
Axel p.o.v
Ini adalah hari pertama aku tinggal bersama Flo. Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen yang Flo tempati.
Sebenarnya sih mamah meminta kami untuk tinggal bersamanya di rumah. Tapi aku menolak. Alasanku aku hanya ingin berdua dengan Flo. Tapi nyatanya tidak.
Aku hanya ingin tinggal dengan bebas, meskipun aku dan Flo sudah menikah tapi aku dan dia hanya sebagai teman saja. Tidak lebih.
Jujur aku sangat bahagia saat ini. Karna wanita yang aku cintai sudah kembali. Dia tidak berubah sedikitpun. Hanya saja dia semakin cantik. Aku semakin mencintainya. Aku akan berjuang untuk mempertahankan hubungan kami. Aku akan menikahinya setelah aku bercerai dengan Flo nanti.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
Tok...tok...tok...
"Axel mau sarapan?" Suara Flo dari luar. Kamarku dan kamar Flo terpisah. Aku tidak ingin tidur bersamanya. Dan dia juga tidak keberatan. Mungkin kami memang sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini.
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Sarapan?" Tanyanya lagi. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mengikutinya ke arah meja makan.
"Maaf. Hanya roti. Aku tidak bisa memasak." Ucapnya gugup.
Oh ternyata dia tidak bisa memasak. Gimana mau jadi istri yang baik.
Aku tidak menjawab ucapannya. Tanganku terulur mengambil roti yang sudah di olesi selai dan memakannya.
Di tengah keheningan aku membuka suara.
"Flo. Masih ingat dengan yang aku katakan beberapa minggu lalu?" Tanyaku tanpa menatapnya.
"Yang mana?" Tanyanya balik. Dia lupa atau pura-pura lupa sih.
Aku mendesah dan menatapnya.
"Yang aku katakan. Kita hanya sebagai teman tidak lebih dari itu kecuali di hadapan keluarga kita." Ucapku dengan terus mengunyah roti. Sesaat dia menegang,tapi itu hanya sebentar. Lalu dia tersenyum.
"Oh itu. Tentu aku ingat." Ucapnya.
"Baguslah kalau kamu mengingatnya." Kataku padanya. Ternyata ingatannya bagus juga.
"Kapan kamu mulai ke kantor." Tanyanya setelah beberapa saat kami terdiam.
"Besok." Jawabku dengan singkat. Seperti yang sudah dikatakan oleh mamah. Setelah menikah aku akan memimpin perusahaan peninggalan papah seutuhnya.
Ting...tong...
Suara bunyi bel membuat aku dan Flo menoleh ke arah pintu.
"Siapa yang datang pagi-pagi." Gumam Flo yang masih jelas ku dengar. Dia beranjak untuk membuka pintu. Tapi aku tahan. Karna aku tahu siapa yang datang.
"Kamu disini aja. Biar aku yang buka." Ucapku padanya. Lalu aku beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu.
Aku sangat bahagia melihat siapa yang datang. Aku mencium keningnya. Jujur aku masih sangat merindukannya. Setelah tujuh tahun dia pergi,akhirnya dia kembali padaku.
"Pagi sayang." Sapanya.
"Pagi juga sayang." Jawabku." Ayo masuk." Ajakku padanya. Aku meraih dan menarik tangannya tapi dia menahannya.
"Ada apa?" Tanyaku padanya.
"Apa istrimu tidak akan marah?" Tanyanya dengan wajah polosnya itu. Astaga Nadya aku semakin mencintaimu.
"Tidak. Dia tidak akan marah. Dan aku akan memperkenalkanmu padanya." Jawabku dengan senyum tulus dan mengusap rambutnya.
Dia tersenyum dan aku meraih tangannya lagi untuk masuk kami melangkah bersama dengan tangan yang bertautan menuju meja makan.
"Siapa yang datang xel." Kata Flo lalu ia menoleh ke arah aku dan Nadya. Aku tidak bisa mengartikan raut wajah Flo. Tapi aku tidak peduli.
"Oh ini Nadya." Jawabku dengan terus menggenggam jemari tangan Nadya.
"Nadya sayang kenalin dia Flo." Ucapku pada Nadya dan mengusap rambutnya dengan lembut. Nadya mengulurkan tangannya tapi Flo tidak menyambutnya, setelah aku memanggil nama Flo dia seperti terkejut. Dia melamun mungkin.
"Oh. Iya. Aku Flora. Panggil Flo aja." Jawabnya lalu menyambut tangan Nadya.
"Nadya. Kekasih Axel." Ucap Nadya lalu dia menatapku dengan senyum indahnya aku menganggukkan kepala dan membalas senyumannya.
"Oh...iya..iya. Ayo Nadya mari duduk." Kata Flo dengan ramah. Flora memang pengertian. Aku salut padanya dia bisa bersikap ramah pada siapapun. Dia memang wanita yang baik. Tidak seperti yang di sinetron-sinetron jika melihat suaminya membawa wanita lain istrinya langsung mengamuk seperti singa. Tapi Flo tidak.
"Aku ganti baju dulu ya sayang." Ucapku pada Nadya. Karna aku sudah berjanji akan membawanya jalan-jalan hari ini. Nadya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Aku meninggalkan mereka berdua di meja makan.
______
Sayang?
Axel memanggil Nadya dengan ucapan sayang?
Aku tertawa miris dalam hatiku.
Aku tidak tahu bagaimana bentuk hatiku saat ini. Melihat Axel menggenggam tangan Nadya, mengusap rambutnya, memanggilnya dengan panggilan sayang.
Hancur!!!
Sakit hati ini.
Tapi aku berusaha sebiasa mungkin. Aku tahu ini akan terjadi setelah Nadya kembali. Lagi pula Axel sudah mengatakan bahwa aku dan dia hanya sebatas teman saja. Tidak lebih.
Aku berusaha menerima ucapannya tapi tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Karna aku memang sudah mencintainya.
__ADS_1
Ucapan Nadya membuat aku menatap wajahnya yang duduk tepat di hadapanku.
"Malang sekali nasibmu ya. Menikah dengan orang yang tidak mencintaimu. Bahkan tidak menganggapmu." Ucapnya dengan sinis. Tapi aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya menatapnya dengan datar.
"Kalau aku jadi kamu sih aku akan menceraikan Axel. O iya aku lupa. Kata Axel dia akan menceraikanmu. Ckckc ga lama lagi kamu akan jadi janda. Kasihan."
Ingin sekali rasanya aku menyumpal mulut jahatnya itu dengan roti yang di tanganku ini. Agar dia tidak bisa bicara lagi. Tapi rasa sakit di hatiku jauh menyakitkan dari ucapannya itu.
Kalian tahu. Baru kemarin aku sah menjadi istri Axel. Dan baru hari ini aku tinggal bersama dengannya. Seharusnya kami menikmati hari baru kami bukan?
Tapi nyatanya tidak. Dia malah membawa wanita lain ke apartemen ini. Apa dia tidak tahu seberapa sakit hatiku? Apa dia tidak tahu seberapa hancur hatiku? Apa dia berfikir aku tidak mempunyai hati?
Jika ingin bertemu. Kenapa tidak bertemu di luar saja? Apa dia sengaja?
Akhh sudahlah. Aku ingin menenangkan hatiku dulu.
"Maaf. Aku ke kamar dulu.'' Ucapku pada Nadya. Aku meninggalkannya tanpa menunggu jawabannya.
Dan di kamar inilah aku sekarang. Duduk diatas kasur, dengan memeluk guling kesayanganku. Menatap ke arah jendela kaca, tapi tatapan yang kosong.
Aku tertawa sinis.
Tepatnya menertawakan diriku.
"Flora, Flora. Kasihan sekali kamu. Dirimu tak pernah di inginkan oleh siapapun! Kamu itu tidak akan pernah di takdirkan untuk bahagia. Takdir kamu itu ya harus menderita mungkin sampai MATI!" ucapku dalam hati.
Lamunanku buyar saat mendengar tawa dua orang manusia di luar sana.
Kedengarannya Mereka sangat bahagia.
Apakah aku bisa merasakan hal yang sama seperti mereka? Dicintai,di inginkan, di bahagiakan? Aku rasa tidak.
Tanpa aku sadari air menetes di pipiku.
Aku menangis.
Aku cengeng?
Ya, aku akui aku cengeng. Hanya bisa menangis. Meratapi nasib.
Tapi aku benar-benr tidak kuat dengan semua ini. Bisakah seseorang menggantikan posisiku?
Suara tawa yang aku dengar tadi tidak ada lagi. Mungkin mereka sudah pergi. Sudahlah. Biarkan saja.
Mungkin menurut kalian aku adalah istri yang bodoh. Membiarkan suamiku mengenalkan kekasihnya padaku. Tanpa aku marah atau melarangnya. Aneh memang. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jelas kalian tahu Axel tidak ingin bersamaku,dia tidak menginginkan aku. Apa yang bisa ku perbuat?
Jika mereka tidak menginginkan aku, aku akan pergi meninggalkan mereka.
Jika suatu saat aku pergi,jangan pernah katakan aku pecundang. Mungkin pundakmu tidak cukup kuat untuk menopang beban yang aku miliki ini.
Sudahlah.
Lantunan lagu Candy yang berjudul "Bila" mengganggu lamunanku.
Kulirik handphone yang berada di atas nakas, tertera nama Kevin disana.
Ada apa dia nelpon pagi-pagi begini. Tidak biasanya.
Segera aku menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Halo Flo, kamu lagi dimana?"
"Di apartemen, ada apa Vin. Ga biasanya kamu nelpon pagi-pagi gini."
"Buka pintu apartemen kamu. Aku di depan."
Apa?
Kevin di depan? Ngapain dia.
Tanpa memutuskan sambungan telpon. Aku berjalan keluar kamar dan menuju pintu utama. Kubuka pintu dengan handphone yang masih melekat di telinga kananku.
benar saja. Kevin ada di sini.
"Kevin. Ada apa kamu kesini? Ga biasanya." ucapku dengan wajah yang sedikit terkejut dengan kehadirannya.
Pip
Kevin memutuskan sambungannya. Dan kemudian dia tersenyum padaku.
"Kamu mau bertanya terus dan tidak mengajakku masuk?" tanyanya. Aku tersentak. Lalu mempersilahkan dia masuk.
"Kamu sendirian?" tanyanya. Aku menutup pintu dan menyusulnya berjalan menuju sofa.
"Ya." jawabku singkat. Kevin duduk di sofa. Sementara aku berdiri di hadapannya.
"Kemana suamimu? Bukannya seharusnya kalian masih menikmati hari pertama kalian menikah?" tanyanya. Aku menegang mendengar pertanyaannya. Apa yang harus ku katakan. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya.
Aku mengalihkan pembicaraan,dengan bertanya Kevin mau minum apa. Agar ia tidak curiga.
"Ehh, kamu mau minum apa? Kopi, teh, atau yang lain?" tanyaku sebiasa mungkin. Kulihat Kevin tersenyum sinis.
"Teh saja." jawabnya. Segera aku berjalan menuju dapur agar ia tidak bertanya yang lain-lain lagi.
Setelah selesai aku membawa secangkir teh dan cemilan ringan menuju ruang tamu dan mempersilahkan Kevin meminumnya. Kevin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan handphone yang ia pegang tadi di atas meja.
__ADS_1
"Flo. Duduk disini." ucapnya dengan menepuk sofa disebelahnya. Aku duduk dan berdoa agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh.
"Tadi kamu belum menjawab pertanyaanku." ucapnya tiba-tiba.
Mampus aku! Ternyata dia mengingatnya.
Apa yang harus ku katakan?
Aku gugup tidak tahu ingin menjawab apa. Sepertinya Kevin menyadari kegugupanku.
"Kenapa gugup begitu? Kamu takut mengatakan kalau suami kamu pergi bersama kekasihnya?"
Mataku melotot sempurna mendengar ucapan Kevin. Apa yang dia katakan?
Darimana dia tahu itu. Aku kan tidak memberitahunya.
"Kenapa Flo? Kamu kaget aku tau yang sebenarnya?" tanyanya dengan senyum sinis. Aku berusaha sebiasa mungkin dan mencari alasan yang tepat.
"Kamu ngomong apaan sih Vin. Jangan ngaur deh. Axel lagi pergi keluar sebentar." jawabku dengan santai. Semoga saja Kevin percaya.
"Flora, Flora. Kamu ga perlu cari alasan seperti itu. Aku udah tahu semuanya. " ucapnya dengan tawa kecil.
"Kevin ini bukan alasan." jawabku dengan sedikit serius.
"Seriously? " Kevin menautkan kedua alisnya. Aku menganggukkan kepalaku dengan kaku.
"Bicara jujur apa susahnya." ucapannya yang membuat aku semakin gugup.
Apa Kevin tahu yang sebenarnya? Darimana dia tahu. Kenapa dia berbicara seolah-olah dia tahu semuanya.
"Aku tahu semuanya Flo. Saat acara resepsi pernikahan kalian. Aku melihat dan mendengar semua perbincangan antara Axel dan seorang wanita. Yang pada akhirnya aku tahu wanita itu adalah kekasihnya. Dan tadi aku bertemu mereka di lobby. Alasan apalagi yang ingin kamu berikan?"
Tubuhku seakan tidak bertulang mendengar perkataan Kevin.
Apa yang harus aku katakan?
Aku hanya bisa memalingkan wajahku,aku tidak ingin dia melihat kehancuran yang tersirat di wajahku.
"Kenapa kamu membiarkannya".
Hening.
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaanku."
"Sampai kapan kamu membiarkan ini berlanjut?''.
"Flo jawab aku!". Kevin mengguncang pundakku. Mendesakku agar aku menjawab pertanyaannya.
Aku jengah. Benar-benar jengah.
"Cukup Kevin! Jangan paksa aku!" ucapku dengan suara yang sedikit meninggi. Aku berbalik menatapnya. Kini air itu turun lagi.
Aku menangis.
Kevin membawaku dalam dekapannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memaksamu. Jangan menangis Flo. Sudah.." ucapnya dengan lembut. Sepertinya dia merasa bersalah.
"Aku hanya tidak ingin kamu semakin terluka nantinya. Baru saja kalian menikah tapi dia sudah menyakitimu." dia mengusap rambutku.
"Kamu tidak pantas untuk di sakiti Flo."
Aku hanya menangis tanpa membalas ucapannya.
"Jika seandainya aku mau. Aku bisa saja dengan mudah merebutmu darinya. Tapi itu tidak aku lakukan. Itu sama saja aku memaksamu dan menyakitimu. Apa bedanya aku dengan dia."
"Dengar Flo, mungkin kita hanya sebatas teman. Tapi aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Apapun yang terjadi aku akan tetap ada untukmu."
Kevin. Seandainya saja Axel bersikap sepertimu. Mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia didunia ini.
Mendengar perkataannya aku seakan menjadi kuat kembali.
Aku merasa sosok Zack hadir dalam dirinya.
Selalu memberi aku kekuatan.
Selalu menyemangatiku.
Selalu ada untukku.
Menikah dengan orang yang tidak mencintaimu adalah hal yang menyakitkan. Kamu harus rela tersakiti demi sebuah janji dan cinta.
Apakah ini yang di namakan takdir?
Jika ia, bisakah aku berdamai dengannya?
Atau bantu aku mengatakan pada Tuhan untuk mengambil alih ini semua dariku.
Aku tersiksa. Sungguh tersiksa.
•••••••
Tbc
__ADS_1