
Dha, jika kalian bersama lagi dan suatu saat hubungan kalian berdua kembali dihantam badai, pasti dia akan melakukan hal yang sama! Lupakan dia, dan mulailah hidup baru dengan Abi!
Ucapan Laksmi sukses membuat Pradha galau beberapa hari ini. Apa yang diucapkan sang ibu memang tidak salah, tetapi belum tentu benar. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, termasuk Rama.
Namun, sekarang posisi hubungan Pradha dan Rama tidak sesimpel itu. Lagi-lagi Pradha mengingatkan diri bahwa sudah menjadi istri orang lain. Dia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahan yang memang hanya digunakan sebagai simbol, karena tidak ada cinta di dalamnya.
"Hah, apa aku bercerai saja dengan Abi, ya? Tapi ... dalam surat perjanjian itu aku menulis perpisahan boleh dilakukan minimal ketika usia pernikahan satu tahun." Bahu Pradha merosot mengingat perjanjian pernikahan yang kini justru membelenggunya.
"Aku butuh liburan," gumam Pradha.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Pradha pun melangkah ke arah pintu dan membuka benda tersebut. Ternyata di luar rumah, sang ibu mertua sudah berdiri bersama Rama.
"Ibu? A-ayo masuk!" ajak Pradha.
Ketika balik badan, dia baru sadar bahwa sofa tempatnya bersantai tadi terlihat sangat berantakan. Bantal sofa tampak tak beraturan. Ada yang jatuh ke lantai, dan beberapa di atas sofa dengan posisi yang tak tertata. Gelas bekas kopi, serta beberapa bungkus camilan berserakan di atas meja.
Mampus! Inilah akibatnya kalau jadi pemalas!
Pradha memejamkan mata sekilas dan bersiap memasang muka tembok. Dia berjalan cepat ke arah meja dan membereskan kekacauan yang dibuatnya. "Duduk, Bu, Kak. Maaf ya, berantakan. Habisnya aku bingung mau ngapain di rumah."
Chandra tersenyum tipis melihat kekacauan yang dibuat Pradha. Dia belum begitu mengenal sang menantu, tetapi menurutnya Pradha memiliki sifat yang sangat berlawanan dengan Praba. Tiba-tiba perempuan itu merindukan sosok mendiang Praba.
"Ibu, mau minum apa? Biar aku buatkan."
"Apa saja," jawab Chandra singkat.
Pradha pun segera masuk ke dapur dan keluar lagi lima menit kemudian. Dia membawa dua cangkir teh dan beberapa stoples kue kering yang dia bawa dari toko Astika beberapa hari yang lalu.
"Silakan, Bu." Pradha menyodorkan cangkir berisi cairan coklat bening itu.
"Terima kasih."
Chandra menyesap teh itu dan terlihat berpikir sekilas. "Apa kamu ingin aku terkena diabetes?"
"Maksud Ibu apa?" Pradha melebarkan kelopak matanya.
"Teh ini terlalu manis!"
Hati Pradha terasa seperti disentil. Dia tertunduk lesu kemudian meremas rok yang dia pakai. Ucapan Chandra benar-benar membuatnya sedih.
__ADS_1
Di sisi lain, Rama ikut menyesap teh yang sudah disiapkan untuknya. Satu detik kemudian dia mencecap rasa yang menari di lidah. Rama mengerutkan dahi, karena rasa teh itu menurutnya pas.
"Bu, aku rasa sudah pas kok rasanya. Tidak pahit atau pun kemanisan," ucap Rama.
"Nggak! Teh ini jadi terlalu manis, sebab ibu meminumnya sambil menatap Pradha," goda Chandra seraya tersenyum jahil.
"Ibu ...." Pradha mulai berkaca-kaca karena merasa menjadi menantu yang disakiti.
"Astaga! Sini-sini, kamu kenapa menangis? Maafkan aku," ucap Chandra panik.
Rama terkekeh melihat drama ibu mertua dan menantu di depannya itu. Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran konyol. Rama berandai-andai kalau saja Pradha itu adalah istrinya, bukan hanya sebatas adik ipar. Pasti hidupnya akan sangat bahagia.
Setelah mengobrol hampir satu jam, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Pradha. Dia ingin mengajak sang mertua berlibur. Hitung-hitung sekalian dia melepas kebosanan.
"Ibu, mau temani Pradha berlibur?" tanya Pradha.
"Ke mana?”
“Ke mana saja, asal ibu mau temani Pradha pergi liburan.” Pradha tersenyum lebar sambil menggenggam jemari Chandra.
"Baiklah kalau begitu. Ibu sudah lama nggak pergi ke Nusa Lembongan. Kita ke sana saja!" seru Chandra dengan mata berkilat.
Setelah selesai menyiapkan semua keperluannya, Pradha kembali ke ruang tamu dan mereka pun segera pergi ke rumah Chandra. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah sang ibu.
Begitu masuk rumah, Chandra langsung pergi ke dapur karena ingin membuat bekal. Dia ingin mengajak sang menantu piknik di pinggir pantai. Terakhir Candra pergi piknik ke tempat itu, adalah ketika kedua putranya masih kecil.
"Dha, bisa minta tolong?"
"Apa, Bu?"
"Bisa siapkan beberapa pakaian untuk ibu? Ibu mau menyiapkan bekal.”
Pradha hanya mengangguk sekilas kemudian melangkah masuk ke kamar Chandra. Di dalam kamar itu, terdapat beberapa foto keluarga. Salah satunya ada foto Abi dan Rama ketika masih kecil. Di antara mereka bertiga, ada seorang laki-laki dewasa lain berwajah bule.
"Apa beliau ayah Abi dan Kak Rama? Kalau iya, pantas saja! Kedua putranya terlihat tampan," gumam Pradha.
Pradha segera mengalihkan pandangan dan menyiapkan beberapa pakaian untuk sang mertua. Dia mengeluarkan pakaian dari lemari dan menatanya ke dalam tas travel. Setelah dirasa cukup, Pradha balik badan, hendak kembali ke dapur untuk menyusul Chandra.
Namun, tanpa dia sadari ternyata Rama sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan lelaki itu berada di sana. Rama masuk ke kamar, lalu menutup pintunya.
__ADS_1
"Sejak kapan Kak Rama masuk?"
"Sejak kapan, ya?" Rama tersenyum miring kemudian mulai mendekat.
"Dha, apa kamu benar-benar sudah tidak menginginkanku?" tanya Rama tiba-tiba.
"Kak, apa yang kamu katakan? Apa Kak Rama sedang mabuk?"
"Dha, bisakah kita kembali bersama seperti dulu? Bercerailah dengan Rama, lalu menikah denganku. Aku rasa kehidupan kita akan jauh lebih bahagia jika bersama."
Pradha menatap tajam Rama. Sebenarnya dia juga ingin kembali lagi bersama lelaki itu. Akan tetapi, dia tidak bisa karena perjanjian sialan itu.
Belum lagi ucapan sang ibu yang terus terngiang-ngiang di telinga. Pradha takut apa yang diucapkan Laksmi benar-benar terjadi, jika dia kembali bersama dengan Rama.
"Kak, lupakan saja semuanya. Kita jalani apa yang seharusnya berjalan. Ingat, aku ini sekarang adik iparmu!"
"Bagaimana jika kali ini aku tidak peduli? Aku tidak ingin memedulikan status rumit ini!" Rama terus melangkah, dan sekarang berada tepat di depan Pradha yang sedang duduk di atas ranjang.
Rama menatap bola mata Pradha penuh cinta. Pradha seakan tersihir oleh tatapan itu. Jantung perempuan itu berdegup kencang, sama seperti dulu ketika Rama menatapnya. Rasa itu ternyata memang tidak pernah berkurang. Rasa cinta untuk Rama masih sama.
Rama mendekatkan wajahnya pada wajah Pradha secara perlahan. Dia mulai mendekatkan bibir ke arah bibir mantan kekasihnya itu. Pradha sempat terbuai. Bukannya menghindar, perempuan itu justru memejamkan mata.
Merasa mendapatkan ijin dari Pradha, akhirnya Rama mendaratkan kecupan di atas bibir Pradha. Ketika kedua bibir mereka bertemu, barulah Pradha tersadar. Dia membuka mata lebar-lebar dan berusaha mendorong tubuh sang kakak ipar.
"Dha, sudah terlambat kalau kamu menolakku sekarang. Aku tahu kamu juga menginginkan ini. Kamu ingin bersamaku juga, 'kan?"
"Kak, tolong jangan begini!"
"Maaf, tapi sudah terlambat untuk menghindar."
Rama terus berusaha memagut bibir berisi milik Pradha. Di saat yang bersamaan, Pradha pun terus berontak. Dia juga memukul dada sang kakak ipar agar lelaki itu menjauh.
Akan tetapi, semua yang Pradha lakukan tidak membuahkan hasil. Sekarang Pradha justru larut dalam permainan bibir yang dilakukan Rama. Keduanya saling melepas rindu, menikmati setiap sentuhan satu sama lain.
Mereka terhanyut lagi ke dalam masa lalu. Masa di mana rasa cinta membuat keduanya saling mengisi. Menutupi kekurangan satu sama lain, dan saling menghibur di kala ada yang bersedih.
...****************...
Halo, mampir juga ke karya teman Chika, yuk!
__ADS_1