
Seorang wanita berumur empat puluhan sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam miliknya. Ditaman depan rumah mewah ,Ambar berbicara dengan seseorang dan menunjukkan raut wajah yang bahagia.
"Baiklah,aku akan tunggu kedatangan kalian besok lusa,"
"........."
"Iya,aku juga sangat merindukanmu Retta,"
"........"
"Ya sudah,kita akan bicarakan besok lusa semuanya,semoga lancar ya,"
"........"
"Baiklah baiklah..."
Ambar mengakhiri percakapan melalui handphonenya dengan senyum bahagia.
Lalu dia kembali mengotak atik handphonenya dan menelepon seseorang,pada suara sambungan ketiga seseorang diseberang sana menjawab.
"Axel,kamu dimana?"
"........
"Kamu bisa pulang secepatnya ga? Ada yang mau Mamah bicarain sama kamu."
"......
"Ya udah Mamah tunggu,jangan lama loh!"
"......."
"Iya,syalom...."
Ambar mengakhiri percakapannya dan dia melangkah masuk kedalam rumahnya.
_________
Tak berapa lama sebuah mobil masuk kedalam garasi dan seorang laki laki berperawakan tinggi,dan tampan keluar dari dalam mobil,dengan tas hitam yang tersampir disebelah pundaknya.
Dia melangkah menuju pintu rumah.
Sambil membuka pintu,dia berteriak
"HALO, MAH AKU PULANG..."
Mendengar teriakan itu Ambar muncul dari dapur.
"Ini bukan hutan Axel,jangan teriak teriak!"
"Sorry Mah.."
Axel berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Ambar datang menghampirinya.
Duduk disebelahnya dan mengusap rambutnya.
"Kamu mandi gih,,mamah mau menyiapkan makan malam."
"Bentar lagi mah,," ucap Axel dengan ogah ogahan.
"Sekarang Axel!!
Mendengar suara Ambar yang sedikit meninggi membuat Axel tersentak dan bangkit dari sofa.
"Ok ok,Axel mandi sekarang mah."
Dengan cepat Axel berjalan meninggalkan Ambar dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Setelah masuk kedalam kamar,Axel melemparkan asal tasnya,dan merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya.
Belum sempat dia memejamkan mata suara teriakan sudah terdengar dari bawah.
"AXEL MANDI,SEPULUH MENIT LAGI KAMU TURUN!!"
Tentu saja suara Ambar yang membahana,Dia tau betul kelakuan putra semata wayangnya ini,pasti dia tidak akan langsung mandi,melainkan tidur sampai jam 9 malam,lalu bangun untuk mandi.
Mendengar itu,Axel berdecak kesal.
"Ck,Mamah,,,,"
Dia bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Tepat sepuluh menit kemudian Axel sudah keluar kamar dan berjalan menuju meja makan,disana sudah ada Ambar yang duduk menunggunya.
Menarik kursi dan mendudukinya,"tepat sepuluh menit kan Mah"
"Bagus,anak pintar..."Ambar tersenyum tulus.
Setelah menyendokkan makanan untuk Axel mereka makan berdua dalam hening.
Seperti itulah peraturan mereka,makan dalam hening.
Setelah selesai,Bu Mar ART dirumah itu merapikan dan membersihkan meja makan.
Ambar dan Axel sudah duduk diruang keluarga.
Setiap selesai makan malam mereka akan duduk diruang keluarga,menceritakan hari hari mereka,hanya berdua.
"Tadi Mamah bilang ada yang mau diomongin,apa Mah?"
__ADS_1
Ambar menepuk jidatnya,
"Mamah hampir lupa,untung kamu ingatin."
Ambar mengubah posisi duduknya,yang tadi menghadap televisi dan kini menghadap Axel.
"Xel,Mamah punya satu permintaan buat kamu,ini permintaan Mamah yang terakhir."
Mendengar itu Axel mengerutkan keningnya.
"Maksud Mamah apa?"
"Ini dulu adalah permintaan Papah kamu,sebelum kejadian itu. "
"Permintaan Papah?" Wajah Axel sedikit bingung."
"Iya,kamu mau kan menurutinya?" Ambar mengusap pundak Axel."
Raut Wajah Axel berubah sendu
"Pasti Axel turutin Mah."
Mendengar itu Ambar terlihat sangat bahagia.
"Begini Xel,Mamah mau kamu bertunangan dengan putri sahabat baik Papah kamu,setelah bertunangan kamu harus menikah dengan Dia."
Mendengar ucapan Ambar, Axel tersentak kaget,matanya melotot sempurna.
"APA???"
Suara Axel yang meninggi karna terkejut kembali mengejutkan Ambar.
"Ck,kamu apa apaan sih,Mamah kaget tau!" Ambar mengelus dadanya.
"Mah,tunangan,menikah! Apa apaan ini. Ga,aku ga mau.Axel belum ada pikiran untuk itu."
Axel menggelengkan kepalanya.
"Tapi tadi kamu sudah janji Axel,kamu jangan ingkari janji kamu dong."
"Iya,tapi bukan bertunangan atau menikah,dan dengan wanita yang ga aku kenal,ga aku ga mau Mah."
"Axel kamu..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya,ucapannya dengan cepat dipotong oleh Axel.
"Sekali Axel bilang ga,tetap nggak mah!"
Suara Axel sedikit meninggi.
Mendengar itu,mata Ambar berkaca kaca.
"Kamu membentak Mamah Axel?"
Raut wajah Axel berubah menjadi sedih,takut,dan menyesal.
"Ma...mah,,Axel ga ngebentak Mamah,maafin Axel mah,Axel ga bermaksud untuk....."
"CUKUP!!!!!"
Ambar mengangkat telapak tangannya tepat diwajah Axel,memejamkan matanya dan air matanya jatuh dari sudut matanya.
"Mamah kecewa sama kamu Xel,anak yang mamah banggakan ternyata punya sifat seperti ini."
Mendengar ucapan Mamahnya wajah Axel menjadi pucat,dan meraih tangan mamahnya.
"Mah,maafin Axel,,Ma....
Ucapannya langsung terhenti karna Ambar menghempaskan genggaman tangan Axel.
"Sudah! Terserah kamu,kamu pilih jalan kamu sendiri,mamah ga akan memaksa maksa kamu lagi!"
Ambar bangkit berdiri meninggalkan Axel dan berjalan menuju kamarnya.
Tidak tinggal diam Axel berjalan cepat menyusul Mamahnya. Saat dia ingin masuk kedalam kamar Mamahnya pintunya sudah tertutup rapat.
Axel mengetuk ngetuk pintu kamar itu.
"Mah,,,maafin Axel,mah bukain pintunya dong,Axel minta maaf mah,mamah...."
Tiga puluh menit Axel didepan pintu kamar Ambar,menggumamkan kata maaf tapi tetap tidak ada respon.
Axel putus asa,dia menyesal mengucapkan kata kata itu tadi.
Dia berjalan meninggalkan pintu kamar mamahnya,dan pergi menuju kamarnya.
______
Seperti biasanya,pagi ini Ambar bersiap berangkat kekantor,dia keluar dari kamarnya,berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan,duduk dan memakan roti yang sudah disiapkan oleh Bi Mar.
Dengan tergesa gesa Axel datang menuruni tiap anak tangga berjalan cepat menuju meja makan,dia duduk disebelah Ambar.
"Mah,maafin Axel,mah.....Axel minta maaf...mah...."
Axel menggenggam tangan Mamah,merasa tidak ada respon Axel menggeser kursi tempat dia duduk,memberi sedikit ruang kosong disekitarnya.
Axel menumpukan kedua lututnya kelantai,untuk menopang tubuhnya,badannya menghadap Ambar tangannya ditumpukan diatas lutut Ambar.
Raut wajah sedih dan menyesal,matanya memerah. Kepalanya menunduk,dia menumpukan dahinya diatas lutut Mamahnya.
"Mah,,,maafin Axel,Axel ga bermaksud buat ngebentak Mamah,Axel salah,,,,maafin Axel mah..."
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh Axel hati Ambar mencair,dia menoleh kearah Axel,mengusap rambut putra kesayangannya itu,dia tidak tega.
Dia tau tidak mungkin Axel punya niat untuk membentaknya,karna putranya itu sangat menghargai dan menyayangi dia.
"Sudah,Mamah udah maafin kamu Xel,ayo berdiri kamu duduk dikursi,kita sarapan,nanti kamu telat ke kampus."
Mendengar ucapan Ambar,Axel mendongakkan kepalanya,menatap Mamahnya itu.
"Mamah serius,mamah udah maafin Axel?"
Mata Axel berbinar melihat Ambar menganggukkan kepalanya.
"Iya,ayo duduk kamu sarapan."
Axel berdiri menyeimbangkan tubuhnya dengah mamahnya yang duduk dikursi,dan memeluknya.
"Makasih mah,,,,makasih,,,,Aku janji ga akan ngulangin hal itu lagi."
Axel melepaskan pelukannya,dan duduk disebelah Ambar.
Saat memakan sarapannya Axel membuka suara.
"Mah,soal yang tadi malam,,Axel....
"Sudah jangan dibahas lagi,anggap aja mamah ga pernah ngomong gitu."
Mendengar ucapannya dipotong,Axel menatap wajah Mamahnya yang menyimpan kesedihan.
"Axel belum selesai ngomong mah."
"Mamah tau,kamu ga akan nerima pertunangan ini kan,Mamah ngerti kok."
Ambar menyesap teh miliknya.
"Bukan mah,Axel nerima pertunangan ini,dan Axel akan menikah dengan putri sahabat Papah itu."
Mendengar ucapan Axel,Ambar meletakkan teh nya diatas meja dan menatap Axel dengan wajah yang tidak bisa diartikan antara bahagia dan bingung.
"Kamu serius Xel?"
"Iya Mah,aku serius,. Tapi ini aku lakuin demi Mamah."
Tanpa babibu Ambar memeluk Axel,
"Makasih sayang,makasih,,kamu udah nurutin permintaan terakhir Papah kamu."
"Iya mamah,sama sama."
Ambar melepaskan pelukannya.
Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
Berbeda dengan Axel ekspresi bahagianya itu seperti dipaksakan.
Ambar beranjak dari duduknya,
"Mamah berangkat kekantor ya,"
Axel menganggukkan kepalanya.
"Hati hati mah."
Ambar mengambil tasnya,dia berjalan sedikit dan berhenti,dia memutarkan tubuhnya.
"O iya Xel,besok keluarga Om Tian akan datang bersama putrinya,dan kemungkinan besok lusa pertunangan kalian akan dilaksanakan. Jadi kamu harus udah siap ya."
Ambar tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar.
Mellihat dan mendengar apa yang diucapkan Mamahnya,Axel hanya cengo,seperti orang idiot. Dia tidak bisa berkata apa apa.
"Secepat itu?" tanyanya dalam hati.
Melihat ekspresi Axel,Bi Mar datang,menghampiri Axel.
"Den,Aden kenapa?"
Mendengar suara yang menariknya kedunia nyata,Axel mengalihkan pandangannya kepada Bi Mar.
"Ehhh....nnnggg...ga,ga papa Bi. Ya udah Saya berangkat kekampus ya Bi."
Axel beranjak dari duduknya,dan berjalan mengambil tasnya.
"Aden,calon tunangan Aden cantik loh,kemarin Nyonya tunjuki fotonya sama Bibi."
Mendengar ucapan Bi Mar langkah Axel terhenti,dia memutar tubuhnya kebelakang.
"Saya ga peduli Bi,karna pertunangan ini benar benar terpaksa buat saya."
Axel melanjutkan langkahnya.
Melihat tingkah Axel,Bi Mar hanya menggeleng.
"Aden Aden,nanti nyesal tau rasa,wong calon tunangannya cantik begitu kok."
Bi Mar berbicara sendiri,sambil merapikan dan membersihkan meja makan.
•••••••••••••••
Part1 finish,next part.....
__ADS_1