
Pradha pun membawa rasa sakit serta amarahnya pulang ke rumah. Dia tidak menyangka sang ibu bertindak sejauh itu, sampai dirinya terlahir ke dunia karena hubungan gelap itu.
Pradha membawa luka hatinya kembali ke rumah. Semua permasalahan yang kini ia hadapi rasanya begitu berat kali ini. Kekuatannya seakan menguap ke udara.
Perempuan cantik itu pun masuk ke mobil dan membanting pintu kasar. Dia menenggelamkan wajah dalam telapak tangan, lalu menghela napas panjang. Pradha kembali merutuki nasib. Jika saja dia tahu lebih awal kalau bukan putri kandung Artha, pasti perempuan cantik itu sudah pergi sejak lama.
Akhirnya Pradha kembali melajukan mobil dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, sosok Rama sudah menunggunya di teras. Pradha mengerutkan dahi karena kehadiran Rama yang mendadak dan ingin sekali dia hindari itu.
"Ngapain Kak Rama ke sini?" gumam Pradha. Dia langsung membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan tersebut.
"Kenapa ke sini, Kak? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak menemuiku sementara waktu?" Pradha terlihat tidak suka melihat kehadiran Rama.
"Aku ada salah apa sama kamu, Dha? Ngomong salahku di mana! Jangan begini?"
"Bukan Kak Rama yang salah! Keadaan dan hubungan kita yang salah!"
"Dha, bukankah kita sudah sepakat untuk menjalani semuanya seperti ini sampai perceraianmu dan Abi terlaksana?"
"Kak, tolong, pergilah sekarang. Aku ...." Ucapan Pradha mendadak berhenti karena sang ibu keluar dari rumah.
"Perceraian apa? Hubungan apa?" tanya Laksmi.
"Bu, kita masuk dulu, yuk. Nanti Pradha jelaskan." Pradha menarik lengan sang ibu dan menuntunnya masuk ke rumah.
Pradha membiarkan Rama di depan rumah, dan langsung menutup pintu. Dua perempuan beda usia itu kini duduk di ruang tengah. Pradha mengusap wajah kasar, lalu menatap sang ibu penuh kesedihan.
"Coba jelaskan apa yang terjadi di antara kamu sama Rama? Jangan-jangan kalian selingkuh?" terka Laksmi.
Pradha tertunduk lesu. Jemari lentiknya meremas ujung kaos yang menempel pada tubuh. Laksmi menatap tajam sang putri karena dugaan bahwa Pradha dan Rama telah kembali menjalin hubungan asmara semakin kuat.
"Ibu berharap dugaanku salah. Jadi, apa kalian selingkuh?" Laksmi kembali mengulang pertanyaannya.
"Bu, maaf ... aku hanya ...."
"Dha, bagaimana bisa kamu mendustai pernikahan yang sakral itu!" Dada Laksmi bergemuruh hebat karena mendapati kenyataan mencengangkan tersebut.
Rasa marah, kecewa, dan sedih, kini bercampur mengaduk-aduk hati Laksmi. Dia mulai menitikkan air mata untuk mengungkapkan rasa kecewanya kepada sang putri.
"Dha, Ibu kecewa sama kamu!"
__ADS_1
"Aku lebih kecewa lagi sama Ibu!" teriak Pradha frustrasi.
"Apa maksudmu, Dha?"
"Bukankah Ibu juga melakukan hal yang sama sepertiku di masa lalu? Lalu aku terlahir di dunia karena hubungan gelap tersebut!" Dada Pradha kembang kempis menahan gejolak dalam dada.
"Hubungan gelap apa?"
"Ajung sudah menceritakan semua, Bu!" Pradha menelan kesedihannya dengan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Memangnya dia menceritakan apa?"
"Aku bukan anak ibu dengan Ajung, melainkan dengan pria lain! Jadi, siapa bapak kandungku, Bu?" Suara Pradha bergetar, dan matanya mulai memerah.
Laksmi mendadak bungkam. Dia mengalihkan pandangan dari Pradha. Bayangan mengenai masa lalu itu kembali mencuat ke permukaan.
Pradha yang mengetahui perubahan ekspresi sang ibu tersenyum kecut. Dia menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi.
"Memang benar, ya? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kita sama-sama perempuan brengsek." Pradha tersenyum miring sambil melipat lengan di depan dada.
Sedetik kemudian, sebuah tamparan mendarat pada pipi mulus Pradha. Wajahnya sampai berpaling karena pukulan Laksmi. Wajah perempuan cantik itu mulai memerah akibat tamparan sang ibu.
"Seharusnya kamu belajar dari kesalahan ibu! Kenapa kamu malah mengulangi kesalahan yang dulu pernah ibu lakukan!" Laksmi mengepalkan jemari di di atas paha sambil merapatkan gigi.
Laksmi langsung beranjak dari sofa, kemudian melangkah ke arah pintu keluar. Perempuan paruh baya itu berhenti sejenak. Tanpa menoleh kepada Pradha, dia memberikan pesan sebelum benar-benar pergi dafi rumah sang putri.
"Mungkin ini memang karmaku dari masa lalu. Harus menerima kenyataan bahwa putriku juga terlibat perselingkuhan dengan pria lain." Laksmi menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Tapi, dari pelajaran itu ... seharusnya kamu juga bisa belajar. Hentikan sebelum bertindak terlanjur jauh, sehingga karma buruk tersebut dapat dicegah dan dihentikan. Ibu pergi."
Laksmi pun melangkah ke arah pintu, membukanya, dan benar-benar menghilang di balik benda tersebut. Pradha menyandarkan punggung pada kepala sofa seraya mengusap wajah kasar. Ini adalah hari terberat yang pernah dia alami sepanjang hidup.
***
Hari pun berganti, Pradha kembali disibukkan dengan aktivitas pengambilan gambar untuk proyek film selanjutnya. Kehidupan rumah tangganya dengan Abi pun tidak ada kemajuan sama sekali. Sejak Pradha membelikan vila serta mobil untuk suaminya itu, Abi semakin jarang pulang ke rumah.
Namun, justru Pradha menyukai hal itu. Dia merasa bebas dan tidak perlu lagi menghindar. Intensitas pertemuan yang jarang dengan sang suami membuat Pradha lebih fokus dengan kariernya.
Di tengah kesibukannya menjalani kehidupan baru sebagai aktris papan atas, ada rasa sepi yang mencabik jiwa perempuan cantik itu. Rasa rindu kepada Rama merongrong hatinya.
__ADS_1
"Aku pengen ketemu Kak Rama. Tapi, aku harus tahan. Aku tidak boleh gegabah. Salah langkah, bisa-bisa karierku hancur." Pradha berusaha menekan perasaannya sendiri seraya bermonolog di depan cermin toilet.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Sang manajer memanggil namanya, dan meminta Pradha kembali ke lokasi pengambilan gambar secepat mungkin.
"Iya, sebentar, Kak!" Pradha mencuci tangannya sebelum keluar dari toilet.
Setelah mengeringkan telapak tangannya dengan mesin pengering, Pradha meraih gagang pintu kamar mandi. Akan tetapi, baru saja mencium aroma parfum sang manajer, perut perempuan cantik itu bergejolak.
Pradha menutup hidung serta mulutnya, lalu balik kanan kembali masuk ke toilet. Dia berdiri di depan wastafel dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening kekuningan.
"Dha, kamu kenapa?" tanya Desi sang manajer.
"Asam lambungku kayaknya kambuh!" Pradha terus memuntahkan isi perutnya.
Desi menepuk pelan punggung Pradha dengan wajah yang mulai panik. Tangannya yang lain menggenggam ponsel dan mulai menghubungi kru untuk memberitahukan keadaan Pradha.
"Kamu tadi belum makan?" tanya Desi, seraya memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana.
Pradha hanya menggeleng lemas. Tenaganya seakan terkuras. Keringat dingin mengucur membasahi dahi dan kepalanya terasa begitu berat.
"Ayo, kita makan dulu. Setelah itu baru lanjut syuting. Aku sudah kasih tahu kru lain untuk melakukan take selanjutnya tanpa kamu."
...----------------...
Back To Mantan
Author: Bhebz
Kata orang, mantan itu seharusnya dilupakan dan dibuang di tempat yang sewajarnya.
Tapi bagi Hazel Almondo, mantan harus diraih kembali untuk memperbaiki ketidaksempurnaan hubungan dimasa lalu.
Dan Bagi Vanila Granola, kembali ke mantan adalah hal yang sangat luar biasa jika itu bisa terjadi dalam hidupnya. Karena ia bahkan tidak pernah lagi menjadikannya tujuan.
Sakit hati pada sang mantan membuatnya jadi perempuan kuat dan tangguh.
Perempuan itu ingin memulai lembaran baru yang lebih berwarna.
__ADS_1
Mampukah mereka merajut kembali kisah yang pernah hancur?
Nantikan di Back To Mantan hanya di Noveltoon.