
Pradha mulai kepayahan karena merasakan kontraksi luar biasa. Seumur hidup, baru kali ini peremouan itu merasakan rasa sakit yang tak bisa ditahan. Tulang pinggangnya terasa seperti patah.
Keringat dingin terus mengucur membasahi dahi. Beberapa kali bidan melakukan pemeriksaan VT untuk mengetahui dilatasi (pembukaan persalinan) Pradha. Kekuatan perempuan itu seakan menguap ke udara.
"Pembukaannya tidak bertambah, Dok. Berhenti di pembukaan 4." Bidan bersama Tuti itu melaporkan hasil pemeriksaannya kepada dokter.
"Cek denyut jantung janinnya," perintah sang dokter.
Tuti mengambil fetal doppler yaitu alat khusus yang digunakan untuk mengetahui denyut jantung janin. Bidan muda itu mulai meletakkan transduser ke atas perut Pradha, dan mulai memperhatikan layar kecil pada at itu.
Pradha masih bisa mendengarkan semua percakapan tim medis, tetapi sudah tidak sanggup merespon mereka. Setiap perawat atau bidan menanyakan sesuatu, Pradha hanya menjawabnya dengan menggeleng atau anggukan kepala sambil menitikkan air mata.
Setelah menghitung banyaknya denyut jantung janin per satu menit, Tuti melaporkannya kepada sang dokter. "DDJ hanya 80 kali per menit, Dok!" seru sang bidan panik.
"Kita harus melakukan tindakan operasi! Kondisi ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal! Cepat minta persetujuan dari keluarga pasien!" perintah dokter yang menangani persalinan Pradha.
Sebenarnya tindakan vakum bisa dilakukan, tetapi kondisi pembukaan yang belum sempurna serta kondisi Pradha yang mulai lemah membuat dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Seorang perawat pun diminta untuk menyampaikan hal ini, serta meminta persetujuan dari keluarga pasien.
"Bagaimana kondisi Pradha, Sus?" tanya Rama ketika seorang perawat menghampirinya.
"Sebelumnya maaf, Pak. Kami membutuhkan persetujuan Anda untuk melakukan tindakan operasi kepada Bu Pradha."
"Memangnya Pradha kenapa, Sus?" Mendengar ucapan perawat membuat kekhawatiran Rama meningkat drastis.
"Denyut jantung janin melemah, dilatasi serviks tidak bertambah, dan pasien mulai kehabisan tenaga."
"Lakukan saja operasinya, Sus. Lakukan apa saja untuk menyelamatkan Pradha dan putraku!"
Sang perawat mengerutkan dahi, mendengar ucapan Rama. Namun, dia tidak mau ambil pusing. Itu urusan pribadi pasien dan lelaki di hadapannya. Dia segera menyodorkan beberapa berkas kepada Rama untuk ditandatangani. Setelah Rama selesai membubuhkan tandatangan ke atas berkas, perawat tersebut meninggalkan Rama.
***
__ADS_1
Operasi Pradha berjalan lancar. Kondisi vital Pradha juga bagus. Hanya saja, putra dari artis ternama itu harus mendapatkan perawatan intensif di ruangan NICU.
Ketika Pradha sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Rama serta Chandra pun mengikutinya. Chandra menata keperluan pribadi Pradha ke dalam lemari, sedangkan Rama duduk di samping sang kekasih seraya menatapnya nanar.
Hati Rama seakan teriris melihat Pradha tergolek lemah di atas brankar. Meskipun dokter mengatakan bahwa kondisi Pradha baik-baik saja, ada rasa bersalah yang menyelinap di hati lelaki tersebut. Dia menyalahkan diri karena merasa tidak mampu menjadi pasangan serta calon ayah yang baik.
"Maaf, Dha. Maaf karena sudah membuatmu jadi begini. Seharusnya aku terus berada di samping kalian," ucap Rama lirih.
Lelaki tampan itu melupakan bahwa Chandra masih ada dalam satu ruangan. Meski Rama berbicara sangat pelan, ternyata Chandra bisa mendengar dengan jelas ucapan sang putra. Dia terbelalak, kemudian mendekati Rama, dan menarik pelan lengannya.
"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Chandra perlahan.
"I-itu ...." Rama mengusap wajah kasar.
"Jawab Ibu, Rama!" Tubuh Chandra bergetar karena menahan gejolak amarah di dalam dada.
Mata perempuan paruh baya itu mulai berkaca-kaca. Meski Rama belum menjawab secara lugas mengenai apa yang ingin dia tahu, Chandra bisa merasakan apa yang kini ada dalam otaknya adalah benar.
Firasat seorang ibu tidak pernah salah. Sebenarnya Chandra sudah mencium gelagat aneh anak pertama serta menantunya. Namun, perempuan itu berusaha mengabaikan semua yang dia rasakan.
"Maaf katamu? Ibu nggak habis pikir dengan isi kepalamu itu, Ram! Tega-teganya kalian bermain api di belakang Abi! Bahkan sampai memiliki seorang putra?"
"Bu, ini nggak seperti yang Ibu pikir. Aku dan Pradha ...."
Belum sempat Rama menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan mendarat tepat di atas pipi lelaki tersebut. Rasa panas kini menjalar di sekitar pipi Rama. Dia mengangkat lengan, dan mengusap lembut pipi yang masih terlihat merah itu.
"Ibu pergi! Jangan pernah pulang lagi ke rumah ibu! Mulai sekarang, kamu bukan lagi putra ibu! Kamu seperti melempar kotoran ke mukaku!" seru Chandra kemudian balik kanan dan meninggalkan Rama serta Pradha yang masih belum sadar.
Begitu pintu kamar inap Pradha tertutup lagi. Pradha seakan kehilangan pijakan. Dia limbung, dan berusaha memakai tembok dingin rumah sakit sebagai tumpuan.
Kini perempuan itu bersandar pada dinding. Perlahan tubuhnya merosot le atas lantai. Tangis lirih yang terdengar menyesakkan pun kini keluar dari bibir Chandra.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada ibu, Nak? Apa kamu tidak bisa mencari kebahagiaan lain tanpa mematahkan hati Abi?"
Dada Chandra terasa sangat sesak. Dia berulang kali memukul bagian depan tubuhnya tersebut untuk mengurangi rasa pengap di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan keberadaan Abi dan menemui lelaki itu.
Chandra berniat untuk mengungkapkan rasa kecewanya terhadap Rama serta Pradha kepada Abi. Dia juga ingin menguatkan lelaki tersebut, dan memberi beberapa pilihan untuk menjaga hati putra keduanya itu. Setelah mengetahui di mana Abi berada, Chandra langsung memesan taksi 1 dan mendatangi lokasi di mana Abi berada sekarang.
Di sisi lain, Rama masih tertunduk lesu di sudut ruangan tempat Pradha dirawat. Rasa sesal karena telah membuat sang ibu kecewa kini menggerogoti hati lelaki tersebut. Dia berulang kali mengembuskan napas kasar untuk menghempaskan rasa sesak di dalam dada.
"Maaf, sudah mengecewakanmu, Bu." Lagi-lagi Rama mengusap wajah kasar.
Tak lama berselang, dia melihat gerakan dari atas brankar Pradha. Rama bergegas melangkah mendekati sang kekasih. Lelaki tampan tersebut menarik kursi lalu mendaratkan bokong di atasnya.
"Dha, bagaimana keadaanmu?"
"Bagaimana bayi kita, Kak?" Bukannya menjawab, Pradha justru menanyakan kondisi sang buah hati.
"Dia ada di ruang NICU sekarang. Kamu harus cepat pulih, ya? Supaya bisa segera melihat putra kecil kita?" Mata Rama mulai basah.
Lelaki itu teringat bagaimana kondisi sang putra ketika tadi melihatnya. Bayi mungil yang hanya memiliki tubuh seukuran terong itu dipasangi banyak alat bantu medis. Tubuhnya masih terlihat merah karena pembentukan kulit yang belum sempurna.
"Kak?" tanya Pradha lagi, sehingga membuat Rama menghentikan aktivitas melamunnya.
"Ya?"
"Putra kita baik-baik saja, kan?"
"Iya, dia sangat baik. Jadi, kamu harus segera pulih supaya bisa menemaninya berjuang."
Rama berusaha memberi semangat kepada Pradha. Tak lupa lelaki tersebut memberi sebuah pelukan untuk menyalurkan kekuatan, serta membuat sang kekasih jauh lebih tenang.
...----------------...
__ADS_1
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukkk ke karya salah satu teman Chika ❤❤❤