
Setelah kejadian itu, Pradha semakin malas melihat wajah Abi. Dia selalu berangkat ke lokasi pengambilan gambar secara terpisah dengan Abi. Beberapa kali Pradha mendapatkan pertanyaan yang sama dari rekan artis atau kru film, kenapa dia tidak berangkat bersama Abi.
Pradha pun beralasan, bahwa Abi mampir dulu di tempat lain dan akan terlambat. Jadi, dia memilih berangkat lebih dulu. Hal itu tentu saja diterima mentah-mentah oleh para kru tanpa menaruh rasa curiga.
"Yakkk, ini adalah take terakhir. Setelah ini kita bisa beristirahat, dan menyerahkan semuanya pada bagian editing." Gita memberi semangat kepada semua kru serta aktor dan aktris yang terlibat pada proses pengambilan gambar untuk film tersebut.
Pradha serta pemain utama pria pun segera mengambil posisi adegan terakhir. Semuanya pun berjalan lancar tanpa ada halangan berarti. Pradha hanya diminta melakukan dua kali pengulangan saja.
"Cut!" teriak Gita.
Perempuan cantik itu beranjak dari kursi lalu setengah berlari menghampiri Pradha dan pemain lain. Dia bertepuk tangan seraya mengukir senyum puas pada bibir tipisnya.
"Kerja bagus semua! Terima kasoh sudah bekerja keras dua bulan terakhir ini! Aku mau mengadakan jamuan makan malam di studio. Kalian wajib ikut serta, ya!"
"Baik!" seru semua kru film serta pemain secara serempak.
"Untuk tanggal dan jamnya aku akan mengumumkan nanti, dan mengirimkan undangan secara personal. Sekarang kalian bisa beristirahat dulu, atau langsung pulang." Gita langsung kembali ke layar monitor untuk berdiskusi dengan kru yang bertugas untuk menyunting hasil rekaman.
Pradha memutuskan untuk tinggal sejenak. Perempuan hamil itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia merasa sedikit kram pada perut. Rama yang menyadari Pradha terlihat sedikit tidak nyaman dan kesakitan pun menghampirinya.
"Dha, kamu kenapa?"
"Perutku kram, Kak. Sepertinya kecapekan." Pradha menjawab pertanyaan Rama sambil meringis menahan sakit.
"Ayo, aku bawa ke dokter!" ajak Rama.
Pradha pun mengangguk pelan, Rama memapah tubuh Pradha dan membawanya masuk ke mobil. Lelaki itu mengambil alih kemudi agar sang kekasih bisa beristirahat sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Namun, ketika baru saja berjalan beberapa meter meninggalkan lokasi syuting, tiba-tiba mobil Abi memotong jalan mereka. Rama yang menginjak rem secara mendadak, sehingga membuat tubuh Pradha terguncang ke depan. Sabuk pengaman yang dia pakai sampai menekan perut dan menimbulkan rasa sakit yang lumayan kuat.
Rama yang geram dengan ulah Abi pun segera turun dari mobil. Dia menggebrak badan mobil Abi, dan meminta lelaki tersebut keluar. Adik dari Rama tersebut pun keluar dari mobil kemudian menghampiri Rama seraya melemparkan tatapan tajam.
"Apa maksudmu? Kamu tahu nggak tindakanmu barusan bisa membahayakan kami!"
__ADS_1
"Apa peduliku? Aku hanya mau membawa istriku pulang, Kak. Dia selalu menghindari bahkan sering kali kabur dengan lelaki lain yang seharusnya dipanggil kakak ipar!" Abi tersenyum miring sembari menyipitkan mata.
"Perut istrimu kram, dia butuh pemeriksaan! Aku takut terjadi apa-apa! Kamu tahu 'kan kalau akhir-akhir ini dia bekerja lebih ekstra untuk menyelesaikan proses syuting film?"
"Lalu?"
"Sebagai seorang suami harusnya kamu ngerti, dan lebih memperhatikan kesehatan istrimu!" bentak Rama seraya menekan dada kiri Abi dengan jari telunjuknya.
"Memperhatikan Pradha, ya? Sayangnya perempuan sialan itu tidak mau mendapatkan perhatian dariku sejak awal! Aku hanya melakukan apa yang dia mau." Abi tersenyum miring kemudian menepis lengan sang kakak.
Di sisi lain, Pradha merasa perutnya semakin sakit. Perempuan itu terus mendesis menahan rasa nyeri pada perut bagian bawah. Dinginnya mesin pendingin mobil tidak mampu menahan keringat Pradha untuk tak menetes.
Peluh bercucuran membasahi dahi, lengan, dan hampir sekujur tubuh Pradha. Sampai pada titik di mana perempuan hamil itu tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang mendera, Pradha pun menurunkan kaca mobil. Dia berteriak kepada Rama dengan sisa kekuatan yang dimiliki.
"Kaaak, tolong aku! Sakit!" rengek Pradha dengan suara gemetar karena menahan tangis dan sakit di waktu yang bersamaan.
Mendengar sang kasih memanggil dan merintih, sontak membuat Rama melupakan Abi. Dia langsung berlari ke arah Pradha. Wajahnya terlihat begitu panik melihat Pradha yang kesakitan.
"Maafkan aku, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Rama pun segera melajukan mobil layaknya orang kesetanan.
Rama tidak peduli lagi dengan semua itu. Baginya yang terpenting sekarang adalah bisa segera membawa Pradha ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah mengendarai mobil selama 15 menit, akhirnya Rama sampai di rumah sakit. Dia langsung turun dari mobil dan membawa Pradha yang terus merintih kesakitan ke ruang IGD. Di sana para perawat segera mengambil alih tubuh Pradha.
"Bapak tunggu di sini sebentar, ya? Kami akan memeriksa kondisi pasien dan mengambil tindakan terbaik."
"Tolong, ya, Sus?"
Perawat itu mengangguk dan kembali masuk ke ruang IGD. Sementara itu Rama menunggu di luar dengan perasaan yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Melihat Pradha kesakitan membuat Rama terlihat begitu khawatir.
"Semoga kamu baik-baik saja, Dha."
Ketika Rama sedang sibuk bergelut dengan pikirannya. Seorang dokter perempuan menghampiri lelaki tersebut. Rama dapat melihat Wajah tegang dokter tersebut meski tertutup masker.
__ADS_1
"Pak, mohon maaf. Apa Anda suaminya?"
"Ah, saya kakak iparnya."
"Begini, Pak. Nyonya Pradha mengalami kontraksi karena stres. Dia ...."
Dokter tersebut mengatakan bahwa Pradha mengalami stres tinggi, sehingga mengakibatkan meningkatnya hormon kortisol. Hormon tersebut memicu keluarnya hormon CRH dan membuat tubuh mengartikan bahwa janin siap dilahirkan.
"Jadi, mau tidak mau Nyonya Pradha harus melakukan persalinan hari ini juga. Beliau bisa melahirkan secara normal karena mengalami kontraksi layaknya ibu hamil pada umumnya."
"Lakukan yang terbaik, Dok."
"Baik, saya permisi." Dokter itu pun kembali masuk ke ruang IGD.
Tak lama kemudian, Pradha yang terus merintih kesakitan didorong keluar dari ruang IGD. Rama pun setengah berlari mengikutinya dari belakang. Langkah lelaki itu berhenti tepat di depan ruang bersalin.
"Bu, bisa ke rumah sakit sekarang? Dokter mengatakan bahwa Pradha harus melakukan persalinan." Rama memberitahukan kondisi Pradha melalui sambungan telepon.
"Apa? Di rumah sakit mana? Ibu akan segera ke sana."
"Rumah sakit Cakra Husada, Bu."
"Astaga, semoga semuanya berjalan lancar. Ibu akan segera ke sana."
Sambungan telepon pun terputus. Banyak sekali pikiran buruk melintas di kepala Rama, mengingat usia kandungan Pradha yang baru menginjak 25 minggu. Tak lama kemudian, seorang perawat menghampiri Rama.
"Permisi, Pak. Apa Anda keluarga Nyonya Pradha?"
"Ya, bagaimana kondisi Pradha, Sus?"
"Sebelumnya maaf, Pak. Kami ...."
...----------------...
__ADS_1
Holaaa, sambil nunggu karya ini update, mampir ke sini juga Yukk🤗🤗