
Sudah seminggu ini Pradha kembali menganggur. Kakinya pun sudah membaik. Jam menunjukkan pukul 09:00 ketika Pradha masih bergelung di bawah selimut. Istri dari Abipraya itu harus menunggu satu bulan lagi untuk pemotretan selanjutnya.
Pradha terpaksa beranjak dari ranjang, karena ponselnya berdering. Perempuan itu meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas, dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang.
"Ibu?" Pradha menyipitkan mata untuk memfokuskan tatapannya, lalu segera menggeser tombol hijau ke atas.
"Dha, apa kabar?" sapa Laksmi dari ujung telepon.
"Baik, Bu. Ibu apa kabar?"
"Kurang terlalu baik, karena tidak ada yang menyadari, hari ini hari apa."
"Oh, banyak yang lupa hari ternyata. Sama dong kayak aku," kekeh Pradha.
"Tunggu!" Pradha menghentikan tawanya.
Sedetik kemudian dia teringat sesuatu. Perempuan cantik itu melirik kalender yang ada di atas nakas, lalu meraihnya. Hari ini adalah tanggal 15 Maret, hari ulang tahun ibunya.
"Astaga!" seru Pradha seraya menepuk dahi.
"Bu, maaf ... Pradha lupa kalau hari ini ulang tahunmu!"
"Dasar!" Terdengar helaan napas berat dari ujung sambungan telepon.
"Bisa ketemu? Ada yang mau ibu bicarakan."
"Boleh, ketemu di mana, Bu?" Setelah mengetahui di mana sang ibu minta bertemu, Pradha segera bangkit dari kasur dan bersiap.
Tiga puluh menit kemudian, Pradha sudah berada di jalanan Gatsu. Terik matahari membuat pandangan mata Pradha sedikit silau. Dia berulang kali menggerutu karena macetnya jalanan itu.
"Aduh, kenapa kendaraan di depan berjalan seperti siput!"
Pradha kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal yang sama. Perempuan itu terjebak di jalanan hampir satu jam. Setelah berhasil melewati kemacetan, akhirnya dia sampai di sebuah toko oleh-oleh khas Bali.
"Akhirnya sampai juga!" seru Pradha seraya melepas sabuk pengaman, lalu meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
Pradha melangkah keluar mobil dan berjalan di atas jalan setapak yang terbuat dari batu kerikil. Senyumnya merekah karena membayangkan akan kembali bertemu dengan sang ibu. Sesuai adat Bali, sebenarnya dia dilarang mengunjungi orang tuanya setelah menikah karena mengalami hal yang disebut turun kasta.
Namun, Pradha mengabaikan adat itu kali ini. Di hari ulang tahun sang ibu, dia ingin membahagiakan perempuan yang paling disayanginya itu. Pradha mendorong pintu kaca di depannya, lalu melangkah ringan menuju sudut toko.
"Ibu!" panggil Pradha kemudian menghambur ke pelukan sang ibu.
__ADS_1
Keduanya saling melepas rindu. Laksmi mengusap lembut punggung sang putri dan melepaskan pelukannya setelah merasa puas mendekat Pradha. Pradha langsung menarik kursi kayu di depannya hingga terdengar suara gesekan dari kayu dan lantai keramik.
"Gimana, Bu? Hari ini Ibu mau ke mana? Biar Pradha antar ke mana pun yang mau Ibu datangi!"
"Nggak, Dha. Ibu nggak mau ke mana-mana. Ibu cuma mau ketemu kamu."
Pradha mengerutkan dahi. Dia menatap sang ibu penuh selidik. Digenggamnya jemari Laksmi penuh kasih.
"Bu, kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang ibu pendam?"
Laksmi mulai berkaca-kaca. Pradha kembali beranjak dari kursi, lalu memeluk sang ibu, dan berusaha menenangkan perempuan itu. Mendengar tangis Laksmi rasanya seperti disayat. Jauh lebih menyakitkan daripada sayatan yang sesungguhnya.
"Bu, kenapa? Cerita dong, sama Pradha." Pradha melepaskan pelukannya kemudian duduk bersimpuh di depan sang ibu.
"Bapakmu sikapnya berubah sejak pernikahanmu."
Pradha mengernyitkan dahi. Dia kembali berdiri dan menarik kursi kayu yang tadi dia duduki agar bisa lebih dekat dengan sang ibu. Setelah mendapat posisi nyamannya untuk mendengar keluh kesah sang ibu, Pradha kembali menggenggam jemari perempuan itu.
"Bapakmu bersikap begitu dingin. Dia tidak pernah lagi mengajak Ibu mengobrol. Misalkan pulang dari hotel, dia akan langsung mandi dan berdiam diri di kamar." Air mata Laksmi kembali bercucuran.
"Di-dia tidak pernah menyapaku lagi, Dha!" Tangis Laksmi pecah untuk kedua kalinya.
Bahunya bergetar hebat karena menahan rasa sedih yang teramat banyak. Seakan bahu tersebut tidak kuat lagi menahan beban kesedihan tersebut. Hati Pradha terasa seperti diremas. Sakit sekali melihat sang ibu menangis seperti itu.
"Ibu juga tidak tahu. Bagaimana bisa bapakmu berubah secepat ini."
"Maaf, Bu. Pradha tidak bisa membantu apa pun. Tapi, kalau Ibu butuh tempat untuk mencurahkan isi hati, aku siap kapan pun itu." Pradja mengusap sisa tangis sang ibu dengan ibu jari.
Setelah sedikit lebih tenang, Laksmi balik bertanya mengenai kabar sang putri. Dia juga tidak lupa menanyakan kabar Abi. Pradha terlihat tidak bergairah ketika menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Abi.
Sebagai sesama perempuan, dia paham betul dengan perasaan Pradha saat ini. Laksmi menyelipkan anak rambut Pradha ke belakang telinga, kemudian tersenyum lembut.
"Dha, Ibu tahu ini berat. Ibu dulu juga mengalaminya."
"Benarkah?"
"Ya, Ibu dulu juga dijodohkan dengan bapakmu. Namun, seiring berjalannya waktu rasa cinta mulai tumbuh di antara kami."
"Tapi ... posisi kita sekarang tidak sama, Bu." Pradha tertunduk lesu dengan jemari yang sibuk memilin ujung rok.
"Maksudmu apa, Dha?" Laksmi menautkan kedua alisnya karena mendengar ucapanย sang putri.
__ADS_1
Pradha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam, dan hal itu tertangkap oleh Laksmi.
"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?"
Pradha membisu. Dia hanya mampu menatap ujung sepatu yang membalut kakinya. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya saat ini.
"Dha, maaf Ibu salah mengajukan pertanyaan. Ibu tahu pasti sulit menyatukan dua hati yang sama sekali belum pernah terpaut. Tapi, pasti nanti ...."
"Nggak akan pernah, Bu. Hati kami enggak akan pernah terpaut!" potong Pradha.
"Kenapa?" Laksmi memiringkan kepala dan mengerutkan dahi.
"Abi ternyata ...." Pradha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Abi ternyata adalah adik Kak Rama." Bahu Pradha merosot seketika.
Laksmi pun terbelalak setelah mengetahui fakta itu. Dia sangat tahu bagaimana Pradha sangat mencintai Rama, dan hampir gila ketika lelaki itu mendadak pergi.
"Ketika aku hampir melupakannya, Kak Rama kembali hadir dan sekarang begitu dekat denganku! Aku benci takdir ini, Bu!" Kini giliran Pradha yang menangis sesenggukan.
Laksmi segera merengkuh tubuh putri kesayangannya itu. Dia berusaha menenangkan Pradha. Setelah Pradha sedikit lebih tenang, Laksmi mencoba untuk menasihati sang putri agar tidak terbawa perasaan lamanya.
"Dha, bagaimanapun juga kamu sekarang sudah menikah. Sebisa mungkin hindari pertemuan dengan Rama."
"Sepertinya terlambat, Bu. Rasa itu kembali mencuat ke permukaan. Aku merasa tenang dan nyaman ketika ada di samping Kak Rama."
"Dha, dengarkan Ibu baik-baik." Laksmi memegang lengan atas dan menatapnya intens.
"Ingat bagaimana dia mencampakkanmu begitu saja! Dia menghilang selama bertahun-tahun, dan kini kembali lagi tanpa rasa bersalah sedikit pun!" Amarah Laksmi mulai meluap karena teringat bagaimana Pradha mengalami masa sulit karena Rama.
"Tapi, Bu. Kak Rama pergi karena bapak! Diam-diam bapak menemuinya dan melarang dia untuk menemuiku lagi!"
"Kamu yakin akan tetap mencintai lelaki dengan daya juang yang lemah itu?" Laksmi tersenyum miring karena mendengar alasan konyol Rama meninggalkan Pradha.
"Dha, jika kalian bersama lagi dan suatu saat hubungan kalian berdua kembali dihantam badai, pasti dia akan melakukan hal yang sama! Lupakan dia, dan mulailah hidup baru dengan Abi!"
...****************...
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukkk ke karya teman Chika yang satu ini ๐๐๐
Jangan lupa like, komen, vote, dan giftnya yaaa~
__ADS_1