Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 38


__ADS_3

Author p.o.v


Triiingg


Triiiingg


Triiingg


Suara jam weker yang terus berbunyi mengganggu tidur nyenyak Flora, ia menggeliat dan tangannya terulur menggapai jam yang beradar di atas nakas.05.30


Flo mengucek-ucek matanya, ia menyingkapkan selimut dari tubuhnya dan beranjak dari kasur miliknya.


Lalu ia berjalan menuju kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi ia langsung menuju kearah dapur. Menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Ia ingin mencoba memasak nasi goreng untuk Axel pagi ini. Meskipun ia tidak tahu tapi Flo akan mencobanya.


Tepat pukul tujuh ia selesai memasak, dan Axel sudah  rapi dengan setelan kemeja putih dan jas miliknya.


Bertepatan saat Flo berada di depan pintu kamar Axel, Axel pun keluar dari kamarnya dengan tas kantor yang ia genggam. Axel mengangkat kedua alisnya seolah bertanya "ada apa?" Flo tersenyum.


"Sarapan?" katanya." aku masak nasi goreng." lanjut Flo dengan senyum tulus.


"Masak? Bukannya dia tidak masak?" tanya Axel dalam hati. Sesaat dia bingung tapi kemudian Axel menganggukkan kepalanya.


Axel tiba di meja makan dan duduk di kursi.


"Ini masakanku yang pertama, aku harap kamu maklum jika nanti rasanya aneh. Aku sudah berusaha." ucap Flo dengan gugup.


Ketika ingin menyendokkan nasi ke piring milik Axel,bel berbunyi.


"Siapa yang datang pagi-pagi." gumam Flo dan menghentikan gerakan tangannya.


"Bukakan saja pintunya. Biar aku yang mengambil nasinya." ucap Axel. Flo tersenyum dan berlalu menuju pintu.


Flo menarik daun pintu dan terlihatlah seorang wanita berdiri dengan angkuhnya di depan pintu.


Belum sempat Flo bertanya atau mempersilahkan untuk masuk,wanita itu sudah menerobos dan menyenggol pundak Flo.


Wajah Flo yang tadi berbinar sekarang menjadi muram.


"Apalagi yang akan terjadi?" bisik Flo dalam hati.


Nadya datang menghampiri Axel yang berada di meja makan. Ketika Axel ingin menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya Nadya setengah berteriak. Sontak Axel menurunkan sendoknya.


"Sayang! Ini masakan siapa?" tanya Nadya yang sudah berada di sebelah Axel.


"Nadya, kok kamu ada disini?" tanya Axel balik. Ia terkejut melihat Nadya yang tiba-tiba datang ke apartemen tanpa memberitahu terlebih dahulu.


"Kamu ga suka aku di sini?" wajah Nadya berpura-pura sedih." ya udah aku pulang aja." sambungnya lagi dan membalikkan tubuhnya untuk segera pergi dari sana.


"Eh, sayang tunggu. Jangan pergi." Axel mencekal pergelangan tangan Nadya.


"Jangan marah dong. Aku cuma kaget aja tiba-tiba kamu ada di sini. Aku senang kamu ada disini." ucap Axel,lalu Nadya membalikkan tubuhnya menghadap Axel,ia tersenyum padanya.


"Aku pikir kamu ga suka aku di sini." kata Nadya lalu duduk di kursi sebelah Axel.


"Ini masakan siapa?" tanya Nadya yang menunjuk nasi goreng yang ada di hadapan Axel.


"Flora." jawab Axel. Bertepatan Flo sampai di meja makan.


"Bukankah kamu bilang dia tidak bisa  memasak?" tanya Nadya lagi. Hati Flo mencelos mendengar ucapan Nadya.


"Mm itu...sudahlah aku mau sarapan nanti aku telat ke kantor." kata Axel pada akhirnya dan ingin menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. Tapi dengan cepat Nadya mencegahnya. Axel kebingungan.


"Kamu jangan makan ini. Dia tidak pandai memasak. Pasti rasanya hancur sekali." kata Nadya dan mengambil sendok dari tangan Axel.


"Sudahlah. Berikan sendoknya." ucap Axel. Ia ingin mencicipi masakan pertama Flo. Nadya tidak menggubris ucapan Axel,ia malah menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya sebentar.


Sesaat kemudian Nadya menyemburkan nasi yang ada di dalam mulutnya ke lantai.


Phiuhh


"Nasi goreng apa ini! Asin sekali!" pekik Nadya dan meneguk segelas air yang ada di hadapan Axel.

__ADS_1


Mata Flo melebar. Ia tidak tahu jika nasi gorengnya asin karna tadi ia tidak sempat menyicipinya.


"Sayang kamu jangan makan ini. Ini asin sekali. Apa dia menumpahkan semua garam ke sini." ucap Nadya Sinis dan menjauhkan nasi goreng itu dari hadapan Axel.


"Kalau kamu ga bisa masak jangan sok pandai. Axel tidak bisa memakan makanan yang asin. Bagaimana jika dia memakannya. Apa kau mau membunuhnya!" ucap Nadya pada Flo dengan sengit.


Flo terkejut mendengar ucapan Nadya. Dia tidak tahu jika Axel tidak bisa memakan makanan yang asin.


"Huh! Sepertinya kamu tidak tahu banyak tentang Axel. Istri macam apa!" ketus Nadya. Ucapannya itu berhasil membuat mata Flo berkaca-kaca tapi tidak sampai menitikkan air mata.


"Maaf." lirih Flo.


Axel menatap Flo. Ada rasa tidak tega terselip di dalam hatinya.


"Sudah sayang. Ayo kita pergi. Kita sarapan di luar saja." dengan Segera Nadya menarik tangan Axel untuk pergi dari sana. Meninggalkan Flo yang masih mematung di depan meja makan.


Mereka pergi tanpa berpamitan pada Flo.


Setelah memastikan mereka pergi Flo duduk di kursi. Kini ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis.


Seperti kesetanan Flo menyambar semua nasi goreng itu dan melahapnya secara brutal dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Dengan suara tangisan yang terus terdengar ia memaksakan diri untuk mengunyah makanan itu dan menelannya dengan paksa dan benar rasanya benar-benar hancur.


Flo sesenggukan. Tapi dengan tanpa henti ia terus memakan nasi goreng buatannya sampai habis dan tak tersisa. Ia meluapkan semua rasa sakitnya pada nasi goreng itu. Ia berharap rasa nasi goreng itu bisa menyamarkan kehancuran hatinya. Tapi nyatanya tidak.


Nasi goreng itu sudah habis namun Flo masih tetap menangis.


"Kapan semua ini berakhir.." lirihnya." aku benci hidupku. Aku benci!!" pekiknya. tanpa sengaja ia melemparkan piring yang ada di hadapannya.


Praaangggg


Piring itu pecah di atas lantai. Flo menundukkan kepalanya lalu menumpukan dahinya di atas meja. Ia menangis dan terus menangis.


_


Saat ini Flo tengah berada di balkon. Seperti biasa ia menatap langit yang di penuhi bintang-bintang. Ia seakan terhipnotis dengan cahaya-cahaya bintang itu sehingga ia tidak sadar jika Axel sudah pulang.


Axel yang baru saja tiba melihat pintu balkon terbuka. Ia berjalan sedikit mendekati pintu balkon.


Saat Axel ingin mengeluarkan suara,untuk meminta Flo masuk. Ia terdiam mendengar ucapan lirih Flo yang masih menatap langit.


"Bisakah seseorang membawaku pergi dari dunia ini? Aku lelah. Aku lelah dengan ini semua." Flo menangis.


"Papi. Seandainya saja papi tidak menyelamatkan aku dulu. Mungkin aku sudah bahagia bersama Tuhan. Kenapa papi menyelamatkan aku. Papi tahu aku sangat membenci hidupku. Rasanya aku ingin menyusul papi sekarang juga. Mungkin papi bahagia di surga. Tapi aku..aku menderita di sini. Bisakah kita bertukar tempat?".


Axel mematung mendengar ucapan Flo. Ia tidak mengerti dengan apa yang di  ucapakan oleh Flo.


"Apa maksudnya? Apa maksud ucapannya itu?" tanya Axel dalam hati. Pikirannya bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat ia jawab. Suara tangisan Flo menariknya ke dunia nyata.


"Bawa aku pergi..." ucap Flo dengan lirih dan terus menangis tanpa menyadari kehadiran Axel yang berdiri tepat di belakangnya.


Kini Flo memeluk kakinya yang ia naikkan ke atas kursi.


Axel tidak tahu harus berbuat apa. Ia memilih meninggalkan Flo di balkon tanpa menyuruhnya masuk.


Tiba di kamar. Setelah ia membersihkan tubuhnya Axel merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua tangannya sebagai bantalan.


"Apa maksud ucapan Flo tadi?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Papi? Kenapa dia menyebut papi. Dia memanggil Ayah Tian bukan dengan sebutan papi. Lalu siapa?" pertanyaan-pertanyaan itu terus di lontarkan Axel pada dirinya sendiri. Ia bingung. Ia tidak mengerti.


Perlahan-lahan Axel memejamkan matanya dan berlabuh ke dunia mimpi.


23.30


Axel terbangun dari tidurnya.


Ia bangkit dari kasur dan menuju dapur. Ternyata dia kehausan.


Setelah meneguk segelas air putih ia berjalan ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Langkahnya terhenti ketika kulitnya merasakan sapaan angin yang terasa sangat menyengat dan menusuk kulit.


Tiupan angin malam yang sangat dingin.


Matanya tertuju ke arah pintu balkon yang masih terbuka. Keningnya berkerut.

__ADS_1


"Apa dia belum tidur?" tanyanya dalam hati.


Axel melangkah menuju balkon. Betapa terkejutnya Axel melihat posisi Flo saat ini.


Flo duduk di atas lantai balkon dengan tangan memeluk kakinya dan kepala menunduk di atas lututnya.


"Flo." ucap Axel namun tidak di gubris Flo.


"Flora." panggil Axel lagi. Namun tetap saja Flo tidak mendengarnya.


"Flo ngapain kamu di luar tengah malam begini. Apa kamu tidak tahu angin malam tidak baik untuk kesehatan." ucap Axel panjang lebar. Namun Flo tidak bergeming.


Hingga Axel menyentuh lengan Flo. Flo terhuyung ke samping.


"Astaga! Apa dia ketiduran disini?" gumamnya. " dan menggunakan baju setipis ini?" lanjutnya lagi.


Ya,Flo hanya menggunakan kaos tipis lengan pendek dan celana selutut.


Axel membopong tubuh Flo ke dalam kamar. Dan membaringkannya di atas kasur milik Flo.


Saat Axel membaringkan tubuh Flo. Terlihatlah mata sembab Flo.


"Apa dia menangis selama itu? Sampai matanya bengkak begini?" gumam Axel. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Flo hingga sebatas dada.


Axel duduk di sisi kasur. Tangannya membelai rambut Flo.


"Apa yang terjadi denganmu?" gumam Axel. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Flo.


"Tidak. Aku tidak mau!"


"Pergi kalian! Aku bukan pembunuh!''


Axel terkejut mendengar igauan Flo. Flo bergerak-gerak seakan sedang meronta dari cengkraman seseorang.


"Flo.." panggil Axel dan terus menggerak-gerakkan lengan Flo.


"Mami ampun..."


Flo menangis dalam igauannya. Sementara Axel terus memanggil-manggil nama Flo beraharap ia bangun dari mimpinya.


"Flora!" Axel sedikit memekik hingga Flo menjadi tenang kembali dan masih tetap dalam keadaan tertidur.


Axel menghembuskan nafas leganya.


"Apa yang terjadi dengannya."


Hanya itu yag terus berputar di kepala Axel. Tiga puluh menit ia menemani Flo hingga ia yakin kalau Flo sudah tidak akan mengigau lagi.


Axel keluar dari kamar Flo dan menutup pintu dengan perlahan.


Sampai di kamarnya Axel merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.


Ia teringat akan ucapan Zack saat Flo pingsan di pinggir taman karena di tampar orang yang tidak di kenal.


"Menghapus trauma?" gumamnya.


"Maksudnya apa?" Axel mengubah posisi tidurnya dengan menyamping.


"Apa yang membuat Flo sampai mengigau seperti itu?" tanyanya entah pada siapa.


"Membunuh? Mami?" itu yang terus di ucapkan Axel hingga matanya perlahan terpejam.


Sebenarnya Axel penasaran dengan kehidupan Flo semenjak kejadian di taman itu. Banyak hal yang merasuki pikirannya. Tapi ia tidak pernah berani menanyakan hal itu pada Flo. Ia ingin menunggu waktu yang tepat.


Entah kapan waktu yang tepat itu. Dia sendiri pun tidak tahu.


•••••••••


TBC


 


 

__ADS_1


__ADS_2