
Keesokan harinya, Nakastra sudah diperbolehkan pulang. Pradha sudah mengemasi barang-barang dan menunggu Rama menjemput. Dia dan Naka menunggu di taman yang ada di dalam rumah sakit tersebut.
"Mama, puyang." Nakastra setengah merengek dengan suara khas batita.
"Sebentar ya, Naka. Kita tunggu papa jemput." Pradha merangkum wajah bulat Nakastra seraya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian Naka beranjak dari kursi. Bocah laki-laki tersebut ternyata melihat kehadiran Ken. Dia berjalan pelan ke arah Ken.
Suami dari Reya tersebut berjongkok kemudian merentangkan tangan. Naka pun langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Pradha hanya bisa melemparkan tatapan kesal kepada lelaki tersebut.
"Oom, puyang!"
"Naka mau pulang?"
Nakastra melepaskan pelukan kemudian mengangguk cepat. Melihat dua lelaki beda usia itu membuat Pradha memutar bola mata. Dia benar-benar merasa muak dengan sikap Ken yang semakin menjadi.
Suami Reya itu mengacuhkan ucapannya. Dia justru semakin gencar menemui Nakastra. Hasilnya, sekarang putra kecilnya itu menjadi sangat dekat dengan Ken.
"Nggak usah, kita tunggu ayah saja. Kasihan ayah nanti kalau kita nggak ada waktu dia sudah sampai, Nak." Pradha mencoba untuk membujuk sang putra.
"Puyang, Mama!" seru Nakastra sambil merengek.
"Kita jalan dulu saja, Dha. Kasian Nakastra," kata Ken.
Tanpa menunggu persetujuan Pradha, Ken langsung menggendong Naka dan berjalan ke tempat parkir. Pradha mengentakkan kaki kesal. Dia terpaksa mengekor di belakang Ken.
Sesampainya di tempat parkir, langkah mereka berhenti karena Rama menghadang. Lelaki itu terlihat basah kuyup karena guyuran air hujan. Matanya menatap nyalang ke arah Ken.
"Turunkan Naka!" perintah Rama.
"Naka, kamu turun dulu. Om mau ngomong sama Papamu," ucap Ken seraya menatap tajam ke arah Rama.
Nakastra pun turun dari dekapan Ken dengan patuh. Dia berjalan cepat ke arah Pradha, lalu memeluk kaki sang bunda. Dia melirik Rama dan Ken yang terlihat sedang bersitegang.
__ADS_1
"Naka, kita beli susu dulu, yuk!" ajak Pradha agar putranya itu tidak melihat dua lelaki yang sepertinya hendak adu mulut.
Naka pun mengangguk patuh. Pradha segera menggendong tubuh mungil sang putra dan membawanya pergi. Setelah keduanya pergi, Rama mulai membuka pembicaraan.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Rama dengan suara dingin.
"Aku? Aku ingin menjemput Naka pulang dan mengantarnya dengan layak." Terukir senyum penuh ejekan di bibir lelaki tersebut.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu?"
"Aku tidak memiliki maksud lain selain yang kuucapkan barusan." Ken menarik ujung bibirnya ke bawah.
"Aku akan membawa mereka berdua pulang dengan aman. Kasihan Naka jika harus pulang dengan berhujan-hujanan bersamamu."
Seketika Rama merapatkan gigi hingga membentuk rahang yang terlihat mengeras. Rasa marah kini berkecamuk di hati lelaki itu. Namun, apa yang dikatakan Ken benar.
Rama tidak mungkin membawa sang putra pulang menggunakan motor dengan kondisi cuaca yang buruk. Akhirnya mau tak mau Rama hanya bisa meredam amarahnya. Pradha serta Nakastra pulang bersama Ken, sedangkan Rama mengikuti di belakang mereka dengan motor.
Sejak hari itu Rama terpacu untuk berusaha lebih keras. Dia meminjam modal tambahan dari bank untuk membangun kembali usahanya yang sedang krisis. Akan tetapi, masalah baru muncul.
"Kak, ada surat dari Bank Bali." Pradha menyodorkan sebuah amplop coklat kepada sang suami.
"Apa Kakak dapat undian berhadiah?" tanya Pradha seraya terkekeh. Pradha memutari meja makan, lalu duduk berseberangan dengan Rama.
Sepengetahuan Pradha, sang suami memang memiliki tabungan di bank daerah tersebut. Jadi, dia berpikir Rama mendapatkan hadiah. Lain halnya dengan Pradha. Rama kini menelan ludah kasar. Perlahan dia mengangkat tangan yang sedikit gemetar.
Dia tahu itu surat apa. Ya, itu adalah surat tagihan tunggakan kredit yang diajukan Rama. Dia terpacu untuk kembali menghidupkan usaha agen pariwisatanya. Untuk itu Rama mengajukan pinjaman ke Bank Bali.
"Te-terima kasih." Rama meraih amplop tersebut kemudian meletakkan begitu saja ke atas meja.
Pradha menarik kursi dan mendaratkan bokong ke atasnya. Dia menatap intens sang suami kemudian mengerjap beberapa kali. Sebuah senyum lebar terukir di bibir wanita cantik itu.
"Buka dong, Kak! Aku juga mau lihat isinya."
__ADS_1
Rama berdeham beberapa kali. Dia mencoba untuk mengabaikan sang istri. Lelaki tampan itu pun kembali memasukkan nasi campurnya ke dalam mulut.
Melihat sikap sang suami yang acuh, membuat Pradha mulai kesal. Dia pun meraih amplop yang kini tergeletak di atas meja. Rama hendak mencegah, tetapi semua terlambat.
Kini amplop berisi tagihan kredit itu sudah berpindah tangan. Pradha menatap tajam sang suami. Tak lupa dia juga melipat lengan di depan dada untuk melayangkan protes atas sikap sang suami.
"Kamu benar-benar mencurigakan, Kak!"
Rama tertunduk lesu. Dia tak berani menatap sang istri. Bayangan ekspresi kekecewaan dan kemarahan Pradha kini bergelayut di kepala serta pelupuk matanya.
Pradha perlahan membuka amplop coklat itu. Dia mengeluarkan secarik kertas dan mulai membaca isinya dengan teliti. Sedetik kemudian mata perempuan itu membulat sempurna.
"Apa-apaan ini, Kak!" Pradha menggebrak meja makan seraya menatap tajam sang suami.
"Maaf," ucap Rama dengan kepala yang masih tertunduk lesu.
"Maaf? Gila kamu, Kak! Aku bahkan nggak pernah tahu kalau kamu mengambil pinjaman sebanyak ini dari bank!" Dada Pradha kembang kempis karena amarah yang bergejolak.
"Uangnya buat apa sih, Kak! Bukannya ketika kamu meminjam uang dari bank, aku harus ikut tandatangan?"
"Beberapa hari setelah Nakastra pulang ke rumah. Apa kamu tidak ingat?"
Sontak memori Pradha kembali ke saat itu. Dia baru ingat kalau Rama mengajaknya bicara mengenai pinjaman. Pradha menyetujuinya langsung tanpa mengetahui nominal yang diajukan.
Bodohnya, Pradha juga langsung menandatangani semua bekas tanpa membaca dengan teliti. Ketika pihak bank menyebutkan total pinjaman saat pencairan, Pradha pun tidak memperhatikan karena terlalu sibuk mengurus Naka yang terus menangis.
"Lalu bagaimana sekarang, Kak?" Pradha mengusap kasar wajahnya.
Kepala ibu dari Naka tersebut terasa hampir meledak. Dalam kondisi yang sangat sulit di tengah wabah ini, membuat dirinya harus berpikir keras. Usaha Rama lumpuh karena wabah penyakit yang melanda Pulau Bali.
Untuk sehari-hari mereka hanya mengandalkan tabungan yang tersisa. Rama pun sudah tidak memiliki penghasilan tetap, karena dia bekerja serabutan. Pradha baru saja membuka usaha kecil yang belum begitu lancar. Kondisi perekonomian mereka benar-benar sedang kacau saat ini.
"Maaf." Rama tertunduk lesu seraya menatap ujung jari kakinya.
__ADS_1
"Apa kata maafmu bisa melunasi ini semua? Sudahlah aku juga salah. Tidak teliti!" Pradha beranjak dari kursi, kemudian meraih tubuh mungil Nakastra. Dia membawanya masuk ke kamar.
Sejak hari itu Pradha memulai perang dinginnya dengan Rama. Dia melakukan aktivitas seperti biasa, tetapi tidak pernah menyapa sang suami. Bahkan Pradha berusaha mencari pekerjaan yang bisa membawa putranya ikut serta.