Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 22. Ngidam yang Bikin Emosi


__ADS_3

Rama menepuk dahi ketika mendengar penolakan dari Pradha. Usahanya bolak-balik ke Klungkung selama hampir dua jam sia-sia. Dia mencoba membujuk Pradha agar mau memakan sate lilit yang sudah dia bawakan.


"Kenapa nggak mau sate yang ini, Dha?" tanya Rama lembut meski hatinya terasa begitu kesal.


"Aku mau sate yang dililitkan pada batang serai bukan bambu begini." Pradha menggeser bungkusan yang sudah dia buka tersebut.


"Rasanya sama saja, Dha. Nih, ya ... aku makan." Rama mengambil satu tusuk sate kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


Perlahan lelaki itu mengunyah sate berbahan ikan tongkol tersebut. Bagi seorang Rama, rasa yang dicecap lidahnya sama saja dengan sate lilit ikan pada umumnya. Dia heran bagaimana bisa Pradha menolak sate itu.


"Ih, kok malah dimakan, sih, Kak!" seru Pradha dengan bibir yang kini melengkung ke bawah.


Lagi-lagi Rama menepuk dahi. Dia tak habis pikir dengan kelakuan Pradha yang berubah drastis. Hormon kehamilan benar-benar membuat kekasihnya itu bersikap layaknya orang lain.


Pradha yang keras, kini terlihat berhati lemah, dan cengeng. Rama menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia meraih lengan atas Pradha kemudian kembali memaksakan senyum lembut.


"Lalu, kamu maunya gimana? Katanya nggak mau makan ini, giliran aku cicip nggak boleh."


"Aku mau makan itu sambil minum es tambring!"


"Lah, jadi aku harus manjat pagar lagi buat beliin es?"


"Pokoknya aku mau itu!" seru Pradha seraya melipat lengan di depan dada.


"Ya, ya. Mau dibelikan es tambring di mana?"


"Mau yang di Legian, Kak." Pradha tersenyum lebar sambil mengerjap berulang kali.


"Lah, memangnya di dekat sini nggak ada yang jual?"


"Pokoknya aku mau yang dijual di Legian, titik!" Pradha kembali merajuk.


Akhirnya mau tidak mau, Rama terpaksa menuruti keinginan aneh Pradha. Dia kembali keluar melalui pagar dengan memanjatnya. Ketika hampir menyentuh tanah, tiba-tiba saja kerah kemeja lelaki tersebut tersangkut pagar.


"Astaga, ada-ada aja!" gerutu Rama kemudian melepas kemeja dan meninggalkannya begitu saja di atas pagar. Dia langsung naik ke atas motor dan melajukan kuda besinya itu membelah jalanan Denpasar menuju Legian.

__ADS_1


Setelah mengendarai motor selama 20 menit, akhirnya lelaki tersebut sampai di tempat yang menjual minuman yang diminta sang kekasih. Setelah memesan dan membayar minuman itu, Rama langsung tancap gas kembali ke rumah Pradha.


Sepanjang perjalanan pulang, Rama terus mengucapkan satu doa yang sama berulang kali. Semoga kali ini Pradha tidak berulah. Dia berharap sang kekasih mau meminum es tambring tanpa protes, agar apa yang Rama lakukan tidak sia-sia.


Satu jam lebih perjalanan bolak-balik dari rumah Pradha ke Legian, dan kembali ke kediaman sang kekasih, membuat Rama mulai kelelahan. Rama turun dari motor, kemudian bersiap memanjat pagar. Kemejanya masih tersangkut di atas pagar dan melambai-lambai karena tiupan angin.


"Kamu ngapain, Kak?" tanya Abi yang kini sudah berdiri di belakang lelaki tersebut.


"Ah, aku mau ngasih ini ke Pradha. Katanya dia lagi pengen es tambring." Rama mengangkat lengan yang kini sedang memegang bungkusan plastik yang mengembun itu.


"Biar aku yang kasih. Kamu terlihat lelah sekali. Terima kasih ya, sudah meluangkan waktu untuk menuruti keinginan ISTRIKU." Abi menekankan kata terakhirnya untuk memukul mundur sang kakak.


Lelaki tersebut tidak rela kalau rencananya untuk memanfaatkan Pradha sebagai sapi perah gagal karena ulah sang kakak. Akhirnya mau tidak mau, Rama pun menyerahkan bungkusan yang dia bawa kepada Abi. Rama kembali menaiki motor, dan meninggalkan kediaman Pradha dengan berat hati.


Setelah memastikan Rama menjauh, Abi segera masuk ke rumah seraya membawa es tambring tersebut. Dia melenggang santai dan mengetuk pintu kamar Pradha. Tak lama kemudian pintu itu terbuka.


"Apa?" tanya Pradha ketus.


"Nih!" Abi menyodorkan es tambring dengan batu es yang sudah mencair sejak tadi.


"Es tambring!"


Begitu mendengar salah satu minuman khas Bali itu mata Pradha seakan berbinar. Air liurnya berdesakan hendak keluar dari mulut. Tak elak jemari lentik Pradha langsung menyambar bungkusan tersebut dari tangan Abi.


"Kok kamu tahu kalau aku lagi pengen es tambring?" Pradha tak melepaskan tatapannya dari bungkusan plastik dalam genggaman.


"Tahulah, aku kan lelaki yang bisa diandalkan! Instingku sebagai seorang suami itu kuat!" Abi mengangkat dagu sombong.


Akan tetapi, Pradha tak lantas percaya begitu saja. Dia menyipitkan mata kemudian mulai mencecar Abi dengan beberapa pertanyaan. Abi pun menjawabnya dengan tenang. Lelaki licik tersebut memang pandai bicara, sehingga Pradha mulai mempercayainya.


Pradha langsung keluar kamar sambil membawa bungkusan sate lilit yang tadi dibelikan oleh Rama. Dia berjalan menuju dapur hendak menghangatkan sate tersebut. Abi pun mengekor di belakang Pradha dan duduk di meja makan seraya memainkan ponsel.


"Itu sate lilit dari siapa?" tanya Abi penasaran.


"Kepo." Pradha enggan memedulikan Abi. Dia terus sibuk dengan kegiatannya untuk menghangatkan sate, serta menyiapkan lagi es tambring agar kembali dingin.

__ADS_1


Setelah selesai, Pradha membawa sepiring sate lilit dan segelas besar es tambring ke meja makan. Dia mulai melahap sate lilit berbahan dasar ikan tongkol tersebut. Rasa gurih dari ikan serta bumbu khas Bali membuat lidah Pradha bergoyang ketika mengunyah sate tersebut.


Begitu sate habis dimakan, Pradha langsung menyeruput es tambring yang menyegarkan. Perpaduan air kelapa, gula merah, dan asam jawa membuat jiwa Pradha seakan segar kembali. Gurihnya daging kelapa muda melengkapi kesegaran es tersebut.


Di sisi lain, Abi hanya bisa menyaksikan Pradha yang sedang menikmati makanan. Dia menelan ludah berulang kali karena sebenarnya juga ingin mengonsumsi apa yang sudah masuk ke perut istrinya tersebut.


"Ah, sedapnya!" seru Pradha dan ditutup dengan sendawa.


"Enak?"


Pradha mengangguk mantap. Makanan tadi seakan memperbaiki perasaan Pradha yang kacau beberapa waktu lalu karena gagal bercerai dengan Abi. Dia kembali lagi ke kamar, dan mengacuhkan sang suami.


Satu bulan berlalu, kini usia kandungan Pradha menginjak 12 minggu. Dia mulai bosan terus berada di rumah. Akhirnya perempuan cantik itu menghubungi Desi untuk menanyakan jadwal kegiatannya lagi.


Perempuan itu meraih ponsel, lalu menghubungi nomor dari sang manajer. Beberapa saat kemudian, panggilannya dijawab. Pradha pun tersenyum semringah.


"Desi, apa kabar?"


"Baik, Kak. Kondisimu gimana? Sudah sehat?"


"Sudah, Des. Oya, Des apa sudah ada pekerjaan menantiku? Aku sudah rindu berakting di depan lensa kamera."


"Apa kondisi Kakak sudah memungkinkan untuk kembali bekerja?"


"Aku rasa aku akan baik-baik saja, Des. Kamu udah atur jadwalku, kan?"


"Maaf, Kak. Tapi ...."


Pradha mendengarkan penuturan Desi dengan saksama. Rahangnya mengeras. Jemari lentik perempuan itu pun mengepal kuat. Sesekali Pradha memijat kepala yang terasa berdenyut. Dia tak menyangka Abi benar-benar licik.


Setelah panggilan berakhir, Pradha mencoba untuk menghubungi Abi. Namun, ponsel lelaki tersebut sedang tidak aktif. Akhirnya Pradha memutuskan untuk menghampiri Abi di tempat kerjanya, untuk menanyakan apa maksud dari semua tindakannya kali ini.


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya salah satu teman Chika yukk!

__ADS_1



__ADS_2