
Abi yang sedang menangis itu tiba-tiba menghentikan tangisan. Pikirannya beralih pada pintu rumah yang masih terdengar bising karena terus digedor oleh Astika. Abi mengangkat tubuh Chandra yang sudah tidak bernyawa ke atas sofa, kemudian melangkah mendekati pintu.
Lelaki itu memutar tuas pintu, membiarkan Astika masuk, dan memakai lagi bajunya. Sebuah tatapan tajam pun dia lemparkan kepada sang kekasih. Masih teringat jelas bagaimana Astika mengejek perseteruannya dengan sang ibu beberapa menit lalu.
"Ke mana ibumu yang berisik itu, Bi?" tanya Astika seraya menaikkan ritsleting bajunya.
"Kamu memang perempuan biadap, Tik! Aku menyesal selama ini sudah mengenalmu, dan mendengarkan semua yang kamu ucapkan." Nada bicara Abi terdengar dingin dan menusuk.
"Bahkan dengan bodohnya aku melakukan serta menuruti apa yang kamu ucapkan!" Perlahan air mata Abi menetes.
Lelaki itu seakan ingin menghapuskan ratusan memori buruknya ketika menjalin hubungan dengan Astika. Semua tinggal penyesalan. Abi tidak bisa memutar kembali waktu yang sudah dia habiskan bersama Astika untuk menyakiti orang lain.
"Ibumu kecapekan ya, sepertinya? Habis ngamuk langsung tidur. Kasihan sekali," kata Astika seraya berdecap, ketika Chandra terbaring di atas sofa.
"Ibu sudah meninggal." Kini suara Abi terdengar lemah dan sedikit gemetar.
"Kamu jangan bercanda, Bi." Astika masih tidak mempercayai ucapan Abi. Perempuan itu tersenyum miring kemudian berjalan mendekati Chandra yang sudah terbujur kaku di atas sofa.
Astika mencoba untuk membangunkan Chandra dengan menggoyangkan ujung jari kaki perempuan paruh baya itu. Astika mulai panik karena kaki Chandra terasa dingin. Dia berjongkok kemudian meraih lengan ibu dari Abi tersebut, lalu mengecek denyut nadi melalui pembuluh darah pada pergelangan tangan.
Kaki Astika seakan kehilangan kekuatannya. Tubuhnya kini terduduk di atas lantai. Mata indah perempuan licik tersebut terbelalak setelah mengetahui bahwa Chandra sudah meninggal.
Astika balik badan, kemudian menghampiri Abi yang tengah duduk lemas bersandar pada dinding. Perempuan itu merangkum kedua pipi sang kekasih. Dia mulai mengucapkan sebuah kalimat jahat untuk menghilangkan jejak.
"Bi, tadi ibumu ke sini tujuannya apa?"
"Ibu hanya bilang aku sama saja dengan Kak Rama. Kami
melemparkan kotoran ke wajahnya di saat yang bersamaan."
"Sepertinya ibumu tahu kalau kakakmu selingkuh dengan Pradha. Kita gunakan ini untuk menekan Pradha, lalu menguras semua yang dia miliki sesuai tujuan awal! Aku akan ...." Mata Astika berbinar dan senyumnya mengembang karena memiliki alasan untuk menutupi aibnya bersama Abi.
__ADS_1
Astika berniat untuk sepenuhnya menyalahkan Rama serta Pradha. Dia ingin mengatakan kepada semua orang bahwa perselingkuhan Rama dan Pradha adalah penyebab kematian Chandra.
"Stop! Hentikan omong kosongmu, Tika! Kamu benar-benar perempuan iblis! Pergilah dari sini! Aku tidak mau lagi melihat mukamu!" usir Abi sambil menatap tajam Astika.
Kedua alis Astika terangkat. Kini mata perempuan cantik itu terbuka lebar. Dia tak menyangka Abi mulai melawannya.
Astika pun beranjak dari atas lantai dengan hati yang kesal. Dia menatap Abi seraya melipat lengan di depan dada. Tak lupa perempuan itu juga mengukir senyum miring pada bibir tipisnya.
"Aku pastikan kamu akan menyesali ini semua, Bi! Kamu akan menyesal karena tidak mengikuti apa yang aku katakan!"
Astika pun melangkah kesal meninggalkan Abi yang masih lesu meratapi kepergian sang ibu. Setelah Astika keluar dari rumah itu, Abi kembali mendekati Chandra. Dia menggenggam jemari perempuan itu sambil menitikkan air mata.
"Maaf, Bu. Maafin Abi." Abi menangis tergugu, menyesali semua kebodohannya selama ini.
Di lorong rumah sakit tempat Pradha dirawat, Rama tengah mengumpulkan kekuatan hanya untuk sekedar berdiri. Beberapa menit yang lalu dia mendapatkan kabar dari Abi bahwa sang ibu telah meninggal dunia.
Rama juga merasakan hal yang sama dengan Abi. Perasaan penuh sesal kini memenuhi dadanya. Dia telah membuat sang ibu kecewa karena menjalin hubungan cinta dengan Pradha.
Lelaki itu beranjak dari atas lantai kemudian berjalan gontai menyusuri lorong sepi rumah sakit menuju tempat parkir. Dia harus segera sampai di rumah untuk mengucapkan salam perpisahan kepada sang ibu.
Penyesalan kali ini akan dibawa seorang Rama seumur hidup. Dia akan mengingat hari ini selama masih bernapas. Hari di mana sang ibu meninggalkan dirinya dalam keadaan hati yang carut marut karena kecewa akan tingkah bodohnya yang terburu napsu.
***
Keesokan harinya usai pemakaman Chandra, rumah Rama dipenuhi oleh wartawan yang haus akan berita. Dari sinilah publik mengetahui bahwa Pradha dan Rama memiliki hubungan sebagai saudara ipar.
"Bisa ceritakan bagaimana bisa ibu Anda meninggal, Pak?" tanya wartawan kepada Abi.
"Ibu mengalami serangan jantung setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa oleh tim medis."
"Kami tidak menyangka bahwa Anda dan juga Abi adalah saudara kandung. Menurut beberapa sumber, kalian terlihat tidak akrab ketika berada di lokasi syuting, kenapa?"
__ADS_1
"Maaf, tolong jangan tanyakan hal lain. Kami sedang berduka, permisi." Rama pun akhirnya meninggalkan para pemburu berita tersebut dan masuk ke rumah.
"Pak, Pak, Pak ...." Para wartawan berusaha mendapatkan penjelasan dari Rama, tetapi pintu rumah itu langsung ditutup.
Beberapa dari mereka menganggap kalau hal itu wajar, tetapi tidak sedikit juga yang menganggap sikap lelaki tersebut tidak sopan. Ketika puluhan wartawan itu hendak beringsut dari kediaman Rama, tiba-tiba Astika datang dan menghampiri mereka semua.
"Kenapa buru-buru? Aku punya kabar menakjubkan untuk bahan berita kalian!" seru Astika seraya tersenyum miring.
"Maaf, Anda siapa?" tanya wartawan bernama Lily.
"Perkenalkan, saya Astika. Sepupu dari Pradha, saya ingin menguak kebusukan seorang Pradha yang dikenal luas sebagai perempuan bertalenta serta memiliki kepribadian baik itu."
Astika pun mulai menceritakan kronologi kejadian meninggalnya Chandra. Tentu saja perempuan itu melebih-lebihkan dari apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengatakan kepada para wartawan, bahwa Chandra mengalami serangan jantung setelah mengetahui bahwa Rama dan Pradha telah berselingkuh.
Namun, tentu saja dia tidak mau membongkar aib bahwa Abi dan dia juga melakukan hal yang sama. Perempuan licik itu bahkan membongkar bahwa Pradha sekarang tengah berada di rumah sakit karena melahirkan putra dari Rama.
"Wah, nggak nyangka, ya!"
"Iya, loh! Padahal Kak Pradha ini terlihat begitu berkelas dan berpendidikan!"
"Tapi, nyatanya dia berkelakuan seperti perempuan rendahan!"
Kira-kira kalimat penuh hujatan itu yang keluar dari bibir para wartawan setelah selesai mewawancarai Astika. Banyak dari mereka melontarkan komentar negatif mengenai Pradha. Astika yang sudah puas membongkar perselingkuhan Rama dan Pradha pun akhirnya meninggalkan kediaman mereka dengan senyum miring.
"Aku akan membuat kalian semua hancur perlahan!"
...----------------...
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke sini yaaa~
__ADS_1