
"Oh my God..siapa sih yang nelpon pagi-pagi gini!" Gerutu Flo seraya meraba-raba handphonenya yang berada di atas nakas.
"Halo.." Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, tangannya mengucek-ngucek matanya.
"DASAR SEPUPU DURHAKA...." Teriakan dari seberang telfon membuat Flo menjauhkan handphone dari telinganya.
Flo melihat nama siapa yang tertera di layar handphonenya. Ia mendengus melihat gambar seorang pria tampan.
"Ga usah teriak-teriak telinga aku gak budek ya." Ucapnya datar masih dengan suara yang serak.
"Lu tu ya. Pasti baru bangunkan. Dasar Kebo betina." Orang yang di seberang terkekeh.
"Bodo. Ada apasih ganggu orang tidur aja tau gak." Flo menggaruk-garuk lehernya.
"Lu harus gua hukum karna lu udah bohong sama gua."
"Serah deh. Apaan?"
"Mmm ntar habis pulang kuliah gua jemput lu di kampus. No penolakan. Oke." Tegas orang yang di seberang.
"Iya iya. Ntar aku kabarin deh. Udah akh aku mau mandi. Bye." Flo memutuskan panggilan secara sepihak. Lalu dia bergegas ke kamar mandi.
Skip...
At campus
Di pojok kantin Axel dan kedua sahabatnya sedang duduk santai sambil merokok.
"Udah baikan lu?" Tanya Alex pada Axel yang duduk di hadapannya.
"Seperti yang lu lihat." Ujar Axel yang meniupkan asap rokok dari mulutnya.
"Jelas lah bro. Lu lupa siapa yang rawat dia. Calon istrinya." Seru Albert dengan menekankan dua kata terakhirnya.
Axel berdecak malas.
"Pagiii.." Sapa Nela pada mereka bertiga yang kini sudah berada di sebelah Axel bersama Dave.
"Pagi Ne.." Jawab Alex dan Axel hanya menganggukkan kepalanya.
"Pagi juga Nelampirr." Ucap Albert setengah meledek Nela.
"Gua gak nyapa lu. Jadi lu diam aja. Ulat bulu." Ketus Nela.
"Ck, lu sapa berarti harus gua jawab dong." Kata Albert yang selalu ingin membuat Nela kesal.
"Sapaan gua ga berlaku buat ulat bulu kaya lu." Tegas Nela.
"Ck, lu jangan gitu. Ntar jatuh cinta sama gua tau rasa." Ucap Albert, dan perkataannya itu membuat Nela terdiam.
"Lu berdua berantem mulu ya. Gua do'ain jodoh tau rasa!" Ucap Dave dengan kesal melihat Albert dan Nela yang selalu saja adu mulut setiap kali bertemu.
"Isssshh amit-amit jabang bayi." Kata Nela yang bergidik ngeri sembari mengusap perutnya.
"Aminnn ya Tuhan......" Teriak Albert dalam hati, mana mungkin dia menolak doa itu. Karena dia pun menginginkannya.
"Btw, selamat atas pertunangan lu bro." Dave mengulurkan tangannya pada Axel. Axel menyambut tangan Dave.
"Thanks." Ucap Axel dengan datar.
"Lu bener-bener keterlaluan ya. Tunangan tapi gak bilang-bilang sama kita." Kesal Nela pada Axel.
"Bukan gitu, gua nunggu waktu yang tepat." Ujar Axel.
"Iya, tapi sebagai tunangan lu, Flo pasti tersiksa di perlakuin kaya gitu." Mendengar ucapan Nela mata Axel melotot. Dari mana Nela tahu tunangannya Adalah Flo. Sementara yang tahu siapa tunangannya hanya Alex dan Albert.
Seakan mengerti reaksi Axel, Dave menjawabnya.
"Albert." Ujar Dave dengan dagu yang menunjuk Albert.
Axel menatap tajam temannya yang duduk di hadapannya. Dan itu membuat Albert tertawa cengengesan.
"Sorry bro. Gua terpaksa. Karnea gua di ancam sama ni bocah." Albert menunjuk Dave dengan raut wajah kesalnya.
"Lu ngancam dia apaan?" Tanya Alex pada Dave dengan tawa yang di tahan. Lucu sekali seorang Albert yang pecicilan bisa di ancam seperti itu.
"Dia mau ngaduin gua ma nyokap karna gua mabuk kemarin lusa." Yang menjawab pertanyaan Alex bukan Dave melainkan Albert dia terlalu sebal kepada sepupunya it.
"Siapa suruh lu mabuk dan muntah di kasur gua." Ucap Dave dengan kesal.
Mendengar itu Nela dan Alex bergidik jijik dan Albert tertawa cengengesan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat Alex mengantar Albert yang mabuk bersama Axel. Ia meminta mengantarnya ke rumah Dave. Dan itu membuat Dave merepet sepanjang malam karena Albert muntah diatas kasurnya.
Ketika mendengar kata muntah Axel menegang. Pikirannya teringat saat ia muntah di baju Flo. Dia mengingat wajah Flo yang sangat tulus merawatnya saat itu.
"Kenapa dia sebaik itu sementara gua gak pernah sedikitpun memperlakukan dia dengan baik." Batin Axel.
"Woiiiii.." Albert menepuk pundak Axel dan itu membuat dia terkejut.
"Bengong aja lu. Mau di sini apa mau masuk kelas?" Lanjut Albert.
Axel berdecak dan ia beranjak dari kursinya di susul Dave, Nela, Albert dan Alex.
Skip....
Kelas telah usai. Flo beranjak dari duduknya ingin keluar dari kelas tapi di tahan oleh Nela.
"Jangan pulang dulu Flo. Temenin gua ke kantin yuk." Pinta Nela dengan wajah yang memelas.
"Ngapain?" Tanya Flo.
"Ngapain lagi kalau ga makan." Ujar Dave. Mendengar itu Nela tertawa cengengesan dan Flo menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Flo menyetujuinya " gak apa-apa deh sekalian nungguin dia." Ucap Flo dalam hati.
At kantin
"Kita gabung bareng mereka aja yuk." Ajak Dave yang menunjuk pada Axel Cs. Mereka menghampiri Axel dan kedua sahabatnya.
"Lu pada belum pulang?" Tanya Dave yang kemudian bergabung dengan mereka.
"Ntar lagi." Jawab Alex.
"Dia merokok?" Tanya Flo dalam hatinya yang melihat Axel menghisap rokoknya dan dan tidak mempedulikannya meski dia berada di dekatnya.
"Ehh ada Flora.." Ucap Albert basa-basi yang melihat kedatangan Flo bersama Nela.
"Duduk Flo..."seru Alex yang menggeser bokongnya ke pojok. Flo tersenyum dan duduk di sebelah Alex.
"Gua gak di ajak duduk nih?" Nela berpura-pura kesal.
"Sini gua pangku." Ucap Albert dengan jahil dan menepuk pahanya.
__ADS_1
"Jijik!" Ketus Nela yang kemudian duduk di sebelah Dave.
Posisi mereka sekarang duduk berhadap-hadapan. Dave duduk di antara Nela dan Axel lalu Alex di antara Flo dan Albert.
"Makasih." Ucap Nela pada ibu kantin yang mengantar makanannya.
"Mmm Flo ntar kita gak bisa pulang bareng, gua ada urusan bareng Nela." Celetuk Dave tiba-tiba hingga membuat Flo tersenyum kecil.
"Kalian bener-bener aneh. Aku bukan anak kecil lagi yang harus di antar pulang pergi." Flo menatap Dave.
"Ck, bukan gitu. Lu itu cewek gak baik pulang sendiri Flo." Lanjut Dave. Nela hanya menganggukkan kepalanya karena ia masih mengunyah makanan miliknya.
"Aku bisa jaga diri David.." Ujar Flo. Dan itu membuat Dave berdecak.
"Kalian ngapain sih berdebat. Kan ada tunangannya Flo." Ujar Alex akhirnya.
"Bener. Biar Flo di antar sama Axel." Lanjut Albert. Perkataan Alex dan Albert membuat Flo dan Axel menegang.
"Gimana jadinya hidup aku. Ntar di tinggalin di tengah jalan lagi." Gumam Flo dalam hati.
"Kalau bisa pulang sendiri ngapain harus di antar." Ucap axel dengan datar. Rasanya dia enggan untuk berdekatan dengan Flora.
"Ga bisa gitu man. Flo itu tunangan lu. Masa lu tega biarin dia pulang sendiri." Ujar Alex.
"Lu aja yang nganter dia pulang." Suara Axel semakin datar. Dave, Nela, Alex dan Albert menggelengkan kepala kenapa bisa Axel sekeras ini. Hanya untuk mengantar Flo pulang saja dia tidak mau. Apa pantas di katakan sebagai tunangan?.
Flo tersenyum kecut. Dia sudah biasa di perlakukan seperti itu.
Ting
Terdengar bunyi pesan dari handphone Flo. Gadis itu membuka ponselnya.
Bapak Komandan👮
Baby gua udah nyampe kampus lu.
Lu dimana?
Flo
Di kantin
Datang kesini aja.
Bapak komandan👮
Ok.
Ini kampus apa kuburan sih sepi amat.
Flo
Udah pada pulang mahasiswanya.
Bapak komandan👮
Oh gitu.
Ok gua otw kantin.
Tunggu ya.
Flo hanya membaca chat itu dan tidak membalasnya.
"Makasih Lex. Tapi gak apa-apa kok. Aku di jemput." Jawab Flo dengan senyum yang sangat tulus.
Sontak mereka semua kaget Tanpa terkecuali termasuk Axel tapi itu hanya sesaat.
"Siapa..?" Tanya Albert penasaran.
"Cowok yang jemput lu di parkiran itu?" Tanya Nela, lalu kemudian mereka semua menatap Nela kecuali Flo yang hanya tersenyum.
"Bukan." Singkat Flo.
"Terus siapa?" Dave yang bertanya.
Flo tersenyum geli melihat ekspresi mereka semua. Kemudian matanya beralih ke arah pintu masuk kantin. Matanya berbinar melihat seseorang berseragam polisi yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.
"Zack...." Ucap Flo dengan antusias.
"Aku duluan ya. Bye." Ucap Flo kemudian dia beranjak dari kursinya menuju pria yang celingak-celinguk mencari seseorang.
"Zack...." Gumam mereka bersamaan dengan raut wajah yang sangat terkejut kecuali Axel dia biasa saja.
Flo berlari kecil ke arah pria itu dan memanggil namanya.
"Zack..." Panggil Flo. Pria itu menatap Flo bingung.
Sampai di hadapan pria itu Flo langsung memeluknya. Pria itu tidak memberikan respon dia syok. Merasa tidak di respon Flo melepaskan pelukannya.
"Kenapa?" Tanya Flo dengan bingung.
Mata pria itu memelototi Flo.
"Kenapa lu berubah jadi itik buruk rupa kayak gini?" Tanya pria itu terkejut melihat penampilan Flo. Gadis itu mendengus kesal.
Sesaat kemudian pria itu tertawa lalu memeluk Flo dengan sangat erat.
"Bodo amat dah. Yang penting gua kangen banget sama lu." Pelukannya itu sangat erat sehingga Flo memukul mukul pundak Pria itu agar segera melepaskannya.
"Kenapa?" Tanya pria itu kebingungan.
"Gak bisa nafas ****!" Ketus Flo.
"Habis gua kangen banget sama lu." Ucap pria itu dengan tawa kecilnya.
Pria itu adalah Zack Richard sepupu Flo. Dia seorang anggota polisi. Usianya sama dengan Flo.
"Ya udah yuk." Ajak Zack yang menggenggam jemari Flo.
"Tunggu." Cegah Flo. Zack mengernyitkan keningnya.
"Ada apa?" Tanyanya bingung.
"Kamu bawa apa?"
"Motor." Jawab Zack dengan santai seraya menggoyang-goyangkan kunci motor yang ia pegang.
"Ck, kenapa bawa motor sih! Gak lihat matahari cerah banget. Kalau aku hitam gimana?" Protes Flo.
Mendengar itu Zack berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"Lu gak berubah ya." Katanya. Lalu Zack membuka jaket yang ia pakai dan memakaikannya pada Flo.
__ADS_1
Saat ini mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat romantis.
"Gitu dong. Kan kamu jadi makin cakep. Aku doain cepat dapat jodoh." Kekeh Flo.
"Serah lu dah." Ucap Zack yang kemudian menoel hidung Flo dengan gemas.
Saat mereka ingin berjalan tiba-tiba Flo di dorong oleh Shera,beruntung Zack reflek menangkap pinggang Flo.
"Dasar cewek udik! Cewek gatel lu ya! Ga puas lu ngedeketin Axel lu deketin dia juga! Cewek mu....
Ucapan Shera terhenti saat tangannya yang menunjuk-nunjuk Flo di tangkap oleh Zack dan di cekal dengan kuat hingga Shera meringis kesakitan.
Mata Zack memerah menahan emosi.
"Heh cewek iblis! Jaga mulut lu ya. Sekali lagi lu ngomong gitu sama Flora lu bakal berurusan dengan gua." Zack menekan semua ucapannya dengan wajah dan mata yang memerah seakan-akan ingin memakan Shera saat ini juga. Shera ketakutan, dia gemetar melihat amarah Zack yang begitu menyeramkan. Beruntung Flo menenangkan Zack.
"Zack, udah zack. Gak baik kamu perlakuin wanita kaya gitu. Lagian ingat kamu aparat dan masih pakai seragam apa kata orang nanti." Mendengar ucapan Flo, Zack melepaskan tangan Shera. Shera pergi dengan terbirit-birit meninggalkan Zack dan Flo.
"Udah yuk. Aku laper." Ucap Flo dengan manja dan bergelayut di lengan Zack. Zack menarik nafas untuk menenangkan diri. Lalu dia tersenyum tulus seraya mengusap rambut Flo.
"Tumben bersikap kaya gini ma gua. Biasanya ketus mulu. Gua tau lu kesepiankan karna abang kesayangan lu ga di sini. Jadi gua sebagai pelarian lu." Ucap Zack berpura-pura kesal.
"Ya udah kalau gak mau." Ketus Flo. Kemudian melepaskan tangannya dari lengan Zack dan pergi meninggalkan Zack.
"Ehh, kok marah sih. Baby tungguin." Pekik Zack yang kemudian mengejar Flo, lalu merangkul Flo dari samping. Sesekali Flo menghempaskan tangan Zack, tapi Zack tetap merangkulnya.
Mereka berjalan menuju parkiran.
Lain halnya di sudut kantin. Axel, Dave, Nela, Alex, dan Albert hanya bisa melihat apa yang di lakukan oleh Flo dan Zack.
Mereka terkejut melihat kedekatan antara Flo dan Zack.
"Itu siapanya Flo?" Alex membuka suara.
"Gak tau." Jawab Dave.
"Kok kayaknya dekat banget ya. Kaya pasangan romantis tau gak. Ada panggilan sayangnya lagi." Seru Albert.
"Hmm, siapapun dia gua harap dia bisa menjaga Flo. Kalian lihatkan seberapa protectnya dia saat Shera memperlakukan Flo kaya tadi bukannya dia malah ninggalin Flo gitu aja. Gua harap dia orang yang tepat buat Flo. Dan bisa lebih menghargai perasaan Flora." Ucap Nela panjang lebar,dia sengaja mengatakan itu untuk menyindir Axel.
Axel tidak peduli dia hanya memasang wajah datarnya.
"Dave ayo pulang." Ajak Nela pada Dave.
"Kita duluan ya." Pamit Dave pada mereka bertiga dan menyusul Nela yang sudah berjalan terlebih dahulu tanpa pamit pada mereka.
"Apa yang di katakan Nela itu benar. Dan gua harap nanti lu gak akan nyesal bro." Ucap Alex pada akhirnya. Namun Axel tetaplah Axel manusia Es berhati batu dan kepala karang itu yang di katakan Flo. Axel tidak peduli akan ucapan Nela ataupun Alex dia tetap memasang wajah datarnya. Apa begitu besarnya rasa bencinya pada Flora?.
Caffe Orion
Flo dan Zack duduk di salah satu meja. Seorang waiters mengantarkan minuman pesanan mereka.
"Makasih." ucap Flo dan di angguki oleh waiters itu seraya tersenyum.
"Cewek tadi siapa sih?" Tanya Zack.
"Oh, itu Shera." Singkat Flo, lalu menyedot minumannya.
"Dia sering gangguin lu ya?" Tanyanya lagi.
"Mm ya gitu. Dia itu benci banget sama Aku." Jawab Flo.
"Karena?" Flo hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Zack. pertanda tidak tahu alasannya kenapa Shera begitu membencinya.
"Kayaknya dia naksir sama kamu Zack." Ujar Flo.
"Apaan. Ogah gua mah. Mending gua gak punya pacar sekalian." Zack bergidik ngeri membayangkan wajah Shera. Flo tertawa melihat reaksi Zack.
"Dan gua masih kesal sama lu. Satu bulan lebih lu di Jakarta dan lu gak ngabarin gua. Bener-bener sepupu durhaka lu." Kesal Zack.
"Sorry, bukannya gitu Zack. Aku males ke rumah. Om sama tante gak di rumah. Yang ada aku jadi kacung kamu." Ucap Flo asal.
"Ck, gua ga separah itu kali. Tapi gua harus ngehukum lu." Ujar Zack dengan senyum misterius.
"Iya...iya. Apaan?" Flo pasrah menerima hukuman dari Zack.
"Cuciin baju gua dong! Bibi di rumah lagi pulang kampung. Jadi baju kotor gua numpuk." Ujar Zack tertawa cengengesan.
"Somprettt...tu kan bener dugaan aku. Pasti di jadiin kacung lagi. Gak mau." Flo merajuk.
"Ck, ayolah Flo. Kali ini aja. Oke deh gua gak hukum lu. Tapi gua minta tolong." Pinta Zack dengan wajah yang memelas.
"Sama aja!" Ketus Flo.
"Ayolah. Plisssss. Gak kasihan apa sama sepupu lu yang cakepnya gaak tertandingi ini?" Zack memasang wajah memohonnya.
"Iya iya. Jijik lihat puppy eyes gitu. Kaya kodok kejepit tau gak!" Ujar Flo masih kesal dan ucapannya itu membuat Zack tertawa.
"Hahaha. Makasih baby. Emang lu pernah lihat kodok kejepit?" Tanya Zack.
"Pernah. Nih di depan." Flo menunjuk Zack dengan dagunya.
"Wajah gua setampan ini lu bilang mirip kodok?" Zack menautkan alisnya.
"Bukan mirip. Tapi emang kodok!" Ketus Flo.
"Hahaha. Lu emang gak berubah ya." Zack tertawa seraya menarik hidung Flo.
"Eh tapi tunggu. Lu belum ngenalin tunangan lu sama gua." Ujar Zack.
Flo menegang mendengar ucapan Zack.
"Kapan mau kenalin sama gua?" Lanjut Zack dan kemudian melepaskan tangannya dari hidung Flo.
"Mmm nanti gua bakal kenalin sama lu." Ucap Flo pada akhirnya.
"Dia orang yang baikkan?"
"Mmm iya dia baik kok." Gugup Flo. Flo tidak ingin menceritakan sikap Axel yang sebenarnya. Jika sampai Zack tahu pasti dia tidak tinggal diam dan akan mengadu pada keluarga Flo. Flo tidak ingin keluarganya apalagi orangtuanya khawatir nantinya.
"Maaf lama menunggu." Ucap waiters yang mengantar makanan mereka.
"Ga papa. Makasih." Balas Flo.
"Untung makanannya cepat datang. Kalau ga Zack pasti bertanya yang aneh aneh." Bisik Flo dalam hatinya.
Kemudian mereka makan bersama. Sesekali saling mencoba makanan yang mereka pesan masing masing.
Zack dan Flo sangat dekat. Meskipun hanya sepupu mereka terlihat seperti adik dan abang kandung. Atau bahkan kadang seperti sepasang kekasih. Banyak orang yang mengatakan mereka cocok jika berpasangan dan mereka hanya membalas perkataan itu dengan tawa yang menggelegar. Meskipun terkadang mereka sering beradu mulut dan saling ketus. Tapi Zack sangat menyayangi Flora. Dia tidak akan membiarkan Flo di sakiti oleh siapapun.
•••••••••••••
__ADS_1