Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Pertemuan (II) dan Pertunangan


__ADS_3

Flora p.o.v


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Bola mataku memandang langit langit kamar.


Ingin kupejamkan lagi mataku.


Tapi tiba tiba aku tersentak dan duduk dikasur.


Aku menoleh jam yang ada diatas nakas.


"O my God jam tujuh!" pekikku.


Aku telat bangun,pasti aku akan diceramahi Mamah.


Kami dibiasakan bangun tidur pukul 5 pagi,kata Mamah"Anak gadis itu ga boleh malas,anak gadis itu harus bangun pagi."


Itu yang selalu dikatakan jika aku telat bangun.


Tanpa fikir panjang aku berlari ke kamar mandi,mencuci muka dan gosok gigi.


Aku menyeka wajahku dengan handuk putih yang tergulung rapi dirak sebelah wastafel.


Aku keluar kamar.


Wah,,benar benar nyaman tempat ini.


 


Aku berdiri mematung didepan pintu kamar,menikmati keindahan tempat ini.


"Kamu udah bangun?"


Aku tersentak,mataku melebar.


Itu suara mamah.


Mampus,aku akan diomeli selama 5 jam ke depan.


Aku menoleh perlahan ke sumber suara Mamah,


Aku tertawa cengengesan.


"Maaf Mah,abis kasurnya empuk banget,tidur Arin jadi nyenyak."


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Kupejamkan mataku secara paksa,bersiap mendengar semburan lahar panas.


Sudah beberapa detik aku memejamkan mata,tapi kok Mamah ga ngeluarin suara.


Aku membuka sebelah mataku,


Hah,apa aku sedang bermimpi?


Mamah tersenyum??


"Ya sudah. Lagian Mamah tau kok,kamu pasti kelelahan kan?"


Aku membuka kedua mataku,kupandangi wajah Mamah,apa ini benar benar Mamahku?


"Ck,sudah. Ayo sarapan. Ayah sudah menunggu kita."


Mamah menarik lenganku.


Berjalan menuju meja makan.


Disana Ayah sudah duduk manis,menunggu kami berdua.


Aku duduk dihadapan Ayah,dan Mamah disebelah Ayah.


"Tidur kamu pasti nyenyak ya?"


Pandanganku terarah pada Ayah,pria berkacamata ini tampan sekali.


Aku hanya tersenyum lebar.


Mamah mengolesi roti Ayah dengan selai kacang.


Dan Aku memakan roti tawar  tanpa selai.


Iya,aku tidak suka dengan selai rasa apapun.


"Tadi malam tante Ambar pulang jam berapa Mah?"


Aku menatap Mamah yang menyeruput teh miliknya.


"Sekitar jam 11 gitu."


"Wihh lama juga ya."


"Iyalah,asal kamu tau Rin,kalau mereka sudah ketemu,sehari itu berasa satu jam. Mereka selalu aja ngegosip. Taulah ibu ibu gimana."


"Hahaha."


Aku tertawa mendengar pernyataan Ayah,dengan ekspresinya yang sangat  lucu itu.


"Apaan sih Yah! Maklumlah udah bertahun tahun kita ga ketemu,pasti kangenkan."


Dengah raut wajah kesal,Mamah memukul kecil lengan Ayah.


"Kamu sih Rin,tidurnya cepat sekali. Tadi malam itu kita ngebahas tentang nak Axel. "


"Terusss????"


Hanya itu yang aku ucapkan setelah mendengar ucapan Mamah.


"Ya kamu ketinggalan berita lah."


Ayah menyipitkan matanya.


Aku hanya menghela nafas,aku tidak peduli dengan apa yang mereka bahas tadi malam.


"O iya,nanti malam jam 7 kita ke rumah Ambar. Acara tunangan kamu jam 8 sayang."


Aku menatap Mamah,dengan tangan yang hendak memasukkan roti kedalam mulutku.


Berarti akan ada pesta,pasti banyak orang dong.


Aku paling benci tempat ramai yang banyak orang.


"Bukan pesta loh ya,hanya ada kita berlima saja."


Ayah memang hebat dia bisa tau apa yang aku tidak suka.


Love you Ayah..


"Kamu sama Axel sama. Ga suka tempat ramai."


Keningku berkerut mendengar ucapan Mamah.


"Gaun dan sepatu ada dikamar kamu. Nanti kamu pakai itu ya."


"Iya Mah."


Hanya itu yang kuucapkan.


Ntahlah. Rasanya seperti ada gejolak dihatiku.


Akhh sudahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja.


Semoga Axel masih tetap seperti yang aku kenal dulu.


Selesai sarapan aku langsung kekamar.


Kulihat gaun berwarna hitam dengan sedikit warna biru dibagian bawahnya.


Gaun tanpa lengan,hanya ada satu tali dibagian pundak.


Setelah bangun tidur tadi aku tidak memperhatikannya.

__ADS_1


Ini benar benar indah sekali.


 


 


 


Mataku tidak berkedip melihat gaun itu.


Dan sepatu berwarna biru dongker,dengan hak yang tidak tinggi.


 


Syukurlah,bukan heels.


Bisa bisa nanti aku terjatuh jika memakai heels.


Ya,aku bukan gadis feminim yang selalu pakai heels.


Aku lebih suka memakai sepatu dan flat shoes kalau ada acara atau mau kegereja.


Tapi bukan berarti aku tomboy ya,aku bisa berdandan seperti gadis pada umumnya.


Hanya saja jarang.


Aku merebahkan tubuhku diatas kasur.


Semoga semuanya berjalan dengan baik Tuhan.


Aku menghela nafas.


Memejamkan mata.


Mempersiapkan hati,diri,tenaga dan pikiran untuk menghadapi apa yang akan terjadi nantinya.


Tuhan memberkati.


_____________


Axel p.o.v


Aku berjalan mondar mandir didepan kasurku.


Aku bingung.


Aku tidak percaya ini.


Apa ini keputusan  yang tepat?


Aku akan bertunangan.


Bahkan akan menikah.


Dan dengan gadis yang tidak aku kenal sama sekali.


Lalu bagaimana dengan gadis yang aku harapkan selama ini?


Aku masih menunggu dia.


Aku duduk diatas kasur.


Mengusap wajahku dengan kasar.


Kulirik jam tangan yang aku pakai,sudah jam 19.45


Terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Tok..tok..tok..


"Aden,Nyonya minta Aden turun kebawah sekarang."


Itu Bi Mar.


"Iya Bi,bentar lagi saya turun."


Aku berteriak dari dalam kamar.


Menatap wajahku dan pakaian yang kupakai.


Aku memakai  casual suit.


Tadinya aku tidak ingin memakai ini,tapi Mamah yang memaksaku.


Dia ngomel selama dua jam,karna aku ingin memakai kaos oblong dan celana belel.


Aneh. Iya aneh.


Aku benar benar tidak tertarik dengan pertunangan ini.


Tapi aku terpaksa. Demi Mamah.


Aku keluar dari kamar


Menuruni anak tangga dari lantai dua.


Sampai dilantai dasar,kulihat Mamah menatapku dengan tatapan yang sangat bahagia.


"Anak Mamah tampan sekali."


 


Mamah memelukku.


"Makasih sayang,sudah mau menerima pertunangan ini."


Aku hanya tersenyum membalas ucapan Mamah.


Acara pertunangan ini tertutup.


Aku yang memintanya.


Karna aku tidak suka dengan tempat yang ramai.


Tadinya Albert dan Alex ngotot ingin datang.


Tapi aku melarang mereka.


Kami berdebat cukup lama,tapi bukan Axel namanya jika kalah dengan mereka.


Terdengar suara bel berbunyi.


Ting...tong..ting..tong


"Sepertinya mereka sudah datang. Kamu harus senyum ya."


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Mamah.


Kami berjalan kearah pintu,


Aku penasaran,benar benar penasaran dengan gadis ini.


Jangan jangan dia...


Tidak tidak,


Aku menggelengkan kepalaku,membuang pikiran buruk tentang gadis yang akan menjadi tunanganku ini.


Mamah menarik daun pintu.


Dan terlihatlah wanita cantik seusia Mamah,dan pria memakai kacamata mungkin seumuran dengan Papah dulu.


Tapi rasanya wajahnya tidak asing bagiku. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?


Lamunanku buyar,mendengar ucapan mamah.


"Kalian sudah sampai." kata Mamah.


"Maaf,kami lama ya?"

__ADS_1


"Tidak,tidak." Jawab Mamah.


Dan dimana gadis yang akan ditunangkan denganku?


Dia tidak kelihatan.


Aku hanya melihat Mamah berpelukan   dengan tante itu.


"Apa ini Axel?"


Aku  menganggukkan kepalaku dan tersenyum,menjawab pertanyaan Om itu.


Dan menyalami tangan mereka.


"Wah,kamu sudah besar ya,tampan lagi."


Om Tian,itu yang Mamah bilang padaku.


"Makasih Om."


Aku tersenyum kikuk.


Tampan??


Ya,aku memang tampan.


Bukannya memuji diri,tapi orang orang yang mengatakan itu.


"Kamu mirip dengan Papah mu."


Aku tersenyum mendengar ucapan tante Retta.


Tiba tiba ada seorang gadis yang datang dengan tergesa gesa,dengan gaun yang sedikit disingkapkan keatas.


Mataku melotot sempurna.


"Kamu cantik sekali Flo."


Bukan aku yang mengatakan itu,tapi Mamah.


Cantik??


Tidak!!


Bahkan jauh dari kata cantik.


Gadis ini biasa saja.


Tidak ada yang istimewa darinya.


Pendek,rambut hitam pekat sebahu,dan memakai behel berwarna biru.


"Oh Tuhan,cantik apanya Mamah?"


Tentu saja pertanyaan itu hanya ada dalam hatiku saja.


Aku akan bertunangan dengan gadis seperti ini?


Hidupku benar benar akan hancur!


Bahkan banyak wanita wanita cantik yang aku tolak. Dan aku akan menjadi tunangan dia?


Apa kata orang orang nantinya?


Ingin rasanya aku menenggelamkan diriku dilaut.


____________


Saat ini mereka tengah berada diruang tamu.


Ambar yang duduk disebelah Margaretta.


Christian yang duduk disofa tunggal.


Axel dan Flora yang duduk bersebelahan dihadapan Christian dengan meja yang membatasi mereka.


"Yasudah,kita mulai saja acaranya."


Ambar membuka suara.


Ambar mengambil kotak berbentuk hati yang berbalut kain beludru berwarna merah,membukanya dan memberikan satu cincin pada Axel.


Tanpa aba aba dan suara,Axel menyematkan cincin itu dijari manis Flora.


Begitu pula dengan Flora,menyematkan cincin itu dijari manis Axel.


Mereka bertepuk tangan,kecuali Axel dan Flora.


Tidak ada ekspresi bahagia dari Axel.


Hanya senyum sinis dan itupun dipaksakan.


"Akhirnya kalian bertunangan juga."


Retta mengeluarkan suara.


"Selamat sayang."


Ucap Ambar pada Flora dan hanya dibalas senyuma olehnya.


"O iya,tiga bulan lagi kalian akan menikah,tepat saat kalian libur semester." Retta membuka suara


Mata Axel melebar,dia terkejut,ingin menolak tapi tidak mungkin.


Wajahnya memerah menahan amarah.


"Apa itu tidak terlalu cepat?" Tanya Flora.


"Tidak sayang,justru itu terlalu lama. Tapi karna Ayahmu bilang lebih baik saat libur semester,dan itu tidak akan mengganggu kuliah kalian."


Ambar mengusap lengan Flora.


"Dan besok lusa kamu akan kuliah bersama Axel," sambung Ambar


Mendengar itu,Axel mengepalkan tangannya.


Dia ingin angkat bicara dan menolak semuanya.


Tapi saat dia lihat raut bahagia dari wajah Ambar,dia tidak bisa berbuat apa apa.


Ditambah lagi dengan Christian dan Margaretta. Dia tidak ingin menghancurkan momen yang membuat mereka bahagia,tapi malah membuat dia menderita.


Axel menarik nafas perlahan,dia menenangkan dirinya sendiri.


"Demi Mamah," ucapnya dalam hati.


"Ya udah,kalau begitu kita makan malam."


Sambung Ambar,


"Iya,saya sudah lapar."


Ucapan Tian membuat mereka tertawa kecil.


Mereka bergegas kemeja makan.


Duduk dikursi,dan makan dalam hening.


Hanya dentingan sendok yang sesekali terdengar .


Wajah mereka bertiga begitu berbinar binar.


Bahagia.


Tapi tidak dengan dua orang yang menjadi tokoh utama dalam hal ini.


Hanya ekspresi datar dan kadang tersenyum tipis dan menjawab seadanya jika mereka ditanya.


•••••••••••••••

__ADS_1


 


 


__ADS_2