Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 43. Mencoba Bangkit


__ADS_3

Dua minggu kemudian ....


Pagi itu Rama sedang menatap sang istri yang sibuk dengan pekerjaannya di meja makan. Dia mengamati gerakan Pradha setiap detik. Perempuan di depannya itu tidak pernah menyapanya duluan sejak insiden surat tagihan bank diterima.


Akhirya, Rama memutuskan untuk mengakhiri perang dibgin ini lebih dulu. Rama berdeham beberapa kali. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar.


"Dha, aku tahu aku salah. Tapi, tolong jangan hukum aku seperti ini. Kita tetap butuh komunikasi untuk mempertahankan hubungan ini." Rama mencoba membujuk Pradha karena sudah dua minggu ini sang istri tidak mengajaknya bicara.


Pradha masih bungkam. Kini dia tengah membungkus beberapa nasi campur yang dipesan oleh para tetangga. Kondisi perekonomian yang hampir lumpuh, membuat Pradha kesulitan mendapatkan pekerjaan.


Perempuan itu akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan usaha nasi campur. Rama juga sudah menghubungi pihak bank untuk meminta keringanan pembayaran kredit. Beruntungnya, pihak bank menyetujui karena memang kondisi yang sedang tidak memungkinkan.


"Dha, tolong jangan seperti ini terus. Aku benar-benar menyesal."


Pradha mulai menghentikan aktivitasnya. Dia menatap dingin sang suami. Tak lama kemudian Pradha menyodorkan kantong plastik yang sudah berisi beberapa bungkus nasi campur.


"Jangan banyak omong! Sekarang antar pesanan ini ke rumah Bu Kadek."


Hati Rama seakan disiram dengan air es setelah mendengar sang istri mau berbicara kepadanya lagi. Meskipun Pradha masih berbicara dengan nada dingin, paling tidak dia sudah mulai bisa diajak komunikasi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama, Rama menyambar kantong plastik dari tangan sang istri. Dia segera keluar rumah dan melajukan motor menuju rumah Bu Kadek. Setelah Rama keluar rumah, Pradha tersenyum geli.


Sebenarnya Pradha sudah memaafkan Rama setelah mengetahui usahanya mengajukan keringanan pembayaran kredit. Namun, Pradha tetapi bersikap dingin untuk memberikan efek jera kepada sang suami.


***


"Tingkat kematian karena wabah mulai turun. Warga l dihimbau untuk tetap waspada dan menjalankan aktivitas sesuai protokol kesehatan. Pemerintah mengumumkan bahwa Bali kembali dibuka untuk umum."


Suara pembawa acara berita di layar televisi menggema di ruang tamu Pradha. Dia tersenyum tipis sambil mengusap puncak kepala Naka yang sedang terlelap. Perempuan itu bisa sedikit bernapas lega.


Setelah lebih dari dua bulan menggantungkan hidup dengan berjualan, Pradha bisa kembali mencoba mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Dia mulai menghubungi satu per satu temannya. Pradha berharap bisa mendapatkan pekerjaan dari mereka.


Pradha segera beranjak dari sofa kemudian menidurkan Naka di kamarnya. Tepat setelah Pradha selesai menyelimuti putranya, terdengar suara denting bel. Dia segera beranjak dari kamar dan membuka pintu.


Alangkah terkejutnya Pradha ketika mendapati Ken sudah ada di depan mata. Lelaki itu terlihat kusut. Rambutnya terlihat panjang dan kumis tipis menumbuhi area bawah hidungnya.


"Pradha," panggil Ken dengan suara putus asa.


"Ka-kamu ngapain ke sini!" seru Pradha.

__ADS_1


"Aku ... merindukanmu ...." Sontak Ken langsung memeluk tubuh Pradha.


Pradha terus berontak. Namun, pelukan Ken justru semakin erat. Terlihat butir air mata mulai keluar dari sudut matanya.


Semenjak wabah penyakit melanda Bali, Ken serta Reya kembali ke Jepang. Hotel yang dipercayakan kepada Ken untuk dikelola terpaksa berhenti beroperasi.


"Lepas, Ken!" seru Pradha seraya mendorong dada Ken.


"Maaf, aku hanya ...." Ucapan Ken menggantung di udara. Lelaki itu mulai mengusap tengkuk dan menatap ujung sepatu yang membungkus kakinya.


"Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum suamiku pulang!" usir Pradha.


"Dha, boleh bicara sebentar? Aku ingin mengungkapkan sesuatu sejak lama."


Pradha mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan Ken. Dia melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam lelaki di depannya itu. Ken terlihat menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


"Sebenarnya aku ...."


Pradha awalnya malas mendengar apa yang hendak diucapkan oleh Ken. Namun, sedetik kemudian mata Pradha membulat sempurna. Dia menutup bibir dan menatap tak percaya pada lelaki di depannya itu.

__ADS_1


__ADS_2