
Pradha terbelalak ketika mendapatkan pelukan dari Ken. Dia bergegas mendorong tubuh lelaki di depannya itu. Pradha terus meronta untuk melepaskan pelukan Ken.
Namun, dia gagal. Pelukan lelaki tersebut justru semakin kuat. Sampai akhirnya Ken melonggarkan pelukan dengan sendirinya.
Sudut mata lelaki tersebut terlihat basah. Pradha mengerutkan dahi melihat sikap Ken. Kepalanya dipenuhi pertanyaan.
"Pulanglah sekarang sebelum Rama pulang! Alu takut dia semakin salah paham!" usir Pradha dengan nada ketus.
"Dha, beri aku sedikit waktu. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ini penting." Mata Ken terlihat sendu, berusaha membujuk perempuan di hadapannya.
Pradha mengerutkan dahi. Dia menyipitkan mata karena semakin curiga dengan sikap Ken. Tanpa menunggu persetujuan Pradha, Ken langsung berbicara pada intinya.
"Dha, sebenarnya aku adalah kakakmu. Kita saudara satu ayah. Aku sudah menyelidiki ini sejak lama, dan takdir akhirnya mempertemukan kita melalui Reya." Ken menjelaskan secara singkat apa yang sebenarnya dia simpan selama ini.
"Jangan bercanda! Tidak ada bukti yang mengarah ke sana." Pradha melipat lengan di depan dada seraya tersenyum miring.
Akan tetapi, sikap Pradha dipatahkan oleh selembar kertas yang dikeluarkan Ken dari sebuah amplop. Lelaki itu menyodorkan kertas berisi rentetan huruf dan angka yang menyatakan bahwa keduanya adalah kakak beradik.
"Bolehkan aku masuk dan menjelaskan semuanya?" tanya Ken kepada Pradha.
Pradha terdiam sejenak. Dia masih belum percaya dengan apa yang sedang dia alami sekarang. Perempuan itu berusaha mencerna takdir yang menghampiri secara mendadak.
Setelah menimbang, akhirnya Pradha mengizinkan Ken masuk, dan memberi lelaki itu kesempatan untuk menjelaskan semua. Keduanya kini duduk di ruang tamu, ditemani dua cangkir teh dan beberapa jenis makanan ringan.
"Aku mengetahui hal ini dari mendiang ayah. Beliau mengatakan bahwa ahli warisnya bukan hanya aku. Beliau mengatakan memiliki anak lain di Indonesia." Ken mulai menjelaskan apa yang dia tahu dari sang ayah sebelum meninggal.
Perlahan Ken menceritakan kronologi bagaimana Pradha bisa ada di rahim sang ibu. Saat itu ayah Ken yang dalam pengaruh obat memperkosa ibu Pradha. Dia dapat mengingat jelas wajah Laksmi.
Setelah kecelakaan tersebut, ayah Ken mencari keberadaan Laksmi untuk bertanggungjawab. Akan tetapi, Laksmi menolak karena ternyata dia sudah menikah dengan orang lain. Meski begitu, ayah Ken tetap meminta seseorang untuk terus mengawasi Laksmi.
Takeda ingin suatu saat nanti menemui langsung hasil dari kecelakaan itu. Namun, nasib berkata lain. Dia dipecat dari perusahaan dan harus kembali ke Jepang bersama keluarganya.
"Ayah menceritakan semuanya ini beberapa hari sebelum meninggal. Setelah itu, aku berusaha sebisa mungkin mendapatkan proyek perusahaan di Indonesia."
"Aku masih belum percaya. Bisa saja kamu memanipulasi hasil tes ini." Pradha menatap nyalang pada Ken seraya mengetuk amplop coklat yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"Apa perlu kita lakukan tes ini lagi? Mau berapa kali pun kamu menghindari kenyataan ini, kita tetaplah kakak beradik. Ini adalah faktanya!"
***
Rama terbelalak mendengar cerita yang dituturkan Ken. Dia menyandarkan tubuh pada badan mobil. Lelaki itu mengusap wajah kasar kemudian mengembalikan amplop coklat tersebut kepada Ken.
"Lalu bagaimana akhirnya kamu menemukan Pradha?"
"Karena takdir." Ken ikut menyandarkan punggung pada mobil. Matanya menerawang langit-langit seraya tersenyum tipis.
"Aku datang ke Indonesia karena sebuah pekerjaan. Di sini aku bertemu Reya, lalu menjalin hubungan dengannya. Dia menceritakan banyak kisah tentang Pradha. Aku meminta Reya menunjukkan foto Pradha." Ken terlihat menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Kini tatapannya berpindah pada Rama yang masih fokus mendengar cerita yang dia ungkapkan.
"Pradha sangat mirip dengan ibunya. Ayah memberikan foto Bu Laksmi ketika muda dulu. Kamu mau lihat?"
"Tidak perlu," jawab Rama singkat.
"Sekarang, kamu berhutang sesuatu kepadaku!" Ken mengulurkan tangannya kepada Rama.
Rama hanya menatap sekilas lengan Ken, kemudian kembali menatap tajam wajah kakak iparnya itu. Ken terlihat menaikkan sebelah alisnya. Sebuah senyum miring terukir di bibir lelaki tampan itu.
Rama mengusap tengkuk seraya menatap ujung kakinya. Lidahnya terasa kelu ketika harus mengucapkan kata maaf kepada Ken. Namun, dia sudah bersalah.
Rama termakan emosi serta cemburu sehingga berbuat kasar. Tanpa dia sadari, dia telah menggores hati sang istri. Akhirnya Rama menyambut uluran tangan Ken.
"Maaf," ucap Rama.
"Dasar, bedebah satu ini. Kalau Pradha tidak mencintaimu, sudah kupastikan wajah tampanmu itu dipenuhi luka memar!" Ken menarik lengan Rama kemudian memeluk tubuhnya dan menepuk kasar punggung Rama.
Rama pun terbatuk-batuk karena ulah Ken. Lelaki warga negara Jepang itu melepaskan pelukan. Dia kembali menepuk lengan atas Rama.
"Sekarang, kamu tahu 'kan apa yang harus kau lakukan selanjutnya?" Ken tersenyum miring.
Otak Rama langsung teringat Pradha. Dia berlari menuju lift dan menekan tombol tujuh, tempat di mana Pradha dirawat. Lelaki itu merasa berhutang segudang kata maaf kepada sang istri.
Setelah lift berhenti, Rama langsung mengambil langkah cepat menuju bangsal tempat Pradha dirawat. Rama membuka pintu kasar.
__ADS_1
Kini Pradha yang sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal pun menoleh ke arahnya. Sisa senyum yang terukir di bibirnya perlahan menghilang. Rama mulai berjalan mendekati Pradha.
"Dha," panggil Rama dengan suara lembut.
"Ya?" Pradha mengulaskan senyum tipis kepada sang suami.
Reya yang bisa membaca situasi dengan baik, akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan sambil menggendong Nakastra. Setelah pintu kembali tertutup, Rama mendaratkan bokongnya ke atas kursi.
Rama meraih jemari Pradha, mengusapnya lembut, lalu membubuhkan kecupan di sana. Gelayar aneh kini menjalar dari jari Pradha menuju hatinya. Bahkan jantungnya berdetak lebih cepat.
Perlakuan lembut Rama selalu berhasil membuatnya terus merasa jatuh cinta. Rama menautkan jemarinya dengan jari lentik sang istri. Tak lupa lelaki tampan itu menatap dalam mata Pradha.
"Maaf, karena selama ini sudah salah sangka kepadamu. Kepalaku selalu dipenuhi pikiran buruk jika berhubungan dengan Ken. Bahkan aku sempat berpikir kalau ...." Rama menghentikan ucapannya sejenak sambil menatap perut Pradha yang tertutup selimut.
"Aku sempat berpikir kalau bayi yang ada di dalam perutmu adalah hasil hubungan gelapmu dengan Ken. Jahat sekali ya, aku?" Rama tertunduk lesu karena menyesal dengan telah berpikiran buruk kepada Pradha.
"Dasar bodoh! Kamu membuatku sangat frustrasi akhir-akhir ini. Lain kali jangan begini lagi, ya? Kita harus membicarakan semuanya dengan baik. Dari hati ke hati." Pradha tersenyum lembut sambil merangkum wajah sang suami.
Tatapan mereka bertemu. Mata Rama mulai memerah. Air mata penyesalan sudah bersiap untuk meluncur membasahi pipinya.
"Dasar, cengeng!" ejek Pradha.
Perempuan itu menarik lengan sang suami, kemudian memeluknya sambil menepuk lembut punggung Rama. Rama pun mengeluarkan semua beban hati serta penyesalannya melalui air mata. Setelah Rama tenang, Pradha melepaskan pelukan.
Pradha menatap lembut sang suami seraya tersenyum lebar. Tanpa aba-aba, perempuan cantik itu menyambar bibir Rama. Keduanya pun saling berpagutan bertukar rasa.
Setelah cobaan dan kesalahpahaman ini, hubungan keduanya akan menjadi lebih kokoh. Rasa percaya yang terjalin pun akan semakin kuat. Keduanya berharap kehidupan rumah tangga mereka akan terus bahagia seiring berjalannya waktu.
...-TAMAT-...
...----------------...
Terima kasih sudah mengikuti kisah Pradha dan Rama sampai akhir. Maaf jika cerita ini tidak sesuai dengan ekspetasi kalian. Boleh banget DM Chika yaaa buat Kritik dan saran. IG: ikakartikarani
Thanks a lot ❤❤❤
__ADS_1