
Axel p.o.v
Aduhh masuk ga ya??
Sudah empat puluh lima menit aku berdiri di depan pintu apartemen Flo.
Ihh aku bingung..
Tekan bel gak ya..
Tekan??
Gak...
Tekan??
Gak..
Kalau aku tekan nanti dia melihatku berdiri di sini terus dia merasa aku sudah menerimanya.
Tapi kalau gak....
Ku ketuk-ketukkan jariku ditombol bel ini.
Ting...tong..
Akhhh shitttt!!
Gak sengaja jariku menekan belnya.
Aduh gimana nih...
Drap..drap..drap
Suara derap kaki mendekati pintu.
Aduh...aduh gimana nih...
Kok aku jadi gugup gini.
Tarik nafas....
Keluarkan......
Hahhh
Seperti biasa aja.
Aku menasehati diriku sendiri.
Berdiri di depan pintu dengan ekspresi biasanya.
Krekkk
Dan akhirnya Flo membuka pintu.
Hal pertama yang aku lihat adalah mata sembabnya.
Dia menangis???
Aku menatapnya dalam diam.
"Ngapain lu kesini!" Ketusnya.
Hatiku mencelos dia ngomong lu-ke aku. Raut wajahnya benar-benar berantakan. Lamunanku terbuyar mendengar perkataannya.
Ku gelengkan kepalaku.
Aku memperhatikannya dari atas hingga bawah.
Apa-apaan dia ini.
Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Melihat penampilannya seperti ini.
Oke! aku ini lelaki normal. Melihat dia berpakaian seperti ini tangtop dan hotpants siapa yang kuat.
Tapi tidak-tidak.
Ku enyahkan pikiran kotorku dan menatapnya datar. Raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat.
"Lagi gak nerima tamu!" Ucapnya sarkas dan ingin menutup pintu langsung saja kutahan pintunya dengan sebelah tanganku. Tanpa mengeluarkan suara aku langsung masuk ke dalam.
"Ngapain lu masuk!" Pekiknya. Aku tidak peduli.
Hal pertama yang aku lihat suasana apartemen ini benar-benar berubah.
Bersih, rapi, nyaman itu yang aku rasakan saat duduk di atas sofa.
Blammm
Suara pintu. Sepertinya dia membanting pintu. Biarkan saja. Toh kalau rusak biar dia yang menggantinya aku tidak mau repot-repot.
Ku letakkan kantong plastik yang aku bawa tadi. Sebelum ke sini aku mampir ke apotik sebentar. Membeli salap untuk alergi dan beberapa obat.
Kulihat Flo berjalan ke arah meja di sudut sana dia mengambil sesuatu dari sana.
Buku tipis.
Dia mengipas-ngipas buku itu tepat di depan lehernya.
"Arrgghhhh mamah panas!!" Gumamnya tapi aku masih bisa mendengar gumamannya itu.
Dia pasti tersiksa sekali. Aku juga pernah merasakan hal yang sama sepertinya.
Dia berjalan mondar-mandir.
Ihh mataku sakit melihatnya seperti itu.
Kakinya sedikit pincang. Ku lihat ke tulang keringnya. Di perban. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Roy.
Dia terus meringis kepanasan.
Aku berjalan mendekatinya kutarik lengannya dia terkejut.
"Lu mau ngapain!" Tanyanya tajam. Bukan itu bukan pertanyaan karna tida ada tanda tanya disana. Aku tidak memperdulikannya kubawa dia ke sofa dan mendorongnya hingga terduduk.
"Akhh sakit!" Pekiknya dengan memegangi kakinya.
__ADS_1
Aduhhh aku lupa kakinya luka.
Aku duduk di sofa tepat di sebelahnya. Ku buka tutup salap yang sudah ada di tanganku. Ku tarik tangannya hingga menghadap aku.
"mau ngapain!?" Ucapnya dengan tangan yang ia kibas-kibaskan pada lehernya.
"Kalau mau sembuh diam!" Kataku datar. Dan saat ini dapat jelas kulihat leher,tangan dan pundak belakangnya banyak kemerah-merahan.
"Gua bisa sendiri." Ucapnya lalu ingin menyambar salap yang ada ditanganku segera saja kujauhkan dari dia.
"Bisa diam gak." Dia mendengus mendengar ucapan datarku dan tidak berontak lagi.
Aku mendekatkan tangannya padaku. Ku olesi salapnya dengan rata.
"Satu lagi." Kataku setelah sebelah tangannya selesai dia menyodorkan tangannya tapi dia memalingkan wajahnya.
"Mendekat." Kataku setelah selesai dengan kedua tangannya. Dia menatapku dengan tajam. Segera kutarik tangannya agar mendekat padaku.
"mau ngapain?" Tanyanya gugup.
Hahaha dia gugup.
Masih dengan wajah dinginku kusisihkan rambutnya.
Plakkk
Aihhh,,
Dia memukul tanganku.
"Mau apa ?" Tanyanya tajam dan gugup menjadi satu.
"Ck, gua gak nafsu lihat lu." Ucapku padanya yang sudah berfikir aku akan berbuat macam-macam padanya.
"Ikat rambut lu. Di leher lu banyak."
"Gua bisa sendiri!" Ketusnya.
Keras kepala.
Mana bisa dia sendiri yang mengolesi salapnya.
"Lu yang ikat. Atau gua." Ucapku dengan sangat datar. Dia menggelengkan kepala. Gugup. Lalu dengan sangat hati-hati dia mengikat rambutnya.
Aneh! kenapa untuk mengikat rambut saja sangat berhati-hati seperti itu. Tidak seperti Nela atau wanita yang pernah aku kenal. Mereka asal mengikat rambutnya dengan begitu cepat. Tapi Flo seperti siput.
Sudah selesai ia mengikat rambutnya.
Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. Dia terlihat sangat gugup tapi tidak denganku. Aku biasa saja.
Ku angkat dagunya perlahan mendongak ke atas. Dapat kulihat kulit lehernya yang putih mulus dengan merah-merah di sekitarnya.
Dengan susah payah aku meneguk salivaku. Tanganku gemetar ketika ingin mengoleskan salap pada lehernya. Jatungku sudah lari marathon di dalam sana. Tapi kulakukan dengan biasa.
Aku tidak ingin berbohong. Jujur imanku tergoyah melihat hal seperti ini. Dengan cepat aku menyelesaikannya. Tidak ada yang bersuara di antara kami hanya deru nafasnya yang dengan jelas dapat aku dengar.
Setelah selesai aku membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dia menurut saja dan dapat kulihat pundaknya yang putih.
Wooohhhh Tuhan kuatkan imanku.
Doaku dalam hati.
"Sudah." Ucapku tapi tidak ada sahutan ataupun gerakan dari tubuhnya.
Kepalanya menunduk dan nafasnya teratur.
"Apa dia tidur?" Tanyaku dalam hati. Lalu aku beranjak dari dudukku menuju toilet untuk mencuci tangan. Kembali dari toilet aku melihat Flo masih seperti posisi semula.
Benar dia tertidur.
Aku menggelengkan kepalaku.
Ku dekati dia, kusisihkan rambutnya yang menutupi wajah tertunduknya. Kutarik perlahan kepalanya dan jatuh dilenganku. Ada rasa nyaman tersendiri yang aku rasakan saat aku berdekatan dengan Flo.
Aku tersenyum melihat wajahnya.
"Tidurnya kayak kebo aja." Gumamku.
Ku usap kepalanya lembut. Dia bergerak seakan usapanku itu hal ternyaman baginya.
"Maaf aku tak bermaksud menyakiti hatimu. Aku memang membencimu tapi tak pernah terpikir olehku untuk melukaimu. Aku tahu kamu terluka karna ucapan-ucapan dan sifatku padamu. Tapi itu semua terjadi secara spontan. Maaf." Ucapku dalam hati dengan terus mengusap kepalanya.
Segera ku angkat tubuhnya menuju kamar. Ku baringkan tubuhnya di atas kasur kutarik selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas dada. Lalu aku pergi meninggalkan dia yang tertidur.
_____
Flo menggeliat di atas kasurnya.
"Enggggghhh..jam berapa ini"? Gumamnya. Dia melirik jam yang tergantung di atas pintu pukul 10.00 malam.
"Akhh ringannya badanku." Flo duduk diatas kasur dan merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya.
Bekas merah-merah di tubuh Flo sudah memudar. Flo menyingkapkan selimut dari tubuhnya dan turun dari kasurnya. Dia berjalan keluar kamar.
"Dia udah pulang ternyata." Gumam Flo. Hatinya berharap saat ia bangun Axel masih berada di sini namun malah sebaliknya Axel sudah pulang sejak ia tertidur tadi.
"Hahh bahkan dia gak minta maaf. Berharap banget sih Flo. Axel itu benci sama lu mana mungkin dia minta maaf." Oceh Flo pada dirinya sendiri.
Flo berjalan menuju lemari es lalu mengambil minuman kaleng.
"Pasti susah tidur lagi nih. Bosan banget. Ngapain ya?" Tanya Flo pada diri sendiri tangannya masih menggenggam erat tin minuman itu.
Sejenak ia berfikir lalu kemudian meletakkan minuman itu di atas meja. Dia menuju kamarnya dan mengambil laptop miliknya.
Flo ingin memantau keadaan rumah Axel. Ia melihat situasinya baik-baik saja. Tapi setelah beberapa menit kemudian Axel keluar dengan terburu-buru menuruni anak tangga.
"Ehh...ehh dia mau kemana?" Tanya Flo entah pada siapa.
"Aku harus ngikutin dia." Flo berbicara sendiri.
Segera ia mengambil kunci motornya. Motor yang di hadiahi seseorang padanya ketika ulang tahunnya kemarin. Tidak lupa ia mengambil topi, jaket, dan sepatu hitamnya. Semua serba hitam. Flo memakai itu semua dengan cepat. Ia teringat sesuatu lalu tangannya mengambil kotak kecil dari dalam laci lalu membukanya. Flo tersenyum melihat anting hitam di sana tapi hanya sebelah saja. Rambutnya dikucir kuda dan menjuntai panjang ia tampil sebagai Flo yang sebenarnya. Ia langsung memakainya lalu pergi keluar apartemen.
Saat ini Flo terlihat sedang mengendarai motornya membelah jalanan yang sedikit lebih sepi. Sampai ia di depan komplek perumahan Axel dia menunggu sampai mobil Axel pergi mendahuluinya. Dengan jarak yang lumayan jauh tapi Flo masih bisa mengikuti mobil Axel.
Mobil Axel berhenti di depan sebuah rumah mewah dia tidak keluar dari dalam mobil. Tidak lama kemudian Alex dan Albert datang menemuinya dan masuk ke dalam mobil.
"Mereka mau kemana?" Tanya Flo entah pada siapa dia bersembunyi di tempat yang lumayan gelap. Mobil Axel melaju dengan cepat Flo juga mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Di dalam mobil
"Kita mau kemana nih?" Tanya Albert yang duduk di belakang.
"Club." Jawab Axel singkat.
"Ck, tapi lu berdua jangan buat pemilik club rugi lagi ya." Ucap Alex datar. Alex mengatakan itu karena di saat Axel dan Albert mabuk dan berkelahi di club mereka menghancurkan banyak barang-barang club. Tentunya tidak sengaja.
Mendengar itu Albert mendengus kesal.
"Tapi sekarang ada yang jagain kita." Ujar Albert dengan senyum jahilnya.
"Gua bukan bodyguard lu pe'a." Alex mengerti maksud ucapan Albert itu adalah dirinya.
"Hahaha. Santai bro. Ntar pulang dari club kita nginap di rumah lu aja Xel." Ujar Albert.
"Terserah. Asal lu jangan ngebarantakin kamar gua aja.'' Datar Axel yang masih fokus dengan stirnya.
"Dihh bukannya lu yang suka ngeberantakin kamar. Lu ingat gak waktu lu tinggal di apartemen lu di usir tante Ambar karna gak pernah ngebersihin tu tempat." Setelah mengucapkan itu Albert dan Alex tertawa terbahak-bahak. Axel hanya bisa mengerucutkan bibirnya karna yang di katakan Albert itu memang benar.
"Udah ketawanya?" Tanya Axel ketika kedua sahabatnya ini berheti tertawa.
"Udah. Gua capek." Kata Albert yang kemudian bersandar di kursi belakang.
"Ngomong-ngomong lu udah minta maaf blom ma Flo?" Tanya Alex di tengah alunan musik jazz yang mereka putar.
"Udah." Singkat Axel tanpa mengalihkan pandangannya dari fokusnya menyetir. Mendengar itu Albert yang bersandar mendekatkan kepalanya di samping kedua sahabatnya.
"Serius lu. Lu udah minta maaf?" Pertanyaan Albert ini di iringi nada terkejut. Pasalnya seorang Axel yang egonya setinggi gedung pencakar langit meminta maaf. Itu rekor bagi mereka.
"Iya. Dalam hati." Ucap Axel dengan santai dan melirik ke belakang. Mendengar itu Alex menggelengkan kepalanya.
"Kampret! Gua udah duga." Ujar Albert dengan sinis.
"Ehhhh Xel..awas ada motor!!!!!" Pekik Alex .
Ciiiiittttttt
Axel menginjak rem secara mendadak. Kepala Albert terbentur ke dashboard mobil karna dia berada di celah antara kursi Axel dan Alex.
"Ihh pelan-pelan ngeremnya nyet!" Ketus Albert yang memegangi jidatnya yang sakit. Dia meringis.
"Shit! Siapa sih tu orang!" Kesal Axel yang kemudian membuka seatbeltnya dan turun dari mobil diikuti Alex dan Albert.
Di hadapan mereka ada lima orang yang berbadan kekar diatas motor. Ada tiga motor. Lalu mereka turun dari motor menghampiri Axel Cs.
"Shit! Mereka orang-orang yang ngeroyok kalian waktu di club." Kata Alex setelah melihat jelas wajah kelima preman itu.
"Serius lu!" Kaget Albert.
"Mereka mau apa?" Tanya Axel.
"Gua gak tau." Jawab Alex.
"Balas dendam." Ujar Albert.
Kelima preman itu semakin mendekati mereka.
"Itu dia orangnya habisi mereka!" Perintah pria berambut panjang. Dengan cepat keempat orang itu menyerang Axel dan kedua sahabatnya. Dua orang menjadi bagian Axel. Mereka berkelahi dan saling pukul.
Albert dan Alex kewalahan menghadapi dua orang pria botak karna mereka selalu mengelak pukulan dari Al dan Alex. Lain halnya dengan Axel dia sudah mengalahkan satu orang hingga terpental namun pria berambut panjang tadi memegangi kedua tangan Axel dan preman yang satu lagi memukuli perut Axel hingga tak berdaya lagi begitu juga dengan kedua sahabatnya yang sudah memar-memar di pukuli oleh kedua preman botak itu.
Flo yang sempat kehilangan jejak mereka karna terjebak lampu merah mengumpat tak jelas. Dia terus mengikuti arah instingnya hingga ia melihat mobil Axel berhenti dipinggir jalan dan terjadi perkelahian disana. Axel dan kedua sahabatnya dikeroyok.
"Siallll!!" Umpat Flo yang melihat Axel tak berdaya tapi masih dipukuli. Tanpa pikir panjang lagi Flo menghentikan motornya dan turun berlari menghampiri mereka.
Ketika preman itu ingin memukul Axel dengan balok kayu. Flo datang melompat dan menendang punggung preman itu hingga tersungkur.
"Sialan!!!" Pekik preman berambut panjang itu. Dan dia juga menyerang Flo. Flo terkejut melihat wajah preman itu. Dia adalah preman berambut panjang yang mengintai rumah Axel itu.
Dengan gerakan kilat Flo menghindari serangan preman itu. Dan dengan posisi yang sangat tepat Flo menyikut lehernya dan menendang perut preman itu hingga terpental. Tak tinggal diam tiga orang preman itu melihat Flo lalu bersama-sama menyerang Flo. Flo mengelak dengan lihainya. Menarik kedua kerah baju pria botak itu. Melompat dan melayangkan tendangan kepada preman dibelakangnya. Tinggal dua lagi. Flo membenturkan kedua kepala botak itu. Menendang bagian vitalnya dan perutnya secara bergantian.
Merasa kalah pria berambut panjang itu berteriak.
"Cabutt!!!!" Pekiknya lalu mereka lari kocar-kacir mengendarai motor mereka.
Flo berdiri membelakangi Axel, Alex dan Albert. Saat Flo ingin pergi sebuah tangan menahan pundaknya.
"Tunggu. Siapa kamu?" Tanya Axel yang menahan pundaknya dan satu tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit. Flo menegang.
"Aduh mampus! Jangan sampai mereka tau siapa aku." Batin Flo.
Saat Axel ingin membalikkan tubuh Flo. Dengan cepat kilat Flo berlari menuju motornya,menaikinya dan pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Tunggu!!" Teriak Axel namun Flo sudah menghilang.
"Lu gak papa Xel?" Tanya Alex yang menghampirinya.
"Gak gua gak papa. Kalian?" Tanya Axel balik.
"Kita baik-baik aja." Jawab Alex.
"Tu orang yang nolongin kita siapa?" Tanya Albert.
"Gua gak tau. Wajahnya gak kelihatan." Jawab Axel.
Lalu mereka pergi dari tempat itu. Tidak menuju Club lagi tapi pulang ke rumah Axel. Alex yang menyetir mobil dan Axel rebahan di kursi belakang karna dia yang lebih parah diantara mereka bertiga. Mereka bertanya-tanya tentang orang yang menolong mereka. Kenapa tiba-tiba dia pergi begitu saja saat Axel ingin melihat wajahnya.
Sampai di rumah Axel mereka memapah Axel menuju kamar. Rumah ini sepi karna Ambar lagi diluar kota. Bi Mar sedang izin pulang kampung.
Lalu mereka istirahat bersama dikamar Axel.
Apartemen Flo
Flo tiba di apartemen. Dia memarkirkan motornya di baseman lalu memasuki lift. Sampai di dalam apartmen Flo segera mengganti pakaiannya. Dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Untung gak ketahuan tadi." Gumamnya. Dia duduk diatas kasur dengan memeluk gulingnya.
"Ahh seharusnya aku mengikuti preman itu tadi." Sesalnya dan masih berbicara sendiri.
"Mereka udah mulai beraksi. Aku harus semakin waspada." Ucap Flo. Kemudian dia mengecek CCTV di rumah Axel dan melihat Axel pulang bersama Alex dan Albert.
"Mungkin mereka menginap. Baguslah." Ucap Flo yang tidak melihat Alex dan Albert keluar dari rumah Axel. Kemudian dia menutup laptopnya dan merebahkan tubuhnya dia memejamkan mata perlahan menuju alam mimpi.
•••••••••
__ADS_1