
Axel p.o.v
Malam ini aku dan Flo terpaksa menginap di rumah Mamah.
Karna Flo tadi tenggelam di kolam berenang dan tidak sadarkan diri selama 5 jam membuat Mamah kepanikan dan menyalahkan aku.
Kata Mamah kenapa aku tidak menjaga Flo. Kenapa aku tidak mengawasi Flo.
Astaga! Apa aku harus berada di samping Flo setiap saat?
Lagi pula kenapa Mamah menyalahkan aku. Aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Sepertinya Mamah memang sangat menyayangi Flo.
Belakangan aku tahu Flo jatuh ke kolam renang karna Miko kucing peliharaan Anya melompat padanya.
Aneh, sama kucing aja takut.
"Mau kemana?" tanyaku pada Flo ketika dia ingin beranjak dari kasur. Dia menatapku.
"Aku ingin tidur di kamar Anya. Ga mungkinkan kita tidur berdua di sini?" mataku melotot mendengar ucapannya. Benar juga sih. Tapikan nanti Mamah bisa curiga.
"Nanti Mamah bisa curiga kalau kamu tidur di kamar Anya. Ga apa-apa. Kamu tidur di kasur, aku tidur di sofa." ucapku final.
"Aku bisa cari alasan kok. Nanti badan kamu bisa sakit kalau tidur di sofa." ucapnya lalu beranjak dari kasur.
Dia perhatian padaku?
Uhh senangnya..
Ketika dia menggapai daun pintu,aku mencegahnya. Aku mencekal tangannya dengan tiba-tiba tubuhnya berbalik dan menabrak dadaku.
Bughh
Astaga apa yang terjadi. Mengapa jantungku berdetak tak karuan. Aku yakin Flo dapat merasakan detak jantungku.
Segera ku jauhkan tubuhnya dariku. Aku tidak mau dia mendengar detak jantungku yang tak karuan ini.
Matanya mengerjap-erjap lucu.
Ingin sekali aku mencubit pipinya itu.
"Tidur sekarang. Tidak ada bantahan!" ucapku dengan datar namun tegas. Lihat dia gugup. Pipinya merona dan itu membuat dia semakin lucu.
Aku berjalan ke arah sofa. Namun dia masih berdiri di depan pintu. Tanpa membalikkan tubuh aku bersuara.
"Tidur sekarang atau aku tidurkan!" dapat aku rasakan Flo melompat ke atas kasur.
Aku tersenyum kecil. Ternyata dia gampang di ancam ya?
Ku rebahkankan tubuhku di atas sofa. Semoga besok pagi tubuhku tidak sakit.
Saat aku ingin memejamkan mataku. Flo bersuara.
"Xel, tidur disini saja. Nanti badan kamu sakit semua. Ini aku buat pembatasnya kok." ucapnya dengan gugup. Tanpa melihat ke arahnya dan sambil memejamkan mata aku bersuara.
"Tidak usah. Tidur saja sana, jangan banyak bicara." ucapku lalu menutup mata dengan lengan yang ku tekuk .
Akhirnya dia berhenti berbicara.
Beberapa saat kemudian mataku terbuka dan melotot sempurna mendengar ketukan pintu.
Tok..tok..tok
"Apa kalian sudah tidur?"
Mampus! Itu suara Mamah.
Aku duduk di atas sofa bersamaan dengan Flo yang duduk di atas kasur. Kami saling memandang.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
Tanpa pikir panjang lagi aku melompat ke atas kasur. Dan gilanya aku menindih tubuh Flo.
Aduh! Jantungku.
Deg
Deg
Deg
Berhenti berdetak plisss.
Ehh tunggu dulu. Aku belum mau mati.
Mata kami bertemu.
Hal yang baru kusadari tidak ada jarak di antara kami. Hidung kami saling bersentuhan.
"Ehh, maaf mamah ganggu ya?" sontak kami menoleh ke asal suara. Mamah mengintip dari balik pintu.
"Lain kali kunci pintunya ya. Dan buatin mamah cucu yang banyak." Mamah terkikik dan menutup pintu kembali.
Hah!
Tadi Mamah bilang apa?
Buatin cucu yang banyak?
Aku bingung dengan ucapan Mamah. Hingga suara Flo menarikku dari alam kebingungan.
"Xel..ka..mu be..ratt" ucapnya terputus-putus.
Aku sadar.
Astaga, aku masih menindih tubuh Flo.
"Maaf." ucapku dan kesialan menimpaku lagi. Ketika aku ingin menjauhkan tubuhku dari Flo tanganku reflek terlipat dan menyebabkan aku terjerembab tepat di atas tubuh Flo. Dan itu membuat Flo menanggung beban tubuhku,dahi kami saling terantuk yang menyebabkan dia menjerit.
"Akhhhh!''
Ehh,itu pasti sakit sekali ya.
"Xel, pelan-pelan mainnya." suara dari balik pintu membuat aku menggeram.
Itu suara Anya. Awas saja dia nanti.
"Awas lu Ann. Gua bales lu!" gumamku dengan pandangan yang mengarah ke pintu.
"Xel, turun dong. Aku ga kuat." ucapan yang terasa ambigu di telingaku membuat aku menoleh ke arah Flo.
Astaga, aku masih menindih tubuhnya.
Segera aku membaringkan tubuh di sebelah Flo lalu memberi jarak antara kami.
"Maaf." ucapku datar.
Flo bernafas lega.
Apa tubuhku seberat itu? Hingga dia ngo-ngosan seperti itu?
Jelas saja bodoh! Berat badan pria dan wanita itu berbeda. Aku menceramahi diriku sendiri.
"Tadikan aku sudah bilang. Tidur di sini saja. Takutnya mamah masuk tiba-tiba seperti tadi." ucapnya sedikit kesal.
Aku hanya berdehem menanggapi ucapannya. Jantungku belum stabil.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh." ucapnya lagi.
Apa maksud ucapannya?
Aneh-aneh apa?
Akh, sudahlah.
"Ya udah, tidur aja." Ucapku padanya masih dengan posisi semula.
Mungkin begini lebih baik. Dari pada Mamah masuk tiba-tiba lagi nanti.
Dapat kurasakan ia berbalik membelakangiku.
Sebenarnya aku belum mengantuk. Tapi aku pura-pura tidur saja. Aku merasa canggung saja saat ini.
Dari tadi sampai 15 menit sekarang,Flo tetap tidak bisa tenang. Dia terus grasak-grusuk di atas kasur.
Ntah apa yang terjadi dengannya aku tidak tahu.
Dan itu membuat aku terganggu.
"Kamu kenapa sih!?" tanyaku dengan nada suara yang sedikit kesal.
"Maaf. Aku ga bisa tidur." ucapnya pelan.
"Tinggal pejamkan mata saja. Nanti juga tidur sendiri." kataku. Apa susahnya coba untuk tidur. Menurutku hal yang paling mudah adalah tidur.
"Ga bisa." rengek Flo. Astaga!
Aku duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungku pada kepala kasur.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
Flo membuka matanya yang sedari tadi di pejamkan secara paksa. Lalu dia menatapku dalam posisi berbaring.
"Ntah lah. Biasanya kalau tidak bisa tidur aku harus membaca buku. Sedangkan di kamarmu ini ga ada buku sama sekali." ucapnya kesal.
Memang di kamar ini ga ada buku. Aku tidak pernah menyimpan buku di sini. Paling di kamar sebelah ku simpan buku-buku ku.
Tapi tunggu ada beberapa buku yang aku simpan di laci nakas.
"Ada buku. Bukan buku tapi majalah.'' ucapku padanya. Flo menatapku dengan wajah berbinar.
Mendengarnya saja wajahnya sudah berbinar seperti itu.
"Dimana?" tanyanya kemudian. Aku menunjuk ke arah laci nakas di sebelahnya dengan jari telunjukku. Lalu aku mengambil handphoneku dari atas nakas.
Dengan cepat Flo membuka laci dan mengambil beberapa buah majalah.
Dia duduk dan bersandar di kepala kasur. Dapat aku lihat dari ujung mataku Ia membuka-buka majalah itu.
Dapatku rasakan pergerakannya berhenti. Dan menatapku.
Merasa di perhatikan aku menatapnya balik. Wajahnya benar-benar tidak bersahabat.
"Kenapa?" tanyaku dengan santai.
Bughh
Flo melemparkan majalah itu ke dadaku. Aku bingung melihat apa yang dia lakukan.
"Dasar omes! Itu majalah pria dewasa semua!" ucapnya tajam.
Jujur ingin sekali aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya itu.
"Emang iya." jawabku santai.
Memang aku menyimpan majalah pria dewasa di kamarku hanya ada tiga saja. Eitss jangan kalian katakan itu banyak. Kalau kalian tahu berapa banyak majalah dewasa pria yang Albert simpan di kamarnya kalian akan terkejut. Aku tidak ingin mengatakan berapa jumlahnya. Kalian tanyakan saja pada Albert langsung.
"Ya udah baca aja. Itu juga buku kan?" ucapku padanya tanpa ada rasa malu dan sebagainya.
Aku meliriknya sesaat.
"Orang cakep mesum itu biasa. Kalau orangnya jelek mesum pula. Itu baru aneh." kataku dan kembali fokus pada handphoneku.
Flo menggerutu tidak jelas. Aku tidak tahu apa yang dia ucapkan.
"Tadi kamu lihat apa aja di majalah?" tanyaku padanya tanpa mengalihkan pandanganku dari handphone.
"Ga tau!" jawabnya ketus. Tangannya terlipat di dadanya dengan bibir yang di manyunkan. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya itu. Benar yang di katakan Zack. Flo kalau lagi marah tidak menyeramkan tapi malah lucu.
Terlintas di pikiranku untuk menggodanya.
"Lihat apa hayoo" godaku padanya. Kini posisiku sudah berada tepat di sebelahnya sangat dekat dengannya.
Dapat ku rasakan tubuh Flo menegang. Aku tertawa dalam hati.
"Tadi kamu lihat apa? Hmm?" ucapku dengan sedikit berbisik tepat di telinganya. Dapat dengan jelas aku melihat pipinya yang merona.
Tiba-tiba Flo menoleh padaku. Dan...keningku dan keningnya bersentuhan. Mata kami bertemu.
Aku tidak tahu rasa apa yang ada dalam hatiku. Yang jelas aku merasa tenang seperti ini.
Sedetik kemudian Flo mendorong dadaku untuk menjauh darinya.
"Apaan sih! Jauh-jauh sana! Aku mau tidur." ucapnya lalu Flo berbaring dan menutup tubuhnya hingga sampai kepala.
Aku terkikik melihat tingkahnya.
Sepertinya aku punya kegiatan baru untuk menggodanya.
Kembali aku menatap handphoneku. Aku lagi chatingan dengan Nadya.
Lima menit kemudian Flo masih saja tidak tidur. Dia terus saja bergerak gelisah.
"Kenapa lagi, katanya tadi mau tidur." ucapku padanya. Flo menyingkapkan selimut yang menutupi wajahnya.
Flo menatap langit-langit kamar.
"Xel, bisa minta tolong ga?" tanyanya gugup. Aku berdehem menanggapi ucapannya.
"Tapi kamu jangan marah ya. Sekali ini saja." katanya lagi. Aku meletakkan handphoneku di atas nakas. Lalu menatapnya dengan datar.
"Apa." ucapku singkat.
"A..aku bisa pinjam tangan kamu ga?"
Apa? Pinjem tangan?
Untuk apa?
Aku menautkan alisku tanda bingung dengan ucapannya.
"Biar aku bisa tidur." lanjutnya lagi.
Hah!
Meminjam tanganku biar dia bisa tidur?
Maksudnya apa coba.
Aku menatap tanganku bergantian dengan wajahnya. Aku masih bingung sumpah!
Yang aku tahu, kalau seseorang susah tidur,pasti minta di nyanyiin lagi nina bobo atau membacakan cerita. Ini malah minjem tangan.
Aneh!
__ADS_1
"Ya udah deh kalau ga mau." ucapnya kemudian setelah merasa aku tidak memberikan respon apapun. Dia membalikkan tubuhnya menjadi membelakangiku.
Aku membaringkan tubuhku dan menatap punggungnya. Sepuluh menit kemudian. Dia masih saja tidak bisa tidur.
Aku tahu dia pasti tersiksa. Saat kita ingin tidur tapi mata tidak mau terpejam. Itu sungguh menyiksa.
Aku terus menatap punggungnya yang membelakangiku dan terus bergerak gelisah.
--
Aduh mata.
Pliss dong kerjasama dikit. Jangan buat aku malu lagi.
Dari tadi aku malu terus. Ihh nyebelin banget sih ni mata.
Ya Tuhan, aku mau tidur. Doaku dalam hati.
Doa yang aneh memang. Kalau mau tidur ya tidur saja iya kan?.
Tapi jujur. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Susah sekali untuk memejamkan mata.
Posisiku masih membelakangi Axel. Aku malu.
Dan tadi apa?
Permintaan yang sangat memalukan.
Mana mungkin axel mau meminjamkan tangannya.
Ku rasakan kasur bergerak. Mungkin Axel sudah mengantuk.
Suasana menjadi hening.
Axel saja dengan mudahnya tertidur. Sementara aku?
Sebaiknya besok aku harus ke dokter. Meminta obat tidur. Biar seperti putri tidur sekalian.
Aku terus bergerak gelisah.
Hingga beberapa menit kemudian,aku merasakan sebuah tangan menempel pada lenganku..
"Tidurlah. Aku tidak bisa tidur kalau kamu berisik seperti ini terus."
Astaga Tuhan. Apakah itu Axel?
Seriously!
Ini kenyataankan?
Tangannya ada di lenganku?
Ahhh senangnya.... Rasanya aku ingin terbang ke langit ke tujuh.
Aku tidak membuang kesempatan begitu saja.
*hehehe*
Ku genggam tangannya lalu ku bawa ke pipiku. Seolah-olah ia sedang menangkup pipiku. Ini adalah hal ternyaman bagiku. Aku akan tidur dalam hitungan detik.
"Terimakasih." gumamku. Setelah mengucapkan itu mataku terpejam perlahan. Menuju dunia mimpi.
°°°°
Saat ini aku dan Axel sedang perjalanan menuju apartemen.
Wajah Axel masih terlihat kesal. Karna tadi aku terus memaksanya untuk pulang. Tapi dia selalu memberi alasan.
Katanya masih ngantuk. Tapi malah nonton TV.
Katanya masih kangen sama mamah. Tapi malah main sama Miko.
Dan akhirnya dia terpaksa ikut pulang karna tadi aku ngotot ingin pulang sendiri naik taksi. Dan Mamah memarahinya.
Biarkan saja.
Dia tidak tahu apa,hari ini jam empat sore aku akan pergi bersama Kevin.
Sampai di apartemen dia masih menekuk wajahnya. Aku meninggalkannya di basemant parking dan pergi menuju lift.
Sampai di dalam apartemen aku langsung menuju kamar. Bersiap-siap. Karna sebentar lagi Kevin akan menjemputku.
--
Author p.o.v
Axel duduk di sofa sambil ngemil keripik kentang yang selalu di sediakan Flo di dalam toples dan di letakkan di atas meja.
Ting..tong..ting..tong
Suara bel mengganggu ketenangan Axel yang sedang asyik menonton tayangan kesukaannya. Spongebob.
Dengan malas dia berjalan menuju pintu masih dengan memeluk toples dan mulut yang mengunyah keripik.
Axel memutar bola matanya malas. Setelah melihat siapa yang berada di depan pintu.
"Ngapain lu!'' ucap Axel ketus.
"Sama tamu kok ga sopan." ujar Kevin yang berdiri tepat di hadapan Axel.
"Lu ga perlu di sopanin." jawabnya Asal. Kevin menatapnya malas.
"Dimana Flo?" tanya Kevin lagi.
"Ngapain lu nyari dia." ucap Axel dengan datar dan terus mengunyah keripiknya.
"Kita mau jalan." jawab Kevin.
"Dia ga disini. Dia di rumah mamah. Sebaiknya lu pulang sekarang." ujar Axel dan ingin menutup pintu.
Tapi suara seseorang menghentikan pergerakannya.
"Kevin kamu udah datang." ujar Flo yang berdiri di belakang Axel.
Axel dan Kevin menatap Flo,mereka tidak berkedip sama sekali.
Flo memakai dress berwarna soft pink tanpa lengan. Dengan rambut yang ia gelung asal namun terkesan rapi. Itu membuat dia terlihat sangat anggun.
"Cantik" gumam Kevin.
"Maaf. Kamu udah lama?" tanya Flo yang sudah berada di hadapan Kevin dan mengabaikan Axel.
"Ga kok." jawab Kevin. Lalu Flo mengaitkan tangannya pada lengan Kevin. Kevin tersenyum lalu menatap Axel yang terus mengunyah keripik dengan kesal.
"Heii brother, kita pergi dulu ya. Bagaimana kita terlihat seperti pasangan serasi bukan." ucap Kevin pada Axel. Lalu Kevin tersenyum penuh kemenangan.
Flo menatap Axel dengan datar. Lalu mereka berjalan memasuki lift. Sebelum pintu lift tertutup Kevin bersuara.
"Jaga rumah brother" ujar Kevin pada Axel yang masih berdiri di depan pintu dan lift pun tertutup.
"Shitt!!" Axel mengumpat lalu membanting pintu dengan keras.
••••••
Tbc
__ADS_1