
Sore itu langit jingga menghiasi angkasa. Deru mobil dan riuhnya jalanan kota tak serta merta membuat hati Rama ikut ramai. Hatinya dipatahkan oleh dua orang yang paling dia sayangi.
Setelah berdebat dengan Pradha, Rama memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalanan. Dia biasa melakukan hal itu setiap merasa marah dengan keadaan atau seseorang. Berjalan tanpa arah sampai lelah.
Langit berubah menjadi gelap ketika Rama sampai di toko cendera mata milik Bu Kadek. Kebetulan dia melihat Pak Kadek sedang duduk di depan toko sambil merokok. Entah mengapa kaki Rama melangkah mendekati lelaki berusia senja itu.
"Loh, Rama? Dari mana?" tanya Pak Kadek seraya menautkan kedua alis.
"Dari rumah aja, Pak. Lagi cari udara segar." Rama menjawab pertanyaan Pak Kadek sedapatnya.
"Rokok?" Pak Kadek menyodorkan sebungkus rokok kepada Rama.
Rama pun menerimanya, lalu membakar lintingan tembakau tersebut. Perlahan dia menyesap nikotin yang ada dalam asap rokok. Memejamkan mata perlahan, seraya menikmati aroma khas tembakau.
"Kamu kelihatan kusut sekali. Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Pak."
"Kamu bohong." Pak Kadek meniupkan asap terakhirnya ke udara, lalu membuang puntung rokok dan menginjaknya.
"Ada masalah apa? Sini cerita sama Bapak. Kita udah lama bertetangga. Dari kamu piyik sampai sekarang. Jadi sedikit banyak aku tahu gimana kebiasaanmu."
Rama tersenyum kecut kemudian menyandarkan punggung pada dinding toko milik Pak Kadek. Matanya menerawang lepas ke arah langit luas berhiaskan bintang. Lelaki tersebut mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah sore itu.
"Kamu itu beruntung loh punya istri seperti Pradha. Dia baik, pekerja keras, dan sabar." Pak Kadek menatap intens Rama sambil tersenyum tipis.
"Jarang ada perempuan yang tetap mau bersama lelaki yang sedang kere! Kamu percaya deh, sama ucapan Bapak!"
Rama termenung. Apa yang dikatakan Pak Kadek memang benar. Sebelum menikah dengannya, Pradha merupakan model ternama di Paris. Pulang ke Indonesia mendapatkan tawaran menjadi artis walau hanya sebentar.
Namun, ketika mereka hidup bersama, semuanya hilang seketika. Kepopuleran, aset, dan harta yang dimiliki Pradha musnah. Rasa bersalah mini bergelayut di hati Rama.
"Pulanglah, kamu itu sekarang seorang suami dan ayah. Nggak pantas rasanya kalau lari dari masalah. Semuanya harus segera diselesaikan dengan tuntas, agar suatu hari tidak kembali mencuat ke permukaan." Pak Kadek memberikan nasehat terbaiknya untuk lelaki yang sudah dia anggap sebagai putra sendiri itu.
"Terima kasih, Pak. Aku akan segera pulang."
__ADS_1
Rama berpamitan kepada Pak Kadek. Dia segera berlari menyusuri jalanan kota untuk kembali ke rumah. Lelaki itu ingin segera memeluk sang istri dan mengucapkan maaf.
Tiga puluh menit kemudian, Rama sampai di depan rumahnya. Pagar rumah terlihat setengah terbuka. Rama tersenyum lebar, kemudian melangkah mendekati pagar.
Akan tetapi, sedetik kemudian senyuman itu sirna berganti rasa kecewa. Hatinya kembali dihantam godam hingga hancur berkeping-keping. Dia melihat Pradha sedang berada di pelukan Ken.
"Kamu tega sama aku, Dha. Ternyata kamu tak sebaik yang kupikirkan."
Rama langsung balik badan dan berlari kembali ke toko Pak Kadek. Dia meminta ijin untuk tidur di sana malam itu. Pak Kadek pun mengizinkannya.
Di sisi lain, Pradha kembali masuk ke rumah setelah Ken pulang. Dia menceritakan semua yang terjadi hari itu kepada Ken. Lelaki tersebut menyesal karena datang ke sana hari itu. Dia pun terus mengucapkan permintaan maaf kepada Pradha.
Jam menunjukkan pukul 12 malam ketika Pradha terbangun dari tidur. Dia mengusap ranjangnya untuk memastikan keberadaan Rama. Akan tetapi, sang suami benar-benar tidak pulang malam itu.
"Kak, kamu ke mana?"
Perasaan Pradha mulai tak enak. Baru kali ini Rama tidak pulang ke rumah selama mereka menikah. Ini adalah pertengkaran pertama Pradha dengan Rama.
Hal baru yang sangat tidak dia inginkan. Namun, tak ada perjalanan yang selalu mulus. Begitu juga dengan kehidupan pernikahan.
"Jangan bangun dulu sebelum ibu pulang, ya?" Pradha mengecup puncak kepala Nakastra.
Batita mungil itu sedikit menggeliat. Pradha menepuk bokong sang putra sembari berdesus supaya Naka kembali terlelap. Setelah Nakastra tenang, Pradha langsung keluar kamar.
Perempuan itu menuruni anak tangga satu per satu dan keluar rumah dengan mengendarai motor. Dia mencari Rama di tempat biasa sang suami berada. Akan tetapi, Pradha tidak menemukan keberadaan Rama.
"Ke mana kamu, Kak?" Pradha menghentikan laju motornya kemudian merogoh saku jaket.
Dia kembali menghubungi Rama. Sejak tadi nomor sang suami tidak aktif. Pradha khawatir terjadi hal buruk kepada sang suami.
Setelah mencoba berulang kali dan gagal. Pradha pun kembali melanjutkan perjalanan. Dia berharap segera menemukan sang suami dan meluruskan Kesalahpahaman hari ini.
Satu jam sudah Pradha mengelilingi kota. Namun, tidak ada tanda kemunculan Rama. Akhirnya dia kembali pulang ke rumah, karena takut Nakastra akan terbangun.
***
__ADS_1
Langit gelap sudah berubah biru. Cahaya mentari menerobos masuk ke kamar Pradha melalui celah jendela yang tertutup tirai. Perempuan itu mulai menggeliat untuk meregangkan otot.
Hari itu Pradha baru bisa memejamkan mata setelah jam menunjukkan pukul 04:00. Rasa khawatir terus menghantui pikirannya. Dia benar-benar takut kalau terjadi hal buruk kepada sang suami.
Pradha melirik Nakastra yang masih terlelap. Bocah laki-laki tampan itu sedang meringkuk di bawah selimut sambil menghisap jempol. Pradha tersenyum lembut, kemudian mengecup puncak kepala Nakastra.
"Papamu benar-benar jahat kali ini, Nak. Mama harus segera menemukannya."
Pradha pun segera turun dari ranjang. Ketika dia membuang sampah ke depan rumah, Pak Kadek menyapanya. Pradha tersenyum lembut menanggapi sapaan dari lelaki berusia senja itu.
"Rama semalam tidur di toko. Kalian ada masalah apa?" tanya Pak Kadek tanpa basa-basi.
"Ya?" Pradha menaikkan kedua alis setelah mendengar pertanyaan dari Pak Kadek.
"Sebagai orang yang berusia lebih tua, aku hanya bisa memberi kalian nasehat. Jangan terlalu lama marahan. Salah satu harus mengalah demi kelangsungan rumah tangga. Bicarakan semua baik-baik." Usai mengucapkan nasehat itu, Pak Kadek kembali masuk ke rumah.
Pradha segera bergegas kembali masuk ke rumah. Dia bersiap untuk segera mendatangi Rama di toko Pak Kadek. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Pradha membangunkan Nakastra.
Dia memandikan sang putra, dan membawanya ikut serta ke toko Pak Kadek. Pradha menyusuri jalanan kota dengan motor matic miliknya. Lima belas menit kemudian, Pradha sampai di depan toko.
"Kak, buka pintunya. Aku tahu kamu ada di dalam!" ujar Pradha seraya mengetuk pintu toko.
Perempuan itu mengetuk pintu berulang kali sembari mengucapkan kalimat yang sama. Akan tetapi, pintu tak kunjung terbuka. Pradha pun bersandar pada pintu, tubuhnya merosot ke atas lantai.
"Kak, tolong jangan begini. Ayo keluar dan bicarakan semuanya baik-baik."
Air mata Pradha mulai meleleh. Rasa sesak kini memenuhi dada. Isak tangis pun lolos dari bibir Pradha.
Akan tetapi, kesedihan yang diluapkan Pradha tidak serta merta membuat Rama luluh. Lelaki itu hanya menatap sang istri dari balik jendela. Entah mengapa kakinya seakan berat melangkah keluar toko.
"Dha, maaf. Aku memang pengecut," gumam Rama.
Tak lama kemudian, Pradha beranjak dari duduknya. Dia melangkah menjauhi pintu toko. Namun, ketika baru berjalan beberapa langkah, dia merasa pandangannya berputar.
Pradha berusaha mencari tumpuan agar tidak limbung dan terjatuh. Akan tetapi, dia gagal. Perempuan itu kehilangan kesadaran, Pradha pingsan.
__ADS_1