
Pupil mata Pradha membesar dan jantungnya berpacu dua kali lebih cepat ketika melihat apa yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Dia menjerit histeris sehingga membuat Rama ikut tersentak. Rama pun memeluk sang kekasih dan berusaha menenangkannya.
"Tenang ... kenapa, Dha?" tanya Rama seraya menepuk lembut punggung ibu dari putranya itu.
"I-itu di kotak itu!" Pradha terus menangis histeris dalam dekapan sang kekasih.
"Ada apa dengan kotaknya?" Rama melonggarkan pelukan, kemudian menoleh ke arah kotak yang setengah terbuka itu.
"Mereka mengirimkan sesuatu yang mengerikan, Kak."
"Aku lihat dulu, setelah itu kita bisa melaporkannya pada polisi." Rama melepaskan pelukannya dari Pradha, kemudian membuka lebar kotak yang masih tergeletak di atas lantai tersebut.
Ternyata di dalamnya terdapat sebuah bento cake yang terlihat cantik. Akan tetapi, sesuatu yang kontras dengan kue tersebut kuga ada di dalam sana. Kotak tersebut dipenuhi dengan cairan merah pekat yang dibungkus dalam beberapa kantong plastik. Selain itu juga ada sebilah pisau, dan foto Pradha yang sudah disayat-sayat.
Rama memejamkan mata sekilas kemudian menutup kembali kotak itu. Dia bisa merasakan bagaimana takutnya Pradha saat ini. Teror itu pasti membuat mental sang kekasih semakin jatuh.
"Aku akan menelepon polisi, Dha. Tenanglah. Kita minta mereka menyelidiki hal ini dan mengungkap siapa pelakunya. Kamu yang tenang, ya?" Rama merangkum wajah cantik Pradha dengan kedua telapak tangan, seraya menatap intens manik mata sang kekasih.
Pradha hanya bisa menangis. Air mata kini membanjiri netra dan hampir seluruh wajahnya. Dia benar-benar tertekan dengan situasi saat ini. Pradha sedang berada di titik paling rendah dalam hidupnya.
Mentalnya sangat tertekan dengan semua masalah yang menghantamnya bertubi-tubi. Kelahiran prematur Nakastra, terbongkarnya perselingkuhan dengan Rama, serta semua pekerjaan yang dibatalkan secara sepihak. Bahkan sekarang dia menerima hujatan sampai teror dari orang yang tidak dikenal.
"Semua akan baik-baik saja, Dha. Ayo, kamu kuat! Kamu bisa menghadapi semua ini! Mari terus berjuang bersama demi Naka. Kamu perempuan hebat!" Rama terus berusaha memberi semangat kepada sang kekasih.
Setelah Pradha tenang, Rama pun menelepon pihak kepolisian untuk melaporkan teror tersebut. Tak lama kemudian, polisi langsung datang, dan membawa pergi kotak tersebut sebagai barang bukti.
Dua hari kemudian, sebuah hasil mengejutkan keluar. Polisi mengeluarkan pernyataan bahwa kue yang dikirim kepada Pradha ternyata telah diberi racun mematikan. Kasus ini bukan hanya sekedar teror biasa, melainkan sebuah percobaan pembunuhan.
__ADS_1
Sejak hari itu, Pradha mendapatkan pengawasan ketat dari pihak kepolisian selama penyelidikan kasus ini berlangsung. Dia tidak pernah pergi sendirian. Kebanyakan waktu dihabiskan di rumah, dan setiap malam pergi ke rumah sakit untuk menjenguk putranya.
Dua minggu kemudian ....
Hari ini adalah hari pemutaran oerdana film yang dibintangi oleh Pradha. Ketika Gala Premier para pemain diminta untuk hadir ke bioskop. Pradha awalnya menolak, tetapi Rama terus membujuknya agar ikut serta untuk menghargai Gita serta kru lain. Rama mengingatkan Pradha untuk tetap bekerja secara profesional dengan mengesampingkan masalah pribadinya sejenak.
"Iya, kami sedang di jalan menuju bioskop." Rama menjawab telepon Gita sambil terus memegang roda kemudi.
Di kursi penumpang bagian depan, Pradha sedang menatap jalanan dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Banyak sekali beban yang berjubel di kepala perempuan itu. Terlebih lagi, ini adalah momen pertama dia muncul lagi ke muka publik sejak aibnya terbongkar di hadapan publik.
Sesampainya di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Denpasar, Rama serta Pradha masuk melalui pintu VVIP menuju bioskop. Tak lama setelahnya film pun diputar. Pradha hanya diam selama pemutaran film berlangsung.
Rama berulang kali mengajak sang kekasih berbicara. Akan tetapi, Pradha hanya mengangguk dan menggeleng ketika merespons pertanyaan dari Rama. Usai pemutaran film, Pradha serta pemain film lain berjalan ke depan layar bioskop.
"Selamat malam semua!" sapa pemain utama pria dalam film tersebut.
"Dha, giliran kamu." Rama menyenggol lengan Pradha dengan siku tangannya.
"Ya?" Pradha yang sedari tadi hanya melamun pun menoleh ke arah Rama.
"Giliran kamu mengucapkan terima kasih, serta kesan dan pesan kepada penonton." Rama berusaha mengembalikan fokus Pradha.
"Baiklah," ucap Pradha singkat.
Perempuan itu mulai mengangkat mikrofon yang sejak tadi dia genggam. Pradha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ketika baru saja dia membuka mulut dan hendak berbicara, ada seorang penonton yang berlari mendekat.
Penonton laki-laki itu tiba-tiba melemparkan beberapa butir telur busuk. Telur-telur itu mendarat tepat di kepala serta badan Pradha. Aroma tak sedap kini memenuhi studio bioskop.
__ADS_1
Lelaki yang tadi melemparkan telur kepada Pradha pun kini diringkus oleh petugas keamanan. Lelaki itu menatap nyalang ke arah Pradha sambil mengumpat. Wajah Pradha merah padam karena menahan rasa malu serta marah yang bercampur.
"Pergi saja ke neraka! Kamu itu publik figur, tetapi memiliki kelakuan hina! Lebih hina dari iblis!" ujar lelaki yang menutup sebagian wajahnya dengan masker itu.
Hati Pradha seakan ditusuk dengan ribuan jarum. Tak terasa air matanya menetes. Dia tidak menyangka serendah itu dirinya di mata publik. Pradha menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Pradha mengumpulkan sisa mental dan kekuatan yang tersisa. Dia mengangkat mikrofon lagi dan mulai berbicara. Suaranya bergetar karena rasa sedih yang sangat dalam.
"Sebelumnya terima kasih, karena berkat kalian semua yang ada di sini sehingga bisa mencicipi bagaimana senangnya bisa menghibur orang lain melalui beberapa karya." Pradha mulai terbata-bata karena isak tangis.
"Maaf, karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian untuk menjadi publik figur yang sempurna. Aku meruntuhkan bayangan kalian, yang menyangka aku ini adalah perempuan baik-baik dan berkelas." Pradha terus berbicara sambil menyapukan pandangan ke seluruh ruangan dengan pencahayaan minim tersebut.
"Aku hanya manusia biasa, sama seperti kalian. Aku bukanlah malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hari ini, di jam ini, serta pada detik yang sama, aku menyatakan mundur dari dunia hiburan."
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Beberapa dari mereka terbelalak dan sesekali saling berbisik. Pemain film lain pun sontak menatap Pradha penuh keterkejutan.
"Terima kasih, karena sudah memberikan kesempatan manusia hina ini untuk menghibur kalian walau tidak lama. Saya pamit." Pradha membungkuk kemudian beringsut dari dalam ruangan itu.
Rama pun setengah berlari mengikuti Pradha. Dia menarik lengan sang kekasih, kemudian memeluknya erat. Pradha pun segera menumpahkan air mata, hingga membuat kaos yang dipakai Rama menjadi basah karena butir bening itu.
"Nggak pa-pa. Menangislah, setelah ini semua akan baik-baik saja."
...----------------...
Haiii ... sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya salah satu sahabat Chika, yuk!
__ADS_1