Pemandu Hati Pengganti

Pemandu Hati Pengganti
Bab 27. Bukti Perselingkuhan yang Rusak


__ADS_3

"Apa kamu nggak punya uang, sampai tidak mampu menyewa hotel kelas melati?" ejek Pradha.


"Lepas, Dha! Awas kamu ya, Abi nanti bakalan kasih kamu hukuman!" Astika terus meronta seraya mencengkeram lengan Pradha, berusaha untuk melepaskan diri dari perempuan itu.


"Orang salah tuh, harusnya minta maaf! Bukannya ngotot membela diri! Dasar nggak tahu malu!" Pradha tidak kendor sedikit pun. Dia terus mempertahankan cengkeraman tangan dari rambut Astika.


Di dalam kamar, Abi yang mulai terganggu oleh keributan di luar pun bergegas bangun dari ranjang. Dia membuka lemari, dan mengambil asal kaos serta celana pendek yang ada di dalamnya.


Ketika Abi membuka pintu dan berjalan ke arah ruang tamu, alangkah terkejutnya dia saat mendapati sang kekasih tengah dijambak oleh Pradha. Abi langsung berlari dan membantu Astika agar terlepas dari cengkeraman tangan Pradha.


"Dha, hentikan! Kamu menyakiti Astika!" seru Abi.


"Menyakiti? Aku hanya ingin memberinya pelajaran!" Pradha mengabaikan ucapan Abi dan terus menarik rambut perempuan menyebalkan itu.


"Aku bilang cukup!" bentak Abi.


Mendengar bentakan sang suami, sontak membuat Pradha melepas cengkeraman tangannya. Astika langsung menghambur ks dalam pelukan Abi, sambil menangis sejadi-jadinya.


Pradha menatap Astika yang sedang menangis dalam pelukan Abi seraya tersenyum miring. Sang suami sedang mengusap lembut rambut Astika dan mengecup keningnya sesekali.


"Kalian memang pasangan brengsek! Nggak punya rasa malu secuil pun!" Pradha tersenyum miring kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


Perempuan itu membuka kamera ponsel dan mulai merekam dua sejoli yang tengah berpelukan itu. Awalnya Abi tidak menyadari, karena masih sibuk dengan Astika yang terus menangis.


"Lihat pasangan kekasih tak tahu malu ini. Mereka mau enak-enak, tapi gak sanggup keluarin modal! Mereka berzina di rumahku! Oh ya, yang cowok ini suamiku!" Pradha terus mengarahkan kameranya kepada Abi serta Astika.


Tak lama kemudian, Abi menyadari kalau keduanya sedang direkam oleh Pradha. Dia yang khawatir kalau Pradha akan menyebarluaskan video itu pun merebut paksa benda pipih dalam genggamannya.


"Lepas! Ada hak apa kamu rebut ponselku, Bi! Brengsek! Aku bilang lepas!" umpat Pradha berulang kali, mencoba mempertahankan ponsel pintarnya.


Namun, Pradha gagal. Abi berhasil mengambil alih ponsel itu dari tangan Pradha. Lelaki itu pun membanting benda pipih tersebut ke atas lantai hingga hancur.


"Kamu nggak usah macam-macam, deh!" ancam Abi.

__ADS_1


Dada Pradha bergemuruh hebat. Kepalanya berdenyut karena amarah yang memuncak. Perempuan itu berjalan cepat ke arah dapur, dan kembali sambil membawa sebuah gunting.


Abi menarik lengan Astika, agar sang kekasih bisa berlindung di balik tubuh kekarnya. Dia mengira Pradha akannmenyakiti keduanya dengan benda tajam tersebut. Pradha menatap tajam pasangan gelap tak tahu diri itu penuh amarah.


"Ingat, kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal!" teriak Pradha.


Pradha balik badan, kemudian keluar dari rumah. Dia memungut pakaian Astika yang masih tergeletak di atas lantai, dan mulai mengguntingnya. Abi pun berlari mengikuti Pradha.


"Gila kamu, Dha! Nanti Astika gimana pulangnya? Nggak pakai baju?" Abi terbelalak setelah mengetahui apa yang telah dilakukan Pradha kepada pakaian Astika.


"Bodoh amat! Sana antar Astika pulang sebelum aku memanggil Pak Surya ke sini!" teriak Pradha seraya menghempaskan lagi pakaian Astika ke atas lantai.


Pradha pun segera masuk ke rumah, lalu memungut lagi ponselnya yang telah hancur. Dia menatap tajam Astika yang kini sedang menangis sambil menutupi tubuh dengan kedua telapak tangan.


"Aku nggak nyangka, selama ini telah salah memelihara burung! Kupikir kamu adalah burung merak, ternyata kamu tak lebih dari buruk gagak pemakan bangkai!" Pradha pun berlalu begitu saja, dan kembali masuk ke kamarnya.


Pradha merebahkan tubuh di atas kasur, kemudian memijat kening yang terasa berdenyut hebat. Dia tidak cemburu karena Abi telah berselingkuh. Perempuan itu hanya kesal karena sang suami menggunakan rumahnya untuk bercinta dengan Astika.


"Aku akan mencoba memperbaikinya untuk mendapatkan lagi data yang ada di sini." Pradha pun memejamkan mata untuk mengistirahatkan pikiran serta hatinya.


Keesokan harinya, Pradha berangkat lebih cepat ke tempat shooting. Dia tidak ingin Abi mengantarnya. Perempuan itu memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri agar bisa lebih leluasa hari itu.


Sesampainya di lokasi pengambilan gambar, Rama ternyata juga sudah datang. Lelaki itu tersenyum lembut ke arah Pradha, lalu menghampirinya. Pradha membalas senyum Abi, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di tempat tersebut sambil menunggu tim perias datang.


"Tumben sendirian, Abi mana?" Rama melongok ke belakang tubuh Pradha untuk memastikan keberadaan suami dari kekasihnya itu.


"Dia di rumah! Aku sedang menghukumnya!" Pradha mengeluarkan sesuatu dari tasnya, kemudian menunjukkan dua ikat kunci rumahnya.


Ya, Pradha mengurung Abi di dalam rumah seperti apa yang pernah lelaki itu lakukan kepadanya. Melihat tingkah sang kekasih membuat Rama terkekeh.


"Memangnya ada masalah apa? Apa dia membuat kesalahan besar?"


"Bukan cuma kesalahan besar, tapi sebuah kebodohan! Abi yang kekasih gilanya itu bercinta di rumahku! Yang bener aja! Bikin dosa kok di rumah orang, kayak nggak punya modal!" gerutu Pradha.

__ADS_1


Rama berdeham beberapa kali, karena teringat aktivitas panasnya dengan Pradha terakhir kali. Mereka berdua pun melakukan hal yang sama di rumah itu. Pradha yang menyadari gelagat aneh sang kekasih pun mengernyitkan dahi.


"Kamu kenapa, Kak? Senyum-senyum sendiri?"


Rama mendekatkan bibirnya ke telinga Pradha sambil berbisik, " Bukankah terakhir kali kita juga melakukan hal yang sama di sana?"


Mendengar ucapan Rama, sontak membuat wajah Pradha memerah. Perempuan itu mencubit lengan Rama, sehingga membuatnya meringis menahan sakit. Pradha baru melepaskan cubitannya setelah puas melepaskan kejengkelan terhadap Rama.


"Aduh, Ibu Hamil kita ternyata bar-bar sekali sekarang!" Rama tersenyum getir seraya mengusap lengannya, berharap rasa sakit yang mendera berkurang.


"Habisnya Kak Rama nyebelin!" Pradha memajukan bibir sembari membuang muka, dan melipat lengan di depan dada.


Rama terkekeh melihat tingkah perempuan di hadapannya itu. Jika sedang tidak ada di tempat umum, rasanya dia ingin sekali menarik lengan Pradha, dan menghujani perempuan tersebut dengan ciuman.


"Sebenarnya aku kemarin dapat bukti bagus supaya bisa bercerai dengan Abi." Kini bahu Pradha merosot karena teringat ponselnya yang rusak.


"Lah, dapat bukti kok sedih? Bukannya senang?" Rama mengerutkan dahi melihat sikap Pradha.


"Masalahnya ponselku dibanting Abi sampai hancur begini!" Pradha merogoh tas, lalu menyodorkan gawainya kepada Rama.


Lelaki itu pun mengambil alih benda pipih tersebut dari Pradha. Dia berusaha menyalakan ponsel itu, tetapi gagal. Rama pun mengusap wajah kasar.


"Kita perbaiki dulu. Semoga data tersebut nggak hilang, Dha."


"Baiklah, nanti aku akan ke Toko Apel untuk memperbaiki ponsel ini."


"Nanti aku antar."


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke sini yukk!


__ADS_1


__ADS_2