Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 37. Akhirnya Bisa Bercerai


__ADS_3

Matahari bersinar begitu ceria pagi itu. Pradha baru saja terbangun dari tidur, dan langsung beranjak dari ranjang. Dia keluar bangsal yang memang dipinjamkan pihak rumah sakit untuknya malam itu.


Pradha mulai berjalan menyusuri koridor menuju ruang NICU tempat Nakastra dirawat. Setelah sampai di depan ruangan tersebut, dia kembali menatap sendu sang putra dari balik kaca. Tubuh mungil Naka masih sama seperti kemarin.


Akan tetapi, jaringan kulit sudah mulai terbentuk sempurna. Jika masih ada di rahim, bayi tersebut barulah berusia delapan bulan. Setiap hari Pradha tak henti-hentinya mengucap doa agar kondisi Naka semakin baik. Ketika sedang asyik mengamati gerakan kecil yang dibuat Naka, terdengar seseorang memanggil namanya.


"Dha," panggil Rama lembut.


Pradha pun menoleh ke arah sang kekasih kemudian tersenyum tipis. Rama melangkah mendekati Pradha, lalu ikut menatap buah cinta mereka. Dia merengkuh lengan sang kekasih dan menepuknya lembut berulang kali. Pradha oun menyandarkan kepala pada bahu lebar Rama.


"Kita pulang dulu, yuk!" ajak Rama, diikuti anggukan kepala Pradha.


"Naka, Ibu sama Ayah pulang dulu. Nanti sore kami ke sini lagi. Kamu yang kuat ya, Nak," pamit Pradha.


Keduanya pun meninggalkan ruang NICU menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan Rama serta Pradha membahas sedikit mengenai kasus teror yang dialami Pradha. Pihak kepolisian mengatakan bahwa otak dari semua teror tersebut, merupakan lelaki yang menyerangnya ketika penayangan perdana film di bioskop. Akan tetapi, polisi masih mecurigai bahwa lelaki tersebut merupakan suruhan orang lain.


"Apa salahku kepada mereka ya, Kak? Kenapa mereka tega membuat hidupku tidak tenang?" Pradha menunduk seraya memainkan ujung kuku.


Mata perempuan cantik itu berkaca-kaca. Dadanya terasa begitu sesak setiap teringat komentar netizen mengenai kehidupan pribadinya. Rama yang menyadari sang kekasih kembali bersedih pun mencoba untuk menghiburnya.


"Sudahlah ... yang penting setelah ini kita akan jauh-jauh dari media. Aku juga tidak mau lagi menerima tawaran bermain film. Aku tidak mau kehidupanku terusik hanya demi popularitas semata. Aku tidak nyaman." Rama menggenggam jemari lentik Pradha kemudian mengecup punggung tangannya.


Pradha mendongak, kemudian menoleh ke arah Rama. Dia menatap haru wajah lelaki yang sangat dicintainya itu. Sebuah senyum lembut pun terukir di bibir Pradha.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Pradha. Banyak sekali kotak hadiah serta bunga yang tergeletak di depan gerbang. Pradha memunguti buket bunga yang ada.


Perempuan cantik itu masih trauma dengan kotak hadiah. Jadi, dia meminta Rama untuk memeriksanya terlebih dahulu. Pradha pun melangkah masuk ke rumah.


"Permintaan maaf dan dukungan, ya?" gumam Pradha ketika membaca deretan huruf yang tertulis pada kartu ucapan.

__ADS_1


Pradha tersenyum simpul ketika membaca satu per satu ucapan yang tertulis pada kartu tersebut. Ternyata tidak semua orang membencinya. Mereka bahkan memberi perempuan itu semangat melalui kiriman manis tersebut.


"Terima kasih." Air mata haru meluncur membasahi pipi perempuan cantik itu.


Pradha beranjak dari sofa, kemudian menyiapkan vas bunga dan menata bunga-bunga cantik itu ke dalamnya. Setelah selesai, dia meletakkan vas berisi bunga itu ke beberapa sudut ruangan di rumahnya.


Ketika sedang asyik menata bunga, tiba-tiba Rama masuk ke rumah dan mendekati Pradha. Pradha mengerutkan dahi karena melihat sang kekasih yang terlihat tergesa-gesa dan panik. Dia pun memusatkan perhatian kepada Rama.


"Kamu kenapa, Kak? Apa ada yang aneh dengan isi kotak-kotak tersebut?" tanya Pradha dengan alis yang saling bertautan.


"Semua baik-baik saja,Dha. Aku dapat email ini!" Rama menunjukkan sebuah email yang berasal dari teman Abi.


Lelaki itu pun membuka email dan membaca isinya. Indra meminta maaf karena sudah berbohong waktu itu. Dia juga mengirim video yang telah direkam Pradha ketika Abi dan Astika ketahuan berhubungan badan di rumahnya.


"Akhirnya kamu bisa mengajukan perceraian dengan video ini, Dha!" seru Abi kemudian memeluk tubuh ramping sang kekasih.


Keduanya pun bersiap untuk menemui Surya. Setelah sampai di rumah sang ketua adat, Pradha langsung menyampaikan niatnya. Dia juga menunjukkan video bukti kepada sang pemangku adat tersebut.


"Jadi, bagaimana? Apa pengajuan gugatan cerai saya diterima secara adat, Pak?" tanya Pradha tak sabar.


"Iya, aku mengabulkannya. Ajak Abi ke sini untuk melakukan rangkaian upacara Mapegat Sot dengan mengelilingi Bale Agung. Setelah itu barulah kalian bisa mengajukan perceraian secara hukum ke pengadilan negeri."


"Baik, Pak. Saya akan segera mengajak Abi ke sini!" ujar Pradha dengan mata berbinar


Pradha dan Rama pun berpamitan. Keduanya mengembuskan napas lega. Selangkah lagi mereka bisa kembali bersatu.


"Tuhan memang adil, Dha. Setelah badai yang menerjang bertubi-tubi, kini mulai hadir pelangi yang memberi harapan baru untuk kehidupanmu."


"Iya, Kak. Tuhan memang baik." Pradha tersenyum lebar untuk mengungkapkan rasa bahagia yang dia rasakan.

__ADS_1


"Oh, ya Kak. Jangan sampai video mereka tersebar luas. Ini hanya untuk proses perceraian. Setelah ini pastikan file-nya terhapus, ya?" pesan Pradha.


"Nggak bakal kesebar, Dha. Bagaimana pun juga ada wajah adikku sendiri terpampang jelas di sini. Aku nggak mau dia terkena malu. Biarlah ini menjadi urusan pribadi kita. Jangan sampai menjadi konsumsi publik."


"Benar, Astika juga sepupuku. Aku nggak mau dia merasakan apa yang aku rasakan. Nanti yang ada dia malah makin dendam sama aku! Dikira aku yang menyebarkan video itu." Pradha terkekeh karena pemikiran buruknya tentang Astika.


Obrolan mereka pun berhenti karena sebuah panggilan masuk ke ponsel Rama. Lelaki itu mengerutkan dahi. Telepon tersebut ternyata berasal dari rumah sakit.


"Kamu nggak bawa ponsel, Dha?" tanya Rama.


"Nggak, Kak. Kenapa?"


"Pihak rumah sakit meneleponku." Rama menunjukkan layar ponsel yang terus berkedip.


"Jangan-jangan ada hubungannya dengan Nakastra?" Pradha terbelalak.


Mendadak Pradha mendapat serangan panik. Dia langsung menggigit kuku dan jantungnya berdetak semakin kencang. Dia takut pihak rumah sakit mengabarkan hal buruk mengenai Nakastra.


"Cepat angkat teleponnya, Kak!" ujar Pradha tak sabar.


Rama pun menelan ludah kasar, kemudian mulai menggeser tombol hijau ke atas. Lelaki itu segera menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Dia mendengar setiap kata yang berasal dari ujung telepon.


"Apa? Baiklah, saya akan ke sana untuk memastikan kondisi jenazah."


Mendengar kata jenazah membuat kaki Pradha semakin lemas. Dia hampir jatuh ke atas jalan beraspal jika Rama tidak mengakapnya. Mata Pradha mulai berkaca-kaca. Pikiran buruk kini menari-nari di dalam kepala perempuan itu.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Dha. Mobil Abi mengalami kecelakaan, pihak rumah sakit ingin memastikan bahwa pengendara mobil itu dia atau bukan."


...----------------...

__ADS_1


Halooo, sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukkk ke novel salah satu teman Chika.



__ADS_2