
Pradha mencengkeram kuat pergelangan tangan Astika. Perempuan itu menyipitkan mata dan bibirnya membentuk garis lurus. Tatapan Pradha memancarkan rasa marah kepada Astika.
"Aku sangat beruntung tidak memiliki sifat sepertimu! Bisa saja aku menyebarkan video itu setelah menerimanya dari teman Abi, jika aku mau. Tapi, aku masih memikirkanmu dan juga mendiang Abi!" Mata Pradha tak lepas dari wajah Astika yang mulai merah padam.
"Jika kamu menuduhku kalau aku yang menyebarkan video itu, maka kamu salah orang! Pergi saja sana! Jangan ganggu lagi kehidupanku bersama Rama!"
Pradha melepaskan cengkeraman tangan dari pergelangan Astika dengan kasar. Sepupunya itu masih menatap tajam Pradha sambil mengusap pergelangan tangan.
"Pergilah! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" usir Pradha.
"Sampai kapan pun aku akan mengingat hari ini, Dha!" Astika menatap tajam sepupunya itu, kemudian tertawa terbahak-bahak.
Perempuan itu terus tertawa cekikikan sambil berjalan keluar rumah sakit. Semua yang ada di lobi menatap heran ke arah Pradha yang masih mematung di tengah ruangan. Setelah punggung Astika menghilang dari pandangan, Pradha pun kembali naik ke ruangan tempat Nakastra dirawat.
Pradha masih tak habis pikir dengan sikap Astika. Sepupunya itu masih sempat menyalahkan orang lain. Bukannya merenungkan kesalahan sendiri, malah terus memburu orah lain untuk dipersalahkan. Sejak hari itu, Pradha mendapatkan kabar bahwa Astika depresi berat, dan kini di rawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa.
***
Hari-hari pun berganti. Satu tahun setelah Abi meninggal, Rama resmi menikahi Pradha. Mereka memutuskan untuk pindah ke rumah Rama dan menyewakan rumah Pradha sendiri. Pradha tidak mau meninggali rumah tersebut, karena bisa mengingatkan banyak hal pahit tentang kehidupan lampaunya.
Kini usia kronologis Nakastra sudah menginjak dua tahun. Batita lucu itu tumbuh menjadi bayi yang sangat aktif, meskipun terlahir prematur. Dulu Naka harus tinggal di dalam inkubator selama hampir empat bulan.
Namun, dokter tetap menyarankan Pradha untuk tetap melakukan kontak fisik dengan sang bayi sesekali. Semua tim medis yang ada di rumah sakit mengatakan bahwa kehidupan Nakastra adalah sebuah keajaiban.
"Sayang, hari ini aku pulang telat untuk menggantikan guide yang nggak masuk." Rama menyisir rambut di depan cermin seraya menatap Pradha yang sedang menepuk pantat Naka dari pantulan benda tersebut.
"Iya, Kak." Pradha tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari batita mungil yang masih meringkuk di atas ranjang tersebut.
"Kita sarapan dulu, yuk!" ajak Rama.
Pradha pun segera beranjak dari ranjang, kemudian melangkah mendekati Rama. Dia membetulkan kerah kemeja sang suami, lalu melingkarkan lengan pada leher Rama. Tatapan keduanya pun beradu.
__ADS_1
"Morning kiss, Kak." Pradha sedikit tersipu ketika mengucapkan permintaan untuk mendapatkan ritual pagi dari sang suami.
Ya, Pradha dan Rama akan memberikan kecupan satu sama lain ketika baru membuka mata. Akan tetapi, pagi ini mereka berdua tidak melaksanakan ritual ciuman pagi karena Naka yang ikut terbangun.
Perlahan Rama mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. Dia mengecup Pradha sekilas, lalu menjauhkan lagi bibirnya. Tiba-tiba saja Pradha kembali menarik tubuh Rama. Dia mencium bibir suaminya itu secara brutal.
Keduanya terus bercumbu hingga Pradha hampir kehabisan napas. Menyadari sang istri mulai kesulitan bernapas, Rama langsung melepaskan ciuman. Dia merangkum wajah Pradha yang masih terlihat terengah-engah.
"Makanya jangan nakal." Rama mencolek hidung Pradha gemas.
Pradha hanya tersenyum konyol sambil terus mengatur napas. Keduanya pun melangkah keluar kamar menuju meja makan. Di atas meja sudah terhidang nasi goreng seafood dan kerupuk udang.
"Kak, aku lihat akhir-akhir ini kamu sangat sibuk. Semuanya baik-baik saja, 'kan?" tanya Pradha sedikit khawatir.
"Iya, semua baik-baik saja. Buktinya kita masih bisa makan dan membayar ini itu bukan?" Rama tersenyum lebar menutupi fakta yang sebenarnya terjadi.
Mereka menguras isi tabungan untuk biaya perawatan Nakastra. Jadi, kondisi ekonomi mereka masih belum pulih hingga saat ini. Rama pun baru merintis usaha agen pariwisata kecil demi menghidupi keluarga. Semua terasa semakin berat akhir-akhir ini karena dampak krisis.
"Kak!" panggil Pradha, membuat lamunan Rama buyar.
"Iya." Kini Rama kembali menatap sendu sang istri.
"Benar semuanya baik-baik saja?" tanya Pradha.
"Hm, semua aman terkendali, Sayang." Rama kembali mengukir senyum palsu di bibirnya, lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Baiklah, aku berangkat dulu." Rama beranjak dari kursi kemudian mendaratkan kecupan di puncak kepala Pradha.
Pradha mengantar sang suami sampai depan rumah. Rama menyalakan mesin motor, memanasinya sebentar, kemudian langsung memutar tuas gas untuk meninggalkan rumah. Pradha terus melambaikan tangan hingga punggung sang suami menghilang dari pandangan.
Pradha balik badan. Otomatis tatapannya berhenti di garasi mobil yang kini kosong. Dia menghela napas kasar menatap ruangan tersebut. Dulu tempat itu dipakai untuk memarkirkan mobilnya dan milik Rama.
__ADS_1
Demi pemulihan kondisi Naka, mereka sepakat untuk menjual mobil tersebut. Menggantinya dengan sebuah motor, serta menggunakan sisa uang untuk kebutuhan Nakastra.
"Tidak apa-apa Pradha. Kamu pernah di atas. Tuhan sedang membalikkan keadaanmu sementara waktu." Pradha tersenyum getir kemudian masuk lagi ke dalam rumah.
Sebuah panggilan membuat Pradha masuk ke kamar. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja Rias. Dari layar yang sesekali berkedip itu terlihat nama Reya di sana.
"Reya? Tumben?"
Pradha pun langsung menggeser tombol hijau ke atas. Setelah itu, keduanya saling melepas rindu. Reya mengatakan bahwa dirinya akan pulang ke Bali dalam waktu dekat bersama sang suami.
Pradha yang mendengar kabar itu pun bahagia bukan main. Perempuan itu melirik Naka yang masih terlelap. Dia memutuskan untuk keluar kamar agar sang putra tidak terganggu oleh perbincangammya bersama Reya.
"Jadi, kamu mau balik akhir bulan ini?" tanya Pradha seraya membuka pintu lemari pendingin makanan.
"Iya, Dha. Aku mau mengadakan resepsi di Bali juga."
Reya mendapatkan suami berkewarganegaraan Jepang. Mereka berdua menikah di Jepang, setelah melaksanaka upacara pernikahan adat di Indonesia, dan hanya disaksikan oleh keluarga inti. Reya mengatakan sang suami dipindah tugaskan ke Bali oleh atasannya.
Reya pun memanfaatkan momen ini untuk menggelar resepsi kecil di Bali karena belum sempat mengadakannya. Dia ingin mengundang sahabat serta keluarga saja. Pradha menawarkan vila yang dulu dia beli atas nama Abi. Vila tersebut kini beralih menjadi milik Rama karena Abi belum memiliki putra.
Keduanya asyik mengobrol sampai akhirnya terdengar tangisan Nakastra. Pradha yang panik langsung berlari ke kamar, tanpa mematikan sambungan telepon. Alangkah terkejutnya Pradha ketika tidak menemukan Naka di atas ranjang.
"Naka! Di mana kamu, Nak?" tanya Pradha panik.
"Mama! Mama!" seru Naka di antara isak tangisnya.
***
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukkk ke karya salah satu sahabat Chikaπππ
__ADS_1