
"Diketahui bahwa artis yang sedang naik daun, Pradha Ratnamaya sedang dalam kondisi pemulihan pasca operasi caesar. Dia melahirkan seorang anak yang dikabarkan berjenis kelamin laki-laki." Presenter kondang bernama Elsa Mayones sedang membuka percakapan dengan pembawa acara lain bernama Feniti Ira.
"Dan kamu tahu nggak, sih, El. Ternyata anak dari Pradha ini bukanlah hasil buah cintanya bersama sang suami."
Percakapan keduanya ditatap nanar oleh Pradha melalui layar televisi. Kini seluruh Indonesia tahu mengenai kehidupan pribadinya. Aibnya terbongkar sudah. Tidak ada lagi celah untuk bersembunyi.
Pradha tidak bisa menghindar. Dia terus menyalahkan diri sendiri karena hal ini. Kariernya yang baru seumur jagung hancur seketika. Kini hanya satu sumber kekuatan Pradha agar tetap kuat yaitu Nakastra, putranya.
Pradha menatap nanar putra kecilnya yang masih terlihat merah itu dari balik jendela ruang NICU. Dokter mengatakan bahwa ini adalah sebuah keajaiban karena Naka bisa bertahan selama ini. Sepanjang hari bayi mungil itu hanya tidur.
Tubuh Naka masih ditempeli dengan beberapa alat medis penunjang kinerja organ vitalnya. Sebenarnya dokter mengatakan kepada Pradha untuk mengikhlaskan putranya saja. Namun, Pradha bersikukuh untuk tetap mempertahankan Nakastra.
"Naka, bertahan ya, Nak. Cuma kamu satu-satunya yang Ibu punya. Tanpa kamu, Ibu tidak lagi memiliki alasan untuk berjuang hidup." Pradha mengusap kaca yang membatasi dirinya dengan sang putra seraya menitikkan air mata.
Tak lama kemudian Abi datang berkunjung. Satu minggu sudah dia mengabaikan Pradha, dan berkubang dalam kesedihannya. Lelaki itu melangkah berat mendekati sang istri.
Lengannya menggantung di udara karena hendak meraih bahu Pradha, tetapi tak sampai hati. Abi memutuskan untuk menatap punggung Pradha dalam diam. Menunggu sang istri balik badan dan menyadari keberadaannya.
Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah Pradha balik badan. Dia mengusap air mata dan memasang wajah datar ketika menatap Abi. Rasa bencinya kepada lelaki itu semakin besar.
"Ngapain kamu ke sini, Bi?" Pradha tersenyum miring.
"Kamu sudah puas melihatku hancur, 'kan?" Perempuan yang masih belum bisa berdiri tegap itu tertawa miris seraya memalingkan wajah.
"Maaf," ucap Abi lesu seraya menunduk.
Bahu lelaki tersebut merosot. Keangkuhan Abi beberapa waktu lalu musnah. Dia kembali mendongak kemudian melangkah maju, mendekati Pradha.
"Berhenti!" teriak Pradha.
"Aku bilang berhenti, Bi!" Pradha kembali berteriak karena melihat Abi yang terus melangkah maju dan mengabaikan ucapannya.
"Maafkan aku, Dha. Bisakah kamu memberikanku kesempatan untuk menjadi suami yang baik?"
"Apa? Suami? Sejak kapan kamu menjadi suamiku, Bi? Ingat hubungan kita hanya status! Aku akan mengajukan perceraian setelah mendapatkan bukti yang cukup!"
__ADS_1
"Dha, aku mohon jangan begini!" Abi mengangkat lengan berusaha menyentuh wajah cantik Pradha, tetapi langsung ditepis oleh perempuan cantik itu.
"Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!" Pradha melangkah meninggalkan Abi.
Pradha tak habis pikir dengan tingkah suaminya itu. Dia selalu berbuat buruk kepadanya. Namun, meminta kesempatan kedua darinya.
Baru beberapa langkah berjalan, Pradha berhenti. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Jemari perempuan itu mengepal erat, kemudian, mengeluarkan sebuah kalimat pedas kepada Abi.
"Kesempatan kedua yang kamu maksud apa? Kesempatan untuk membuatku tersiksa maksudmu, Bi? Nggak akan! Aku akan mengosongkan rumahku dari barang-barangmu setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit!" seru Pradha sebelum benar-benar pergi meninggalkan Abi.
Beberapa hari kemudian, Pradha diperbolehkan pulang. Dia susah payah untuk bisa keluar dari rumah sakit dan masuk ke rumahnya sendiri. Pradha dibantu oleh Rama untuk bisa pulang.
Pradha masuk melalui pintu belakang. Ketika sampai di rumah, ternyata Abi sudah mengosongkan kamarnya. Pradha tersenyum kecut mengetahui hal itu.
"Tahu diri juga Abi," gumam Pradha seraya menatap kamar Abi yang sudah kosong.
"Kamu istirahat saja dulu, Dha. Biar aku bantu bersihkan rumah."
Pradha mengangguk pelan, kemudian memilih untuk duduk di sofa ruang keluarga. Rama menuju dapur, membuatkan kekasihnya itu teh. Sambil menunggu Rama kembali menemaninya, Pradha pun membuka sosial media.
"Apa-apaan mereka! Mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi! Ke ala bisa bilang seperti ini." Pradha melempar ponselnya asal ke atas meja hingga menimbulkan suara yang lumayan keras.
"Kenapa, Dha?" Rama menghampiri Pradha dengan dua cangkir teh dalam genggaman.
"Ini, loh! Mereka bisa-bisanya nge-DM aku dan menyampaikan segala umpatan serta kebenciannya kepadaku." Pradha mengusap wajah kasar lalu menyandarkan tubuh pada kepala sofa.
Rama pun meletakkan cangkir berisi teh ke atas meja, lalu mengambil ponsel Pradha dari atas sana. Lelaki itu memeriksa semua pesan yang masuk. Dia sekarang paham betul bagaimana kondisi psikis Pradha.
"Abaikan saja, Dha."
"Bagaimana bisa aku mengabaikannya, Kak! Semua umpatan dan kata-kata kasar serta sumpah serapah mereka terus muncul di layar ponselku!" Pradha menarik rambutnya frustrasi.
Rama pun berinisiatif untuk menghapus semua media sosial yang dimiliki oleh Pradha. Setelah selesai menghapus semuanya, lelaki itu mengembalikan benda pipih tersebut kepada sang kekasih.
"Udah, nggak usah tengok-tengok lagi! Kamu butuh mental yang baik untuk berjuang buat Naka."
__ADS_1
"Iya, Kak. Cuma Naka yang bisa jadi alasanku untuk tetap berjuang." Pradha tertunduk lesu menatap ujung kaki.
"Jadi, aku bukan alasanmu untuk berjuang juga?" Rama mencebikkan bibir seraya membuang muka.
Pradha yang menyadari kalau salah bicara pun menepuk bibirnya berulang kali. Tak sampai di situ, perempuan cantik itu juga memukul pelan kepala bagian kirinya. Rama melirik ke arah Pradha dan tersenyum gemas.
Ketika Pradha menoleh ke arah Rama, lelaki itu mengulum lagi senyumnya. Dia kembali memasang mode merajuk. Pradha menarik pelan lengan Rama.
"Maaf, Kak. Bukan begitu maksudku. Aku ...."
"Nggak pa-pa, aku paham. Bagimu Naka sekarang adalah yang utama. Sebagai orang tua aku memahaminya. Mari kita berjuang bersama demi Naka." Rama menggenggam erat jemari sang istri sambil mengukir senyum lembut di bibirnya.
Pradha pun menghambur ke pelukan sang kekasih. Rama menyambut Pradha sambil mengusap lembut rambutnya. Sesekali lelaki tersebut mendaratkan kecupan pada puncak kepala Pradha.
Ketika mereka sedang saling menguatkan, tiba-tiba terdengar suara denting bel rumah. Rama melepaskan pelukan. Dia pun melangkah mendekati pintu dan membukanya.
"Siapa?" teriak Rama sambil menoleh ke kiri dan kanan.
Tidak ada siapa pun di luar rumah, sampai akhirnya terdengar deru motor yang menjauhi rumah Pradha. Rama melangkah menuju pagar, dan menemukan sebuah paket yang tergeletak di depan pagar rumah.
Rama mengerutkan dahi. Ketika menoleh ke arah si pengendara motor, orang tersebut sudah berbelok di ujung gang. Rama pun membawa kotak tersebut masuk ke rumah.
"Siapa, Kak?" tanya Pradha seraya menyusul Rama ke ruang tamu.
"Nggak tahu, dia meninggalkan kotak ini di depan rumah." Rama meletakkan kotak yang dia bawa ke atas lantai.
"Dari siapa, ya?" Pradha menautkan kedua alis seraya menebak-nebak siapakah orang yang mengirimkan kotak hitam dengan pita keemasan itu.
Pradha pun membuka kotak tersebut karena penasaran. Ketika kotak terbuka, Pradha berteriak setelah mengetahui isinya. Dia menghambur ke pelukan Rama sambil menangis sesenggukan.
"Kenapa, Dha?"
...----------------...
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya sahabat Chika yukk!
__ADS_1