Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 31. Kepergok Chandra


__ADS_3

"Dari siapa, Bi?" tanya Astika yang sedang berbaring dengan paha Abi sebagai bantal, ketika Abi selesai berbincang singkat dengan Chandra melalui sambungan telepon.


"Ibu, mau ke sini. Sebaiknya kamu bersiap untuk pulang." Abi meletakkan ponselnya ke atas meja, kemudian mengusap lembut kepala Astika.


"Ngapain ibu ke sini malam-malam?" Astika kini bangun dari posisi awal, kemudian duduk bersandar pada kepala sofa.


"Aku juga nggak tahu. Mungkin lagi berantem sama Kak Rama dan pengen nginep di sini. Kamu pulang sekarang, ya?" bujuk Abi karena tidak mau sang ibu mengetahui bahwa dia memiliki perempuan idaman lain.


"Bi, Pradha nggak ada di rumah, loh! Apa nanti ibumu nggak akan curiga?" Astika menyadarkan kepala pada dada bidang Abi dan memainkan jemari lentiknya di atas sana.


"Itu bisa diatur. Sekarang cepatlah pulang."


Bukannya segera beranjak pergi, Astika malah mendaratkan ciuman pada bibir Abi. Lelaki itu pun dengan mudahnya merespons apa yang dilakukan Astika. Gairah Abi bangkit.


Keduanya pun melakukan hubungan terlarang di atas sofa ruang tengah. Setelah selesai melakukan aktivitas panas bersama, keduanya pun terlelap. Mereka bahkan melupakan bahwa Chandra sedang berada di jalan menuju rumah tersebut.


***


Langit malam berhiaskan bintang menemani Chandra malam itu. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari rumah sakit, perempuan paruh baya itu pun sampai di kediaman Abi. Chandra langsung turun dari taksi kemudian menekan tombol bel. Sudah berulang kali dia menekan sakelar bergambar lonceng itu, tetapi tidak ada yang keluar dari rumah.


"Kamu ke mana, Bi?" gumam Chandra.


Akhirnya Chandra masuk tanpa permisi ke dalam rumah anak serta menantunya itu. Dia terus melangkah maju menapaki jalan setapak yang terbuat dari berbatuan menuju pintu utama rumah Pradha.


"Mobilnya di rumah. Tapi, kok nggak keluar yaa?" Chandra mengerutkan dahi ketika melihat mobil Abi yang kini terparkir di garasi rumah yang terbuka.


Saat sudah sampai di depan pintu, perempuan itu mengetuk benda itu perlahan. Akan tetapi, masih tidak ada jawaban. Chandra pun mencoba membuka pintu, ternyata pintu tersebut tidak dikunci.

__ADS_1


"Bi, Abi!" panggil Chandra sembari terus melangkah masuk ke dalam rumah.


Ketika sampai di ruang keluarga, alangkah terkejutnya Chandra karena melihat Abi dan Astika sedang bergelung di bawah selimut yang sama. Bibirnya menganga lebar dengan mata terbelalak. Hatinya semakin hancur melihat putranya ternyata juga bermain serong dengan wanita lain.


"Abi, apa yang sedang kamu lakukan!" teriak Chandra.


Jemari perempuan itu mengepal erat di samping badan. Abi serta Astika yang mendengar teriakan Chandra pun kembali tersadar. Keduanya gelagapan melihat peremouan itu sudah ada di hadapan mereka dengan raut wajah penuh amarah.


"I-ibu sejak kapan ada di sini?" tanya Abi panik.


"Nggak penting ibu datang ke sini sejak kapan. Bi, ibu benar-benar kecewa sama kamu!" Amarah yang meluap hari itu, membuat Chandra meneteskan air mata. Dia tidak menyangka harus menuai kekecewaan terhadap kedua putranya di saat yang bersamaan.


"Ternyata kamu dan Rama sama saja! Kalian mempermainkan sebuah pernikahan! Harusnya sejak awal kamu dan Pradha membatalkan saja pernikahan ini!" Tubuh Chandra bergetar ketika mengingat lagi bagaimana pernikahan putranya itu terjadi.


"Aku hanya tidak mau membuat Ibu kecewa karena aku gagal menikah sebab Praba yang meninggal." Abi terus berdalih agar tidak menjadi pihak yang disalahkan.


Adu mulut itu berlangsung lumayan lama. Chandra terus menumpahkan kekecewaannya kepada Abi, sedangkan Abi terus berdalih mencari alasan agar tidak dianggap salah sepenuhnya oleh sang ibu. Di tengah keributan itu, Astika menguap.


"Haduh, muak sekali melihat drama ibu-anak kali ini!" Astika mengorek telinga dengan jari kelingking.


"Apa maksudmu, Perempuan Gila! Ke mari kamu!" Chandra yang mulai kehilangan kesabaran pun mendekati Astika.


Chandra tidak peduli lagi dengan penampilan Astika saat ini. Perempuan muda itu hanya memakai pakaian dalam ketika Chandra menarik rambutnya. Ibu dari Abi tersebut menyeret tubuh kekasih gelap sang putra keluar rumah, lalu menguncinya dari dalam.


Setelah berhasil mengusir Astika secara paksa, Chandra menghampiri Abi yang kini sudah memakai celana dan sedang berjalan ke arah Chandra. Abi hendak membukakan pintu untuk Astika dan memberikan pakaiannya, tetapi sang ibu mencegah lelaki tersebut.


"Urusan kita belum selesai, Bi!" Chandra menahan tubuh Abi dengan mendorong dada bidang sang putra.

__ADS_1


"Bu, nanti Abi jelaskan semuanya. Abi begini karena Pradha. Dia ...." Belum sempat Abi menyelesaikan ucapannya, Chandra memotong.


"Aku sudah tahu semuanya! Hubungan rumit dan tidak beretika kalian, Ibu sudah tahu semuanya!" Air mata kekecewaan kini semakin mengalir deras membasahi pipi Chandra.


Dada perempuan itu terasa begitu sesak harus menerima kenyataan ini. Kedua putra yang dia besarkan penuh cinta, mengukir luka di hati Chandra. Dia berusaha mendidik putranya penuh kasih. Dia juga tak lupa menanamkan nilai moral serta kebajikan, tetapi kenapa Chandra harus menuai sesuatu yang buruk?


"Aku tidak habis pikir dengan pola pikir kalian! Kalian berdua sama saja! Melempar kotoran ke muka Ibu di waktu yang bersamaan!" teriak Chandra seraya memukul dada Abi terus menerus.


Abi hanya bisa terdiam menerima setiap pukulan Chandra. Dia baru menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Melihat air mata sang ibu mengalir begitu deras, membuat Abi sadar akan semua kebodohannya. Hatinya terasa seperti di remas, nyeri bukan main.


Namun, semua sudah terlambat. Ibunya sudah terlanjur kecewa. Waktu tidak bisa diputar ulang lagi. Harta serta napsu telah membutakan nurani serta akal sehat Abi. Kini dia harus menerima semua karma buruk atas apa yang sudah dia perbuat.


Pukulan Chandra semakin melemah. Tubuh perempuan itu tiba-tiba terkulai lemas dalam pelukan Abi. Abi yang panik berusaha menepuk pipi sang ibu, berharap kesadaran perempuan yang telah melahirkannya itu kembali.


"Bu, Ibu! Bangun!" seru Abi berulang kali.


Napas Chandra tersengal. Dia terlihat begitu kesulitan mengambil oksigen dari udara. Sesekali mulutnya terbuka lebar, tetapi matanya mulai terpejam. Perlahan gerakan Chandra menghilang.


"Bu ... Ibu ...," panggil Abi sambil menggoyangkan tubuh lemas sang ibu.


Lelaki itu mendekatkan telunjuknya pada hidung sang ibu. Tak ada lagi embusan napas di sana. Tak sampai di situ, Abi segera meraih lengan yang ibu dan memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan. Namun, Abi tidak dapat merasakan nadi sang ibu berdenyut. Chandra berpulang.


Abi yang menyadari ibunya telah meninggal pun menangis sejadi-jadinya. Penyesalannya kini harus dia bawa seumur hidup. Penyesalan karena sudah menorehkan kekecewaan di hati sang ibu di penghujung hidupnya.


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir ke karya keren milik sahabat Chika juga yukk!

__ADS_1



__ADS_2