
Pradha menatap pantulan dirinya pada cermin kamar mandi. Keringat yang tadi membanjiri tubuh karena aktivitas panasnya bersama Rama, kini berganti dengan guyuran air dingin. Perasaannya bercampur aduk malam itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Hati Pradha gamang.
Perempuan itu sudah mengotori status pernikahannya dengan hubungan terlarang. Kini dia dan Rama bertindak terlalu jauh. Pradha mengingkari prinsip yang selama ini dia jaga. Dia akhirnya melakukan hubungan badan dengan Rama, padahal belum terikat pernikahan dengan lelaki tersebut.
"Dasar bodoh! Penghianat! Budak cinta!" Pradha terus merutuki dirinya sendiri, karena sudah melakukan kesalahan fatal malam itu.
Di atas ranjang, Rama yang masih terlihat lemas bersandar pada kepada ranjang. Bayangan permainan pertamanya dengan Pradha, membuat lelaki tersebut dihantui oleh rasa bersalah kepada sang adik. Dia sudah mendahului Abi yang notabene adalah suami sah Pradha.
"Ternyata kamu benar-benar belum pernah melakukannya dengan siapa pun, Dha?" gumam Rama.
Tatapan Rama beralih pada seprei dengan bercak darah keperawanan milik Pradha. Tak lama kemudian, dia menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Pradha sudah ada di dalam hampir satu jam.
"Dia sedang apa? Kenapa belum keluar juga?"
Rama segera beranjak dari ranjang, dan melangkah menuju kamar mandi. Awalnya Rama enggan mengetuk pintu, tetapi kini rasa khawatir memenuhi hatinya. Dia takut Pradha melakukan hal yang membahayakan. Lelaki itu pun mengetuk pintu kamar mandi, untuk memastikan kondisi Pradha baik-baik saja.
"Dha, kamu masih lama?" tanya Rama sambil terus mengetuk pintu.
"Dha! Pradha!" teriak Rama lagi karena tidak mendapat jawaban dari Pradha.
Rama pun bersiap untuk mendobrak pintu. Akan tetapi, sedetik kemudian pintu tersebut terbuka. Pradha keluar dengan kondisi mata bengkak dan merah. Rama segera mendekatinya dan menanyakan keadaan kekasihnya itu.
"Dha, kamu kenapa?" tanya Rama panik.
"Aku nggak pa-pa, bisa antar aku pulang sekarang?"
"Oke, sebentar aku mandi dulu."
Setelah selesai bersiap, Rama segera mengantar Pradha pulang. Tidak ada perbincangan berarti di antara mereka. Sepanjang perjalanan, keduanya sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Dha, apa kamu menyesal sudah melepaskan mahkotamu untukku?"
Pradha membisu. Sejujurnya dia tidak menyesal, tetapi di dalam hatinya ada rasa bersalah. Pradha merasa bersalah kepada Abi yang seharusnya mendapatkan hak atas hubungan ini.
"Nggak, Kak. Aku nggak menyesal. Hanya saja ...." Pradha menatap nanar sang kakak ipar sekilas, lalu menunduk.
"Aku merasa bersalah sama Abi." Pradha meremas jemarinya sendiri.
__ADS_1
"Dha, lihatlah aku." Rama menautkan jemarinya pada sela-sela jari Pradha.
"Segeralah bercerai, dan menikahlah denganku. Jika terus begini, kita akan terus menyakiti satu sama lain. Kita juga akan selalu dihantui rasa bersalah."
"Nggak semudah itu, Kak. Aku memiliki sebuah perjanjian dengan Abi. Terlebih lagi, sekarang aku sedang mencoba kembali meniti karier di sini. Apa kata orang jika ...."
"Jadi, semua karena karier? Cinta kita tidak lebih penting dari itu?" Rasa kecewa kini merayap di hati Rama.
Dia tak menyangka karier masih mengalahkan hubungan cinta keduanya. Rama tersenyum kecut, kemudian melepaskan tautan jemarinya dari Pradha.
"Kita jalani dulu apa adanya, sampai waktu itu tiba, Kak. Nggak lama kok, satu tahun itu waktu yang sangat sebentar."
"Terserah kamu saja."
***
Waktu bergulir begitu cepat. Pradha sudah melupakan kejadian dua bulan lalu dengan Rama, karena kesibukan barunya. Dia berusaha menjalankan pekerjaan barunya secara profesional.
Hari itu adalah penayangan perdana film yang dibintangi Pradha. Tiket terjual habis hampir di setiap bioskop seluruh penjuru Kota Denpasar serta kota besar lain di Indonesia. Pradha tersenyum puas setelah acara pemutaran film perdana selesai.
"Kita makan-makan, yuk!" ajak Gita.
"Maaf, Kak. Boleh nggak aku pulang dulu? Rasanya capek banget," keluh Pradha.
Pradha tak kuasa menolak. Dia pun akhirnya menuruti keinginan sang sutradara. Mereka semua menuju ke sebuah tempat karaoke elite di daerah Pantai Kuta.
Tanpa disangka, Pradha dipaksa minum oleh Tirta dan beberapa aktris lain. Awalnya Pradha hanya meminumnya seteguk dua teguk. Namun, kelamaan dia tidak bisa mengendalikan diri.
Pradha sudah menghabiskan dua botol minuman laknat itu. Dia mulai merasa pusing luar biasa dan mual. Perutnya seperti diaduk-aduk. Akhirnya, Tirta mengantarnya ke toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
"Sudah belum, Dha?" tanya Tirta setengah berteriak.
Pradha tidak menjawab, tetapi dia mulai keluar dari toilet dan berjalan sambil memegang dinding sebagai tumpuan. Tirta menggeleng kemudian menyodorkan air putih kepada Pradha.
"Minum dulu, nih!"
Pradha langsung meraih botol tersebut, dan meneguknya hingga tandas. Tirta kebingungan harus berbuat apa. Dia juga tidak bisa mengantar Pradha pulang, karena tidak tahu di mana perempuan itu tinggal.
Alhasil, Tirta membawanya ke sebuah hotel dekat dengan tempat karaoke tersebut. Setelah sampai di hotel, lelaki itu langsung merebahkan tubuh ramping Pradha ke atas ranjang.
__ADS_1
Tatapan liar dari Tirta seakan menelanjangi Pradha. Lelaki itu tersenyum penuh arti, kemudian merogoh ponsel dari sakunya. Tirta membuka sedikit gaun Prada bagian atas, dan juga menyingkap bagian bawahnya.
Tak sampai di situ, Tirta juga mengatur posisi tubuh Pradha hingga terlihat begitu menantang. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Tirta mulai mengambil gambar Pradha.
"Sudah lama aku menantikan ini! Aku ingin sekali mencicipi tubuh indahmu, Sayang!" Tirta menatap foto Pradha penuh hasrat.
Tak lama kemudian, Pradha mulai menggeliat. Dia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Perempuan itu mulai menggeliat layaknya cacing kepanasan. Tirta pun mendekatinya, dan menyentuh lembut permukaan kulit Pradha.
Pradha terus meracau, dan mengeluarkan desah manja seiring dengan sentuhan yang diberikan oleh Tirta. Bahkan, lelaki itu mulai berani menurunkan ritsleting Pradha dan meraba area sensitif milik Pradha.
Namun, tak lama kemudian terdengar pintu yang dibanting kasar. Rama menendangnya dengan amarah. Mendapati pemandangan tak lazim di hadapannya membuat darah lelaki itu seakan mendidih.
"Dasar, Brengsek!" umpat Rama.
Rama langsung menarik kerah baju Tirta, dan membanting tubuh lelaki itu ke atas lantai. Tirta pun tersungkur, dan berusaha untuk bangkit. Namun, Rama langsung menduduki kaki Tirta dan menghujaninya dengan bogem mentah.
"Rasakan ini, Bajingan! Dasar lelaki bangsat!".
Setelah puas memukul Tirta, dan lelaki itu tergolek lemah di atas lantai. Rama langsung memapah Pradha dan membawanya pulang ke rumah perempuan itu.
Suasana rumah begitu sepi. Rama berulang kali meneriakkan nama Abi, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya mau tidak mau, Rama mengurus Pradha yang sedang mabuk berat.
"Kamu ini, galak tapi hobinya bikin orang panik!" seru Rama sambil menatap sinis Pradha.
"Coba kalau aku nggak datang lebih cepat? Mau jadi apa kamu?" Kini Rama menekan dahi Pradha menggunakan ujung jari telunjuknya.
Tak lama kemudian, mulai terdengar suara Pradha yang terus meracau tidak jelas. Tubuhnya terus menggeliat tak mau diam. Sampai akhirnya, Pradha menarik tubuh Rama.
"Kak, tolong bantu aku!" Pradha menangkupkan kedua telapak tangannya sambil menatap nanar sang kekasih gelap.
"Minta tolong apa, Dha?"
...----------------...
Anyelir
Author: Hilmiath_
__ADS_1
Anyelir adalah bunga paling kuat yang dapat bertahan selama dua minggu setelah di letakkan dalam vas bunga, bahkan bunga ini akan semakin terbuka kelopak nya saat berada lama di vas bunga. Begitulah sang pemeran utama dalam kisah ini. Tentang dia gadis kuat yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah luka yang di alaminya. Tanpa siapa yang tahu jika gadis tersebut memiliki gangguan Psikologis Self Injury. Setelah di hancurkan oleh keluarganya yang brokenhome gadis tersebut juga di hancurkan olah orang yang di cintainya. Tidak berhasil dalam percintaan memang, tapi ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.
"Akulah pemeran utama ini, pemeran utama yang hanya menjadi pemeran figuran untuk dia yang ku anggap akan menemaniku dalam setiap jalan kisahku,"