Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 11. KDRT (Kecemburuan Dalam Rumah Tangga)


__ADS_3

Jalanan kota Denpasar siang itu masih seperti biasanya. Ramai lancar dan selalu terlihat panas. Abi masih sibuk bergelut dengan banyak prasangka yang ada dalam kepalanya. Dia akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Pradha.


"Aku penasaran, sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Kak Rama. Sejak kalian bertemu pertama kali, aku sudah merasakan sesuatu yang tidak normal."


Abi berusaha membuka pembicaraan. Pradha tidak menanggapinya, dia masih sibuk dengan ponselnya. Lelaki itu memutar bola mata karena sikap cuek sang istri.


"Dha, jawab!" bentak Abi.


"Bukankah sudah kutulis di surat perjanjian? Kita dilarang saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Hidupku, hidupku. Hidupmu, hidupmu."


"Tapi nggak gini juga, Dha! Ini namanya mempermainkan pernikahan!" Abi memukul roda kemudi sambil berteriak frustrasi.


"Salah siapa? Kamu kan yang meminta aku untuk ikut dalam permainan ini? Sejak awal aku ngajak kamu buat menentang pernikahan konyol ini! Tapi apa yang kamu lakukan?" Pradha tersenyum miring lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arah Abi.


"Kamu bersikukuh untuk tetap melanjutkan pernikahan ini! Bahkan kamu sudah bilang sejak awal kalau aku boleh melakukan apa pun sesuka hati, asalkan kita tetap menikah!"


Pradha menghempaskan tubuh pada sandaran kursi kemudian memejamkan mata. Dia berusaha bersikap santai karena merasa ada di posisi yang benar. Dia beranggapan, apa yang dia lakukan sah-sah saja.


"Tapi, nggak gini juga, Dha!"


"Sudahlah, aku capek. Malas membahas hal yang sama setiap kali bertengkar."


Pradha memilih untuk tetap memejamkan mata, sampai perjalanan keduanya berakhir. Abi membangunkan Pradha sebelum dia keluar dari mobil. Pradha pun menggeliat, dan akhirnya ikut turun setelah Abi masuk ke rumah.


"Aneh, sih! Dia bilang katanya terserah. Tapi, kenapa sekarang jadi selalu mengungkit apa yang aku lakukan?" gerutu Pradha hingga masuk ke kamar.


Jam menunjukkan pukul 17:00 ketika Pradha duduk di depan TV. Rambutnya yang basah masih terbungkus oleh handuk. Perempuan ini memakai setelan kaos lengan pendek dan juga celana pendek berwarna merah muda.


Abi yang melihatnya sekilas sempat menelan ludah. Dia tergoda karena melihat tubuh mulus sang istri. Mendadak kepalanya berdenyut karena hasrat yang mendadak bangkit.


"Dha, kalau ada aku di rumah jangan pakai pakaian begitu."


"Dih, ngapain ngurusin pakaianku? Suka-suka aku, dong! Mau pakai baju apa? Mau telanjang sekali pun aku rasa sah-sah saja!" seru Pradha tanpa menatap Abi.


Dia masih sibuk memasukkan keripik kentang ke dalam mulut, sambil menonton acara fashion show siaran stasoun TV luar negeri. Mendengar jawaban Pradha membuat Abi semakin ingin benar-benar menelanjangi perempuan itu.


Abi langsung mematikan televisi, sehingga membuat fokus Pradha berpindah kepadanya. Pradha beranjak dari sofa dan menghampiri Abi. Dia menengadahkan tangan untuk meminta remote televisi yang diambil alih oleh suaminya itu.


"Kemarikan!"


"Nggak! Ambil kalau bisa!" Abi mengangkat lengannya tinggi-tinggi.


"Apa-apaan sih kamu, Bi! Jangan kayak anak kecil, deh!"

__ADS_1


"Anak kecil, kamu bilang, Dha? Aku bukan anak kecil!"


Pradha tersenyum miring. Dia membuang wajah sekilas, lalu menatap kembali Abi dengan sorot mata mengejek.


"Mana ada orang dewasa bersikap seperti ini? Mengambil paksa kesenangan orang lain! Bi, bersikaplah layaknya lelaki seumuranmu!"


"Oh, jadi kamu mau aku bersikap dewasa, layaknya lelaki seumuranku? Baiklah! Aku akan melakukannya."


Abi melangkah mendekati pintu rumah, lalu menguncinya. Dia juga tidak lupa untuk menutup tirai jendela. Pradha masih belum paham dengan tindakan yang Abi lakukan.


Namun, beberapa saat kemudian ketika Abi berjalan ke arahnya dengan tatapan buas, dia baru tersadar. Pradha baru sadar kalau sedang membangunkan singa yang tertidur. Abi langsung menghampiri Pradha, dan membuat gadis itu kini terduduk di atas sofa.


"Ka-kamu mau ngapain, Bi?" tanya Pradha gugup.


"Aku akan bersikap layaknya pria dewasa seumuranku!"


Abi langsung menyerang Pradha dengan ciuman. Pradha terus berusaha mendorong dada bidang sang suami, tetapi gagal. Tubuh Abi layaknya batu karang yang sangat sulit walaupun hanya untuk digeser.


"Bi, sadar! Ingat isi perjanjian pernikahan kita!" teriak Pradha dengan suara yang mulai gemetar.


"Nggak! Aku nggak peduli! Aku ingin membungkam mulut sombongmu itu! Aku tidak suka kamu yang terus melawanku semaumu!"


Abi terus berusaha mendaratkan ciumannya ke pipi dan bibir Pradha. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil. Pradha terus berontak. Dia menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk menghindari ciuman Abi.


Di kediaman Chandra, Rama yang sedang membersihkan mobilnya, menemukan tas kecil milik Pradha yang tertinggal. Dia mencoba untuk menghubungi Pradha, untuk menanyakan apa ada barang penting di dalam tersebut atau tidak.


Jika ada, maka Rama berniat untuk mengantar tas tersebut sekarang juga. Akan tetapi, panggilannya tidak diangkat oleh Pradha. Akhirnya dia memutuskan untuk datang langsung ke rumah Pradha.


"Perasaanku kok nggak enak gini, ya?" gumam Rama sepanjang perjalanan.


Begitu sampai di rumah Pradha, Rama langsung menekan bel. Akan tetapi, dia tidak melihat pergerakan dari dalam rumah. Akhirnya, Rama langsung beranjak mendekati pintu rumah. Dia mengetuk pintu sekeras mungkin agar terdengar oleh penghuni rumah.


"Apa dia lagi pergi, ya?" gumam Rama.


Rama balik badan, bersiap untuk kembali pulang. Namun, tiba-tiba sayup terdengar suara orang yang sedang bertengkar. Rama yang panik pun langsung mendobrak pintu rumah Pradha.


Alangkah terkejutnya Rama ketika mendapati Abi sedang menindih tubuh Pradha dan berusaha menciumnya. Jika saja Pradha diam dan pasrah, mungkin Rama akan memilih pergi dan membawa kepingan hatinya.


Akan tetapi, sekarang Pradha terlihat begitu tertekan di bawah kungkungan sang suami. Rama pun segera menghampiri mereka, lalu menarik baju yang dipakai oleh Abi dari belakang.


"Kamu kenapa, Bi?" Rama membanting tubuh sang adik hingga tersungkur di atas lantai.


"KAK RAMA!" teriak Pradha dengan air mata yang bercucuran.

__ADS_1


"Kamu nggak pa-pa?"


"Abi maksa aku, Kak! Aku nggak suka dipaksa!" Pradha pun menghambur ke pelukan Rama.


Pradha menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Dia menangis sesenggukan. Dadanya naik turun karena isak tangis yang tidak mau berhenti.


"Sudah, tenanglah."


Abi yang menyaksikan keakraban tidak normal antar Rama dan Pradha pun hanya tersenyum miring. Dugaannya semakin kuat mengenai status hubungan spesial di antara keduanya.


"Bi, jangan seperti itu. Pradha butuh waktu buat menerima kenyataan ini."


"Pradha, atau kalian berdua?" tanya Abi sambil tersenyum miring.


"Apa maksudmu?" Rama mengerutkan dahi.


"Bukankah aneh, jika seorang istri enggan dipeluk suaminya sendiri. Tapi, justru menghambur ke pelukan kakak iparnya?"


Rama tertegun. Dia tidak memikirkan hal ini karena sangat panik ketika melihat Pradha menangis sesenggukan. Lelaki itu menelan ludah kasar, hingga terlihat jakunnya yang naik turun.


"Kenapa? Seperti tertangkap basah, ya?" kekeh Abi.


"Sudahlah, aku tidak mau mencampuri urusan rumah tangga kalian. Sebenarnya aku ke sini untuk mengantar tas Pradha yang ketinggalan di mobil." Rama mengalihkan pembicaraan, lalu meletakkan tas milik Pradha ke atas meja.


Pradha masih terisak. Dia masih sangat terkejut dengan sikap nekat sang suami. Rama kembali mendekati Pradha, kemudian menenangkannya lagi.


"Dha, nggak apa-apa. Jangan takut, Abi pria baik." Rama menepuk lembut punggung perempuan tersebut.


Pria baik tidak akan memaksa wanitanya seperti ini. Abi bukanlah pria baik-baik, Kak.


...****************...


Ini adalah kisah dari anak-anak Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka, boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku.


Salsabila Erlangga. Gadis cantik berumur delapan belas tahun, yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun. Mereka berdua menikah karena di jebak oleh seseorang.


Kenzo merupakan musuh kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga. Lalu bisakah Kenzo dan Arsya berdamai, untuk Salsa?


Siapa yang akan Salsa pilih, kakak tersayang atau suaminya?


Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya? Mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla.


Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.🤗

__ADS_1



__ADS_2