Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 44. Dibandingkan dengan Ken


__ADS_3

Pradha menatap panci dengan air mendidih yang ada di dalamnya. Dia masih terngiang-ngiang oleh ucapan Ken. Perempuan cantik itu sampai diingatkan Ken untuk segera memasukkan ayam ke dalam panci.


"Ah, iya. Makasih sudah diingatkan, Kak."


"Aku ajak main Naka di taman belakang. Panggil saja kami kalau makanan sudah siap." Ken tersenyum lembut kemudian merengkuh tubuh mungil Naka ke dalam pelukan.


Pradha hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia pun segera melanjutkan aktivitas. Ketika meniriskan ayam, tiba-tiba Pradha terperanjat. Sepasang tangan melingkar pada pinggang, kemudian mengecup lehernya.


"Astaga!" teriak Pradha.


Ayam yang sudah dia rebus itu hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Rama tak sigap. Dia membantu Pradha meletakkan ayam ke dalam wadah, kemudian merangkum wajah sang istri.


"Kamu kenapa, Sayang?" Rama mengusap pipi Pradha dengan ujung jempol.


"Ah, nggak. Aku kaget aja. Habisnya Kak Rama tiba-tiba datang dan peluk aku." Pradha tersenyum tipis.


"Nakastra mana?" Rama melapaskan jemarinya dari pipi sang istri tanpa membuang pandangan.


"Dia ...." Ucapan Pradha menggantung di udara.


Dia ragu hendak mengungkapkan apa yang sedang dilakukan sang putra, dan siapa yang sedang bersamanya. Pradha menelan ludah kasar. Perempuan itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.


"Itu ... Naka ada di taman belakang." Pradha susah payah memaksa kalimat itu keluar dari mulut.


Rama mengusap puncak kepala Pradha kemudian tersenyum lembut. "Ya sudah, aku nyusul dia dulu ya? Kamu kok biarin dia main sendiri?"


"Maaf," ucap Pradha seraya menunduk lesu.


Dia tidak berani mengatakan kalau Ken sedang bersama Naka. Pradha berpikir biar saja Rama tahu sendiri. Perempuan takut Rama salah paham dan terlanjur emosi sebelum bertemu Ken.


"Ya sudah, nggak apa. Kamu sedang repot juga. Aku temenin Naka main kalau begitu."


Rama langsung beringsut, lalu berjalan ke arah taman belakang. Ketika sampai di tempat itu, darah Rama seakan mendidih. Dia melihat Naka sedang tertawa lepas bersama Ken.


Rama mengepalkan jemarinya erat. Urat mata lelaki tampan itu terlihat jelas. Rahangnya mengeras sempurna.


"Ngapain kamu ke sini!" teriak Rama penuh emosi.

__ADS_1


Sontak Ken menghentikan tawanya. Dia melangkah mendekati Rama sambil menggendong Naka. Sebuah senyum lebar terukir di bibir lelaki berwajah oriental itu


"Ah, kamu udah pulang? Gimana ojeknya? Mulai ramai?"


Entah mengapa kalimat yang keluar dari bibir Ken terdengar seperti sebuah ejekan daripada pertanyaan. Rama langsung mengambil alih tubuh Nakastra secara paksa. Sebuah tatapan tajam melayang kepada lelaki di hadapannya itu.


"Pulanglah! Jangan pernah ke sini lagi!" usir Rama.


"Ram, kamu kenapa?"


"Aku bilang pergi!"


Ken membuang napas kasar kemudian melangkah pergi meninggalkan Rama dan Naka. Nakastra terdengar merengek seperti tidak rela Ken pergi dari sana. Mendengar sang putra rewel, membuat Rama memejamkan mata dan mengembuskan napas kasar.


Rama menurunkan Naka dari gendongan. Lelaki itu merangkum wajah sang putra sambil tersenyum lebar. Naka menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca.


"Mau main sama oom." Naka memajukan bibir bawah, mata batita mungil itu basah karena tangis.


"Naka main sama Papa aja, yuk! Naka mau main apa? Ayah temenin."


"Naka mau main koboi!" Naka terlihat mengusap pelupuk mata.


Keduanya pun bermain dengan riang. Akan tetapi, baru lima belas menit Rama merangkak, dia mulai lelah. Rama memutuskan untuk berhenti sejenak dan meminta Naka turun dari punggung.


"Naka turun dulu, ya? Kudanya capek."


"Nggak! Naka masih mau putar-putar!" seru Naka dengan suara terbata-bata khas batita.


"Tapi kudanya capek. Kalau dipaksakan, nanti kudanya pingsan," bujuk Rama.


Akhirnya Nakastra turun dari punggung sang ayah dengan berat hati. Dia melipat lengan di depan dada. Bibir mungilnya maju serta melemparkan tatapan tajam kepada Rama.


"Eh, Naka anak baik, 'kan? Nggak boleh ngambek dong. Papa istirahat sebentar aja kok. Nanti main lagi." Rama mengangkat lengan, berusaha mengusap puncak kepala sang putra.


"Nggak!" Naka mundur satu langkah untuk menghindari sang ayah.


“Papa nggak sekuat Oom Ken! Tadi oom bisa jadi kuda lama banget!”

__ADS_1


Melihat tingkah Nakastra membuat Rama mengerutkan dahi. Dia sedikit tersinggung karena ucapan sang putra. Tak lama setelah itu, sebuah kalimat menyakitkan menggores harga diri Rama.


"Oom baik! Punya mainan banyak! Suka bawa banyak susu, biskuit, snack!"


"Naka, apa maksudmu? Naka mau bilang kalau Papa tidak lebih baik dari lelaki brengsek itu?" teriak Rama penuh emosi.


Mendengar nada tinggi keluar dari bibir sang ayah membuat Nakastra menangis. Pradha yang mendengar keributan itu pun langsung berlari menghampiri sang putra. Dia merengkuh tubuh mungil Naka dan membawanya masuk ke kamar.


"Mama, Papa nakal! Papa galak!"


"Sssttt, nggak boleh begitu. Papa baik kok," ucap Pradha.


"No! Papa galak, nggak kayak Oom Ken." Naka langsung balik badan membelakangi sang ibu.


Pradha menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Setelah Nakastra tidur, dia keluar kamar untuk menemui Rama. Sang suami terlihat kacau di ruang tengah.


Dia duduk dengan posisi menunduk. Rama menenggelamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Pradha berjalan mendekat, lalu duduk di samping Rama.


Perempuan itu mengusap lembut punggung sang suami, hingga membuat Rama kembali duduk tegak. Mata keduanya saling bertemu. Pradha bisa dengan jelas melihat kesedihan Rama.


"Kalian tadi kenapa?" tanya Pradha dengan suara lembut.


"Naka mulai membandingkanku dengan Ken. Bagaimana bisa dia datang lagi ke sini?"


"Dia kangen sama Ken. Reya diajak ke sini nggak mau. Dia sedang mabuk parah karena awal kehamilan." Pradha tersenyum lebar mengingat kabar baik yang dibawa oleh Ken.


"Istrinya hamil, kenapa masih aja mendatangi kita? Aneh! Jangan-jangan bukan Naka yang dia sukai, melainkan kamu." Rama tersenyum kecut seraya membuang muka dari Pradha.


"Kak, kamu itu ngomong apa sih? Jangan ngaco deh. Dia Cuma mau ketemu Naka, apa itu salah? Lagi pula dia itu ...." Ucapan Pradha menggantung di udara karena dipotong oleh Rama.


"Jadi kamu membela lelaki brengsek itu juga? Ha!" Rama langsung beranjak dari kursi.


Mendengar Rama membentaknya untuk pertama kali, membuat air mata Pradha perlahan meleleh. Seakan ada batu besar yang kini menghalangi tenggorokannya. Hanya isak tangis yang keluar dari bibir tipis Pradha.


"Aku butuh waktu sendiri! Aku hari ini nggak pulang!" Rama menyambar jaket yang ada di dasbor sofa, kemudian keluar meninggalkan Pradha yang kini menangis sesenggukan.


"Bahkan kamu nggak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Kak. Ucapanku belum selesai." Pradha menatap punggung Rama yang semakin menjauh.

__ADS_1


Air mata tak berhenti mengalir membasahi pipi Pradha. Hatinya seakan diremas dan hancur berkeping-keping. Baru kali ini rama meninggikan suara ketika berbicara kepadanya.


__ADS_2