
"Mama! Mama!"
Pradha yang panik terus menajamkan pendengaran. Dia berjalan ke arah balkon kamar. Setelah keluar dari balkon, suara tangisan Nakastra semakin jelas. Namun, putranya itu tidak terlihat di balkon.
"Naka! Nakastra!" teriak Pradha bertambah panik.
"Mama!"
Pradha terbelalak seketika karena menduga sumber suara berasal dari bawah. Dia melangkah cepat ke tepi pagar pembatas. Perempuan itu melongok ke bawah.
"Naka!" teriak Pradha histeris ketika melihat Nakastra sudah terbaring dengan posisi miring, dan kepala beralaskan rimbunan semak-semak.
Pradha langsung melangkah cepat keluar kamar, dan menapaki anak tangga satu per satu. Dia membuka pintu dan segera berlari ke taman belakang tempat Naka jatuh dari balkon kamar.
"Astaga, Naka! Kenapa bisa kamu jatuh!" Air mata Pradha bercucuran seraya mengangkat tubuh Nakastra.
"Maafin Mama, Nak. Mama sudah lalai menjagamu!" seru Pradha seraya menciumi kedua pipi bulat Nakastra.
Dari saku celana, masih terdengar suara Reya yang memanggil nama sang sahabat. Pradha sudah tidak memperhatikan lagi ponselnya. Dia segera berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan.
Setelah berjalan keluar gang, Pradha langsung menemukan taksi. Dia pun segera membawa sang putra ke rumah sakit. Hatinya begitu kacau melihat Naka yang terus menangis, tetapi Pradha tidak melihat darah keluar dari tubuh bayi kecil itu.
Di sisi lain, Reya terpaksa mematikan sambungan telepon. Dia ikut cemas karena mendengar tangisan Naka dan Pradha yang bercampur. Melihat sang istri terlihat begitu khawatir, membuat Ken mendekatinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ken panik.
"Sepertinya ada hal buruk yang terjadi kepada sahabatku, Sayang."
"Pradha?" tebak Ken.
Reya mengangguk cepat. Meski belum pernah bertemu, Ken sangat mengenal sahabat istrinya itu. Dia mengetahui banyak hal tentang Pradha dari sang istri.
Hampir setiap waktu Reya menceritakan semua tentang Pradha. Setiap keduanya ada waktu luang, pasti Reya akan menceritakan kebersamaannya dengan sang sahabat. Dari sanalah Ken dapat mengenal Pradha.
"Coba kamu hubungi dia lagi nanti, supaya kamu tidak khawatir."
"Baik, Sayang." Reya dan Ken pun berpelukan.
***
"Naka mengalami patah tulang pada lengannya, Bu. Kepalanya aman karena tidak terjadi benturan. Beruntung sekali ada semak-semak yang menahan kepalanya ketika jatuh," terang dokter yang menangani Nakastra.
__ADS_1
"Kami perlu persetujuan Anda untuk melakukan tindakan operasi."
"Lakukan apa saja untuk menyembuhkan Naka, Dok!"
"Baiklah, kami permisi untuk melakukan persiapan operasi."
Dokter dengan APD lengkap itu pun meninggalkan Pradha. Tak lama kemudian, Rama datang menghampiri sang istri. Pradha pun segera menghambur ke pelukan Rama, dan tangisnya pecah seketika.
"Apa kata dokter?" tanya Rama sambil terus mengusap punggung Pradha.
"Na-Naka ha-harus dioperasi, Kak." Pradha menjawab Rama dengan suara terbata-bata karena isak tangis.
"Sudah, nggak pa-pa. Naka akan baik-baik saja. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik." Rama terus berusaha menenangkan sang istri.
Dari arah UGD, Naka terbaring tenang di atas brankar. Beberapa tim medis mendorongnya dan membawa bocah itu ke ruang operasi. Pradha serta Rama pun segera melangkah cepat mengikuti mereka semua.
Dua jam kemudian, Pradha diperkenankan masuk ke ruang pemulihan untuk menemani Naka. Perempuan itu menahan air mata agar tidak menetes. Melihat bayi kecilnya terbaring lemah selesai operasi membuat hati Pradha seakan diremas.
Rasa bersalah memenuhi hati Pradha saat ini. Dia merasa sudah lalai dalam menjaga sang putra. Dadanya begitu sesak jika mengingat kejadian yang menimpa sang putra.
"Maafkan Mama, Nak." Pradha menggenggam jemari sang putra seraya mengusap lembut punggung tangannya.
Naka terlihat sedikit bergerak. Pradha langsung mendekatkan wajah ke muka sang putra. Dia menciumi puncak kepala Naka yang terus meracau memanggil namanya dengan kondisi setengah sadar.
Setelah kesadaran Naka pulih, dia dipindahkan ke kamar perawatan. Rama berjalan ke arah ruang administrasi untuk menanyakan biaya operasi dan perawatan Nakastra.
"Totalnya 25 juta, Pak."
Rama tertegun. Mungkin dulu uang sebanyak itu terasa sedikit. Namun, kini kondisi ekonominya sudah berbeda. Uang sebanyak itu sangat sulit didapatkan oleh Rama dalam waktu dekat.
Rama melangkah gontai, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut. Dia mengeluarkan ponsel dan mengecek saldo rekening melalui aplikasi mobile banking.
"Astaga, dari mana aku mendapatkan kekurangannya?" Rama mengusap kasar wajah ketika mengetahui bahwa dia hanya memiliki tabungan 5 juta.
Berhari-hari Rama mencoba untuk menjual motornya, tetapi belum ada pembeli yang cocok dengan harga yang dia tawarkan. Akhirnya Rama memutuskan untuk memastikan penyewa rumah Pradha. Dia menekan tombol bel ketika sampai di depan rumah Pradha.
"Pak Rama? Mari, silakan masuk!" ajak seorang lelaki muda bernama Rico.
Rama pun mengikuti Rico dan duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilakan. Dia berulang kali menelan ludah untuk mengungkapkan niatnya kepada Rico.
"Begini, Co. Nakastra dirawat di rumah sakit karena patah tulang. Sebentar lagi masa kontrakmu untuk rumah ini kan habis." Rama menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Apa kamu bisa memberikan dulu uang kontrak selanjutnya sekarang? Aku butuh untuk biaya operasi Nakastra."
"Nggak bisa!" sahut perempuan muda berambut pirang.
"Sayang!" seru Rico kepada Loretta, sang kekasih.
"Mana ada yang seperti itu? Masa sewa masih satu minggu lagi! Aku nggak mau keluarkan uang lebih cepat!"
"Sayang, jangan begitu. Hanya jarak satu minggu kan sama saja?" Rico berusaha membujuk sang kekasih.
Loretta menyipitkan mata kepada Rico. Sebuah ide pun muncul di otak liciknya. Dia tersenyum miring, lalu mengalihkan pandangan kepada Rama.
"Berikan kami diskon 30 persen jika kamu menginginkan pembayaran lebih awal!"
"Sayang, kamu keterlaluan!" Sontak Rico beranjak dari kursi dan menarik kasar lengan Loretta.
"Lepas! Aku cuma mau ngasih tahu dia cara berbisnis!" seru Loretta sambil menatap sinis Rama.
"Sudah cukup!" teriak Rama karena sudah kehabisan kesabaran.
Lelaki tampan itu beranjak dari sofa kemudian melipat lengan di depan dada. Dia menatap tajam Loretta. Rama juga mengukir sebuah senyum miring untuk mengejek perempuan muda di depannya itu.
"Baiklah kalau begitu. Kalian silakan mulai berkemas! Aku akan menjual rumah ini, jika kalian sudah tidak berniat untuk menyewanya."
"Nggak bisa gitu dong! Kami masih mau menyewa rumah ini!" protes Loretta.
"Ah, ya. Mengenai bisnis, aku jadi teringat sesuatu. Kalian akan terkena charge untuk memperbaiki ulang beberapa kondisi rumah yang kacau akibat ulah kalian setahun terakhir!" seru Rama.
"Cat tembok yang mulai kusam, beberapa lantai pecah, dan atap rumah yang jebol. Aku akan menghitung semuanya, dan mengenakan biaya perbaikan karena selama kalian tinggal tidak merawat rumah ini dengan baik." Rama tersenyum miring penuh kemenangan.
"Nggak bisa begitu! Itu kan ...." Ucapan Loretta berhenti, karena Rama beranjak pergi tanpa memedulikan ocehan perempuan itu.
Rama segera menyalakan mesin motor dan memutar tuas gas untuk kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya terasa begitu kusut. Dia sudah tidak tahu lagi harus mencari uang di mana lagi.
Sesampainya di rumah sakit, sebuah kenyataan pilu harus kembali di hadapi Rama. Dia melihat sang istri menangis di depan bangsal. Rama mendekati Pradha kemudian memeluk sang istri penuh cinta.
"Kamu kenapa, Dha?"
...----------------...
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukkk ke karya salah satu sahabat Chika 😍😍😍
__ADS_1