
Flora POV
Hooaammmm
Ini sangat melelahkan.
Tadi malam aku pulang di antar Kevin jam 11 malam.
Dia memintaku pura-pura menjadi kekasihnya di acara resepsi pernikahan mantan pacarnya.
Menurutku dia itu aneh.
Kenapa memintaku menjadi pasangan pura-puranya. Kevin itu tampan, mapan, seorang CEO. Apa lagi yang kurang? Dia bisa dengan mudah mendapatkan wanita idamannya. Kenapa harus aku yang sudah menikah?
Tapi ya sudahlah. Aku juga malah senang membantunya.
Selesai cuci muka dan gosok gigi aku keluar dari kamar.
Manusia bunglon itu sudah bangun belom ya?
Manusia bunglon?
Ya, seperti dugaan kalian. Yang ku maksud ya Axel.
Selain dia manusia karang, manusia Robot, manusia es, aku juga menyebutnya manusia bunglon.
Aku menyebutnya itu bukan tanpa alasan.
Dia itu selain datar, dingin, keras kepala, sifatnya juga berubah-ubah seperti bunglon. Kadang baik, perhatian, ramah. Dan kadang-kadang jutek, cuek dan ga peduli sama sekali.
Menyebalkan!
Sreeng
Sreeng
Suara apa itu?
Dan bau ini, sedap sekali.
Apa Axel memasak?
Aku penasaran dan berjalan menuju dapur.
Tepat seperti dugaanku
Axel memasak.
Uuwaahhh suami idaman.
Aku datang mendekatinya yang membelakangiku.
"Pagi.." Sapaku ramah padanya.
Dia hanya berdehem menjawab sapaannku.
Hehh,,,sudah biasa. 😁😀
"Kamu bisa masak? Suami idaman dong." Godaku padanya yang masih membelakangiku.
Dia pikir dia saja yang bisa menggodaku? Akan aku tunjukkan siapa Flora sebenarnya.
Dan seperti yang kalian tahu. Dia tidak menjawabnya.
Dasar manusia bunglon!
Aku duduk di kursi pantry.
"Dimana kekasihmu? Tumben dia tidak datang." Tetap saja dia tidak menggubris pertanyaanku.
"Heh, apa kau tidak ke kantor?".
"Mentang-mentang pemilik perusahaan. Suka-suka ya datang atau tidak datang."
Tidak ada respon.
Aku beranjak dari kursi menuju lemari pendingin. Ku ambil minuman yang biasa aku simpan di sana. Air dengan irisan lemon. Aku sangat menyukainya.
Ku teguk air dari botol minuman itu hingga setengah.
Segeerrrrrr.
"Ehh Xel, aku kangen Dave dan Nela. Gimana kabar mereka ya?"
"Semenjak hari pernikahan kita mereka tidak menghubungiku. Apa mereka melupakanku?"
Aku bersandar di meja pantry.
Kalian tahu Axel tetap tidak meresponku. Dia sibuk sendiri. Entah apa yang dia aduk-aduk aku tidak tahu.
"Aku juga rindu dengan kebisingan Albert, perhatian Alex." Sesaat ku lihat Axel menghentikan gerakannya mengaduk tepung. Tapi itu hanya sesaat. Dia kembali mengaduknya.
Aku mendekatinya.
"Nadya kemana sih? Kamu ga kangen?" Tanyaku padanya.
Aku penasaran. Tumben wanita itu tidak muncul disini. Dan menunjukkan sikap-sikap manjanya yang menjijikkan itu.
Axel menghentikan gerakannya lalu menatapku datar.
Kalau sudah begini dia terlihat sangat menyeramkan.
Aku meneguk salivaku ketika dia mendekatiku.
Dia mau apa?
Aku gugup. Wajahnya semakin mendekati wajahku.
"Ka..kamu..mau ngapain.." ucapku gugup. Sekarang aku benar-benar gugup.
Semakin dekat,dan..
"Dari pada lu banyak tanya. Mending cuci piring." Dia memutar tubuhku menghadap tumpukan piring di wastafel.
Isshh apa-apaan dia.
Aku pikir dia ingin menciumku.😁
Ehh apa yang ku pikirkan?
Itu tidak mungkin terjadi.
Aku mendengus kesal. Lalu bersiap untuk mencuci piring.
Sudah dua puluh menit aku mencuci piring tapi tidak kunjung selesai.
Apa dia sengaja mengotori semua perabotan?
Aku rasa semua perabotan di dapur kotor semua.
Dari tadi dia tidak henti-henti meletakkan piring-piring kotor di wastafel.
"Apa kau sengaja mengotori semua piring?!" Tanyaku dengan kesal padanya.
Tanganku pegal.
"Itu memang kotor. Mau gimana lagi."
Ihhhh 😬 ingin sekali aku menggosok wajahnya itu.
"Cuci yang bersih. Jangan asal."
Astaga Tuhan. Berikan aku kesabaran agar tidak mencakar wajah tampannya itu.
Axel sudah selesai memasak. Tapi piring kotor tidak kunjung habis.
Dia duduk di kursi pantry sambil menikmati nasi goreng dan bakwan jagung yang ia buat tadi.
Dia makan sendiri tanpa mengajakku.
Egoisss.
Dan akhirnya piringnya habis juga.
Thank God.
Aku menghadapkan tubuhku padanya.
"Duduklah. Makan ini." Ucapnya tanpa melihatku dan menyodorkan sepiring nasi goreng dan bakwan jagung.
Aku duduk di sampingnya masih dengan wajah kesalku.
Tapi saat melihat nasi goreng yang terlihat sangat menggoda ini rasa kesalku hilang begitu saja.
Langsung saja aku melahapnya.
Ini benar-benar enak sekali. Aku belum pernah memakan nasi goreng seenak ini.
Astaga. Dia benar-benar pintar memasak.
Saat aku masih setia menikmati nasi goreng ini. Axel membuka suara.
"Selesaikan makanmu dalam waktu lima menit. Sepuluh menit lagi kita berangkat ke kampus. Jika lewat, aku akan meninggalkanmu." Ucap Axel datar dan pergi meninggalkanku di meja pantry.
Dengan posisi sendok yang berada di mulutku, aku hanya menatap pergerakannya. Aku rasa wajahku sudah seperti orang bodoh saat ini.
Tadi apa yang dia katakan?
Ke kampus?
Lima menit?
Sepuluh menit?
Astaga, aku belum mandi.
_
Author p.o.v
Dengan wajah yang di tekuk Flo memandang ke luar jendela kaca mobil.
Kelihatannya dia masih kesal pada Axel.
Bagaimana tidak.
Flo tidak sempat menyelesaikan sarapannya, dan dia masih kelaparan saat ini.
Tadi Flo hanya mandi dalam waktu dua menit. Biasanya dia akan mandi selama satu jam.
Sesekali Axel melirik Flo sekilas.
"Dia kenapa?" Tanyanya dalam hati saat melihat wajah Flo yang tidak bersahabat.
"Ahh laper banget!" Gumam Flo dalam hati.
Tidak ada yang membuka suara sampai mereka tiba di parkiran kampus.
Yap, hari ini mereka sudah masuk kuliah lagi.
Flo keluar begitu saja dari dalam mobil tanpa menunggu atau pamit pada Axel. Axel yang melihat itu hanya melongo tak percaya.
Flo berjalan dengan cepat menuju kantin.
Tiba di kantin, suara seseorang memanggil namanya.
"Flo.." Panggil Nela dari pojok kantin. Ia melambaikan tangannya pada Flo.
Flo mencari asal suara itu. Ia tersenyum saat melihat Nela, Dave, Alex dan Albert yang tersenyum ke arahnya.
Saat Flo ingin menghampiri mereka, Axel datang dan menerobos Flo, ia menyenggol lengan Flo.
Flo semakin kesal melihat tingkah Axel padanya. Belum rasa kesalnya yang tadi hilang, sudah di buat kesal lagi.
__ADS_1
"Ihh rese!!" Gumam Flo dengan menghentak-hentakkan kakinya pada lantai. Axel tidak peduli, ia terus berlalu menghampiri teman-temannya.
"Hei bro apa kabar?" Tanya Alex ketika Axel sudah tiba di meja tempat mereka duduk. Sembari ber-tos Axel tersenyum dan menjawab ucapan Alex.
"Baik." Jawabnya dan beralih ada Albert.
"Makin glowing aja lu semenjak menikah." Goda Albert dengan senyum yang menjijikkan menurut Axel. Axel menatapnya tajam dan menyambut tangannya.
"Jelaslah, kan sudah ada yang merhatiin dia terus." ujar Dave dengan tawa kecilnya. Mereka semua tertawa kecuali Axel. Dia mendengus kesal.
Tawa mereka terhenti ketika Flo tiba di tempat mereka duduk.
"Hai Flo..gua kangen." ujar Nela yang langsung berdiri dan memeluk Flo.
"Aku juga kangen kalian semua. Kenapa gak kasih kabar sih?" tanya Flo yang sudah melepas pelukannya.
"Kita gak mau ganggu pengantin baru. Iya kan Ne?" tanya Dave pada Nela. Yang di tanya hanya menganggukkan kepala dan tertawa kecil.
"Apaan sih.!" ucap Flo dengan pipi yang sudah memerah menahan malu.
"Ya ampun Flo. Kalau gua tahu dari awal lu cantik kaya gini mungkin gua udah rebut lu dari Axel." canda Albert dengan posisi duduk di hadapan Alex,tangannya menopang kedua dagunya dan pandangannya mengarah pada Flo yang masih berdiri.
"Sebelum lu ngerebut Flo. Tante Ambar udah ngarungin lu lebih dulu!" ujar Alex tepat di wajah Albert.
"Awas ada yang cemburu!" ujar Dave yang kemudian melirik Axel yang terlihat biasa saja.
"Kalian berisik ah!" ucap Flo. Kelihatannya dia masih kesal dengan sikap Axel padanya.
Axel hanya diam saja tidak menggubris ucapan-ucapan sahabat-sahabatnya. Dia terus asyik berkutat dengan handphonenya.
Bertepatan ketika Flo ingin duduk,kAxel menjawab sebuah panggilan.
"Halo, iya sayang nanti aku jemput ya." mendengar ucapan Axel,semua sahabat-sahabatnya menatap Axel dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.
Mereka bingung. Siapa yang Axel panggil dengan sebutan sayang. Sementara Flo ada di sana bersama dengan mereka.
"Siapa?" tanya Alex dengan raut wajah yang benar-benar tidak suka. Axel yang sudah memutuskan sambungan teleponnya hanya menatap Alex dan yang lainnya dengan biasa saja.
"Nadya." jawabnya singkat.
Semua terkejut. Kecuali Flo yang sudah mengetahuinya.
Bagaimana mungkin Nadya kembali setelah sekian lama dia menghilang meninggalkan Axel begitu saja. Itu yang mereka pikirkan.
"Dan lu manggil dia sayang?" tanya Albert dengan wajah yang tidak percaya.
"Salah?" tanya Axel dengan mengangkat kedua alisnya. "Dia pacar gua. Wajar kalau gua manggil dia dengan sebutan itu." ucapnya dengan santai tanpa memperdulikan Flo yang sudah murung.
Nela dan Dave menatap Axel dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Lu udah gila ya bro. Lu udah punya istri dan lu... Pacaran sama Nadya?" tanya Albert yang menatap lekat Axel.
"Terserah gua." jawab Axel. Kini keras kepalanya sudah di tunjukkan lagi.
Mereka semua menggelengkan kepala dan kemudian menatap Flo dengan tatapan tidak tega. Flo merasakan tatapan mereka lalu dia berdiri dri duduknya.
"Sorry, aku duluan." pamit Flo pada mereka semua. Kini rasa laparnya sudah hilang berganti dengan rasa sesak di dadanya. Flo pergi tanpa mempedulikan Nela yang memanggilnya.
"Lu benar-benar ga punya perasaan ya!" ucap Nela tajam pada Axel dan menunjuk wajah Axel dengan penuh amarah. Lalu Nela pergi menyusul Flo.
"Gua kecewa sama lu bro." ucap Dave dengan santai namun wajahnya benar-benar kecewa. Dave kembali menyusul Flo dan Nela. Dan tinggallah mereka bertiga.
Axel benar-benar tidak mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu padanya. Suara Alex menariknya dari alam kebingungannya.
"Kapan Nadya kembali?" tanya Alex dengan datar.
"Di hari pernikahan gua." jawab Axel tak kalah datar.
Alex dan Albert benar-benar terkejut. Pasalnya mereka tidak tahu kalau Nadya sudah kembali.
"Lu udah nikah tapi malah menjalin hubungan dengan Nadya?" tanya Albert.
"Iya. Apa salahnya?" tanya Axel balik. Dia ini pura-pura bodoh atau bagaimana? Jelas itu salah.
Alex tertawa sinis dan Albert menggelengkan kepalanya.
"Jelas lu salah! Lu gak ngehargain Flora? Dia istri lu man.!" ucap Alex yang sudah terlihat semakin kesal.
"Flo udah tahu. Bahkan gua udah ngenalin Nadya sama dia." kata Axel dengan santai.
"Astaga Tuhan!" ucap Alex yang menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak percaya dengan perbuatan sahabatnya ini.
"Lu salah! Bener-bener udah sarap lu seriusan!" ujar Albert dengan kesal.
"Kalian kenapa sih!?" kini Axel sudah terlihat kesal karna kedua sahabatnya menyalahkan dirinya. "emang salah, gua menjalin hubungan dengan orang yang gua cinta?" tanyanya pada kedua sahabatnya itu.
"Jelas lu salah! Lu udah nikah!" ujar Alex dengan tajam. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Axel yang seperti ini. Sama saja dia tidak menghargai perasaan seorang wanita bukan?
"Gua tahu. Tapi gua nikah sama Flo itu karna terpaksa!" ucap Axel dengan kesal.
"Kita tahu itu. Tapi ga seharusnya lu buat kaya gini. Setidaknya lu ngehargain dia sebagai seorang istri lu." tukas Albert. Saat seperti ini Albert terlihat seperti orang bijak kan? Benar yang di katakan Alex,kalau Albert bisa membaca sikon.
"Dan paling ga lu harus tahu perasaannya tante Ambar kalau dia tahu lu buat menantu kesayangannya seperti ini." ucap Alex yang menatap Axel dengan datar.
Mendengar itu Axel terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika sudah menyangkut Ambar dia akan diam seribu kata. Dia tidak akan bisa mengatakan apapun lagi.
______
Nela p.o.v
"Flo udah dong. Jangan nangis terus." aku mengusap lengan Flo. Kini dia ada dalam pelukanku.
Saat ini kami berada di dalam mobil Dave.
Flo sudah menceritakan semua yang terjadi. Dari Axel yang mengenalkan Nadya padanya,dan Axel yang selalu membawa Nadya ke apartemen mereka.
Sungguh. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Axel bisa berbuat seperti itu. Yang aku tahu Axel igu sangat menghargai wanita. Tapi kenapa sekarang dia bersikap seperti ini pada Flo yang sudah menjadi istrinya. Dia benar-benar berubah.
Aku terus menenangkan Flo yang masih menangis. Dave menatap kami dari kursi kemudi dengan tatapan sedih,kecewa atau marah mungkin.
Sebenarnya aku juga ingin menangis. Tapi tidak mungkin. Itu akan membuat Flo semakin menangis nantinya.
"Flo udah jangan nangis lagi." ucapku dengan suara yang bergetar untuk yang kesekian kalinya.
"Flo udah please. Gua bisa ikutan nangis nanti." ucapku. Kini mataku sudah berkaca-kaca.
"Aku hiks sa..kitt..Ne..hiks.." Flo meremas bajunya sendiri. Dan akhirnya air mataku benar-benar jatuh sekarang. Aku tidak tega melihat sahabatku seperti ini. Ku peluk Flo dengan erat untuk meluapkan rasa sakitnya. Mungkin hanya ini yang bisa ku berikan.
Ku lirik Dave yang sudah terlihat gusar. Aku tahu dia paling tidak bisa melihat perempuan menangis.
"Flo kalau lu masih nangis gua akan hajar Axel sekarang juga!" ucap Dave dengan tajam. Kini wajahnya benar-benar memerah menahan emosi.
"Dave lu apa-apaan sih!'' ucapku dengan kesal. Ucapannya itu bukannya menenangkan Flo malah membuat Flo semakin sedih.
"Flo gua gak bercanda!" ucap Dave lagi. Kini dia sudah membuka pintu mobil bersiap untuk keluar.
Aku mengenal Dave sudah lama. Dia tidak akan bermain-main dengan ancamannya.
Gerakan Dave terhenti ketika Flo mengeluarkan suaranya.
"Kalau kamu berani. Aku yang a..kan menghajarmu du..luan." ucap Flo. Kini dia sudah berhenti menangis.
Syukurlah.
Dave menutup pintu mobil kembali.
"Ga apa-apa kalau lu mau mukulin gua. Yang penting kekesalan gua udah terlampiaskan." ucap Dave yang menoleh dari kursi kemudi ke belakang.
"Coba saja kalau berani." balas Flo dengan tajam. Sekarang dia sudah mengurai pelukan kami. Dave terkikik. Dan Flo sudah kembali seperti semula.
Hening.
Sesaat suasana menjadi hening. Hingga Dave membuka suara.
"Tante Ambar udah tahu tentang ini?" tanya Dave. Flo hanya menggeleng lemah.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku gak mau mamah sedih karna sikap Axel. Biar aku pendam sendiri aja." jawabnya dengan lesu. Aku mengusap lengannya.
Aku salut pada Flo. Dia benar-benar dewasa. Dia tidak mau melibatkan orangtua mereka pada masalah pernikahannya.
"Jangan pernah lu pendam sendiri Flo. Ada kita sahabat lu. Lu bisa berbagi apapun ke kita. Gua sama Dave akan bantu lu semampu kita." ucapku pada Flo,aku melirik Dave dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Makasih. Kalian emang sahabat sejati aku." balasnya dengan senyum tipis.
"Jangan sedih-sedih lagi ya." ucapku dengan senyum tulus. Flo menganggukkan kepalanya.
"Leher kamu ga patah tuh noleh kebelakang mulu?" tanya Flo pada Dave. Kami tertawa bersama. Sekarang Flora sudah kembali seperti semula lagi.
Aku bangga padanya. Dia sangat tegar. Walaupun Axel tidak pernah menghargainya bahkan tidak menganggapnya tapi Flo tetap kuat.
Aku harap kelak Axel bisa menyadari betapa beruntungnya dia memiliki Flora.
__
Aku menyantap habis buah kiwi yang ada di hadapanku. Sekarang aku berada di apartemen. Tadi aku meminta Dave untuk mengantarku pulang saja. Karna tidak mungkin aku masuk kelas dengan mata sembab. Orang-orang akan menertawakanku nanti.
Aku pulang tanpa pamit pada Axel.
Untuk apa?
Toh dia tidak akan peduli.
Ting..tong..ting..tong
Suara bel mengganggu suasana hatiku.
"Siapa sih yang datang?" gerutuku. Tidak mungkin Axel bukan? Dia akan membuka pintu sendiri karna dia tahu sandinya.
Dengan rasa malas aku berjalan menuju pintu.
Aku membuka pintu.
Dan terlihatlah wajah Kevin yang sedang nyengir kuda.
Aku mendengus.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Bisa aku masuk?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dulu.
"Masuklah." ajakku padanya.
Kevin duduk di sofa. Mungkin dia sudah terbiasa dengan apartemen ini.
"Mau minum apa?" tanyaku padanya.
"Tidak perlu. Aku hanya sebentar saja." katanya. Aku menganggukkan kepalaku dan kemudian aku duduk di sebelahnya.
"Mmm Flo.. Aku kesini karna ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." ucapnya dengan senyum manisnya itu. Aku hanya mengangguk dan terus mengunyah kiwi kesukaanku.
"Kamu mau tidak kerja di kantorku?" aktivitasku terhenti mendengar pertanyaannya.
Kerja?
Aku tidak salah dengarkan?
Aku memandang Kevin.
"Dari pada kamu kesepian seperti ini kalau tidak ada jadwal ke kampus. Tapi kalau kamu tidak mau aku tidak memaksa." ucapnya lagi.
Aku berfikir sejenak.
Benar juga sih yang di katakannya.
Tapi aku belum meminta persetujuan Axel.
Ehh, apa pedulinya dia?
Dia tidak akan peduli aku berbuat apa saja kan?
Mmm mungkin aku akan menerima tawarannya. Hitung-hitung membuat kesibukan agar tidak tersakiti terus. 😄
__ADS_1
Kevin menatapku yang ingin memberi keputusan. Dari wajahnya aku tahu dia benar-benar berharap.
"Mmm baiklah. Aku terima tawaranmu." ucapku akhirnya. Dan kalian tahu Kevin benar-benar bahagia.
"Ahh syukurlah Flo. Aku senang sekali." katanya dengan membentangkan kedua tangannya ingin memelukku.
"Mau ngapain?" Aku menatapnya tajam sambil mengayun-ayunkan garpu di hadapannya. Garpu yang aku gunakan untuk makan buah.
Dia tertawa cengengesan. Sepertinya dia lupa kalau aku sudah bersuami.
"Hehehe sorry, lupa." katanya. Tuh kan. Benar yang ku katakan.
"Ya sudah aku pamit. Besok aku jemput kamu." sambung Kevin. Sekarang dia sudah berdiri.
Aku menganggukkan kepalaku dan menghantarkannya ke pintu keluar.
Bertepatan ketika aku membuka pintu dan Kevin keluar. Axel keluar dari lift.
Seperti biasa tatapannya datar.
Kevin menyapa Axel yang kini sudah ada di hadapannya.
"Hai brother. Terimakasih karna pulang lama. Jadi aku bisa berduan dengan istrimu." kata Kevin pada Axel. Kevin ini bagaimana. Percuma saja dia berkata seperti itu. Axel tidak akan peduli sama sekali.
"Aku pergi Flo." pamit Kevin padaku sebelum dia memasuki lift.
"Hati-hati." pesanku padanya.
Lift tertutup bersamaan dengan aku yang menutup pinti. Axel sudah masuk duluan.
Dia duduk di sofa dan memperhatikan pergerakanku. Merasa di perhatikan aku menatapnya.
"Ada apa?" tanyaku padanya. Dia tersenyum merendahkan.
Dia kenapa?
"Jadi ini tujuan kamu pulang duluan. Bolos dari kampus hanya untuk bertemu dia?"
Tunggu.
Maksudnya apa?
Aku tidak mengerti.
Aku bolos karna mataku sembab.
"Maksud kamu?" tanyaku dengan nada rendah.
"Ga usah pura-pura ga tahu. Aku tahu semuanya." ucapan Axel membuatku semakin bingung.
Tahu semuanya?
Apa sih, aku tidak mengerti.
"Kamu kenapa sih? Baru pulang kok marah-marah?" tanyaku padanya. Aku bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah begini.
Sejenak ku lihat Axel menarik nafas. Wajahnya memerah. Rahangnya mengetat.
"Kamu bisa ga sih menghargai aku sebagai suamimu!? Kamu bawa laki-laki ke apartemen ini tanpa sepengetahuanku. Dan kalian hanya berdua saja. HARGAI AKU SEBAGAI SUAMIMU!" Dia membentakku?
Seolah jantungku berhenti berdetak sekarang mendengar ucapannya.
Hargai?
Suami?
Rasanya aku ingin tumbang saat ini juga.
Aku menatapnya dengan tatapan nanar.
"Menghargai?" tanyaku dengan rasa tidak percaya.
"Apa selama ini kau sudah menghargaiku sebagai istrimu?" pertanyaanku membuat tubuhnya menegang.
"Kevin itu sudah aku anggap seperti Zack. Karna dia selalu menolongku. Apa aku salah membawa sahabatku kesini?"
"Lalu bagaimana dengan kamu yang membawa dan memperkenalkan kekasihmu pada istrimu ini?" tunjukku pada diriku sendiri tepat di dadaku.
"Apa itu namanya menghargai?" kini aku tidak bisa membaca raut wajah Axel. Tapi aku lebih tidak bisa mengetahui bentuk hatiku saat ini.
"Jangankan menghargai. Bahkan kau tidak Menganggapku ada." aku tertawa sinis. Tepatnya menertawakan diriku.
Setelah mengucapkan itu. Aku pergi meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya.
-
Dan disinilah aku. Di rooftop apartemen. Melampiaskan segala kekesalanku. Segala kesedihanku. Aku ingin angin tahu betapa hancurnya hatiku.
Aku berdiri menatap bangunan-bangunan yang terlihat kecil di hadapanku. Ku pejamkan mataku.
Terngiang di telingaku percakapan tiga anak kecil.
"Alin jangan sedih lagi ya. Ada El disini. El tidak akan membialkan siapapun jahat pada Alin."
"Makacih El."
Terdengar begitu jelas di telingaku. Aku teringat akan janjinya itu.
"Hai Alin. Cini duduk belcamaku saja. Jangan mau dengan Cel. Dia itu jahil."
"Ihh Alsya jangan ganggu dong. Aku dan Alin sedang pacalan. Pelgi sana. Ganggu saja."
"Ehh aku tidak mau. Aku juga mau belcama Alin. Memang Alin mau jadi pacal kamu?"
"Tentu mau. Ia kan Alin."
"Bleee Alin ga mau tuh. Dia tidak menjawabnya."
Gadis kecil itu terlihat bingung. Aku tersenyum mengingat hal itu.
"Ga. Alin halus jadi pacal aku. Nanti kalau sudah becal aku mau sepelti Mamah dan Papah. Selalu belcama-cama dengan Alin celamanya."
"Kalau Alin cama olang lain bagaimana?"
"Pokonya aku ga mau tau. Alin halus jadi pacal aku."
Cuup
"Tuh kan. Aku sudah cium pipi Alin. Jadi Alin sudah jadi pacalku."
"Mamah Cel cium Alin!!"
"Ihh Alsya jangan kasih tau Mamah dong."
Aku tersenyum mengingat kejadian itu.
Apa dia masih mengingat itu?
Aku rasa tidak.
"Flora sayang?"
Suara itu?
"Flora?"
Apa suara itu nyata?
Perlahan aku membuka mataku.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat Dihadapanku.
"Pa..piii" ucapku terbata-bata. Air mataku jatuh begitu saja.
"Kenapa menangis sayang?"
"Papiiii.."
"Jangan sedih sayang. Kamu putri kesayangan Papi. Floranya Papi itu gadis yang kuat."
"Papii.." hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku benar-benar tidak percaya sekarang.
"Bertahanlah sayang. Kebahagiaanmu akan datang."
Perlahan bayangan itu menjauh. Bergerak mundur kebelakang.
"Papi jangan pergi. Jangan tinggalin Flo lagi." tangisku pecah melihat bayangan papi menjauh.
"Papi Flo ikut!!!!" aku berteriak berharap Papi kembali membawaku. Tanganku terjulur menggapainya namun dia semakin jauh meninggalkanku.
Dia tersenyum meninggalkanku. Sama seperti dia pergi saat itu.
"PAPIIIII!!!" Aku melangkahkan kakiku ke depan.
Note: flo berada di pinggir rooftop. Selangkah saja dia maju dia akan terjun ke bawah.
Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Aku hanya ingin memeluk papi. itu saja.
Ketika aku ingin menggapai tangan papi, sebuah suara memanggilku dari belakang.
"FLORA!!!!"
Dia menarikku hingga aku tidak bisa melihat papi lagi.
Kini aku berada dalam pelukan orang itu, aku meronta melepaskn diri, dan terus menyebut PAPI dengan histeris. Tapi semakin aku meronta pelukannya semakin erat.
"Lepasin aku mau sama Papi. Lepasinn!!" terus aku meronta berharap orang ini melepaskanku dan aku bisa ikut dengan Papi.
"Flo kamu ngapain! Kamu mau mati!" bentak orang itu padaku. Aku tidak dapat melihat wajahnya karna wajahku terbenam di dadanya.
"Aku mau sama Papi.." ucapku lirih dengan deraian air mata.
"Ssttt, ga ada siapa-siapa disini." ucapannya terdengar bergetar.
Aku diam mendengar ucapannya yang begitu lembut.
Nyaman. Itu yang aku rasakan dalam pelukannya.
Aku merasakan suara detak jantung yang berpacu dengan cepat tepat di telingaku.
Pelukannya sangat erat.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Terakhir aku mendengar suara lirih.
"Maaf.."
"Maafkan aku"
Siapa dia?
Hanya itu yang aku dengar.
Setelah itu aku merasa terbang.
Gelap
Sunyi
Sepi
Dingin
Itu yang aku rasakan.
••••••
Tbc
__ADS_1
Thank hou for reading