Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 46. Meluruskan Kesalahpahaman


__ADS_3

Rama malam itu tidak bisa tidur. Bayangan ketika melihat Pradha berada dalam pelukan Ken terus menari di dalam benaknya. Dia tak habis pikir, ternyata sang istri bermain api dengan lelaki lain.


Hingga hari berganti, Rama masih terjaga. Lingkar hitam di area mata terlihat semakin jelas. Rambut lelaki itu tampak kusut, karena berulang kali dia mengacaknya karena frustrasi.


"Aku masih belum bisa mempercayai mataku sendiri," gumam Rama sembari tersenyum kecut.


Tak lama berselang Pradha mendengar ketukan pada pintu toko. Namanya berulang kali dipanggil oleh seseorang. Dia hafal betul siapa yang sedang menyerukan namanya itu.


Ya, Pradha dengan wajah paniknya datang ke toko sambil menggendong Nakastra. Dua orang yang kemarin mematahkan hatinya itu terlihat masih mengantuk. Wajah Pradha tampak lelah, dan Nakastra masih setengah mengantuk.


"Kak, tolong jangan begini. Ayo keluar dan bicarakan semua baik-baik," bujuk Pradha dengan suara bergetar.


Rama perlahan melangkah ke arah pintu. Dia memegang tuas pintu, hendak membuka benda itu. Akan tetapi, bayangan Pradha yang tengah berpelukan dengan Ken kembali hadir.


Rama pun menarik lagi lengannya. Dia berjalan satu langkah ke samping, lalu membuka sedikit tirai yang menutupi jendela. Dari sana Rama dapat melihat kalau Pradha sedang menangis.


"Aku nggak tahu kenapa kamu berubah begini. Aku berharap, kamu segera pulang. Mari kita bicarakan semua dengan kepala dingin. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu mengenai Kak Ken." Bahu Pradha gemetar dan air mata terus mengalir membasahi pipi.


Meski tak tega melihat tangis sang istri, Rama tetap pada pendirian dan egonya. Dia tidak mau membukakan pintu untuk Pradha. Lelaki yang awalnya lembut itu, sekarang berubah menjadi keras kepala karena sebuah Kesalahpahaman.


"Kak, aku mohon. Keluarlah," bujuk Pradha lagi.


Merasa panggilannya diabaikan, Pradha memutuskan untuk beranjak pergi. Dia balik badan dan berjalan gontai menuju motor. Akan tetapi, tiba-tiba perempuan itu terlihat limbung.


Tubuh Pradha kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas jalanan. Nakastra yang terkejut pun menjerit histeris lalu menangis. Rama langsung membuka pintu dan berlari ke arah sang istri.


Rama melepaskan gendongan Naka dari tubuh Pradha, kemudian mendudukkan sang putra di sampingnya. Dia segera memesan taksi online untuk membawa sang istri ke rumah sakit.


...***...


"Pak, tolong perhatikan istri Anda lebuh baik lagi. Dia mengalami malnutrisi." Dokter yang ada di hadapan Rama kini menatapnya serius.

__ADS_1


"Dalam kondisi hamil, Nyonya Pradha membutuhkan lebih banyak nutrisi. Dia juga mengalami stres. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak akan bagus untuk perkembangan janinnya."


"Hamil?" Rama mengangkat kedua alis dan tubuhnya kini condong ke depan.


Berbagai pikiran buruk kembali bermunculan di kepala Rama. Dia mengusap wajah kasar. Akhirnya Rama memberanikan diri untuk menanyakan usia kehamilan Pradha.


"Dari hasil USG istri Anda diperkirakan tengah hamil sekitar enam minggu, Pak."


Rama mengembuskan napas lega. Keraguannya mengenai bayi itu seketika sirna. Dia tersenyum kecut dan merutuki diri sendiri karena telah mencurigai Pradha sejauh itu.


"Ini ada beberapa vitamin yang harus Anda diberikan kepada Nyonya Pradha. Ingat pesan saya. Lebih perhatikan lagi istri Anda." Sang dokter menyodorkan selembar kertas dan foto USG kepada Rama.


Rama pun mengambil benda itu dan menatapnya sekilas sebelum keluar dari ruangan sang dokter. Rama melangkah keluar ruangan, kemudian berjalan gontai menuju ruang inap Pradha.


"Maaf, Dha." Rama menatap sendu foto hasil USG yang menampilkan ruang gelap dengan makhluk kecil sebesar biji kacang.


"Maafkan Papa, Nak." Rama mengusap foto tersebut sambil menitikkan air mata.


Ketika sampai di depan pintu kamar rawat inap, Rama berhenti sejenak. Dia hanya mematung seraya menatap gagang pintu di depannya. Hati lelaki itu merasa malu serta ragu untuk masuk.


Sampai akhirnya terdengar sebuah sapaan dari seseorang yang kini ada di belakangnya. Rama menoleh. Dia mengerutkan dahi karena sekarang Ken dan Reya sedang berdiri tepat di belakangnya.


"Aku mau bicara sebentar denganmu." Ken menatap tajam ke arah Rama.


Reya berjalan ke arah Rama, lalu mengambil alih tubuh mungil Nakastra darinya. Perempuan itu membawa Naka masuk ke ruangan tempat Pradha dirawat. Ken pun segera mendekati Rama.


"Ikut aku!" perintah Ken dengan suara dingin.


Mereka pun berjalan beriringan menuju kafetaria rumah sakit. Ken memesan dua cangkir kopi. Keduanya duduk di sebuah bangku yang berada dekat dengan jendela.


Rama menatap langit luas yang terlihat sangat cerah. Namun, kondisi alam hari inibberbanding terbalik dengan keadaan hatinya sekarang. Rama merasa kacau.

__ADS_1


"Minumlah, kafein bisa sedikit menenangkan pikiranmu."


Rama pun segera mengangkat cangkir di hadapannya, lalu menyesap cairan hitam itu perlahan. Setelah meminum satu teguk, lelaki tersebut kembali meletakkan cangkir ke atas meja. Dia membuang wajah lagi ke arah jendela.


"Rama, tatap mataku ketika aku berbicara!" tegur Ken dengan suara datar.


Akhirnya, mau tak mau Rama menatap mata lelaki yang dia anggap sebagai rival itu. Ken terlihat mengusap wajah kasar. Lelaki itu kini menyandarkan tubuh pada kepala kursi sambil melipat dengan di depan dada.


"Aku kecewa sama kamu."


Ucapan Ken sukses membuat Rama mengerutkan dahi. Dia adalah pihak yang dikecewakan untuk kasus ini. Kenapa justru Ken mengatakan hal itu kepadanya? Bukankah ini terbalik?


Namun, Rama memilih untuk bungkam. Dia masih menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir lelaki di hadapannya itu. Ken kini mengambil posisi duduk tegak, dan matanya menatap tajam seperti hendak menguliti Rama.


"Aku tidak rela kamu menyakiti adikku! Dia sudah begitu sabar hidup susah denganmu. Jangan lagi kamu membebaninya dengan tekanan batin!"


"Adik? Apa maksudmu?" Rama menautkan kedua alisnya ketika mendengar Ken menyebut bahwa Pradha adalah adiknya.


"Pradha itu adalah adikku. Jika kamu berani macam-macam dengannya, akan kupastikan hidupmu menyesal seumur hidup!" ancam Ken.


"Adik dari mana? Apa kamu punya bukti?"


Mendengar pertanyaan Rama membuat Ken tersinggung. Lelaki itu menggebrak meja sambil menatap tajam ke arah adik iparnya itu. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Rama.


Akhirnya Ken menarik lengan Rama, dan menyeretnya menuju tempat parkir. Setelah sampai di depan mobilnya, Ken membuka pintu kendaraan tersebut dan mengambil sesuatu dari dalam. Dia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Rama.


"Ini hasil tes DNA! Sebelum wabah menyerang aku diam-diam mengambil rambut Pradha dengan bantuan Reya."


Rama terdiam. Dia berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Ken. Perlahan lelaki itu membuka amplop berwarna coklat tersebut.


Rama membaca hasil tes dengan teliti agar tidak ada yang terlewat. Dari kertas tersebut, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Ken dan Pradha merupakan saudara sedarah.

__ADS_1


__ADS_2