Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 17


__ADS_3

Brakkk


Flo membanting tasnya di atas meja,wajahnya sangat merah, tangannya mengepal. Melihat itu Dave dan Nela yang duduk di sebelahnya terkejut dan bingung melihat sikap Flo.


"Flo kenapa?" tanya Nela,karna tidak biasanya Flo bersikap seperti ini.


"Ada masalah?" tanya Dave, yang entah sejah kapan dia sudah ada dihadapan Flo.


Melihat itu Flo mendesah,dan kemudian tersenyum pada Dave dan Nela.


"Gak apa-apa kok." jawab Flo.


"Gak apa-apa gimana? Ga biasanya lu kaya gini?" kembali Nela bertanya,dan kemudian tangannya terulur mengusap pundak Flo." cerita sama kita." sambung Nela.


"Dan....kenapa jidat lu memar gini?" Dave menunjuk kening Flo yang memar.


"Ohh, ini. Tadi ga sengaja gua nabrak pilar, trus jatuh." Flo meraba keningnya yang memar, kemudian meringis.


"Hhmm, makanya kalau jalan itu jangan menghayal Flo." ucap Dave.


"Iya pak boss." ucap Flo, dan kemudian tersenyum.


"Kantin yuk, laper nih." seru Nela,seraya mengusap perutnya.


"Perasaan tiap hari lu minta kekantin mulu dah Ne, ga biasanya." ucap Dave dengan wajah datarnya. Yang benar saja,sebelum Flo datang dan menjadi mahasiswa di universitas ini, Nela jarang sekali menginjakkan kakinya di kantin. Tapi entah kenapa sekarang setiap pagi dia selalu saja  ke kantin.


"Gua laper Dave, gak sarapan dari rumah." jawab Nela dengan santai.


"Yang bener? Lu lapar atau karna ingin   melihat seseorang?" goda Flo, dan itu berhasil membuat pipi Nela merona. Mendengar itu, wajah Dave yang tadi datar berubah menjadi sedikit berbinar.


"Maksud lu Flo?" tanya Dave penasaran.


"Tanya Nela aja langsung Dave." jawab Flo dengan santai.


Kemudian Dave melirik Nela dengan tatapan yang penuh dengan rasa curiga, seolah berkata " maksudnya Flo apa?". Seakan mengerti arti tatapan Dave, Nela menjadi gelisah.


"Apa sih Dave, ga ada apa apa ahh. Lu lagi Flo, buat orang penasaran aja." raut wajah Nela menjadi kesal.


"Jujur aja Ne.." ucap Flo dengan senyum misteriusnya.


"Cerita Ne.." ucap Dave lagi.


Mendengar itu Nela merasa jengah, dia sangat kesal di desak seperti itu.


"Lu berdua apa apaan sih! Tau akhh!." kesal Nela yang kemudian beranjak dari kursinya." gua mau ke toilet!" Nela berjalan dengan cepat,dan itu membuat dia tidak memperhatikan jalannya.


Bugghhhhhh


Dia menabrak tubuh seseorang.


"Sorry, sorry. Lu ga papa kan?" tanya Albert yang menahan kedua lengan Nela. Hal itu sudah membuat Albert sport jantung,sekaligus merasa senang karna bisa sedekat ini dengan gadis yang ia cintai.


Mata Nela dan Albert saling bertemu,seakan akan dengan posisi mereka yang terlihat seperti adegan di ftv-ftv dengan alunan musik romantis tiba tiba terhenti dan berganti dengan suara tawa seseorang.


"Hahahaha" suara tawa Flo memecah keheningan kelas.


Mendengar suara tawa itu,Nela tersadar dan segera mendorong tubuh Albert. Dia malah marah marah pada Albert.


"Ehh, ulat bulu ga usah sentuh sentuh gua ya,ntar gua ketularan gatel lagi kaya lu!." ketus Nela pada Albert. Mendengar itu Albert menggerutu dalam hatinya" ya elah Flo, tawa lu ganggu suasana aja."


Melihat Albert yang hanya diam saja malah membuat Nela semakin kesal dan kemudian menginjak kaki Albert.


"Aduh aduh...lu apa apaan sih Ne,gila lu ya!" ketus Albert yang kemudian melompat lompat dengan sebelah kakinya.


"Nyebelinnnn!" Nela setengah berteriak di depan wajah Albert. Dia terlihat kesal, dan kemudian dia pergi keluar kelas.


"Dia kenapa?" tanya Alex yang baru saja datang bersama Axel.


"Tau tuh! Udah gua tolongin malah nginjak kaki gua. Dasar Nelampir!" ketus Albert yang kemudian berjalan ke arah kursi tempat Flo dan Dave duduk.


Flo yang sedari tadi tertawa tiba tiba berhenti karna melihat Axel Cs yang datang ke arah mereka. Wajah Flo menjadi datar.


"Ehh, tumben lu pada ke sini. Ada apa?" tanya Dave yang menyadari kehadiran Axel, Alex dan Albert. Tidak biasanya mereka bertiga datang ke kelasnya.


"Tuh si Axel mau ketemu bebebnya." jawab Albert asal. Mendengar ucapan Albert Flo dan Axel menatapnya tajam. Yang di tatap hanya menunjukkan cengiran kudanya.


"Maksudnya?" tanya Dave yang tidak mengerti.

__ADS_1


"Jangan dengarin manusia yang satu ini, Dia rada gila." seru Alex yang menunjuk Albert. Dan itu berhasil membuat Albert mendengus.


"Gini Dave, Reno udah balik. Dan dia minta kita buat ngumpul ntar sore di cafe biasa." lanjut Alex.


"Reno? Kapan dia balik? Kok ga bilang bilang gua sih? Trus dia mana?" tanya Dave dengan tergesa gesa. Jelas saja,Reno itu salah satu teman dekat mereka, yang kebetulan sepupu Alex.


"Tanya satu satu kali tong! Kayanya kangen banget lu sama tu orang. Gua sepupu lu aja ga pernah lu kangenin." ucap Albert dengan wajah yang sedikit kasihan.


"Ck, jijik gua ngangenin lu." ucap Dave yang kemudian bergidik ngeri mendengar ucapan Albert.


"Sepupu durhaka lu!" ketus Albert.


Melihat itu Alex dan Axel hanya menggelengkan kepala. Mereka sudah betul betul paham dengan sahabat mereka yang satu itu.


"Reno di ruangan dekan. Gimana lu bisa? Sekalian ajak Nela udah lama juga kita ga ngumpul barengkan? " tanya Alex.


"Gua sih oke oke aja. Ga tau yang lain." jawab Dave yang kemudian melirik Axel dan Albert.


"Gua sih slalu oke man." seru Albert.


Sekarang mereka bertiga melirik Axel. Merasa dirinya diperhatikan seolah bertanya " lu,gimana?" Axel angkat bicara.


"Mmm, sorry kayanya gua ga bisa. Gua ada janji sama nyokap. Kalian aja deh yang ngumpul dulu." ucap Axel. Karna hari ini mamahnya meminta dia dan Flo datang bersama kerumah,ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan dengan mereka.


"Yah,ga asik dong. Maunya sih kita semua ngumpul." ucap Dave. Sudah lama juga mereka tidak nongkrong bersama,karna sebulan penuh Reno pergi ke luar kota.


"Ya udah. Kayanya harus di tunda dulu. Tunggu semuanya bisa ngumpul bareng.'' usul Alex yang kemudian diangguki oleh mereka bertiga.


_______


Tak terasa jam kuliah sudah usai, Flo berjalan menuju toilet wanita. Setelah beberapa menit ia keluar dari dalam toilet. Tiba tiba ada yang menarik tangannya secara paksa. Flo terkejut setelah melihat siapa yang menarik tangannya secara paksa.


"Lu apa apaan sih! Lepas!" Flo menghentakkan tangannya dari cekalan Axel." sakit tau!" ketus Flo dengan wajah kesalnya.


"Ck, ayo ikut gua." ucap Axel dengan suara yang sangat datar.dan kembali menarik tangan Flo membawanya ke arah parkiran. Suasana kampus sudah sepi, sehingga tidak ada orang yang akan melihat Flo dan Axel saat ini. jika ada yang melihat pasti besok mereka akan menjadi bahan gosip panas di kampus.


Sampai di parkiran, Flo kembali bingung.


"Ngapain lu bawa gua kesini!" suara Flo sedikit meninggi.


Dengan ogah ogahan Axel akhirnya menjawab." mamah minta lu ke rumah. Gua ga bakalan sudi bareng lu kalau bukan mamah yang makasa. Cepat masuk." dengan suara dingin dan wajah datarnya Axel mendorong Flo masuk ke dalam mobil. Lalu segera menutup pintu mobil.


Selama di perjalanan tidak ada dari mereka yang membuka suara. Flo yang sibuk dengan handphonenya dan senyum senyum tak jelas sedangkan Axel yang fokus dengan jalanan di hadapannya.


Terlihat Flo sedang membalas chat dari seseorang.


Kevin


Haii...👋👋


Flo


Hmmm 😒


Kevin


Kenapa honey? 😁


Flo


Apa?😠


Kevin


Ohh,ga. Lagi dimana?


Flo


Lagi di jalan


Kevin


Oh, berarti udah keluar kelas dong. Mau aku jemput? 😉


Flo


Mmm, ga usah aku bareng temen kok

__ADS_1


Kevin


Ohh gitu. Btw besok ada waktu ga?


Flo


Mm blom tau sih. Ada apa?


Kevin


Kalau ga sibuk aku mau ngajak kamu lunch atau dinner gitu. 😉😉


Flo


Uwahh,, makan gratis dong.


Ok, besok aku tunggu di kampus jam lima.😉


Kevin


Jadi kamu mau?


Ok, pasti. jam empat aku udah di kampus kamu.😚


Flo


Ok.👌👌


Flo mengakhiri chatnya dengan Kevin.Dia tersenyum, "jarang jarang ada yang ngajak makan berdua." bisiknya dalam hati.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Axel. Dengan segera Flo keluar dari dalam mobil tanpa menghiraukan Axel yang masih di dalam. Axel pun sama tidak begitu peduli.


Sampai di depan pintu Ambar sudah menyambut mereka dengan senyum hangat.


"Hai Flo sayang..mamah kangen" sambut Ambar pada Flo dan segera memeluknya. Dan hanya di balas senyuman oleh Flo."masuk sayang." ucap Ambar lagi seraya menarik tangan Flo.


Mereka masuk ke dalam rumah dan disusul oleh Axel dari belakang. Mereka duduk di ruang tamu dengan Flo yang disebelah Ambar dan Axel di hadapan mereka.


"Sebenarnya ada hal penting yang ingin mamah bicarakan dengan kalian berdua." Ambar membuka suara, Flo dan Axel hanya menatap Ambar dan menunggu hal penting apa yang di katakan olehnya.


"Tak terasa sudah satu bulan berlalu. Dan pernikahan kalian tinggal dua bulan lagi." mendengar itu Flo dan Axel tidak kaget lagi, mereka sudah tau hal itu.


"Mamah sudah mengurus undangan kalian. Dan minggu depan kalian berdua fitting baju pengantin. Mamah tidak ingin mengganggu konsentrasi kalian karna kalian akan ujian kan? Jadi selain baju pengantin biar mamah yang urus." ucap Ambar panjang lebar. Flo dan Axel hanya mengangguk lemah. Mereka benar benar tidak menginginkan pernikahan ini.


"Dan Axel, setelah menikah nanti perusahaan akan mamah serahkan ke kamu sepenuhnya." Ambar menatap Axel yang dihadapannya.


"Dari awalkan Axel juga kan udah bilang sama mamah,biar Axel yang ngurus perusahaan. Mamah aja yang ga mau ." jawab Axel dengan raut wajah kesalnya. Karna sejak lulus SMA Axel selalu merengek meminta pada Ambar agar dia yang mengurus perusahaan peninggalan papahnya,tapi selalu di tolak oleh Ambar.


"Mamah hanya ingin kamu menikmati hari muda kamu sebelum berhadapan dengan masalah kantor yang akan menguras waktu bersantai kamu sayang." senyum Ambar pada Axel, memberi penjelasan pada putra kesayangannya itu.


"Iya tapikan Aku ngerasa seperti anak yang ga bisa di andalin mah. Mamah tiap hari ke kantor,sementara aku hanya bersantai santai di kampus dan di rumah. Axel hanya ingin membuat papah bahagia di surga karna Axel bisa menjadi anak yang di banggakan. " raut wajah Axel berubah menjadi sedih.


"Sudahlah sayang jangan di ungkit lagi ya. Mamah melakukan itu agar mamah tidak terlalu larut dalam kesedihan masa lalu nak. Kamu pasti paham kan?" Ambar tersenyum kecut mengingat masa lalu yang ia rasa sangat menyakitkan, raut wajahnya benar benar berubah menjadi sendu. Hal itu membuat Axel merasa bersalah, entah sejak kapan kini Axel sudah berada di hadapan Ambar dengan lututnya yang menopang tubuhnya.


"Maafin Axel mah, Axel ga bermaksud buat mamah sedih. Axel cuma ga mau mamah terlalu lelah nantinya. Maaf mah." Axel menggenggam erat kedua tangan mamahnya dan menumpukan dahinya diatas lutut Ambar. Dia benar benar merasa bersalah akan apa yang di ucapkannya tadi.


Seakan kembali ke masa lalu, Ambar tak menyadari air matanya sudah menetes. Melihat itu Flo benar benar tidak tega. Tangan Flo terulur memeluk Ambar dari samping dan mengusap lengannya, seolah memberi kekuatan dan harapan.


"Mah,jangan sedih lagi. Axel tadi pasti tidak bermaksud membawa mamah ke dalam ingatan masa lalu. Mamah ga perlu mengingat lagi akan hal hal yang udah terjadi,di balik ini semua pasti ada rencana Tuhan yang sangat indah untuk mamah dan Axel. Sekarang kita hanya bisa melanjutkan hidup dan selalu berharaplah pada Tuhan,berharap yang terbaik. Lihatlah Axel selalu ada disisi mamah. Dan Flo akan selalu ada untuk mamah apapun yang terjadi." perkataan Flo yang panjang lebar seakan memberi harapan dan semangat baru pada Ambar.


Mendengar ucapan Flo Axel mendongakkan kepalanya menatap Flo " gua ga nyangka lu sebijak ini." ucap Axel dalam hati. Sekarang dia merasa benar benar kuat hanya dengan mendengar ucapan Flo.


Ambar tersenyum pada Flo, dan tangannya terulur mengusap kepala Axel." kamu ga perlu minta maaf sayang,mamah yang terlalu terbawa suasana." ucap Ambar pada Axel.


"Makasih Flo sayang, sekarang mamah benar benar yakin kalau Papahnya Axel tidak salah pilih. Mamah harap kalian bisa saling menerima dan hidup bahagia itu sudah sangat cukup membahagiakan mamah." Ambar memeluk Flo, dan Axel masih setia menatap Flo yang bisa membuat mamahnya tersenyum bahagia.


"Sudah jangan sedih sedih lagi. Ayo makan. Kalian pasti lapar." ajak Ambar pada putra dan calon menantunya mereka berjalan menuju meja makan dan duduk dikursi.


"O iya, mamah lupa. Mungkin bulan  ini mamah akan sering ke luar kota. Jadi mamah minta selama mamah keluar kota Axel yang menangani perusahaan sementara." senyum mengembang di wajah Ambar melihat anggukan kepala Axel." dan mamah harap Flo bisa memperhatikan dan menjaga Axel selama mamah ga di sini. bisa kan sayang?" tanya Ambar pada Flo.


"Iya mah." jawab Flo singkat dan tersenyum tulus. Mendengar itu Axel tidak terima.


"Mah, aku bukan anak kecil lagi ya. Aku bisa jaga diri." ucap Axel dengan kesal.


"Iya mamah tau. Mamah cuma jaga jaga aja, kalau mamah ga adakan kamu itu liar." ucap Ambar dan kemudian tertawa bersama Flo. Dan itu berhasil membuat Axel mendengus kesal.


"Apapun aku lakukan untuk kebahagiaan mamah." ucap Axel dalam hati yang menatap Ambar dan Flo yang sedang tertawa bahagia karna berhasil membuatnya kesal.

__ADS_1


••••••••••••


 


__ADS_2