Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Bertemu teman masa lalu


__ADS_3

"Sayang aku kangen kamu." Shera bergelayut manja pada lengan Axel. Alex dan Albert yang berada dihadapan mereka bergidik jijik melihatnya.


"Apa apaan sih lu Sher. Lepas." Axel melepaskan paksa tangan Shera dari lengannya. Dia sangat risih. Berulangkali ia meminta Shera untuk tidak dekat padanya tapi tidak dipedulikan oleh Shera. Mungkin Shera sudah cinta mati pada Axel.


"Aku gak mau." Manja Shera dan terus bergelayut pada lengan Axel hingga ia sendiri jengah melihat Shera dan terpaksa membiarkannya seperti itu.


"Dave gabung sini aja!" Panggil Alex pada Dave yang baru datang ke kantin bersama Flo dan Nela dan mereka datang menghampiri tempat Axel Cs.


"Aduh ini sikampret ngapain sih manggil mereka gabung kesini. Ga tau apa jantung gua udah mau copot ngelihat Nela." Gerutu Albert dalam hati.


"Ga papa nih kita gabung?" Tanya Dave.


"Ga papalah. Udah duduk aja." Ajak Alex. Berbeda dengan Axel yang wajahnya menjadi semakin datar sejak kedatangan Flo. Shera masih setia dilengan Axel.


Nela bergidik ngeri melihat Shera yang ada disamping Axel.


''Dasar nenek sihir!" Gumam Nela yang tidak di dengar mereka selain dirinya sendiri.


"Flo duduk disini aja." Ujar Dave yang langsung menarik tangan Flo untuk duduk disamping Axel. Flo tidak bisa menolak.


"Ehh cewek udik jangan dekat-dekat pacar gua!" Ketus Shera pada Flo yang duduk di sebelah kanan Axel. Flo hanya menaikkan sebelah alisnya dan tidak bermaksud menjawab ucapan Shera.


"Ihh nyadar diri dong lu! Seharusnya yang ngomong gitu Flo bukan Lu!" Shera menatap tajam Nela yang mengucapkan itu.


"Maksud lu apa!"


"Mata lu buta? Lu ga lihat apa cincin di jari mereka sama?" Tanya Nela santai dengan dagunya menunjuk jari tangan Flo dan Axel yang ada di atas meja.


Mata Flo dan Axel melotot pada Nela yang ada di hadapan mereka.


"Kenapa? Kalian gak bisa lagi nyembunyiin pertunangan kalian. Gua bakal ngasih tau semua orang kalau kalian udah tunangan dan akan segera menikah." Ucap Nela pada Flo dan Axel.


"Tapi Ne...


"Cukup Flo! Gua gak mau lihat lu menderita lagi." Nela memotong ucapan Flo. Suasana menjadi tegang. Beruntung kantin gak begitu ramai sehingga tak banyak yang memperhatikan mereka.


Nela benar-benar ingin membuka semuanya dia tidak ingin Flo di rendahkan lagi oleh Shera ataupun Axel.


"Xel apa benar cewek udik itu tunangan kamu! Jawab aku Xel!!" Shera mengguncang-guncangkan bahu Axel hingga dia merasa kesal dan menepis tangan Shera.


"Apa apaan sih Sher. Cukup ! Gua capek lihat tingkah lu yang kayak anak kecil. Dia tunangan gua atau gak, gak ada urusannya sama lu." Ucap Axel yang sudah semakin kesal.


"Kamu jahat Axel! kamu tau aku udah lama cinta sama kamu. Tapi kamu gak pernah kasih aku kesempatan. Kamu jahat!" Suara Shera yang sedikit kecang mengundang mata orang-orang yang ada di kantin menuju mereka.


Emosi Shera memuncak ia benar-benar marah sekaligus geram terhadap Flo yang ia cap sebagai perebut Axel. Shera mengangkat tangannya ingin menampar Flo tapi dengan cepat Axel menangkap tangan Shera sebelum mengenai pipi Flo.


"Jangan pernah coba-coba untuk nyentuh calon istri gua." Ucap Axel datar. Jantung Flo yang mendengar itu langsung berdetak tak karuan tubuhnya menegang.


"Calon istri?" Tanyanya dalam hati. Ada rasa bahagia di dalam hatinya ketika mendengar Axel menyebutnya sebagai calon istri.


Lain halnya dengan Alex, Albert, Dave, dan Nela mereka tersenyum mendengar ucapan Axel.


Merasa di permalukan Shera menghentakkan cekalan Axel hingga melepaskan tangannya.


"Dengar Axel. Aku udah cinta mati sama kamu. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan kamu. Kalau aku tidak dapat memilikimu siapapun tidak dapat memilikimu. Dan aku akan pastikan hidup kalian menderita." Shera mengucapkannya dengan sangat dingin dan terdengar sangat menyeramkan. Shera mengancam Flo dan Axel. Lalu dia pergi meninggalkan mereka.


Flo yang mendengar itu menegang perkataan Shera terdengar tidak main-main.


"Apa yang akan terjadi setelah ini?" Tanya Flo dalam hati.


"Kalian berdua harus lebih hati-hati lagi. Terutama lu Flo. Shera gak pernah main-main dengan ancamannya." Ujar Alex.


"Kalian tenang aja. Semuanya akan baik-baik saja." Flo tersenyum tulus pada sahabat-sahabatnya itu.


"jangan merasa kalau gua udah nerima lu dalam hidup gua itu gak akan pernah terjadi. Gua cuma ga mau lu malu muka lu udah cukup memalukan." Ucap Axel yang kemudian duduk kembali di kursinya. Perkataannya itu keluar begitu saja tanpa ia rencanakan terlebih dahulu.


Hati Flo menjerit. Dia tersenyum kecut.


Nela yang mendengar itu tidak tinggal diam. Dia geram pada Axel yang memperlakukan Flo dengan tidak baik seperti ini.


"Lu apa-apaan sih Xel. Flo itu tunangan lu. Lu ga bisa dong perlakuin dia dengan kasar kaya gini. Asal lu tau Flo itu pura...


"Stop Ne!" Ucap Flo menghentikan ucapan Nela yang akan membongkar siapa dirinya sebenarnya. Flo tidak mau terbongkar sebelum waktunya.


"Flo...


Ucapan Nela terhenti karna Flo mengusap punggung tangannya. Matanya berkedip lembut seolah berkata" aku tidak apa-apa" Nela menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa bisa Flo sekuat ini sementara Axel selalu menghinanya.


Mendengar ucapan Nela yang di potong Flo Axel,Alex dan Albert mengernyit bingung.


"Pura? Pura apa? Pura-pura?" Tanya Axel dalam hati.


Di tengah keheningan di antara mereka Dave membuka suara.


"Eh ngomong-ngomong kapan nih kita nongkrong bareng Reno?" Dave memandangi satu-satu wajah teman-temannya.


"Reno?" Tanya Flo dalam hati.


"Kayanya sekarang aja deh. Mumpung kita ngumpul juga." Ujar Alex.


"Bener tuh. Nanti pulang kuliah kita nongkrong di caffe biasa." Seru Albert.


"Ne lu ikut ya." Ujar Dave menatap Nela.


"Gua ikut kalau Flo juga ikut." Kata Nela. Merasa namanya di sebut Flo membuka suara.


"Ehh tapi aku di jemput." Ucap Flo.


"Ntar gua yang nganter lu pulang. Jangan nolak." Ujar Dave datar. Nela tersenyum simpul.


"Tapi aku gak pulang ke apartemen. mau ke rumah Zack." Ucap Flo memberi penjelasan.


"Zack? Ada hubungan apa sih dia sama si Zack itu." Tanya Axel dalam hati. Tapi raut wajahnya masih datar tanpa ekspresi.


Suara dering handphone Flo. Ia segera mengangkatnya.


"Halo."


"Halo Flo kayaknya nanti gua bakal telat jemput lu. bisa nunggukan?" Tanya Zack dari seberang.


"Telat? Ya udah ga usah jem..


Ucapan Flo terhenti karna Nela merebut handphone yang di tangannya.


"Halo Zack. Nanti jemput Flo di La caffe ya. Kita mau nongkrong dulu." Ucap Nela yang mendapat pelototan dari Flo.


"Oke. Kamu Nelaretha kan? Senang bisa bicara sama kamu. Kapan-kapan kita bisa hangout bareng. Kamu mau?


Pipi Nela langsung merona mendengar ucapan dan pertanyaan Zack. Flo merasa ada yang tidak beres. Dia merebut handphone itu dari Nela.


"Zack jangan kegatelan ya." Datar Flo dan ia langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Jangan dimasukin ke hati Ne. Dia agak sinting." Ucap Flo pada Nela.


"Ga papa Flo. Yang penting ntar lu ikut." Senyum Nela pada Flo dan di angguki oleh dia.


"Perasaanku gak enak. Semoga bukan dia orangnya." Bisik Flo dalam hati.


Skipppp

__ADS_1


Saat ini mereka semua sudah berada di outdoor La Caffe mereka sudah tiba lima belas menit yang lalu.


Axel, Alex, Albert, Dave mereka ngobrol banyak hal. Lain halnya Flo dan Nela yang sibuk dengan handphone masing-masing.


Albert yang sedang merokok tidak sengaja menjatuhkan puntung rokoknya dan mengenai jari tangan Nela yang berada di atas meja.


"Awww!" Pekik Nela.


Mata Albert melotot. Langsung ia menyambar jari tangan Nela.


"Maaf Ne..maaf..maaf" ucap Albert yang langsung meniup-niup jari tangan Nela sangat terlihat rasa khawatir di wajah Albert. Jantung Nela berdetak tak karuan saat tangan Albert menyentuh tangannya.


"Maaf ya. Masih sakit ga?" Tanya Albert dengan lembut. Dave,Axel,dan Alex bingung melihat perubahan sikap Albert pada Nela begitu juga sebaliknya. Biasanya Nela akan marah-marah jika Albert membuat masalah dengannya.


Nela merasa pipinya memanas. Flo yang menyadari itu tersenyum.


"Ehemmm.." Alex berdehem melihat kelakuan Albert.


"Nyaman banget kayanya." Sindir Alex. Nela yang merasa dirinya disindir langsung menarik jarinya dari tangan Albert.


"Jangan pegang-pegang tangan gua! Cari kesempatan aja lu!" Ketus Nela dan menatap Albert tajam.


"Ya Tuhan trimakasih. Baru kali ini aku memegang tangan Nela begitu lama. Kalau bisa selamanya aja deh Tuhan." Ucap Albert dalam hati.


"Tumben Al kayanya lu khawatir banget." Seru Dave. Albert menegang mendengar ucapan Dave ia mengusap tengkuknya.


"Apaan sih lu Dave. Kan gua yang salah. Jelas dong kalau gua bersikap kaya gitu." Ucap Albert yang merasa kikuk.


"Tapi kok tumben permintaan maaf lu banyak banget?" Ujar Alex yang menatap Albert di sebelahnya.


"Aduh mampus gua. Jawab apa nih!" Ucap Albert dalam hati. Pasalnya Albert tidak pernah mengucapkan kata maaf sebanyak itu apalagi pada Nela. Albert bingung mau menjawab apa.


"Hei sorry bro gua telat. Udah pada lama ya?" Ujar seseorang yang baru datang.


"Ehh Ren. Udah datang lu. Blom kok. Nyantai aja." Ucap Alex. Albert bernafas lega karna ia lepas dari pertanyaan Alex tadi kalau Reno tidak datang Alex pasti akan terus mendesaknya sampai jujur dan tentunya di bantu oleh Axel dan Dave.


"Hufft..hari ini lu nyelamatin gua Ren. Dari pertanyaan anak curut yang satu itu." Bisik Albert dalam hati.


Flo yang menunduk dan memainkan handphonenya tiba-tiba menegang mendengar suara orang yang baru datang itu.


"Suara ini. Tuhan jangan sampai dia..jangan sampai dia." Doa Flo dalam hati. Dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat orang itu.


Reno menyalami teman-temannya satu per satu salaman ala-ala cowok cool gitu. Dan sampai pada Nela.


"Ehh Nela. Makin cantik aja." Ujar Reno dan menyalam tangan Nela. Nela hanya tersenyum.


Reno melihat seseorang yang menundukkan kepalanya ia duduk di hadapan Flo karna hanya di hadapan Flo kursi yang kosong.


"Kayanya ada yang bertambah." Ujar Reno.


"Ohh kenalin dia Flo. Sahabat gua." Seru Nela. Tapi Flo tetap menundukkan kepalanya hingga Nela menyikut lengan Flo. Flo terkejut dan mendongakkan kepalanya terhadap Nela yang berada disamping antara dia dan Axel.


"Lu ngapain sih nunduk mulu Flo. Kenalin dia Reno." Ujar Dave yang ada di ujung meja. Flo hanya tersenyum perasaannya semakin tidak enak. Dia memberanikan diri untuk menatap Reno dan...


Deg


Tubuh Flo melemas seketika melihat wajah Reno.


"Kenapa harus dia." Bisik Flo dalam hati. Sebenarnya Flo sedang menahan emosi dalam dirinya. Ia tidak ingin lepas kontrol pada orang yang paling di benci olehnya. Dia berusaha menutupinya.


"Reno." Sambil menyodorkan tangannya kepada Flo Reno tersenyum. Flo hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum paksa.


"Tahan Flo...tahan..jangan sampai semuanya terbongkar disini." Gumam Flo dalam hati. Dia berusaha sebiasa mungkin tapi tidak bisa. Rasanya ia ingin berlari dari sana sekarang juga.


Reno memperhatikan lekat wajah Flo.


"Mata lu ga asing buat gua." Ucap Reno pada Flo yang menatap lekat mata Flo. Tubuh Flo menegang mendengar ucapan Reno.


"Kayanya aku kenal kamu." Ujar Reno lagi dan terus menatap wajah Flo yang semakin memucat.


"Gila lu. Kenal darimana coba. Flo ini baru datang belum lama ini." Ucap Albert yang berada tepat di sebelah Reno.


"Apa jangan-jangan dia.." Ucapan Reno menggantung dalam hatinya.


"Flo lu kenapa sih dari tadi diam aja?" Tanya Nela pada Flo yang tidak biasanya diam seperti ini.


"Gak. Aku gak papa kok?" Flo akhirnya membuka suara. Mata Reno melotot mendengar suara Flo.


"Suara itu. Ga salah lagi." Batin Reno.


"Flora?" Panggil Reno yang terdengar seperti pertanyaan.


Mata Flo melotot sempurna. Tubuhnya gemetar, wajahnya semakin memucat.


Ting


Suara pesan dari handphone Flo. Flo menghiraukan Reno yang mematung di hadapannya.


Pak komandan👮


Flo gua udah deket caffe. Lu siap-siap ya.


Flo


Iya. Buruan.


"Kamu Flora Chatarina kan?" Tanya Reno lagi. Ucapan itu membuat Axel dan yang lainnya menatap Reno. Darimana Reno mengenal Flo. Itu pertanyaan di pikiran mereka masing-masing.


"Bukan. Kamu salah orang." Ucap Flo datar. Dan itu membuat teman-temannya termasuk Axel mengernyit bingung. Bagaimana mungkin Flo tidak mengakui namanya sendiri.


"Ga. Aku ga salah orang. Aku kenal suara kamu,aku kenal mata kamu. Aku tau ini kamu. Flo." Ucap Reno yang terus meyakinkan bahwa Flo adalah orang yang ia kenal.


"Aku bilang kamu itu salah orang!" Bentak Flo pada Reno. Dan itu semakin membuat kebingungan antara Axel dan yang lain. Flo bangkit berdiri.


"Aku pamit duluan. Zack udah jemput ." Ucap Flo datar. Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain Flo berjalan meninggalkan mereka.


"Zack?" Gumam Reno.


"Ga salah lagi dia Flora. Cuma ada satu cara untuk membuktikannya." Batin Reno. Lalu berdiri.


"Ata!!" Panggil Reno.


Jarak Flo dari tempat mereka yang berkisar tiga meter dapat mendengar jelas teriakan Reno.


Tubuh Flo menegang. Jantungnya berdetak tak karuan,tangannya mengepal,matanya melotot. Dia mematung di tempat ia berdiri.


"Aku tau itu kamu. Cukup kamu menghindar dari aku." Ucap Reno dengan suara yang cukup kencang. Suasana outdoor caffe tidak ramai hanya ada mereka saja karna caffe itu baru buka.


Axel dan yang lainnya bingung melihat mereka berdua. Banyak Pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dipikiran mereka.


Ada apa sih antara mereka?


Apa mereka saling kenal?


Kenapa wajah Flo sangat marah melihat Reno?


Apa hubungan antara mereka?


Dan masih banyak pertanyaan lainnya di kepala mereka

__ADS_1


Reno berlari menghampiri Flo dan berdiri di hadapan Flo.


"Ata.." Reno mencoba ingin menyentuh pipi Flo. Raut wajahnya tidak dapat di gambarkan,senang,sedih,bahagia,dan menyesal.


Plakk


Plakk


Plakk


Plakk


Empat kali berturut-turut Flo menampar pipi kiri dan kanan Reno hingga ada darah di sudut bibir Reno. Anehnya Reno tidak marah ia malah menerimanya.


"Jangan pernah sebut nama itu lagi!" Ucap Flo dengan penuh penekanan tiap kata dan suara yang bergetar. Rahangnya mengeras,tubuhnya bergetar dan matanya berkaca-kaca.


Axel dan yang lainnya yang melihat itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Flo terhadap Reno.


"A..aku tau aku salah Flo. Maafkan aku. Selama ini aku mencarimu kemana-mana untuk menjelaskan semuanya. Aku..


"Cukup!!!" Teriak Flo di hadapan Reno.


"Aku ga mau dengar apa-apa lagi!!" Teriak Flo lagi dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Reno. Tapi tangannya di tahan oleh Reno.


"Tunggu Flo. Dengarkan aku dulu." Ucap Reno frustasi. Flo dengan reflek menghentakkan tangan Reno dan menendang perut Reno hingga ia tetjatuh ke bawah.


"Reno!!" Pekik Nela.


"Kalian jangan diam aja. Tolongin Reno!" Geram Nela ke pada keempat pria yang masih bengong itu. Alex,Dave dan Albert beranjak dari kursinya menuju tempat Reno dan Flo. Alex dan Albert membantu Reno berdiri sementara Dave ada di samping Flo.


"Ren lu ga papa?" Tanya Albert.


"Ini ada apa sih?" Tanya Alex.


"Ga. Gua ga papa" jawab Reno dengan tangan yang memegangi perutnya.


"Flo lu kenapa sih?" Tanya Dave pada Flo yang tubuhnya tidak berhenti bergetar, dan air matanya jatuh begitu saja.


"Flo maafin aku." Ucap Reno yang mendekat pada Flo dengan wajah yang penuh rasa bersalah.


Plakk


plakk


Lagi Flo menampar pipi kiri kanan Reno hingga wajahnya menoleh ke samping. Flo tidak bisa mengontrol emosinya lagi dia menarik kerah baju Reno dan berteriak di hadapan Reno dengan air mata yang bercucuran.


"Brengsekk!!! ********!!!!" Flo mengguncang-guncangkan tubuh Reno dan kembali menampar. Emosinya benar-benar memuncak setiap mendengar kata yang keluar dari mulut Reno. Ntah apa yang terjadi dengannya. Bahkan Flo tidak menghiraukan Albert, Alex dan Dave yang terus memisahkan mereka namun Reno tidak menghindar ia malah membiarkan Flo memukulinya dengan gencar dan membabi buta.


Axel yang tidak tahan melihat langsung beranjak dari kursinya berlari menuju Flo menarik paksa kedua tangan Flo mencekalnya dengan sangat erat dan membalikkan tubuh Flo menghadapnya.


Axel dapat melihat pipi Flo yang di penuhi air mata. Masih dengan memegang kuat pergelangan tangan Flo Axel bertanya.


"Lu kenapa sih?! Udah gila ya?!" Tanya Axel dengan raut wajah yang ke bingungan. Flo yang sedari tadi memberontak berhenti mendengar ucapan Axel. Axel menangkup kedua wajah Flo dan ia dapat melihat manik mata Flo seakan di penuhi luka.


Tidak ada Flo yang kuat, tidak ada Flo yang sabar saat dihina oleh Axel. Hanya ada Flo yang hancur, rapuh, dan terluka.


"Kamu kenapa?" Tanya Axel lembut. Air mata Flo semakin banyak membanjiri pipinya tubuhnya gemetar. Axel tidak kuat melihat tatapan terluka Flo. Nela yang ada di samping Axel entah sejak kapan ia berada disana mengusap lembut lengan Flo.


"Flo ada apa?" Tanya Nela dengan suara yang bergetar. Dia benar-benar tidak kuat melihat sahabatnya yang terlihat begitu hancur.


Flo diam tidak dapat berkata apa-apa hanya air mata yang membanjiri pipinya.


"Flo maafin aku. Aku tau aku salah. Kejadian waktu itu di luar dugaan aku. Aku di jebak Flo." Ucap Reno frustasi.


Mendengar itu Flo menutup telinganya dia berteriak histeris.


"Hentikan!!! Aku ga mau dengar!! " teriak Flo dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Alex dan yang lainnya semakin bingung melihat Flo tidak tahu apa yang terjadi dengannya.


Berulangkali Reno mengucapkan itu namun Flo tetap berteriak histeris dan menangis serta menutup telinganya. Axel tidak sanggup melihatnya langsung saja ia membawa Flo ke dalam pelukannya. Di peluknya Flo dengan sangat erat hingga Flo berhenti meronta. Ada rasa khawatir di wajah Axel.


"Flo kamu bisa pukul aku sepuasnya tapi dengarkan dulu penjelasan aku Flo." Ucap Reno dengan nada putus asa. Sementara Flo terus menangis dalam pelukan Axel membenamkan wajahnya di dada Axel.


Keadaan saat ini benar-benar membingungkan bagi Alex dan yang lainnya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi.


"Flo kok lu lama banget sih. Gua u....


Ucapan Zack menggantung. Ia yang baru datang melihat Flo yang menangis dalam pelukan Axel.


"Flo kenapa?" Tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran ia menghampiri Flo. Tapi langkahnya terhenti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Zack." Panggil lemah Reno. Zack membalikkan tubuhnya. Rahangnya mengeras melihat Reno yang berdiri di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya.


"Brengsek!!" Zack memukul rahang Reno. Dan menarik kerah baju Reno.


"Jadi lu yang buat Flora kaya Gini! ********!!"


Bughh


Zack memukul perut Reno.


Dave dan Albert langsung menahan tubuh Zack agar tidak memukul Reno lagi. Sementara Alex menarik tubuh Reno yang sudah babak belur menjauh dari Zack.


"Udah berapa kali gua peringatin jangan pernah ganggu Flora lagi!" Bentak Zack. Ia ingin memukul Reno lagi tapi ia berhenti saat mendengar pekikan seseorang.


"Flo..Flora bangun Flo!" Pekik Axel yang sudah terduduk di bawah karena tubuh Flo merosot.


"Flo..!" Pekik Nela.


Flo PINGSAN!


Axel sangat khawatir. Dia mengguncang-guncangkan pipi Flo berharap dia bangun.


"Flora!!" Teriak Zack dan bergegas menuju tempat Flo pingsan. Di berjongkok di hadapan Axel yang meletakkan kepala Flo di lekukan sikunya.


"Flo bangun Flora. Jangan bercanda Flo." Ucap Zack dengan khawatir.


Nela juga begitu ia mengguncang-guncangkan lengan Flora berharap dia bangun.


"Astaga Tuhan. Jangan sampai terjadi lagi." Gumam Zack yang dapat di dengar Axel.


Sementara Alex, Albert, Dave dan Reno mematung melihat Flo yang pingsan.


Tanpa pikir panjang lagi Zack segera mengangkat tubuh Flo dan meminta Nela membukakan pintu mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka.


Dengan mengangkat tubuh Flo Zack berlari kecil. Nela membukakan pintu mobil dan Zack merebahkan tubuh Flo di kursi penumpang.


Melihat itu Reno berlari menghampiri mobil Zack. Zack menutup pintu dan buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Zack.. Tunggu Zack. Biar gua jelasin semuanya." Ucap Reno tapi tidak di hiraukan oleh Zack. Yang penting sekarang Flo baik-baik saja.


Zack menyalakan mesin mobilnya.


"Zack Flora kenapa Zack!" Pekik Reno dengan terus mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap Zack membukakannya untuknya. Namun sebaliknya Zack langsung melajukan mobilnya di atas rata-rata. Meninggalkan mereka yang masih kebingungan dan juga khawatir terhadap Flo.


Termasuk Axel dia tidak dapat berkata apa-apa.


••••••••


 

__ADS_1


 


__ADS_2