Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 12. Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Semenjak insiden pemaksaan itu, hubungan Pradha dan Abi semakin memburuk. Pradha terus menghindar dari Abi. Dia hanya keluar kamar, jika sang suami sudah berangkat kerja.


"Capek juga sebenarnya menghindar terus. Aku juga bosan di rumah. Kapan ya, pemotretan katalog butik Hasta selanjutnya?" Pradha bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menggulir layar ponsel.


Seakan Tuhan menjawab keluh kesahnya, tiba-tiba terdengar suara bel yang berdenting. Pradha beranjak dari sofa kemudian mengintip dari balik tirai. Seorang perempuan berkacamata hitam berdiri di depan pintu.


Pradha segera membukakan pintu untuk menyapa perempuan asing tersebut. Begitu pintu terbuka, perempuan itu langsung menaikkan kacamatanya. Alangkah terkejutnya Pradha ketika mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah Gita.


Gita adalah salah satu sutradara terkenal. Film yang dia buat selalu sukses mendapat banyak penghargaan. Dia terkenal keras, tetapi mampu melahirkan banyak karya yang selalu diminati penonton.


"Kak Gita!" seru Pradha sambil menutup bibirnya yang menganga lebar karena terkejut.


"Pradha, bukan?"


"Iya, Kak. Ayo masuk!"


Keduanya pun melangkah memasuki rumah. Setelah mempersilakan perempuan itu duduk, Pradha langsung membuatkan kopi untuk Gita. Mereka pun mulai berbincang.


"Maksud saya datang ke sini, adalah untuk mengundangmu ke sebuah casting untuk film terbaru saya."


"Wah, saya merasa sangat beruntung!" seru Pradha.


"Besok bisa datang ke studio Star Production?" Gita menyodorkan kartu namanya kepada Pradha.


Pradha pun segera meraihnya dan mengangguk mantap. "Baik, Kak. Jam berapa?"


"Mulai jam 10:00 pagi," jawab Gita lalu menyesap kopi yang disajikan Pradha.


"Aku pulang sekarang, ya? Kutunggu kedatanganmu besok." Gita beranjak dari sofa, kemudian mengulurkan tangan.


Pradha pun menyambut uluran tangan Gita dan tersenyum semringah. Mereka pun berjalan ke arah pintu. Ketika sampai teras, Gita menghentikan langkahnya.


"By the way, kopimu enak! Thanks."


"Sama-sama, Kak."


Gita pun langsung masuk ke mobil dan mulai melajukannya. Pradha terus melambaikan tangan sampai mobil tersebut keluar dari halaman rumahnya.


***


"Kak, aku benar-benar gugup." Pradha meremas jemari Rama dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.


"Gugup kenapa?" tanya Rama sambil terus fokus dengan jalanan di depannya.


"Ini pertama kalinya aku ikut casting, Kak. Benar-benar hal baru banget buat aku."


Rama tersenyum simpul, dan tertangkap oleh netra gadis cantik itu. Pradha yang tersinggung langsung melepaskan genggaman tangannya. Dia melipat lengan di depan dada, dan memajukan bibir.


"Kak Rama kenapa ketawa? Mengejek aku, ya?" rajuk Pradha.


"Eh, bukannya gitu, Sayang. Aku heran aja. Di mana sifatmu yang biasanya optimis itu? Bahkan kadang optimisnya sampai overdosis!" Rama tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ya, pokoknya masih ada." Pradha masih memasang mode merajuk.


Rama berusaha menyentuh jemari sang kekasih, tetapi selalu ditepis oleh Pradha. Semakin Pradha melakukan penolakan, kejahilan Rama semakin menjadi. Bahkan kini dia mencoba untuk menggelitik perempuan itu.


"Kak, jangan bercanda! Fokus sama jalanan, gih!" titah Pradha.


Rama pun kembali menatap jalanan. Senyum tampak merekah di bibir lelaki itu. Dia sangat suka membuat Pradha kesal. Perempuan kecintaannya itu mudah sekali terpancing emosi. Namun, justru hal itulah yang membuat Rama semakin tertarik kepada Pradha setiap waktu.


Tak lama kemudian, mobil Rama berhenti. Mereka sudah sampai di gedung rumah produksi milik Gita. Ya, selain seorang sutradara, Gita juga memiliki rumah produksi sendiri. Jadi dia memiliki dua pekerjaan, seorang sutradara sekaligus produser untuk semua filmnya sendiri.


"Nanti aku jemput, ya? Good luck!" Rama berusaha menyemangati sang kekasih dengan mengepalkan tangan ke udara.


"Oke! Jangan sampai terlambat!"


Rama hanya mengangguk sambil tersenyum lebar untuk menjawab pertanyaan Pradha. Perempuan itu segera turun dari mobil, dan berdiri di tepi jalan sejenak. Setelah mobil Rama bergerak menjauh, barulah dia melangkah mendekati gedung Star Production.


Pradha melangkah menuju meja resepsionis, kemudian diarahkan oleh petugas untuk langsung menuju lantai dua. Pradha mengetuk pintu ruangan itu, lalu membukanya perlahan. Di dalam sana ada banyak sekali pemain film besar. Nyali Pradha sempat menciut, melihat tatapan tak bersahabat dari para aktris senior.


"Pradha, ini skripnya." Gita menyodorkan satu bendel kertas kepada Pradha.


"Baik, Kak." Pradha langsung meraih kertas-kertas itu kemudian balik kanan.


Mata perempuan cantik itu mengamati seluruh isi ruangan untuk mendapatkan kursi kosong. Kursi yang tidak diduduki tinggal satu, dan berada di sudut ruangan. Pradha pun segera melangkah ke sana.


"Permisi, Kak. Ini tas kakak?" tanya Pradha sopan kepada seorang aktris bernama Tamara.


Tamara bungkam, tidak menanggapi Pradha. Dia terus fokus pada skrip yang digenggamnya. Entah benar-benar fokus atau berpura-pura, karena begitu seorang aktor lain memanggilnya dia menoleh.


"Kenapa, Beb?" tanya Tamara genit.


"Itu, tasmu singkirin! Mau dipakai buat duduk orang lain!" perintah lelaki bernama Tirta.


Tamara menatap kesal pada Pradha, kemudian mengambil tasnya. Pradha pun akhirnya bisa duduk di sana. Dia langsung fokus menghafal beberapa adegan serta dialog pemeran utama perempuan.


Setelah fokus dengan naskah yang dia baca selama hampir satu jam, kini giliran Pradha yang maju. Di luar dugaan para lawan, Pradha dapat mendalami peran dengan baik. Beberapa aktor serta aktris senior sampai terpukau karena akting Pradha.


"Bagus sekali, Dha! Saya sudah memutuskan untuk memberikan peran Nana buat kamu! Selamat!"


Seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu pun bertepuk tangan, kecuali Tamara. Dia menatap sinis ke arah Pradha. Jemarinya mengepal kuat dan memukul meja yang ada di hadapannya.


"Sial!" umpat Tamara. Perempuan itu langsung keluar ruangan dan membanting pintu kasar.


***


Gemericik air hujan menerpa atap rumah Chandra. Ketika dalam perjalanan, tadi tiba-tiba hujan turun dan membuat Pradha serta Rama basah kuyup. Entah mengapa, siang itu Rama ingin sekali menjemput Pradha dengan motor.


Alhasil keduanya kehujanan selama perjalanan pulang. Mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Chandra karena jaraknya lebih dekat daripada rumah Pradha.


Sore itu Chandra belum pulang dari undangan pernikahan anak dari temannya. Jadi, Rama dan Pradha hanya berdua di rumah itu. Keduanya mengobrol ringan untuk membunuh waktu.


"Cieee ... senangnya yang dapat peran utama," ledek Rama.

__ADS_1


"Dih, apaan sih, Kak!"


"Emangnya itu film ceritanya tentang apa?" tanya Rama penasaran.


"Tentang pasangan suami istri muda. Nah, tiba-tiba si suami tuh balik ke rumah bawa burung. Istrinya kesal, tuh! Soalnya burung yang dia pelihara bikin pengeluaran membengkak."


"Wah, nggak bagus itu!"


"Tapi sad ending, Kak. Nanti kalau udah rilis nonton, ya?"


"Oke, deh!"


Suasana kembali hening. Hanya terdengar detik jam yang berbunyi. Pradha kini berada dalam pelukan sang kakak ipar. Telinganya menempel pada dada bidang lelaki tersebut.


Pradha dapat mendengar dengan jelas detak jantung Rama yang semakin kencang setiap menitnya. Pradha akhirnya menjauhkan telinganya dari dada sang kekasih gelap, dan menatap Rama antusias.


"Kak, kok jantungmu berdetak semakin cepat? Aku khawatir lama kelamaan akan meledak!" seru Pradha kemudian terkekeh.


"Karena ada kamu di sini, Dha."


"Kalau begitu, aku pulang aja deh!" Pradha kembali memasang mode merajuk.


Perempuan cantik itu beranjak dari sofa, berniat untuk melangkah pergi. Namun, Rama menarik lengannya dengan sigap. Pradha kehilangan keseimbangan, dan kini tubuh rampingnya menindih badan kekar Rama.


Keduanya saling menatap. Napas mereka seakan sedang saling sapa. Rama menatap Pradha penuh cinta. Begitu juga sebaliknya. Rama menyelipkan anak rambut Pradha yang menutupi wajah cantiknya.


"Dha, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Kak. Aku tahu perasaan ini salah karena statusku sekarang. Tapi, hati tidak bisa dibohongi." Pradha mulai berkaca-kaca.


"Dha, bisakah kita menghabiskan malam ini bersama?"


...----------------...


Dendam Cinta


Author: Lena Laiha


Shena Aulia Raina, seorang istri yang diceraikan oleh suaminya setelah seluruh harta kekayaan dikuasai oleh sang suami. Shena bersama putri satu-satunya diusir dari rumahnya sendiri.


Shena mencoba untuk ikhlas, namun karena Devan tidak membiayai pengobatan putrinya yang sakit, akhirnya putrinya meninggal dunia.


Shena yang sudah mengikhlaskan semuanya berubah menjadi benci dan ingin membalas dendam kepada Devan atas perlakuan Devan terhadapnya.


Shena mulai merubah penampilannya dan berusaha memikat Devan agar tertarik lagi kepadanya.


Apakah Shena akan berhasil membalas dendam?


Ataukah Shena berubah menjadi jatuh cinta lagi kepada Devan setelah berhasil mendapatkan Devan kembali?


__ADS_1


__ADS_2