjukkan pukul 11:00 ketika Pradha keluar dari rumah sakit. Hari itu, entah mengapa dia ingin sekali memakan pai susu buatan Astika. Pradha pun segera memesan taksi online dan bergegas menuju toko oleh-oleh sepupunya itu.
Hormon kehamilan memang membuat suasana hati Pradha tidak baik-baik saja. Dia akan langsung menginginkan sesuatu secara menggebu, tetapi biasanya dalam sekejap keinginan tersebut seakan menguap ke udara.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke toko oleh-oleh Astika. Pradha tersenyum lebar ketika membayangkan gurihnya kulit pai dengan lelehan coklat yang akan lumer di dalam mulut. Akan tetapi, Pradha mengerutkan dahi ketika mendapati mobil Abi ada di depan toko sang adik sepupu.
"Mobil Abi?" Mata Pradha melebar seraya menunjuk plat mobil tersebut.
Pradha pun langsung masuk ke toko tersebut. Ketika seorang pegawai hendak menyapanya, Pradha menempelkan telunjuk di depan bibir. Dia lalu melambaikan tangan meminta pegawai adik sepupunya itu mendekat.
"Ada apa, Mbok?" tanya Murti.
"Aku melihat mobil kenalanku di depan. Toko sedang sepi, dan sepertinya tidak ada pengunjung. Apa Astika memiliki tamu?" tanya Pradha dengan suara lirih.
"Oh, ada. Bli Abi, pacar Mbok Astika yang datang."
"Pacar?" Pradha pun mengerutkan dahi setelah mendengar pernyataan dari Murti.
"Iya, Mbok. Kenapa? Kok sepertinya Mbok Pradha terkejut?"
"Ng-nggak! Itu ...." Pradha berpikir sejenak berusaha mencari alasan yang tepat kenapa mimik wajahnya berubah.
"Ah, ya! Aku dengar Abi itu playboy! Kok Tika mau sama cowok brengsek seperti dia? Sejak kapan mereka berpacaran?" dalih Pradha.
"Sudah lama, Mbok. Sekitar 5 tahun yang lalu!"
Mata Pradha membulat sempurna. Jika benar keduanya menjalin hubungan selama itu, artinya Abi sudah mengkhianati Praba sejak lama. Jemari Pradha mengepal seketika.
"Dari mana Mbok Pradha tahu? Bli Abi itu orang yang baik kok!" protes Murti.
"Benarkah?" Pradha tersenyum miring melihat Murti yang tetap teguh dengan pendapatnya mengenai Abi.
Murti pun mengangguk antusias seraya menatap sinis ke arah Pradha. Jelas terlihat bahwa gadis itu tidak menyetujui ucapan Pradha mengenai Abi.
"Mereka ada di mana?" tanya Pradha.
"Ada di sudut sana," tunjuk Murti.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, Mur. Kembalilah bekerja!"
Pradha pun segera melangkah ke arah sudut ruangan. Dia mengintip dari balik rak tinggi yang berisi pai susu, serta oleh-oleh lain khas Pulau Dewata. Perempuan cantik itu terbelalak.
Ternyata benar apa yang sudah diceritakan oleh Murti. Pradha melihat Abi sedang mengobrol dengan Astika sambil saling bergandengan tangan. Bahkan dengan sepasang telinganya sendiri, dia mendengar langsung niat jahat kedua orang itu.
Pradha tidak masalah jika dirinya dijadikan alat oleh pasangan sialan itu untuk mengetuk harta sang ayah. Akan tetapi, Pradha sangat geram ketika mengetahui bahwa keduanya telah berpacaran sejak Pradha masih hidup.
"Dasar pengkhianat!"
Setelah Abi beringsut dari tempat itu, barulah Pradha menempati kursi yang tadi diduduki oleh mereka. Alangkah terkejutnya Astika ketika mendapati Pradha sudah ada di dalam tokonya.
"Kak Pradha?" Mata Astika membulat dengan alis terangkat maksimal.
"Kenapa? Terkejut?" Pradha beranjak dari kursi kemudian berjalan mendekati Astika yang masih mematung di tempat.
"Kamu yang berhasil mengejutkanku dengan banyak kebohongan itu, bisa terkejut hanya karena aku ada di sini? Kamu memang aneh luar biasa, Tik!" Pradha tersenyum miring seraya menatap kesal gadis di hadapannya itu.
"Apa maksudmu, Kak?"
"Nggak usah banyak tanya! Hatimu ternyata tak sepolos wajahmu! Kamu iri, dan berusaha merampas kebahagiaan kami dengan cara kotor? Aku rasa sampah pun masih terlalu bersih untuk mengungkapkan cara berpikirmu itu!"
"Aku pastikan besok kamu akan kehilangan satu-satunya harta berhargamu yang kamu punya! Tapi tenang, aku tidak akan merebut bibi, karena aku yakin orang sepertimu tidak akan pernah menganggap beliau sebagai harta berhargamu." Pradha menaikkan satu alis, kemudian berjalan melewati Astika seraya menabrakkan bahunya dengan bahu perempuan itu.
Ketika sampai di luar toko, Pradha kembali menghubungi taksi online. Perempuan cerdas itu mulai mencari informasi tentang pemilik gedung yang kini dipakai untuk berjualan Astika.
Usai menemukan siapa pemilik asli bangunan itu, Pradha pun segera menghubunginya. Dia ingin membeli gedung tersebut, agar Astika angkat kaki, dan usahanya tutup. Setelah melalui perdebatan yang lumayan alot, akhirnya Pradha berhasil membeli bangunan itu dengan harga yang lumayan tinggi.
***
Dua hari kemudian ....
"Apa!" Abi yang sedang beristirahat di tengah kegiatannya memandu murid SMA berwisata pun berteriak.
Lelaki tersebut mendengar kabar bahwa sang kekasih dipaksa untuk meninggalkan gedung karena sudah berpindah tangan. Selain itu, Astika juga menceritakan bahwa sebelumnya Pradha telah menemuinya dan mengancam bahwa akan mengambil harta berharganya. Dari sanalah Abi menarik kesimpulan bahwa ini semua adalah ulah Pradha.
"Ini pasti ulah Pradha! Awas saja aku akan memberinya pelajaran!" seru Abi setelah mematikan panggilannya dengan sang kekasih.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Abi meninggalkan pekerjaannya sementara waktu. Dia meminta teman lain untuk menggantikannya sebentar. Lelaki itu segera melajukan mobil, dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Abi langsung menggedor keras pintu kamar Pradha. Tak elak, lelaki yang ternyata memiliki sifat temperamen itu meneriakkan nama Pradha berulang kali karena Pradha tak kunjung membukakan pintu.
"Pradha, Keluar kamu!"
Pradha yang mulai terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan oleh Abi pun, akhirnya membuka pintu kamarnya. Dia melipat lengan di depan dada dan memutar bola mata ketika menatap sang suami.
"Kenapa? Ganggu tidur siangku saja!"
"Kembalikan toko milik Astika!" gertak Abi.
"Toko Astika? Toko yang mana ya? Memangnya dia punya toko?" Pradha berbicara seraya menatap kuku jarinya sendiri.
"Halah! Kamu nggak usah pura-pura! Kamu membeli toko itu untuk mengganggu Astika, bukan?"
"Mengganggu Astika? Bukankah sebenarnya dia yang sudah mengusik hidupku?" Pradha tersenyum miring, dan kini perempuan itu menatap Abi sambil menyipitkan mata.
"Perempuan bernama Astika itu sungguh tidak tahu diri! Aku ingin mengingatkannya saja, kalau hukum karma berlaku. Dia berusaha merampas kebahagiaan Praba serta aku, hanya karena iri dengan kehidupan kami? Konyol sekali!"
Abi terus menatap tajam Pradha. Tubuhnya gemetar karena mencoba menahan gejolak amarah terhadap Pradha. Rahang lelaki itu mengeras, dan kedua telapak tangannya menggenggam erat.
"Dia sudah kami anggap seperti keluarga kandung. Astika juga gadis yang sangat polos kala itu. Jadi, bapak memutuskan untuk membantunya karena kehidupan yang menyedihkan . Tapi, apa balasannya? Dia justru menghancurkan keluarga kami!"
"Lalu haruskah kamu membalas semuanya? Bukankah berarti kamu sama saja dengan Astika?" Abi tersenyum miring, seakan mengejek keputusan Pradha untuk memberi pelajaran kepada Astika.
"Memangnya hanya Astika yang boleh melakukan hal buruk? Aku juga mau membalasnya secara langsung tanpa perantara Tuhan! Aku akan menghancurkan kehidupan Astika jauh lebih kejam dari apa yang bisa dia bayangkan!" teriak Pradha.
Abi yang geram mendengar ucapan Pradha pun akhirnya mendorong perempuan itu hingga tersungkur ke atas lantai. Pradha pun terjatuh dengan posisi terduduk. Sedetik kemudian, Pradha merasakan nyeri luar biasa pada perutnya.
Keringat dingin mulai mengucur membasahi dahi Pradha. Di tengah kesakitannya itu, Abi terus berbicara seraya menyumpahi gadis itu. Tubuh Pradha mulai gemetar karena menahan rasa sakit yang luar biasa para perutnya.
"To-tolong aku, Bi. Perutku sakit!" pinta Pradha seraya memegang perut.
"Hah? Setelah kamu berbuat keji kepada Astika, semudah itu kamu meminta tolong? Tidak akan!" Abi pun balik badan meninggalkan Pradha yang sedang merintih kesakitan sendirian.
...----------------...
__ADS_1
Holaaaa, sambil nunggu karya ini update, mampir ke sini juga yukkk!