Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 24. Over


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Abi dan Pradha saling berdiam diri. Mereka sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Namun, apa yang ada di kepala mereka sama.


Keduanya sedang memikirkan siapakah orang yang akan menjadi peran pendukung. Dilihat dari keterangan Gita, Pradha yakin sekali bahwa orang yang dimaksud adalah Rama. Begitu juga dengan Abi, nama sang kakak berputar di kepalanya.


Kegelisahan pun kini mendera hati seorang Abi. Dia khawatir kehadiran Rama akan menghambat rencananya. Lelaki tampan itu perlahan mulai berpikir, untuk melenyapkan Rama dari sekitar mereka. Ketika Abi sedang sibuk memikirkan niat jahatnya, tiba-tiba Pradha membuka pembicaraan.


"Siapa manajer baruku, Bi?"


"Ya?" Abi menoleh sekilas ke arah Pradha, kemudian kembali fokus menatap jalanan di hadapannya.


"Manajermu merangkap sebagai asisten pribadimu, Dha."


"Iya, siapa dia? Kenapa dia tidak datang hari ini?" Pradha memutar bola mata jengah.


"Dia dari tadi ada di sini. Memangnya kamu tidak menyadarinya?" Abi tersenyum lebar dengan tatapan yang terus lurus ke depan.


"Apa? Ka-kamu gila, ya!" teriak Pradha.


"Nggak, aku nggak gila! Dan telingamu itu sedang tidak salah mendengar. Aku adalah manajer sekaligus asisten pribadimu yang baru."


"Apa maksudmu melakukan ini, Bi!"


"Tentu saja untuk mengontrolmu! Aku ingin memantaumu setiap saat aku mau! Aku tidak rela Kak Rama kembali mendekatimu!"


"Ada hak apa kamu melakukan semua ini, ha! Ingat kontrak pernikahan kita ...."


Belum selesai Pradha melanjutkan ucapannya, Rama tertawa terbahak-bahak. Tubuh lelaki itu sampai bergetar karena ledakan tawanya. Pradha pun melemparkan tatapan tajam ke arah sang suami.


"Pradha ... Pradha, apa kamu lupa kalau aku sudah merobek surat perjanjian itu? Jadi, aku rasa kita sudah bebas. Tidak terikat oleh kontrak menyebalkan itu!"


"Dasar brengsek!" umpat Pradha.


***


Keesokan harinya, Pradha yang masih kesal dengan kenyataan yang diungkapkan Abi mengenai manajer barunya, mengumpat berulang kali di depan cermin. Rasanya semakin sesak karena tingkah Abi. Perempuan itu ingin secepatnya terlepas dari belenggu pernikahan dengan sang suami.


"Dasar brengsek! Itu artinya aku harus menggaji suamiku sendiri? Abi benar-benar licik!" gumam Pradha seraya menyapukan bedak serta lipstik pada wajahnya.

__ADS_1


"Awas saja, tunggu pembalasanku nanti! Aku akan membuatmu hancur secepatnya, Bi!"


Setelah selesai bersiap diri, Pradha akhirnya keluar kamar. Abi sudah menunggunya di ruang tamu sambil menggulir layar ponsel. Lelaki itu sedang berbalas pesan dengan Astika.


"Sudah?" tanya Abi tanpa menatap Pradha.


"Aku akan berangkat sendiri. Kamu nggak perlu repot-repot mengantar!"


"Tidak bisa!" Abi langsung beranjak dari sofa dan mendahului Pradha.


Lelaki itu membuka pintu dan masuk mobil, memanasi kendaraan tersebut. Pradha memutar bola mata karena melihat sikap Abi yang menyebalkan. Akhirnya, mau tidak mau Pradha pun masuk ke mobil dan menuju lokasi pengambilan gambar bersama sang suami.


Sesampainya di lokasi pengambilan gambar, Pradha langsung disambut oleh tim perias. Mereka mulai menempelkan beraneka macam kosmetik pada kulit wajah Pradha. Setelah semua persiapan selesai, Pradha langsung beradu akting sambil menggendong seorang balita, sembari mengobrol lelaki paruh baya yang berperan sebagai ayahnya.


Skene tersebut berjalan lancar, sampai akhirnya Rama datang sebagai tokoh pendukung yang dikatakan Gita kemarin. Dugaan Pradha tidak meleset. Orang yang dimaksud sang sutradara memang Rama. Pradha menelan ludah kasar. Rasa rindu yang mati-matian dia tahan sejak pertemuan terakhir dengan sang kekasih kembali mencuat ke permukaan.


"Amy, mau berangkat ke pernikahan sahabatmu sekarang, atau nanti?" tanya Rama dalam aktingnya.


Pradha mulai tidak fokus. Dia melamun, sehingga skene terpaksa dihentikan. Gita langsung menghampiri Pradha yang masih menggendong balita dalam dekapan.


"Dha, kamu baik-baik saja?" tanya Gita khawatir.


"I-iya, Kak. Aku baik-baik saja. Mungkin cuma butuh istirahat sebentar."


"Baiklah, kita istirahat 15 menit dulu, setelah itu lanjut lagi." Gita tersenyum tipis kemudian meninggalkan Pradha.


Tak lama berselang Abi dan Rama menghampiri Pradha. Keduanya menyodorkan sebotol air mineral secara bersamaan. Pradha pun mendongak. Jemarinya refleks bergerak ke arah botol yang disodorkan oleh Rama.


Akan tetapi, Abi memukul lengan sang kakak. Botol itu pun jatuh ke atas lantai. Akhirnya, mau tidak mau Pradha mengambil botol air milik Abi, kemudian meneguk isinya perlahan.


Rama menatap tajam sang adik yang kini sedang menyeringai seraya menaikkan satu alisnya. Abi menarik lengan sang kakak untuk menjauh dari Pradha, dan meninggalkan perempuan itu duduk sendirian.


"Ngapain Kak Rama ke sini?" tanya Abi seraya memicingkan mata.


"Mungkin beginilah cara takdir berbicara, kalau aku dan Pradha adalah jodoh yang sepertinya tertukar sementara." Rama tersenyum miring seraya melemparkan tatapan tajam ke arah sang adik.


"Aku ingatkan, jangan pernah ganggu rumah tangga kami lagi! Pradha tidak membutuhkan Kak Rama, karena sudah ada aku di sisinya!"

__ADS_1


"Benarkah? Tapi ...." Rama mendekati Abi, kemudian menepuk pelan bahu kanan sang adik.


"Aku tidak yakin dengan apa yang baru saja kamu ucapkan," bisik Rama sambil menyeringai.


Lelaki itu pun tidak memedulikan Abi, dan justru berjalan mendekat ke arah Pradha. Merasa ucapannya diabaikan oleh sang kakak, membuat Abi naik pitam. Rahangnya mengeras, dengan kedua tangan yang mengepal di samping badan.


"Aku akan membuat perhitungan jika sampai kamu mengganggu rencanaku, Kak!" geram Abi.


Lima belas menit kemudian  proses pengambilan gambar pun kembali dilakukan. Kali ini semua berjalan lancar. Begitu juga dengan hari berikutnya. Bahkan perkiraan waktu shooting meleset.


Gita menargetkan bahwa shooting akan memakan waktu selama tiga bulan lebih. Namun, pada kenyataannya, baru satu bulan pengambilan gambar berjalan proses shooting sudah setengah jalan.


***


"Hari ini kamu berangkat ke dokter sendiri nggak apa-apa, 'kan?" tanya Abi sambil memasukkan kancing kemeja ke lubangnya.


"Hm," jawab Pradha singkat.


"Kamu marah?" Abi mengerutkan dahi kemudian berjalan mendekati Pradha.


"Nggaklah, ngapain marah?" Pradha meraih cangkir berisi susu ibu hamil yang tergeletak di atas meja, lalu menyesapnya perlahan.


"Aku nggak percaya!" Kali ini Abi mengungkung Pradha dan menatapnya intens seraya tersenyum miring.


"Minggir, Bi! Kamu sudah gila, ya?" Pradha menatap tajam Abi dengan gigi yang saling merapat.


"Ayo, bilang kalau kamu sudah terbiasa dengan kehadiranku di sisimu! Dan sekarang kamu sudah bergantung padaku!"


"Nggak! Jangan mimpi!" Pradha menyiramkan isi cangkirnya tepat ke wajah Abi, sehingga membuat lelaki itu gelagapan.


Berkat usahanya, Pradha berhasil lolos dari Abi. Dia setengah berlari menuju kamar, lalu membanting pintu kasar. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Abi yang berubah-ubah.


"Apa sih, yang sebenarnya ada dalam otakmu, Bi!"


Di sisi lain, Abi terus mengumpat seraya memukul sofa di bawahnya. "Aku pastikan kamu akan segera bertekuk lutut kepadaku, Dha!"


...----------------...

__ADS_1


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya salah satu sahabat Chika yukk!



__ADS_2