Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Masa lalu Flora


__ADS_3

Axel p.o.v


Ini udah hari ketiga Flo ga masuk kuliah. Aku gak tahu ada apa dengan hatiku. Setiap kali aku gak ngelihat dia rasanya ada yang kurang, tapi kalau dia ada di dekatku selalu saja aku membuat dia sedih.


Sejak kejadian di caffe dia selalu menghantui fikiranku. Yang selalu terlintas di pikiranku hanya manik  matanya yang menunjukkan banyak luka. Rasanya hatiku nyeri melihat dia saat itu.


Ntah lah aku tidak tahu ini perasaan apa. Tapi yang ku yakini ini hanya rasa kasihanku padanya.


Aku ingin bertanya pada Reno apa yang terjadi sebenarnya. Tapi dia selalu bungkam dan sejak kejadian itu sudah tiga hari juga aku tidak melihatnya.


Kemarin aku datang ke apartemen Flo tapi kosong dan handphonenya pun tidak aktif. Apa yang terjadi padanya?


Tapi tunggu.


Kenapa aku begitu khawatir padanya. Bukankah jika dia tidak ada di sekitarku aku bahagia.


Ya..ya..


Ini hanya rasa kasihan saja.


"Woii ngelamun aja lu!"


Aku terkejut mendengar suara Albert yang baru datang bersama Alex.


"Gimana udah ada kabar tentang Flo?" Tanya Alex. Aku menggelengkan kepalaku.


Mereka ikut bergabung denganku.


Di sinilah kami bertiga. Di taman dekat kolam renang.


"Permisi Aden. Ini minumannya." Ucap Bi Mar yang datang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.


"Makasih Bi." Ucap kami bertiga bersamaan. Lalu bi Mar masuk pergi meninggalkan kami bertiga.


"Udah tiga hari Flo ga ada kabar bro. Apartemennya kosong,handphonenya ga aktif. Itu yang di katakan Dave." Ucap Albert.


"Gua tau." Kataku datar. Kusandarkan punggungku pada sandaran kursi menatap lurus ke depan.


"Lu tau darimana?" Tanya Alex.


"Kemarin gua ke sana, gua juga selalu hubungi handphonenya tapi ga aktif-aktif." Ucapku lesu. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi kedua sahabatku ini. Karna pandanganku hanya lurus ke depan.


"Kayanya lu khawatir banget sama Flo." Seru Albert.


Ku tegakkan punggungku mengambil rokok dan korek yang ada di atas meja. Ku nyalakan rokok yang ku apit di bibirku. Ku hisap sebentar lalu meniupkan asapnya di udara.


"Bukan khawatir. Gua cuma kasihan aja. Kalian lihat keadaannya saat kejadian di caffe, sangat memprihatinkan." Ucapku dengan santai dan kembali menikmati rokok yang ada di antara jari tengah dan jari telunjukku.


"Bener bro. Gua juga ga tega ngelihat Flo." Ujar Albert yang kemudian tangannya bergerak mengambil rokok.


"Kalian tau Reno pergi ke Sumatra lagi." Ujar Alex yang membuat aku dan Albert menatapnya.


"Ngapain. Bukannya besok dia berangkat ke Paris?" Tanyaku.


"Gua gak tau. Keberangkatannya di tunda sampai minggu depan." Jawab Alex yang kemudian dia beranjak berdiri dari duduknya. Dia berdiri menghadap kolam renang dan membelakangi kami.


"Kenapa lu gak cari tau keberdaan Flo?" Tanyanya dan membalikkan badan ke arah kami serta menatapku.


Mencari Flo?


Ya aku ingin mencarinya. Tapi kemana?


Aku tidak tahu keberadaannya. Ingin bertanya pada Nela dan Dave. Sama saja mereka tidak tahu.


"Nyari kemana?" Tanyaku pada Alex yang kemudian dia mendesah kesal mungki.


"Rumah saudaranya coba." Ujar Albert. Aku menatap Albert yang ada di sampingku.


"Gua gak tau rumah saudaranya." Ucapku datar. Mereka berdua hanya menggelengkan kepala mendengar ucapanku.


Loh memang benarkan. Aku tidak tahu rumah saudaranya.


"Lu tunangannya. Tapi ga tau sedikitpun tentang Flo." Ketus Alex. Aku hanya menatapnya datar.


"Coba tanya Zack. Mungkin aja Flo ada di rumahnya." Ujar Albert.


Zack?


O iya benar. Waktu di caffe kan dia yang membawa Flo pergi.


Tapi ada hal yang membuatku penasaran. Ada hubungan apa Flo dan Zack. Sepertinya mereka dekat sekali. Dan saat kejadian di caffe itu Zack sangat khawatir pada Flo.


"Alamat dan contactnya Zack gua gak tau." Ucapku pada mereka.


"Ck,lu tanya tante Ambar lah." Ujar Albert yang terlihat kesal denganku.


"Apa hubungannya sama Mamah?" Tanyaku agak kebingungan. Apa coba hubungannya si Zack itu sama Mamah. Kenal mamah aja nggak.


"Astaga! Jadi lu blom tau hubungannya Flo sama Zack?" Tanya Albert lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Kulihat Alex menggelengkan kepalanya dan Albert memutar bola matanya. Mungkin mereka jengah dengan ketidaktahuanku tentang Flo.


Ya apa boleh buat. Aku memang benar-benar tidak peduli dengannya.


"Zack itu sepupu Flo." Ujar Alex.


Apa?


Sepupu?


Aku baru tahu Flo punya sepupu. Ya walaupun sebenarnya aku tidak begitu peduli. Tapi ada rasa lega dihatiku saat Alex bilang Zack itu sepupunya Flo.


"Dan tentu tante Ambar kenal dengan Zack. Karna waktu ulang tahun Flo Zack yang membantu tante Ambar menyiapkan semua kejutannya." Aku menaikkan sebelah alisku saat mendengar penuturan Alex.


"Tapi gua ga ketemu dia."


"Ya jelas lu gak ketemu dia. Dia telat datangnya. Dan waktu Flo selesai ngobrol berdua sama lu dia baru datang. Tapi hanya sebentar karna Flo langsung minta pulang." Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar penuturan Albert.


"Tapi kalau gua tanya mamah. Ntar mamah tau lagi Flo menghilang. Dan gua bisa dihabisin. Kalian tau mamah sayang banget ma Flo."


"Ya udah lu cari di kantor polisi dah. Dia kan polisi." Ujar Alex yang meneguk minumannya.


"Hah bener tu. Sekali-kali lu cari tau tentang Flo. Jangan asal nuduh Flo yang ga baik. Kali aja dia ga seperti yang lu pikirin." Aku termangu mendengar ucapan Albert. Anak ini kadang pintar juga.


Bahkan aku gak kepikiran sampai kesana.


Skip


Sekarang aku lagi menunggu Zack di caffe dekat dengan kantor tempat dia bertugas.


Aku menghubungi teman SMA ku yang kebetulan seorang polisi juga. Dan sangat kebetulan lagi dia mengenal baik Zack. Aku meminta contact Zack dan mengatakan padanya kalau aku ingin bertemu.


Sudah 15 menit aku menunggu.


Kalau bukan karna informasi tentang Flo aku tidak ingin menunggu lama-lama seperti ini.


Lamunanku terbuyar mendengar suara dan gerakan kursi di hadapanku.


"Sorry lama." Ucap Zack dengan sangat datar. Ternyata masih ada orang yang lebih datar dari aku ya.


"It's ok." Ucapku lalu aku tersenyum tipis.


"Ada apa nyari gua." Itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan tidak ada tanda tanya dalam kalimatnya itu.


Huhh


Sabar Axel...sabar...


"Flo. Gua mau lu kasih tau gua dimana Flo sekarang." Ucapku langsung to the point . Aku tidak ingin banyak berbasa-basi.


Zack tersenyum sinis.


"Flo. Untuk apa lu mau tau keberadaan dia. Bukannya lu senang kalau dia ga ada dalam kehidupan lu lagi?" Tanyanya masih dengan senyum sinis meremehkan aku.


Skakmat!!!


Benar yang di katakannya.


Tapi darimana dia tahu?


"Gak usah sok tau." Ucapku datar. Aku semakin ga suka dengan ekspresinya itu.


"Cihh! Lu pikir telinga gua budek?" Zack menautkan kedua alisnya. Aku mengangkat sebelah alisku seolah bertanya "maksud lu?" Mungkin dia mengerti dan melanjutkan ucapannya.


"Gua dengar semua percakapan kalian di malam ulang tahun Flo."


Apa Zack mendengarnya?


Jadi benar dia ada disana waktu itu.


"Jadi untuk apa lu nyari Flo. Biarkan saja seperti ini. Lu tenang tanpa ada dia. Dan penderitaannya tidak bertambah." Ucapnya sinis lalu Zack beranjak dari duduknya. Tapi langsung aku tahan tangannya karna aku belum selesai.


"Tunggu Zack!" Cegahku padanya yang sudah berdiri.


"Apa lagi!" Ketusnya. Baru kali ini ada orang yang berbicara seperti itu padaku. Ingin sekali aku memukul wajahnya itu. Tapi aku tahan emosiku.


"Lu blom kasih tau dimana Flo." Ucapku sedatar mungkin.


"Untuk apa?! Gak penting juga buat lu!" Ketusnya. Dengan raut wajah yang sama sekali tidak bersahabat.


"Penting buat gua karna dia tunangan gua!" Ucapku tak dengan tegas.


"Hahaha."


Dia menertawakanku.


Apa ada yang salah dengan ucapanku?


"Tunangan lu bilang? Bahkan lu selalu ngehina Flo,selalu nyakitin Flo. Dan gua rasa lu ga pernah nganggap dia ada. Jadi lu ga perlu susah-susah buat cari Flo." Itu kata-katanya nusuk banget serius. Ntah kenapa aku ga suka dia ngomong seperti itu tapi memang benar apa yang dikatakan Zack.

__ADS_1


Tapi.....


"Flo udah terlalu tersiksa dengan pertunangan ini." Ucapnya lagi.


"Lu pikir dia doang yang tersiksa. Gua orang yang paling tersiksa! Gua harus ngelepasin orang yang paling gua cintai karna harus nerima pertunangan ini! ." Ucapku dengan sinis. Harga diriku benar-benar terkoyak saat ini.


Zack mendesah dan kembali duduk. Aku segera melepaskan cekalanku. Aku tidak ingin orang berfikiran aneh-aneh tentang kami saat aku menarik tangannya.


"Kalau bukan Flo yang minta. Mungkin lu udah babak belur sekarang ini!"


Jujur saat ini aku benar-benar sangat emosi. Ingin sekali aku pukul wajahnya itu saat dia mengucapkan perkataannya itu. Aku tidak peduli dia  polisi atau apalah. Emosiku sudah sangat memuncak.


Tapi bayangan wajah mamah terlintas dipikiranku. Apa jadinya nanti jika mamah tahu Flo menghilang. Aku tidak ingin membuat mamah bersedih. Jadi kutahan emosiku sebisa mungkin.


"Gua cuma mau tau dimana Flo!" Ketusku padanya.


"Flo ada ditempat yang aman. Biarkan dia menenangkan diri dulu. Ini semua gara-gara Reno ******** itu! Kalau saja dia tidak muncul dihadapan Flo mungkin dia ga akan mengingat kejadian itu lagi." Ucap Zack dengan tatapan kosong kearah luar caffe dan raut wajah yang sangat sedih.


Ada apa?


Kehadiran Reno?


Kejadian?


Kejadian apa?


Aku tidak mengerti dan aku bingung dengan ucapannya.


"Maksud lu?" Kataku agak ragu. Zack mendesah lalu menatapku.


"Mungkin gua harus ceritain ini sama lu. Dan gua harap  lu berhenti untuk nyakitin Flo." Ucapnya. Aku hanya memasang wajah sedatar mungkin.


Dan dia mulai bercerita.


Flashback on


Disalah satu Sekolah Menengah Atas terfavorit di Sumatra Utara tepatnya. Flora Chatarina adalah seorang siswi yang  berprestasi disayangi guru dan dikagumi oleh banyak siswa-siswi disana.


Flo adalah gadis cantik dan yang sangat ceria. Flora mempunyai seorang sahabat. Sahabat yang sangat dekat mereka sudah bersahabat sejak Flo masuk Sekolah Menengah Pertama. Namanya Reno Sanjaya.


Saat itu Flo berpacaran dengan anak pemilik yayasan sekolah itu bernama Reihan Aditya. Tapi tidak semua siswa-siswi memyukai Flora. Ada juga yang membencinya dan iri terhadapnya. Hingga kejadian menyakitkan itu terjadi padanya.


Reno berjalan tergesa-gesa untuk menemui Flo. Sampai di kelas dia menghampiri Flora.


"Flo kamu tau besok aku akan ikut pertandingan basket ke Surabaya. Ini adalah salah satu mimpi aku. Aku bahagia banget." Ucap Reno dengan sangat antusias.


"Wah selamat Reno. Aku senang mendengarnya. Kamu harus janji sama aku. Kamu harus pulang dengan membawa pialanya dan membuat nama  sekolah kita semakin terkenal." Ucap Flo dengan tak kalah antusias. Sementara Zack dibelakang sana menguping pembicaraan mereka.


"Tapi ada hal yang sangat penting dari ini. Dan ini kamu pasti suka mendengarnya." Kata Reno yang membuat Flo menatapnya dengan mata berbinar.


"Apa?" Tanya Flo sangat antusias.


"Reihan mau ngajak kamu dinner untuk merayakan aniv kalian yang ke-dua tahun." Kata Reno dengan senyum mengembang.


"Apa? Astaga aku senang sekali Ren. Apa Rei yang mengatakannya padamu?" Tanya Flo dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Bukan tapi Nadya yang mengatakannya padaku." Ujar Reno.


"Nadya?" Tanya Flo ." Akh sudahlah mungkin Nadya berbohong. Kamu taukan Nadya itu sangat benci padaku." Kata Flo. Raut bahagianya tadi sudah berganti dengan wajah yang muram.


Nadya adalah siswi yang sangat benci dan iri pada Flo. Dia sudah sering hampir mencelakai Flo. Karna dia cemburu pada hubungan Flo dan Reihan. Untung saja ada Zack,Reno dan Nathan yang selalu melindungi Flo. Nathan adalah abang dari Zack yang juga bersekolah disana. Nathan satu tahun lebih tua dari mereka.


"Ehh tunggu dulu. Ini serius Flo. Nadya itu sudah berubah. Dan kamu tahu aku sangat menyukainya. Dia bilang nanti setelah aku pulang dari Surabaya dan setelah dinner kalian selesai aku dan dia akan jadian." Ucap Reno.


"Tapi Ren..


"Ayolah Flo. Kalau dinner kalian tidak berhasil aku tidak akan jadian dengannya. Percaya padaku Nadya sudah berubah. Dia tidak mungkin berbohong padaku. Percayalah." Kata Reno dia berusaha meyakinkan Flo agar mau percaya padanya dan menyetujui rencananya.


"Kamu tau. Ini adalah salah satu cara permintaan maaf Nadya karna dia sudah sering menyakitimu. Katanya dia akan sangat bersalah kalau kamu tidak menerimanya. Dia sudah berubah Flo." Ucap Reno lagi.


"Tapi Ren. Ga semudah itu Nadya berubah. Kamu ga tau kalau dia itu..


"Ya sudahlah. Kalau kamu tidak mau. Mungkin angan-anganku untuk jadian dengannya hanya mimpi saja." Ucap Reno dengan wajah yang sangat bersedih lalu dia beranjak meninggalkan Flo.


Flo tidak tega melihat Reno yang berubah menjadi sedih. Memang Reno sangat menyukai Nadya walaupun dia itu termasuk salah satu siswi yang jahat menurut Flo.


Flo merasa sangat egois jika tidak mengabulkan permintaan Reno. Akhirnya dia setuju.


"Baiklah aku setuju." Ujar Flo pada Reno yang sudah berada di pintu kelas. Mendengar itu Reno sangat bahagia dan menghampiri Flo.


"Apa kamu serius?" Tanya Reno dan diangguki oleh Flo dengan senyum tulusnya.


"Terimakasih  Ata. Kamu memang sahabat terbaikku." Ucap Reno dengan sangat bahagia dan mencubit pipi Flo. Flo tertawa kecil melihat Reno yang sangat antusias.


"Tapi bukannya Reihan anak basket juga? Pasti dia ikutkan?" Tanya Flo. Reno menegang mendengar pertanyaan Flo.


"Ehh mmm itu. Reihan tidak bisa ikut karna dia ingin merayakan hari jadian kalian." Ucap Reno dengan gugup. Flo langsung percaya begitu saja pada Reno. Karna tidak mungkinkan sahabatnya ini membohonginya.


Sementara Zack di belakang sana hanya mengedikkan bahunya melihat tingkah dua orang bersahabat itu.


Skipp


"Katanya disini. Tapi kok sepi? Gelap lagi. Reihan beneran mau ketemu disini? Tanya Flo dalam hati.


Sebenarnya dia sudah sangat ketakutan. Dia datang sendirian sementara Reno sudah berangkat pagi tadi ke Surabaya.


Lalu Flo melihat sebuah tulisan dan membacanya.


"Masuk ke dalam gudang."


"Reihan selalu saja sok misterius." Gumam Flo dengan senyum tulus. Lalu dia masuk kesebuah gudang tua yang sudah tidak pernah di gunakan lagi.


Sampai disana Flo tidak menemukan siapa-siapa. Hanya gudang kosong,kotor dan gelap yang ia temukan.


"Rei.." Flo memberanikan diri memanggil Reihan meskipun dia sangat ketakutan.


"Rei..kamu disinikan? Jangan ngerjain aku akh. Aku takut." Panggil Flo lagi.


"Reihan..."


Tapi tetap tidak ada tanda-tanda kalau ada orang lain di dalam gudang itu selain dia.


Hingga Flo mendengar derap kaki datang menghampirinya.


"Itu pasti Rei." Gumamnya dengan sangat bahagia. Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat padanya.


Dan berhenti tepat di belakangnya. Lalu lampu menyala.


Dengan raut wajah yang sangat bahagia Flo membalikkan tubuhnya menghadap orang itu. Seketika wajahnya berubah menjadi sangat ketakutan melihat orang yang di belakangnya itu.


Orang itu tersenyum sinis pada Flo.


"Haii cewek pembawa sial" sapa orang itu pada Flo.


Dia bukan Reihan ataupun Reno. Tapi dia adalah Nadya.


"Na..Nadya..kenapa kamu ada disini?" Tanya Flo dengan gugup dan gemetaran.


"Aku? Kenapa disini?"  Nadya bertanya balik pada Flo dengan nada suara yang sangat menjijikkan lalu datang mendekati Flo. Membelai wajah Flo dengan lembut tapi berkesan sangat menakutkan.


"Aku ada disini untuk menghancurkan hidupmu Flora." Katanya lembut sangat lembut hingga membuat bulu kuduk Flo meremang.


"Apa maksudmu?!!" Bentak Flo. Yang sudah merasa sangat ketakutan.


"Jangan berani membentakku sialan!!!" Bentak Nadya dengan nada suara yang sangat menggema di gudang itu.


Nadya menatap tajam Flo. Tatapan membunuh. Tidak ada tatapan yang bersahabat. Mata Nadya memancarkan dendam.


"Kau gadis pembawa sial!!! Gadis murahan!!!!" Bentaknya lagi.


"Kurang puas kau merebut orang yang kusayangi? Dan sekarang kau merebut orang yang aku cintai?" Nadya membalikkan tubuhnya dan membelakangi Flo.


"Kau merebut semuanya." Nadya menangis tersedu.


"Kau pembunuh!!!!" Teriaknya lagi lalu membalikkan badannya menghadap Flo dan menunjuk wajah Flo.


"A..apa maksudmu? A..aku tidak mengerti." Gugup Flo dengan penuh rasa takut.


"Diam brengsekk!!"


Plakkk


Plakkk


Plakk


Plakkk


Empat kali berturut turut Nadya menampar wajah Flo dengan sangat keras hingga ada darah disudut bibir Flo dan Flo jatuh tersungkur dilantai.


Flo menangis. Itu sangat menyakitkan.


"Kau menangis?" Tanya Nadya dengan lembut.


Saat ini Nadya terlihat seperti psikopat yang tiba-tiba lembut dan tiba-tiba menyeramkan.


Nadya berjongkok dihadapan Flo. Menarik rambut Flo dan mendongakkan wajah Flo menghadapnya.


Cuihhhh


Nadya meludahi wajah Flo.


"Kau sudah menguras air mataku! Kau menghancurkan keluargaku binatang!!" Teriak Nadya tepat diwajah Flo dan melepaskan kasar rambut Flo.


Flo hanya bisa menangis. 


Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


"Se..sebenarnya a..pa ma..maumu?" Tanya Flo terbata-bata di sela-sela tangisnya.


"Mauku?" Tanya Nadya kemudian dia berdiri dan mengambil sesuatu dari sakunya. Lalu berjongkok kembali di hadapan Flo.


Cakkk


Nadya mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Mendekatkan kewajah Flo dan membuat gerakan mengitari wajah Flo dengan pisau itu.


"Sudah kukatakan aku ingin menghabisimu." Ucapnya lembut dengan pisau yang masih di wajah Flo.


Flo ketakutan melihat pisau itu. Nafasnya tersengal-sengal,dan tubuhnya gemetaran.


"Ja..jangan macam-macam Nadya. A..aku akan berteriak." Ucap Flo dengan suara yang gemetaran.


"Hahahaha"


"Berteriak?


"Minta tolong?"


"Hahahaha"


"Apa kau tidak tahu ini tempat sepi. Tidak ada orang  disini."


"Aku akan dengan mudah menghabisimu."


Nadyia berdiri. Flo merasa lega.


"Silahkan kau berteriak sesuka hatimu."


"Berteriaklah...berteriaklah..hahaha" teriak Nadya dan kemudian tertawa.


"Sekarang tidak ada yang bisa menolongmu lagi. Sepupu-sepupumu itu tidak akan tahu keberadaanmu. Reihan dia tidak tau tentang ini." Ucap Nadya.


"Ja..jadi maksudmu?" Tanya Flo dengan suara serak habis menangis.


"Ya! Ini semua adalah rencanaku. Aku pintar bukan?" Puji Nadya pada dirinya 


Sendiri dengan bangga.


"Reihan sama sekali tidak tau. Apa kau lupa dia ada tanding basket bersama Reno? Dan sahabatmu itu terlalu mudah ku bodohi. Dengan sedikit iming-iming dia menuruti permintaanku. Dia tau Rei ikut tanding. Awalnya dia menolak tapi dengan memberikan sedikit kenikmatan dia menyetujui perkataanku."


Mendengar ucapan Nadya mata Flo membelalak. Dia tidak percaya sahabatnya yang sangat dia percaya itu tega membohonginya.


"Dan kini saatnya aku akan menghabisimu!" Nadya mengacungkan pisau itu tepat di depan wajah Flo hingga membuat Flo tersentak takut.


"Tapi tunggu dulu." Nadya menarik kembali pisaunya dan pura-pura berfikir  sebentar." Aku lebih suka melihatmu menderita. Aku akan membuatmu menderita dulu,membuatmu menanggung malu." Ucap Nadya.


Lalu dia menepuk tangannya tiga kali. Dan muncullah empat orang preman di belakangnya.


"Kalian silahkan nikmati tubuhnya. Buat dia semenderita mungkin." Ucap Nadya. Lalu ia mengambil sebuah kamera.


"Lakukan!" Perintah Nadya.


Flo semakin ketakutan saat keempat preman itu mendekatinya. Dia bergerak mundur dengan cara mengesot.


"Tidak..jangan..jangan sentuh aku!" Teriaknya.


"Nadya aku mohon!" 


"Jangan mendekatiku!"


"Pergi kalian!"


Flo berteriak kesetanan namun tidak dipedulikan oleh Nadya.


Keempat preman itu semakin mendekati Flo. Merobek paksa dress yang di kenakan Flo. Mereka menggerayangi tubuh Flo sesuka hati mereka. Hingga Flo hanya menggunakan tangtop dan short.


Flo terus meronta. Berteriak. Menangis histeris.


"Cukup!" Ucap Nadya.


"Kenapa boss?" Tanya salah satu preman itu. Mereka kebingungan. Saat mereka sudah terangsang malah di hentikan seperti ini.


Nadya menutup kamera yang merekam kejadian tadi.


Ada rasa lega dihati Flo. Karna preman-preman itu belum merenggut harta berharganya. Namun rasa lega itu hanya sebentar setelah mendengar ucapan Nadya kembali.


"Rekamannya sudah cukup. Lanjutkan kalian saja." Ucap Nadya lalu berjalan keluar meninggalkan mereka.


Flo semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar saat preman-preman itu menatapnya dengan tatapan lapar.


"Jangan..aku mohon..jangan sentuh aku." Pinta Flo dengan tangisan  dan wajah memohon.


"Nikmati saja sayang. Nanti juga kau akan ketagihan." Ucap salah satu preman itu lalu merobek tangtop milik Flo.


"Nadyaaaaaaa!!!!!!!" Teriak Flo.


Buggh


Bughh


Bughh


Bughh


Tubuh keempat preman itu terpental karna mendapat pukulan dari seseorang.


"Flora!!" Pekik Nathan yang datang bersama Zack. Lalu mereka menghabisi preman-preman itu tanpa ampun hingga tak berdaya.


Nathan menghampiri Flo yang masih ketakutan. Dan menutup tubuhnya dengan jaketnya. Membawa Flo dari tempat itu.


Tiga hari Flo tidak masuk sekolah. Dan hari ini dia memaksakan diri untuk masuk sekolah. Namun hanya rasa malu yang ia dapat.


Foto-fotonya dan rekaman yang memalukan itu tersebar di sekolah hingga membuat seluruh murid mencaci makinya. Mengatakan dia cewek murahan. Dan kata kata kasar lainnya.


Reno belum kembali tapi Reihan sudah pulang dari Surabaya. Foto dan Rekaman itu sampai ketangannya dia menemui Flo.


Banyak orang yang mengerumuni mereka.


"Dasar cewek murahan! Aku tidak sudi perpacaran dengan gadis kotor sepertimu! Kita PUTUS!" Teriak Reihan di wajah Flo.


Semua murid mengejek dan menghinanya mengatakan dia yang tidak-tidak walaupun pada kenyataannya dia tidak sempat diperkosa. Reihan meninggalkan Flo begitu saja ditengah-tengah orang yang mencaci makinya dan dia hanya bisa menangis menahan malu. Berlari meninggalkan sekolah itu.


Disudut sana Nadya tertawa puas melihat penderitaan Flo.


Sejak saat itu Flo tidak masuk sekolah itu lagi. Orangtuanya membawanya pindah jauh dari tempat itu.


Flashback off


Aku mematung mendengar cerita Zack.


Sesakit itukah penderitaan yang di alami Flo? Pantas saja dia sangat terluka saat melihat Reno waktu itu. Kalau aku tahu ini sebelumnya. Mungkin sudah kuhajar Reno habis-habisan.


"Dimana wanita itu sekarang. Apa tidak dilaporkan ke polisi?" Tanyaku pada Zack.


Zack menyesap kopi miliknya lalu meletakkannya kembali diatas meja.


"Tidak. Itu permintaan Flo untuk tidak melaporkan Nadya kepolisi." Jawabnya.


"Kenapa?" Tanyaku yang kebingungan.


Apa-apaan Flora. Dia sudah disakiti seperti itu kenapa dia tidak mau melaporkan wanita itu. Apa dia ingin terlihat seperti pahlawan.


"Kalau masalah itu lu tanya langsung pada Flo. Biar dia menceritakan semuanya. Dan lu akan lebih kaget mendengar apa hubungan Flora dan Nadya." Kata Zack. Aku mengernyit bingung.


Hubungan?


Hubungan apa?


"Gua tau lu bingung. Maka dari itu lu harus cari tau sendiri. Tanya Flo. Tapi jangan sampai lu ngucapin kata-kata yang membuat dia trauma. Itu akan membuat dia ketakutan. Contohnya pada malam ulang tahunnya itu. Dan pagi-pagi mimpi buruk itu menghampirinya lagi."


Jadi selama ini aku sudah membangunkan mimpi buruknya?


Maafkan aku Flo.


"Flo ga akan pernah menceritakan apapun yang dia alami. Kecuali kalau dia di paksa dan di ancam. Itupun kalau dia mau jujur. Dia akan menutupi semuanya serapat mungkin. Dan sejak saat itu Flo belajar karate. Bahkan gua dan Nathan kalah dibuatnya. Dan dia  sangat trauma jika ada preman-preman mengganggunya seperti itu lagi."


Aku tidak tahu harus berkata apalagi sekarang.


"Gua harus balik ke kantor." Ucapnya padaku


"Gua harap lu jangan membuat Flo menderita lagi. Masih banyak hal yang blom lu tau tentang dia. Kalau lu udah tau semua tentang dia. Bahkan untuk meninggalkannya pun lu ga akan pernah sanggup. Cari tau tentang dia. Dan lu akan tau dia yang sebenarnya." Zack berdiri dari duduknya lalu berhenti disampingku dan menepuk pundakku.


"Flo terlihat sangat kuat tapi hal yang belum lu ketahui dia sangat rapuh. Gua harap lu yang bisa menghapus semua trauma dalam dirinya. Gua duluan." Zack pergi meninggalkanku yang masih mematung tak percaya mendengar semua ceritanya.


Flora


Maaf jika selama ini aku selalu menyakitimu.


Aku akan berusaha bersikap baik padamu.


Dan akan aku cari tahu apa yang dikatakan oleh Zack tadi.


Maaf.


Maafkan aku.


••••••••••••


Masih banyak rahasia menyakitkan yang di pendam oleh Flo.


Apasih hubungannya dengan Nadya?


Ok next part 👇👇


Let's read.😁😁

__ADS_1


 


 


__ADS_2