Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 14. Tertangkap Basah


__ADS_3

"Kak, Tolong sentuh aku di mana pun kamu mau!"


Rama terbelalak mendengar permintaan konyol Pradha. Terakhir kali mereka bertemu, dan berbuat hal di luar batas saja Pradha terlihat sangat tertekan. Lalu, apa ini? Perempuan cantik itu kini terlihat seperti cacing kepanasan dan meminta untuk dicumbu?


"Dha, sadar! Kamu kerasukan apa?" Rama menepuk pipi Pradha, berharap kewarasan perempuan itu kembali.


"Panas banget, Kak. Setiap kulitku bersentuhan denganmu rasanya aku ingin mendapatkan lebih banyak lagi sentuhan. Kak, ayo, tolong aku untuk melepaskan penderitaan ini!"


"Dha, kamu jangan gila!"


Rama segera memapah kekasihnya itu ke dalam kamar. Akan tetapi, ternyata tindakannya itu merupakan kesalahan besar. Setelah masuk ke kamar, Pradha justru semakin menggila.


Perempuan itu mulai melucuti semua pakaiannya. Dia menarik kemeja Rama, sehingga tubuh lelaki tampan itu kini menindihnya. Rama berulang kali menelan ludah, berharap hasratnya ikut tertelan.


Rama berpikir untuk tidak menyentuh Pradha dalam keadaan seperti ini. Dia hanya mau melakukan hubungan badan, jika Pradha menginginkannya dalam keadaan normal. Kali ini dia berpikir kalau Tirta sudah memberinya obat penambah gairah.


Pradha berusaha mencium Rama berulang kali, dan Rama terus berusaha menghindar sebisa mungkin. Namun, pertahanan Rama roboh ketika melihat Pradha menitikkan air mata. Isak tangis mulai lolos dari bibir perempuan itu.


"Kak, tolong Pradha sekali ini saja. Habis ini Pradha janji nggak bakal minta yang aneh-aneh. Pradha udah nggak kuat." Pradha memelas kepada Rama sehingga lelaki tersebut merasa kasihan.


"Aduh ... kenapa aku selalu luluh dengan air matamu, sih, Dha!" Rama menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.


Rama pun mulai mencium lembut bibir kekasihnya itu. Keduanya menikmati sentuhan yang diberikan satu sama lain. Rama sudah tidak bisa mundur lagi. Akhirnya keduanya bergelung dalam lautan hasrat, dan mencapai puncak bersamaan.


Setelah selesai bergulat nikmat di atas ranjang, Rama berusaha membangunkan Pradha. Namun, hanya terdengar lenguh malas dari perempuan dalam pelukannya itu.


"Dha, bangun. Aku pulang dulu, ya?" Rama berusaha melepaskan pelukan sang kekasih dari pinggangnya.


Akan tetapi, usahanya gagal. Pradha layaknya lintah yang terus menempel pada tubuhnya. Setelah bersabar menunggu, akhirnya Pradha berganti posisi dan membelakangi Rama. Kini dia bisa lepas dari pelukan sang kekasih.


"Akhirnya," gumam Rama kemudian turun perlahan dari ranjang.


Rama langsung memakai lagi pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Ketika baru saja hendak memakai kembali kemejanya, tiba-tiba pintu kamar Pradha terbuka. Alangkah terkejutnya Rama ketika mendapati sang adik membuka pintu kamar Pradha.


"Abi!" seru Rama dengan mata membulat sempurna.


"Jadi, benar dugaanku selama ini! Kalian sudah berselingkuh di belakangku!" Abi menatap Rama penuh kebencian.


Dada lelaki tersebut kembang kempis menahan gejolak amarah yang membuncah. Jemarinya mengepal erat, bersiap untuk mendaratkan tinju kepada sang kakak.


"Ini sebuah kecelakaan, Bi. Aku hanya ...."


Belum sempat Rama melanjutkan ucapannya, sebuah tinju mendarat tepat di pipi lelaki tersebut. Rama pun tersungkur di atas lantai. Abi mendekati sang kakak, dan kembali menghujaninya dengan pukulan.

__ADS_1


Mendengar keributan tersebut, kesadaran Pradha kembali. Dia segera bangkit dari ranjang. Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika melihat pertengkaran Abi dan Rama. Dia segera membalut tubuhnya dengan selimut, lalu turun dari ranjang.


"Bi, hentikan! Bi, berhenti aku bilang!" teriak Pradha histeris seraya menarik lengan sang suami.


"Kamu juga, Dha! Dasar perempuan murahan! Kamu enggan disentuh suami sah! Tapi, malah bermesraan dengan kakak iparmu sendiri! Dasar sundal!" Abi menunjuk wajah Pradha penuh amarah. Mata lelaki itu melotot sekan mau copot, dan tubuhnya bergetar hebat karena amarah yang membakar jiwa.


"Apa katamu!"


Mendengar Abi mencaci kekasihnya, Rama tidak terima. Dia pun bangkit, dan membalik keadaan dalam sekejap. Lelaki tampan tersebut mendaratkan pukulan pada wajah serta perut sang adik secara brutal.


"Kalian berdua benar-benar menjijikkan!" seru Abi sambil tersenyum lebar, tawanya pecah.


Namun, hati Abi terasa begitu sakit karena merasa dikhianati oleh dua orang terdekatnya. Dia tak lagi melawan Rama yang terus menghujaninya dengan kepalan tinju.


Pradha yang mulai panik melihat amarah Rama yang tak terkendali, segera menarik lengan sang kekasih, dan memeluknya dari belakang. Rama pun akhirnya bisa tenang setelah Pradha memberinya pelukan.


"Kak, pulanglah. Maaf telah menimbulkan kekacauan ini. Seharusnya aku tidak ikut Kak Gita dan yang lain ke tempat itu. Seharusnya aku langsung pulang saja." Pradha mengusap kasar wajahnya, lalu menatap nanar sang kekasih.


"Sudahlah, semuanya sudah terlanjur. Lain kali jangan pernah dekat-dekat dengan Tirta." Rama merangkum wajah Pradha, kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Aku akan membawanya keluar dari sini. Kamu cepat mandi sana!"


Rama akhirnya memapah tubuh sang adik dan membawanya ke sofa ruang tengah. Lelaki itu pun sempat mengobati luka adiknya. Setelah selesai, dia langsung pulang.


"Dha! Buka pintunya!" teriak Abi penuh amarah.


Tak lama kemudian terdengar suara kunci serta tuas pintu yang diputar. Benda berbahan kayu itu pun terbuka sedikit. Pradha menatap malas suaminya itu. Dia enggan berbicara kepada Abi.


"Aku mau bicara sebentar sama kamu!"


"Hem," jawab Pradha malas.


"Aku akan membeberkan perselingkuhanmu ke media!" ujar Abi.


Pradha tersenyum miring menanggapi ancaman dari sang suami. "Penonton tidak akan percaya tanpa adanya bukti yang mendukung!"


"Siapa bilang tidak ada?"


Abi merogoh ponsel, lalu memperlihatkan saat Rama membawa Pradha keluar dari hotel tadi malam. Melihat foto tersebut, membuat Pradha tertawa terbahak-bahak. Ujung matanya sampai basah.


"Itu gambar kapan? Ada-ada saja!" Pradha tersenyum miring, karena menganggap foto itu hanya rekayasa.


"Ini foto semalam."

__ADS_1


"Apa! Bagaimana bisa ...." Pradha langsung terbelalak mendengar pernyataan dari Abi.


"Aku bisa menghancurkan kariermu yang sedang bersinar itu dalam hitungan detik dengan foto ini!"


"Coba saja!" tantang Pradha tanpa ragu.


"Benarkah?" Abi tersenyum miring kemudian mulai menekan tombol berbagi. Dia berniat untuk mengunggah foto tersebut pada laman instagram-nya.


Pradha pun segera merebut ponsel Abi. Akan tetapi, dia gagal. Sejujurnya dia sedang dilema. Pradha sangat mencintai pekerjaan barunya ini. Bahkan kariernya mulai bersinar di sini.


Jika sampai foto itu tersebar ke media, sudah dipastikan karier yang baru seumur jagung itu akan langsung porak-poranda. Kini nasib Pradha berada di ujung jari Abi. Pradha pun akhirnya membuang napas kasar, lalu melipat lengan di depan dada.


"Jadi, apa maumu?" tantang Pradha.


"Belikan aku vila di kawasan Nusa Dua. Ya, minimal rumah, nggak usah vila." Abi tersenyum miring sambil menaikkan satu alisnya.


"Hanya itu?"


"Ah, aku juga mau mobil sedan terbaru!"


"Kita pergi sekarang!"


"Besok saja, hari ini aku ada pekerjaan di Tanah Lot dan beberapa tempat wisata lain."


Abi pun berlalu meninggalkan Pradha yang kini terlihat begitu kesal. Perempuan itu mengepalkan jemari, lalu memukul daun pintu yang ada di sampingnya. Terdengar suara gedoran yang membuat Abi kembali menoleh.


"Lihatlah sekarang! Kesombonganmu sudah menggali lubang kehancuran untuk dirimu sendiri, Dha!" seru Abi sambil tersenyum miring.


...----------------...


Eternal Enemy


Author: Navizaa


Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.


Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.


"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.


Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu?


Apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang saja?

__ADS_1



__ADS_2