
Sebenarnya bukan suatu masalah jika Pradha hamil. Dia sudah menikah, dan memiliki suami. Namun, jika ibu mertuanya tahu kalau bayi yang dikandung adalah anak dari Rama, pasti dia akan sangat kecewa. Pradha tersenyum kecut kemudian mengangguk sekilas.
"Kok kalian nggak kasih tahu Ibu?" Ada sedikit nada kekecewaan dalam ucapan Chandra.
"Maaf, Bu. Saya sedang sibuk akhir-akhir ini. Jadi, tidak bisa langsung mengabari ibu. Pradha minta maaf, ya?" Pradha menggenggam jemari sang mertua dan memasang wajah penuh penyesalan.
Detik itu juga hati Chandra luluh. Dia benar-benar tidak bisa melihat sang menantu bersedih. Akhirnya Chandra merangkum wajah cantik Pradha sambil tersenyum lembut.
"Iya, nggak pa-pa, Sayang. Ibu paham. Jadi, sudah berapa bulan usia kandunganmu?"
"Sudah masuk trimester kedua, Bu." Pradha tersenyum lembut, kemudian menggenggam jemari sang mertua.
"Oh ya, Pradha harus segera ke poli kandungan. Takut kelewat antrean." Pradha melepaskan genggaman tangan, kemudian melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Baiklah, nanti ibu menyusul setelah selesai menebus obat."
"Ibu temani Pradha saja. Biar aku yang ke apotik," usul Rama.
"Ide bagus! Kalau begitu. Ayo, Dha!" ajak Chandra antusias.
Dua perempuan beda usia itu pun mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Keduanya mengobrol berbagi cerita sepanjang perjalanan menuju poli kandungan. Setelah sampai di depan ruangan dokter, dia menuju meja perawat.
Pradha diminta menimbang berat badan dan juga dicek tensi darahnya. Setelah selesai, dia kembali duduk untuk menunggu antrean. Sambil menunggu namanya dipanggil, Pradha mengobrol bersama sang mertua.
Sepuluh menit kemudian, seorang perawat memanggil namanya. Pradha beranjak dari kursi, kemudian masuk ke ruang pemeriksaan ditemani Chandra. Sang dokter membuka buku KIA dan membaca data yang sudah ditulis oleh perawat.
"Berat badan dan tensinya bagus ya, Bunda. Mari berbaring dulu, kita tengok si kecil melalui USG." Dokter perempuan itu meminta Pradha berbaring di atas ranjang.
Dokter tersebut mulai menuangkan gel dingin ke atas perut Pradha. Tak lama kemudian dia menggerakkan benda pipih yang disebut transduser ke atas perut Pradha dan mulai menjelaskan kondisi bayi dalam kandungan calon ibu tersebut.
"Ini kepalanya, ini perut, ini kaki ...," jelas dokter itu seraya terus menggerakkan transduser.
__ADS_1
"Letak plasenta bagus, air ketuban masih banyak dan jernih. Berat badan janin lumayan besar, 100 gram. Boleh dikurangi makan manisnya ya, Bunda. Lakukan olah raga ringan 10 sampai 15 menit setiap harinya." Dokter tersebut memberi saran agar berat badan bayi Pradha tidak terlalu besar.
"Mari kita lihat jenis kelaminnya." Dokter itu menekan papan ketik untuk memperjelas area alat vital calon bayi Pradha.
Jantung Pradha berdetak semakin kencang ketika dokter tersebut mencoba mencari tahu apa jenis kelamin sang calon buah hati. Memang tidak menjadi masalah bagi Pradha apa pun jenis kelamin bayinya nanti. Namun, tetap saja hal itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Bayinya berjenis kelamin laki-laki! Wah, selamat! Sekarang kita dengar detak jantungnya, ya?"
Dokter tersebut menyalakan pengeras suara. Di detik itu juga, terdengar suara detak jantung bayi Pradha. Suara itu terdengar sangat jelas dan seakan berirama.
Tak terasa bulir bening menetes membasahi pipi Pradha. Detak jantung itu menyatu di dalam tubuhnya. Rasa haru menyeruak di dalam dada Pradha. Dia tak menyangka Tuhan begitu baik, sudah menitipkan sebuah nyawa di dalam dirinya.
"Sudah, ya. Kita ketemu lagi bulan depan, Nak." Dokter cantik itu melambaikan tangan pada layar monitor seakan sedang berbicara dengan janin Pradha.
Tanpa sadar, Pradha pun melakukan hal yang sama. Dia ikut melambai sampai layar monitor tersebut kembali ke tampilan awal. Setelah selesai, seorang perawat membersihkan perut Pradha dari sisa gel USG dengan tisu.
Pradha pun memiringkan tubuh, kemudian bangun dari ranjang. Perlahan dia turun dan kembali berjalan ke kursi, dan mendaratkan bokong ke atasnya. Dokter memberikan resep vitamin untuk Pradha, serta memintanya untuk mengonsumsi dengan rutin.
"Gimana, Dha, kondisi bayi kita?"
Mendengar pertanyaan Rama, sontak membuat Pradha melotot. Bibirnya komat-kamit seakan sedang melontarkan umpatan kepada sang kekasih. Rama yang baru saja menyadari kesalahannya pun menepuk bibirnya perlahan.
"Bayi kita? Maksudnya?" Chandra mengerutkan dari ketika mendengar ucapan sang putra.
"Ah, itu ...." Rama berpikir sejenak. Tak lama kemudian terlintas sebuah jawaban tepat untuk sang ibu.
"Yaaa, bayi Pradha dan Abi kan nantinya juga jadi bayi kita semua, Bu. Cucu ibu, keponakanku, jadi ... aku menyebutnya bayi kita," kilah Rama seraya tersenyum canggung.
Chandra mengerutkan alis sejenak, seraya mengusap dagu dengan telunjuk. Tak lama kemudian perempuan itu mengangguk, tanda setuju dengan ucapan sang putra.
"Benar juga, ya!" Chandra tersenyum lebar karena telah memahami ucapan Rama.
__ADS_1
Mereka bertiga pun pulang bersama. Rama hendak mengantar Pradha lebih dulu ke rumah sebelum pulang. Setelah sampai di depan pagar rumah, Pradha pun berpamitan.
"Kak Rama sama Ibu mampir, yuk!" ajak Pradha.
"Nggak, Dha, makasih. Ibu mau langsung pulang saja. Mau istirahat biar cepat sembuh. Pemeriksaan berikutnya ibu boleh ikut?"
"Tentu saja boleh, Bu! Kalau gitu, Pradha turun dulu ya? Ibu sama Kak Rama hati-hati di jalan." Pradha memberi sang ibu pelukan sebelum turun dari mobil.
Begitu Pradha keluar, Rama langsung melajukan mobilnya kembali. Pradha masih berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan. Dia terus menatap mobil tersebut sampai menghilang dari pandangan.
Setelah mobil Rama tak lagi terlihat, Pradha langsung memasuki pekarangan rumah. Dia memasukkan anak kunci ke dalam lubang dan memutarnya. Setelah memutar tuas pintu dan benda itu terbuka, Pradha terbelalak.
Pemandangan mengejutkan di hadapannya membuat perempuan itu naik pitam. Pradha berjalan mendekat ke arah sofa, dan memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai.
"Apa yang mereka lakukan di sini!" geram Pradha.
Pradha pun kembali berjalan ke arah pintu, dan keluar dari rumah. Dia melemparkan pakaian tersebut ke atas tanah, lalu mengunci kembali pintu rumah. Ketika berbalik badan, darah Pradha semakin mendidih.
Perempuan itu melihat Astika yang hanya memakai pakaian dalam sedang berjalan santai menuju ruang tamu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Pradha menghampiri Astika. Dia menampar pipi sepupunya itu.
Rasa panas kini dirasakan oleh Astika. Dia mengusap pelan pipinya berharap sakit yang dia rasakan berkurang. Astika pun kembali menatap Pradha dengan tatapan tajam.
"Berani-beraninya kamu ...." Belum sampai Astika menyelesaikan ucapan, kini Pradha menarik rambut perempuan itu.
"Ngapain kamu di rumahku! Apa kamu tidak punya uang untuk sekedar menyewa hotel kelas melati?"
...----------------...
Mampir juga ke karya salah satu teman Chika, Yukk! 🤗🤗🤗
__ADS_1