Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 35. Cek Cok Pasangan Gelap


__ADS_3

Pernyataan pengunduran diri Pradha dari dunia hiburan, ternyata menuai pro dan kontra. Bagi orang-orang yang membenci Pradha, tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mereka tidak perlu repot-repot menatap wajahnya di layar televisi.


Akan tetapi, tidak sedikit juga yang menyesalkan hal itu. Mereka menganggap bahwa talenta Pradha sayang untuk disia-siakan. Di samping kehidupan pribadinya, Pradha memanglah aktris yang mampu menghipnotis penonton untuk ikut larut dalam aktingnya.


Hal itulah yang dirasakan Abi serta Astika. Sepasang kekasih itu ternyata memiliki perasaan yang berseberangan mengenai Pradha. Kini keduanya sedang duduk berdua di sebuah kafe seraya menatap layar televisi yang menyiarkan pernyataan pengunduran diri Pradha dua hari lalu.


"Baguslah, kalau tahu diri dan memilih untuk berhenti. Pasti masyarakat muak dengan kelakuannya, 'kan?" Astika tersenyum miring kemudian menyesap latte di dalam cangkir yang dia genggam.


Abi masih tidak menanggapi. Matanya masih fokus pada paras cantik Pradha yang kini terpampang di dalam layar kaca. Wajah cantik itu sedang berlinang air maya, seakan menumpahkan banyak kesedihan dan penderitaan. Hati Abi seakan teriris melihat hal tersebut.


"Bi, kamu dengar nggak sih, aku ajak ngobrol!" Astika menggoyang lengan Abi sehingga membuat tatapannya beralih kepada Astika.


"Hm," jawab Abi singkat kemudian meminum es americano yang ada di hadapannya.


"Aku melakukan ini semua karena kesal terhadap Pradha. Dia harus merasakan semua yang pernah aku rasakan akibat ulah keluarga itu!"


"Dari awal aku sudah bilang, 'kan. Keluarga mereka tidak ada hubungannya dengan hal buruk yang terjadi pada kehidupanmu? Jadi orang keras kepala sekali sih, Tik!"


"Keras kepala katamu? Bi, Paman Artha yang serakah itu sudah mengambil hakku! Dia mengambil semua harta peninggalan bapak!" seru Astika dengan mata berapi-api.


"Itu karena kamu dulu masih belum cukup umur buat mengelola semuanya, Tik. Bukankah pamanmu sudah membiayai sekolah dan kehidupanmu selama ini?" Abi mengerutkan dahi.


"Belum lagi biaya perawatan ibumu yang tidak sedikit. Aku rasa deposit bapakmu tidak akan cukup jika dikalkulasikan untuk membiayai semua itu."


Mendengar jawaban Abi yang seakan membela keluarga Pradha, membuat amarah Astika memuncak. Dia menggebrak meja sehingga membuat Abi tersentak. Lelaki tersebut menarik lengan Astika dan meminta perempuan itu untuk kembali duduk di atas kursinya.

__ADS_1


"Tik, jangan emosian gitu kenapa?" Abi menatap tajam Astika dan sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe.


"Kamu itu yang bikin aku meledak! Bisa-bisanya kamu membela keluarga busuk itu!"


"Memang itu kenyataannya, 'kan? Selama ini mereka juga memperlakukanmu serta ibu dengan baik. Sebenarnya tidak ada alasan selain rasa iri kepada mereka, untuk menghancurkan kehidupan keluarga tersebut!" Abi melipat lengan di depan dada seraya menyipitkan mata ketika menatap Astika.


"Iri kamu bilang, Bi? Aku ...."


Belum sempat Astika menyelesaikan ucapan, Abi langsung beranjak dari kursi. Kali ini dia sangat muak mendengar ocehan Astika yang tidak henti menjelekkan keluarga Pradha. Dia sangat menyesal telah terburu napsu sehingga gelap mata dan bersekongkol dengan Astika.


"Bi, tunggu! Kamu mau ke mana?" tanya Astika seraya berjalan cepat mengejar langkah Abi.


Abi tidak memedulikan Astika. Dia terus melangkah, dan menepis lengan perempuan itu agar tidak menyentuhnya. Dia muak dengan sikap egois Astika.


"Bi, aku bilang berhenti!" teriak Astika.


Namun, perasaan Abi seakan telah mati untuk Astika. Dia tidak membalas pelukan perempuan itu, saat sang kekasih melingkarkan lengan pada pinggangnya. Abi membuang muka, dan mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang mulai basar karena air hujan.


"Lepas!" perintah Abi.


Bukannya melepaskan pelukan, Astika justru mempererat pelukan. Tangisnya semakin pecah karena merasa Abi yang kian hati semakin mengabaikannya. Ada rasa sesal di hati perempuan itu karena dulu mati-matian menyuruh Abi untuk menyetujui pernikahan dengan Pradha.


Astika sadar bahwa hati lelaki itu mulai jatuh ke dalam pesona seorang Pradha. Dia menyesali semua yang telah dilakukan. Astika yang awalnya menggoda Abi dan memperalatnya untuk menghancurkan keluarga sang paman. Kini harus jatuh sendiri ke lubang yang dia gali.


"Lepas, Tika. Mulai hari ini ... kita putus. Jangan pernah ganggu lagi kehidupanku. Hiduplah dengan baik, dan renungkan semua kesalahanmu. Jika memungkinkan, minta maaf sama keluarga Pak Artha, terutama Pradha." Abi mendorong pelan tubuh Astika yang masih gemetar karena tangis.

__ADS_1


"Jangan pernah mencariku lagi untuk alasan apa pun. Terima kasih sudah memberiku banyak pelajaran hidup, serta membuatku menjadi antagonis dalam kisah hidup Pradha." Abi pun balik badan.


Lelaki tampan itu mulai meninggalkan kafe, serta kembali masuk ke mobil. Dia melajukan mobil secepat mungkin untuk melepaskan segala kegundahan hatinya. Berharap semua rasa sesak yang mengimpit dada menghilang terbawa angin.


Perlahan kepingan memori singkat bersama Pradha hadir dalam ingatannya. Meski kenangan tentang pertengkaran serta selisih paham dengan Pradha yang muncul, hal itu mampu membuat Abi tersenyum. Dia merindukan Pradha dengan segala keangkuhannya.


Ingatan Abi pun melayang ke masa lalu. Masa di mana dia pertama kali bertemu Pradha. Masa di mana dia masih memakai seragam putih abu-abu dan memiliki sifat polos serta baik.


"Kenapa dulu aku berhenti berjuang hanya karena makianmu, Dha? Seharusnya aku terus berjuang untuk meluluhkan hatimu yang keras. Aku menyesal karena tidak mau berjuang untuk itu." Abi tersenyum kecut mengingat kebodohannya di masa lalu.


Abi terus menaikkan kecepatan mobil. Dia menerjang hujan deras yang turun membasahi kota Denpasar. Dia ingin menemui Pradha detik itu juga dan kembali meraih hatinya.


Lelaki itu ingin memperjuangkan cinta kepada Pradha meski terlambat. Dia ingin berusaha keras meluluhkan hati sang istri dan menjalani hidup baru bersama Pradha.


Namun, nasib sial menghampiri Abi. Guyuran hujan membuat jalanan licin. Ban mobil Abi mengalami selip, sehingga dia tidak bisa mengendalikan laju kendaraan tersebut. Mulai terdengar decit suara kanvas rem. Dari arah berlawanan, sebuah truk pengangkut bahan bakar terus menyalakan klakson.


Akan tetapi, Abi sudah tidak bisa menguasai mobilnya. Tabrakan pun tak dapat dihindarkan. Badan mobil mewah Abi menghantam tangki truk. Jalanan mendadak riuh dengan teriakan orang sekitar dan pengendara mobil lain.


"Dha, maaf." Abi yang sudah setengah sadar di dalam mobil terbayang lagi akan kisah masa lalunya bersama Pradha.


Lelaki itu tersenyum tipis. Sudut matanya mulai basah karena air mata yang menetes. Tak lama kemudian mobil Abi meledak karena mengalami korsleting, terlebih kini di dekatnya ada truk tangki pengisian bahan bakar. Asap hitam tebal pun membumbung tinggi di langit Denpasar, bercampur dengan air hujan yang tak mau berhenti membasahi bumi.


...****************...


Sambil nunggu karya ini update, mampir ke sini juga yakkk🤗🤗🤗

__ADS_1



__ADS_2