Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Kado Terpahit


__ADS_3

Zack berjalan menuju kantin. Hari ini dia datang ke kampus Flo tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Zack p.o.v


Aku berjalan menyusuri kampus ini dan tiba di kantin tempat aku menemui Flo tempo hari. Pandanganku mengitari seluruh sudut kantin ini tapi tetap saja aku tidak menemukan Flo di sini.


Mataku tertuju pada sekelompok mahasiswa yang sedang duduk di pojok kantin. Aku menghampiri mereka. Sampai di sana aku bertanya pada mereka.


"Sorry ganggu, boleh nanya?" Tanyaku pada mereka.


Mendengar suaraku mereka semua menatapku. Seorang wanita dan empat orang pria. Aku bingung melihat tatapan mereka. Apa ada yang aneh di wajahku?.


Mereka terlihat terkejut saat  melihat wajahku. Astaga...aku tahu aku ini tampan. Tapi tidak seperti itu juga cara lihatnya.


"Ohh silahkan. Mau tanya apa?" Tanya seorang pria salah satu dari mereka.


"Kalian kenal dengan Flora?" Tanyaku lagi.


"Flo...." Ucap mereka bersamaan dan dengan raut wajah terkejut. Ada apa sih dengan mereka? Kecuali pria yang duduk paling pojok. Dia biasa saja. Terlihat sangat tidak peduli.


"Iya. Apa kalian melihatnya?" Tanyaku lagi.


Saat wanita yang ada di antara mereka ingin menjawab pertanyaanku ada seseorang yang memanggil namaku.


"Zack!"


Aku memutar badanku ke belakang. Dan terlihatlah wajah wanita yang aku cari sedari tadi. Keningnya mengerut melihat aku dan dia melangkah mendekat padaku.


"Ngapain kamu di sini!?" Tanyanya ketus.


Ya dia memang seperti itu. Selalu ketus setiap kali aku bertemu dengannya. Lain halnya dengan bodyguardnya itu dia akan sangat lembut padanya. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Padahal aku dan dia sama tidak ada perbedaan. Sama-sama tampan. Hanya usia kami yang berbeda. Tapi meskipun Flo bersikap seperti itu padaku aku tetap menyayanginya. Mungkin kejahilanku dulu yang membuat dia bersikap seperti itu padaku. Tapi sekarang jahilku sudah berkurang tidak seperti dulu lagi.


"Ihhh baby nanyanya lembutan dikit dong." Ucapku seraya mencubit hidungnya. Ya aku memang seorang aparat. Tapi jika sudah dengan Flo kejahilanku akan kumat. Seperti sekarang ini.


"Ck, ngapain kamu di sini?" Tanyanya lagi seraya menjauhkan tanganku dari hidungnya. Dia sudah terbiasa dengan tingkahku yang seperti ini.


"Mau ketemu lu." Jawabku dengan senyum jahil. Dia mendengus kesal.


"Aku tahu! Kalau bukan ketemu aku siapa lagi yang mau kamu temuin di kampus ini." Tanyanya kesal.


Hahaha iya benar juga. Kalau bukan ketemu dia siapa lagi yang mau aku temuin di kampus ini cuma dia yang aku kenal.


"Gua kangen lu baby." Aku mengacak-acak rambut anehnya itu. Ntah kenapa dia memakai rambut palsu seperti ini dan lagi behelnya itu. Ihh jujur aku risih melihatnya itu. Kangen? Aku memang masih kangen padanya. Meskipun sudah bertemu tapi rasa kangenku selama 4 tahun belum terbalaskan.


"Jauhin tangan kamu  zig-zag tangan kamu bau!" Ucapnya ketus kemudian merapikan rambut anehnya itu.


Zig-zag, dia selalu memanggil aku dengan panggilan aneh itu. Terserah dia sajalah.


"Astaga lu...


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku dia sudah memotongnya. Ini salah satu kebiasaannya.


"To the point." Ucapnya singkat.


Oke, kalau sudah begini aku tidak bisa menjahilinya lagi jika tidak mau wajahku babak belur di buatnya. Perlu kalian tahu dia ini jago karate bahkan aku yang seorang anggota kalah sama dia.


Pernah sekali tanganku di patahkannya, ya itu karena kejahilanku juga sih. Walaupun pada akhirnya dia meminta maaf padaku dan berjanji tidak mengulanginya.


"Ada sesuatu yang mau gua tunjukin sama lu." Kataku dengan mengerlingkan mataku padanya.


"Apaan?"


"Ada deh..lu ikut gua ya.." Aku meraih tangannya untuk segera pergi.


"Tunggu Zack." Cegah Flo.


"Ada apa?" Tanyaku kebingungan.


"Aku ada satu mata kuiahl lagi. Ntar sore aja deh."


Aihh gak bisa nih. Nanti rencanaku gagal lagi. Hari ini kan ulang tahun dia. Aku ada janji dengan tante Ambar ibu dari tunangan Flo, tante Ambar itu sahabat Mamah . Tapi aku blom tahu bagaimana rupa tunangan Flo itu. Apa dia setampan aku? Atau lebih jelek dari aku? Hahaha.


"Ntar sore gak bisa baby bentar doang kok. Gua sibuk ntar sore ." Aku mencari alasan.


Sejenak dia berfikir.


Semoga saja Flo mau.


Sekilas aku melihat dari ujung mataku mahasiswa yang aku tanya tadi terheran-heran melihat kami. Mungkin mereka beranggapan kalau kami ini sepasang kekasih yang lagi berdebat.


"Gak bisa Zack.." Tolak Flo.


Astaga kenapa gak bisa sih??


Keajaiban terjadi plisss.....


"Flo...." Panggil seseorang.


Bukan gua serius✌✌


Sejak kapan suara gua berubah jadi suara cewek.


Aku dan Flo menoleh ke belekang. Wanita manis itu yang ingin menjawab pertanyaanku tadi yang memanggil Flo.


"Ada apa Ne??" Tanya Flo yang berjalan ke arahnya.


Ne???


Namanya Ne


Ne.... Ne apa?


"Hari ini kelas terakhir dosennya gak hadir. Jadi kita free." Ucap wanita manis itu sambil tersenyum.


"Wuuahhh senyumnya manis banget mba. Namanya siapa sih?". Tentunya ucapan itu hanya dalam hatiku saja.


Dan great dosennya gas datang. Berarti rencanaku akan berjalan dengan lancar. Trimakasih atas keajaibannya Tuhan.


"Bener Ne?" Tanya Flo tidak percaya dan di angguki oleh cewek manis itu dan seorang pria di hadapannya.


Apa mereka mengenal Flo. Sepertinya kenal dekat. Mungkin.


"Tuh kan baby dosennya gak datang." Ucapku pada Flo tapi mataku memandangi gadis manis itu.


Neng namanya siapa sih???


"Jaga tu mata!" Flo mengusap wajahku dengan sebelah tangannya.


Astaga Flo menghalangi pemandangan indah saja. Aku mendengus kesal.


Gadis itu tersenyum. Manis banget sih....bisa aku bawa pulang gak?


"Dia siapa Flo?" Tanya pria yang ikut menganggukkan kepala tadi.


Saat Flo ingin berbicara aku memotong  ucapannya. Sekali-kali tidak apa-apakan biar jangan dia saja yang memotong ucapanku. *ketawa setan*.


"Ohh..kenalin gua Zack. Zack Richard." Aku menyodorkan tanganku padanya dan di sambut dengan baik olehnya.


"Dave." Ucapnya singkat


Lalu aku beralih pada gadis manis  itu. Kesempatan gak datang dua kali bro. Aku menyodorkan tanganku padanya dia kebingungan. Tapi akhirnya di sambut dia juga.


Uhhh tangannya lembut banget..


"Nela. Nelaretha." Ucapnya dengan senyum manisnya itu.


Astaga namanya..aku suka namanya. Belum puas aku bersalaman dengannya tiba-tiba ada sebuah tangan yang melepas jabatan kami dengan paksa.


Astaga siapa sih ni orang gak tahu apa aku pengen salaman sedikit lama dengan Nela.


Itu bukan Flo ataupun Dave.


Tapi itu pria yang duduk di sebelah Dave. Raut wajah pria itu benar-benar tidak bersahabat.


"ALBERT!" Ucapnya ketus. Dia kenapa? Apa ada masalah dengannya??


"Zack.." Gumamku yang masih bingung dengan sikapnya lalu ia melepaskan tanganku dan orang yang di sebelahnya mengulurkan tangannya.


"Alex.." Ucapnya ramah. Sepertinya dia lebih bersahabat dari si Al..Albert ini.


Lalu pandanganku beralih pada seorang pria yang di pojok sebelah Nela. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Aneh sekali dia. Tadi wajahnya tidak terlalu datar seperti itu saat sebelum Flo datang.


Aku menyodorkan tanganku padanya dia sambut juga sih tapi dengan datarnya dia mengucapkan namanya.


"Axel." Wihhh datarnya kebangetan man.


"Mereka ini sahabat-sahabat aku Zack." Ucap Flo sesaat aku melepaskan jabatan tanganku dari pria datar tadi.


Pantas saja mereka terlihat dekat begitu, sahabatan toh.


"Baby lu masih punya hutang sama gua." Aku menagih janji Flo.  Dia berjanji akan mengenalkan aku dengan tunangannya itu. Yang aku dengar dari tante Ambar tunangannya itu kuliah di sini juga.


"Hutang. Hutang apa?" Tanyanya kebingungan. Dia ini benar-benar lupa atau pura-pura lupa.


Aku berdecak kesal.


"Lu janji bakal kenalin tunangan lu ma gua. Dan gua nagih janji lu." Ucapku dengan tangan yang aku lipat di depan dada.


Wajah Flo berubah. Tubuhnya menegang, dia gelisah, khawatir, ntah lah. Aku tidak bisa mengartikan raut wajahnya. Ada apa dengan dia? .


"Nggg....mmmm nn...ntar aja deh Zack." Jiahh dia ngelak lagi. Gak bisa di biarin nih.


"Gak. Gua mau sekarang. Lu udah bohongin gua. Lu tunangan tapi gak ngasih tau gua. Gimana kalau bodyguard  lu yang over itu tau. Dia pasti ngamuk." Ucapku panjang lebar. Dan dia hanya memasang wajah santainya.


"Dia udah tau kok."


Apa? Si manusia over itu udah tau tentang pertunangan Flo. Dan hanya aku yang tidak tahu. Ini keterlaluan.

__ADS_1


"Apa!? Lu bener-bener keterlaluan baby. Dan sekarang tunangan lu dimana! Cepat kenalin ke gua." Ucapku dengan nada serius.


"Buat apa?"


Astaga! Pertanyaan macam apa itu. Aku ini sepupumu tentulah aku berhak tahu Flora. Ehh kadang dia lelet juga ya.


"Mau gua penjarain. Karna dia udah berani rebut lu dari gua." Ucapku jengah dengan keleletannya.


Flo memutar bola matanya malas. Dan sejenak ku perhatikan teman-teman Flo ini memberikan raut wajah yang kaget atau terkejut mungkin. Itu sama saja bukan. Ok lupakan.


Kalau bertanya pada Flo terus dia tidak akan menjawabnya. Lebih baik aku bertanya pada teman-temannya ini siapa tahu mereka mengenal tunangan Flo.


"Apa kalian kenal tunangannya?" Aku memperhatikan wajah mereka satu persatu. Seketika mereka menganggukkan kepala bersama.


"Siapa namanya? Orangnya yang mana?" Tanyaku bertubi-tubi. Saat teman Flo yang bernama siapa tadi, kalau tidak salah Albert. Ya, Albert ingin mengucapkan sesuatu tiba-tiba Flo menarik tanganku dengan paksa.


"Udah ayo. Katanya ntar sore ada urusan." Flo menarik-narik tanganku hingga meninggalkan teman-temannya yang ku yakini masih kebingungan.


Aku bisa apa jika dia sudah seperti ini. Aku menurut saja sebelum dia marah padaku. Dia memang hanya sepupuku. Tapi aku sangat menyayanginya. Karena aku tidak punya adik, aku hanya punya abang laki-laki itu pun menyebalkan. Aku menyayangi Flo layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya. Bukan hanya Flo tapi juga saudara sepupuku yang lain.


______


Skipp


At Orion caffe


Flo dan Zack duduk di outdoor caffe. Setelah beberapa menit seorang waiters datang dengan membawa nampan. Padahal mereka belum memesan apapun.


"Maaf pak ini pesanan anda tadi." Ucap pelayan itu pada Zack.


"Oh. Terimakasih." Ucap Zack saat menyadari kehadiran pelayan itu.


Lalu pelayan itu pergi setelah meletakkan pesanan Zack di atas meja.


Flo yang masih setia dengan handphonenya tidak menyadari apa yang terjadi di hadapannya.


"Flo.." Panggil Zack. Flo mendongakkan kepalanya ke arah wajah Zack dan mendapati senyuman tulus di bibir Zack.


"Happy birthday." Zack menyodorkan kue tart yang ada di hadapannya kepada Flo.


Flo terkejut melihat itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Bahkan dia lupa hari ini ulang tahunnya.


"Astaga. Zack. Hari ini tanggal berapa?" Flo masih syok.


"Hari ini tanggal lahirmu Flo. Happy birthday yang ke-23." Ucap Zack dengan senyum yang tak pernah pudar di bibirnya.


"A..aku lupa Zack. Makasih." Tiba-tiba Flo memeluk Zack. Ia sangat bahagia. Di berikan kejutan kecil seperti ini.


Flo melepaskan pelukannya. Kemudian Zack memintanya untuk meniup lilin lalu memotong kuenya. Flo menyuapkan sepotong cake pada Zack. Mereka tertawa bersama.


"Ada hadiah buat lu." Ucap Zack di sela tawa mereka. Mata Flo berbinar mendengar itu.


"Hadiah! " Ucap Flo antusias. Zack mengangguk kemudian dia menunjuk ke arah parkiran. Di sana ada sebuah motor yang paling menarik perhatian dari motor yang lain. Flo semakin terkejut melihat itu.


Mulutnya terbuka. Matanya melotot.


"I..itu. Maksud kamu motor itu buat aku?" Tanya Flo yang masih terlihat belum percaya. Pasalnya itu adalah motor yang ia impikan sejak dulu. Tapi dia belum bisa membelinya karena tabungannya belum cukup. Kalau dia meminta pada orangtuanya tentu akan di berikan. Tapi Flo tidak mau terlalu merepotkan kedua orangtuanya hanya untuk memenuhi keinginannya.


"Iya itu hadiah untuk lu. Dari bodyguard  kesayangan lu." Kata Zack.


Flo menatap Zack tidak percaya.


"Sungguh?" Tanya Flo dan di angguki oleh Zack.


"Itu sebagai hadiah ulang tahun lu sekalian permintaan maaf buat lu. Karna mungkin dia tidak bisa hadir di acara pernikahan lu nanti." Ucap Zack panjang lebar. Seketika wajah bahagia Flo berubah menjadi sedih.


"Aku tau dia gak akan datang." Gumam Flo yang masih bisa di dengar oleh Zack.


"Udah Flo. Yang penting dia gak lupa sama lu. Dia janji dia akan pulang. Dan ada gua di sini yang bisa gantiin posisi dia." Zack mengusap rambut Flo dia berusaha menghilangkan kesedihan sepupunya itu. Flo tersenyum lalu ia menatap Zack dengan menyipitkan matanya.


"Hadiah dari kamu mana!" Tagih Flo pada Zack. Zack hanya menunjukkan cengiran kudanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Flo paham jika sudah seperti itu.


"Terus aja gitu. Dari kecil kamu gak pernah ngasih kado ulang tahun buat aku. Dasar pelit!" Flo memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Dia ngambek.


"Ehh..jangan ngambek dong. Sorry, sorry." Zack meminta maaf pada Flo yang sedang mengambek tapi tetap tidak di hiraukan Flo. Jika sudah seperti ini dia akan kebingungan cara menenangkan gadis ini.


"Oke..oke. Sebagai permintaan maaf. Lu bisa minta apa aja yang lu mau. Gua pasti akan kasih." Bujuk Zack pada Flo. Berharap Flo tidak merajuk lagi. Mata Flo kembali berbinar saat mendengar ucapan Flo.


Sejenak Flo berfikir. Lalu bibirnya melengkung senyum.


"Ok." Ucapnya kemudian. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke telinga Zack membisikkan sesuatu.


Zack terlonjak mendengar permintaan Flo.


"Gak. Enggak Flo!" Tegas Zack menggelengkan kepalanya menolak permintaan Flo.


"Yahhh. Zack tadi kamu bilang permintaan apa aja. Aku cuma minta itu doang kok." Ucap Flo dengan wajah memelasnya dan memasang puppy eyes.


"Sekali gua bilang gak. Tetap enggak Flo!" Zack mengetatkan rahangnya. " itu berbahaya buat lu."


"Gua masih bisa jaga lu Flo." Kata Zack datar.


"Kamu gak bisa slalu jagain aku Zack." Flo mengelak dengan wajah yang sudah kesal.


"Sekali gua bilang gak, tetap nggak Flo. Sekarang lu pulang." Zack berdiri dari duduknya menyerahkan kunci motor lalu pergi meninggalkan Flo begitu saja.


____


Flora p.o.v


Saat ini aku sedang berada di dalam taksi untuk pergi ke rumah Mamah Ambar karna tadi Mamah nelpon aku untuk datang ke rumahnya. Aku tidak tahu untuk apa.


Sampai di rumah mamah Ambar aku turun dari taksi. Ku lihat dari luar kenapa gelap ya? Apa tidak ada orang? Tapi untuk apa mamah memintaku datang kesini.


Tanpa pikir lama aku melangkah memasuki gerbang rumah. Sampai di depan pintu aku menekan bel beberapa kali tapi tidak ada yang membukanya. Tanganku terulur mendorong daun pintu.


Ehh pintunya tidak di kunci?


Perlahan aku membuka pintu dan memasuki rumah.


Ampun dahh ini kok gelap banget ya? Apa listriknya mati? Tapi tidak mungkin lampu luar menyala kok dan lampu tetangga lainnya juga menyala. Trus kenapa rumah ini gelap sekali?


Atau jangan-jangan ada perampok lagi terus mamah dan Axel di sekap. Ya ampun apa benar seperti yang ku pikirkan. Secara logika lampu dalam rumah mati dan pintu terbuka.


Aduh. Jantungku berdetak kencang. Pikiranku yang tidak- tidak sudah terbayang.


Aku memberanikan diri berjalan lurus ke depan. Meskipun gelap aku masih bisa berjalan tanpa menabrak sesuatu karena aku mengingat semua letak barang dan benda- benda di rumah ini.


Aku merasa aku sudah sampai di tengah ruangan. Aku bingung kemana aku harus pergi terlebih dahulu. Tiba-tiba lampu menyala.


Dan....


"Surpriseeee........" Aku mematung melihat apa yang terjadi.


"Happy birthday Flora...." suara mereka membuyarkan lamunanku. Aku tersadar apa yang terjadi.


Di sini ada Mamah Ambar, Nela, Dave, Alex, Albert, dan Axel. Mereka memberiku kejutan. Mamah datang membawa kue tart ke hadapanku.


"Happy birthday sayang." Ucap mamah dengan senyum tulusnya.


"I...ini semua untuk Flo?" Tanyaku yang masih ke bingungan.


"Iya sayang."


" happy birthday Flo." Nela memelukku. Aku membalas pelukannya.


"Makasih mah." Aku memeluk mamah Ambar.


Mereka memintaku meniup lilin dan memotong kue. Lalu memberikan potongan pertama pada Axel. Ya seperti yang kalian tahu. Dia tidak suka tapi karena mamah menatapnya tajam dia menerima kue yang aku berikan namun tidak memakannya. Ya sudahlah terserah dia.


Semua yang ada di sini bergantian memberiku selamat mereka terlihat senang sekali tapi tidak dengan Axel. Wajahnya muram. Tapi aku bahagia saat ini mereka memberiku surprise yang tidak aku duga. Bahkan sahabat-sahabatku ada di sini. Aku bahagia sekali sungguh. Tapi kebahagiaan ini terasa tidak lengkap. Ntahlah aku tidak tahu apa itu.


Tadi mamah dan ayahku juga sudah mengucapkan padaku. Aku bahagia sekali mereka tidak lupa.


"Mmm tan kayanya kita harus kasih ruang privasi untuk Flo dan Axel berbicara berdua." Aku menatap tajam Nela yang memberikan usul dia hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Bener tan!!!" suara itu seperti paduan suara dari Alex, Dave, dan Albert. Ihh aku kesal sekali dengan mereka. Mereka kan tahu sikap Axel padaku. Apa mereka ingin membunuhku dengan meninggalkan aku bersama Axel. Ohhh No...


Mah...jangan mah...aku akan mati nantinya. Jangan plisssss


"Kalian benar juga."


Astaga Tuhan. Kakiku benar-benar lunak seperti jelly mendengar keputusan mamah.


Syukurin Lu Flo!


Lu akan mampussss!!!


Aku melirik Axel. Rahangnya mengeras menahan emosi.


Lindungi aku Tuhan.


Hanya itu yang aku ucapkan saat mereka semua menarik paksa aku dan Axel menuju taman samping dekat kolam renang.


"Have fun!!!" Apa-apaan mereka. Have fun apaan? Yang ada aku menderita di sini.


Mereka pergi dengan cekikikan. Tega sekali mereka padaku. Kulihat Axel duduk di kursi panjang putih yang terbuat dari besi. Aku gemetaran dengan seluruh keberanian aku duduk di sampingnya memberikan banyak celah di antara kami. Jantungku berdetak tak karuan.


Kenapa ini Tuhan???


Husshh jantung tenang dikit dong. Kerjasama denganku sekali ini saja pliss.


"Apa yang lu mau sebenarnya."


Deg


Ucapan datar itu keluar dari mulutnya. Ku beranikan diri untuk menatapnya.

__ADS_1


Aku harus tenang


Tenang Flo...


Tenang....


Tarik nafas...


Buang...


Hufff sedikit lega.


Ku tunjukkan ekspresi sebiasa mungkin.


"Maksud kamu?" Tanyaku yang tidak mengerti maksudnya.


"Apa maksud dan tujuan lu masuk ke kehidupan keluarga gua."


Deg


Mata Axel tertuju ke depan dia tidak menatapku sedikitpun saat berbicara.


"A..aku gak punya tujuan apa-apa xel." Ucapku yang masih bingung.


"Gak usah bohong!'' Ucapnya ketus dan itu membuatku terlonjak kaget.


Hufff ini orang bisa gak sih gak buat aku terkejut.


"Jawab gua jujur Flora." Datar ucapannya.


Dia mendesakku hingga aku benar-benar jengah di buatnya. Hingga akhirnya aku menjawab pertanyaannya.


"Iya aku memang punya tujuan masuk ke kehidupan kamu. Puas!" Ucapku tegas.


Axel tersenyum sinis mendengar jawabanku.


Ya sekarang aku memang punya tujuan yaitu untuk melindungi kamu Xel. Melindungi kamu dan mamah dari teror itu.


"Gua udah duga. Mau lu apa?. Uang, harta, jabatan,mobil mewah, atau popularitas. Katakan. gua akan kasih sekarang juga. Dan lu bisa pergi dari hidup gua."


Jlebbb


Hatiku nyeri mendengar ucapannya itu. Apa diriku sebanding dengan tawarannya itu?


"Apa aku sebanding dengan itu?" Tanyaku padanya tanpa mengalihkan pandanganku darinya.


"Ya! Itu cukup sebanding dengan lu!"


Hahh kuatkan aku Tuhan.


"Apa begitu besarnya kebencian kamu sama aku Xel?" Tanyaku lagi dengan penuh keberanian. Aku ingin mendengar semuanya sekarang.


"Iya gua benci sama lu! Lu udah hancurin ketenangan hidup gua! Lu hadir dalam hidup gua adalah suatu kesialan! Sampai kapanpun gua akan tetap benci sama lu!"


Tuhan.


Kenapa harus ku dengar lagi kata-kata itu. Kata-kata itu bisa membunuhku saat ini juga. Lebih baik aku mati dari pada mendengar itu lagi.


Plisss hentikan ini Tuhan.


Aku meremas ujung bajuku dengan kuat agar air mataku tidak jatuh. Hatiku sakit sekali.


"Kapan kamu akan berhenti untuk membenciku." Suaraku bergetar. Tidak-tidak. Flo kamu gak bisa nangis. Kamu jangan terlihat lemah di hadapan Axel.


Aku kuat.


Aku kuat.


Ya aku kuat.


"Sampai lu benar-benar pergi dari hidup gua! Mungkin kalau bisa gua akan berusaha untuk tidak membenci lu!"


Aku tersenyum miris dalam hati.


Mungkin?


Kalau bisa?


Apa sebenci itu dia padaku?


"Lu tau banyak wanita yang lebih dari lu yang gua tolak. Dan lihat lu sekarang. Gua rasa lu ga pantas buat gua."


Ini benar-benar menyakitkan. Sungguh. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain meremas kuat-kuat ujung bajuku. Mungkin ujung bajuku ini sudah koyak akibat remasanku yang terlalu kuat.


"Hanya karna penampilanku?" Tanyaku dengan nada yang rendah.


"Bukan hanya itu. Tapi karna gua mencintai orang lain. Dan dia tidak bisa di gantikan oleh suapapun! Termasuk lu!"


Cinta?


Dia mencintai orang lain?


Kalian tahu hatiku bagaimana sekarang? Ibaratkan luka sayatan yang dalam di taburi garam dan asam. Sakit. Perih! Tak bisa ku gambarkan bentuk hatiku saat ini. Aku benar-benar hancur mendengar ucapannya.


Ya..mungkin benar kita tidak tahu kapan cinta itu hadir. Tapi sekarang aku yakin aku mencintainya meskipun dia tidak pernah bersikap baik padaku.


Aku mencintainya.


"Jadi gua mohon sama lu. Pergi dari hidup gua." Axel menatapku dengan tatapan memohon tangannya menggenggam erat tanganku.


Dia memohon agar aku meninggalkannya.


Ingat dia memohon.


Sepertinya memang benar dia sangat tidak menginginkan aku dalam kehidupannya.


Seorang Axel memohon. Itu sangat mustahil bagiku. Tapi sekarang kalian lihat dia memohon padaku.


Jujur aku ingin menangis dan berteriak. Air mataku sudah di ujung mataku. Tapi aku tahan.


Sudah kukatakan aku tidak ingin terlihat lemah.


Aku menghembuskan nafasku. Berpura-pura kuat. Tapi nyatanya. Hatiku remuk tak berbentuk.


"Hahhh. Aku janji aku akan meninggalkanmu." Sakit saat aku mengucapkannya.


" Tapi tidak sekarang. Aku lihat orang tua kita sangat bahagia dengan perjodohan ini. Biarkan mereka bahagia sebentar saja. Jika sudah tiba waktunya aku akan meninggalkanmu. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku berjanji. Kamu bisa pegang janjiku." Aku tersenyum tulus  padanya.


Tulus?


Tidak sama sekali.


Senyum yang sangat menyiksaku.


Kalau kalian tahu bentuk hatiku saat ini. Mungkin sudah tidak bisa tertolong lagi.


Hancurrrr


Remukkkk


Itu yang kurasakan.


Axel tersenyum bahagia.


Baru kali ini aku melihat dia tersenyum bahagia.


Senyummu itu membunuhku Xel. Kamu bahagia tapi tidak dengan aku.


"Makasih."


Dia mengucapkan terimakasih?


Terimakasih untuk kehancuran hatiku?


Terimakasih Axel.


Axel mendekat. Dia mengulurkan tangannya. Kurasa dia ingin menjabat tanganku sebagai tanda perjanjian.


Tapi aku beranjak dari duduk.


"Sudah malam. Aku harus pulang. Bersabarlah." Ucapku dengan senyum kepalsuan.


Aku pergi meninggalkannya. Aku tidak ingin dia bersikap baik padaku. Karena itu akan menambahkan luka mendalam dalam hatiku.


Aku meninggalkannya. Entah bagaimana ekspresinya aku sudah tidak peduli lagi. Bahkan aku tidak peduli dengan hatiku yang benar-benar hancur saat aku mengatakan aku akan meninggalkannya.


Berjanji pada orang yang kita cintai untuk meninggalkannya itu menyakitkan.


Kata orang-orang aku bahagia jika melihatmu bahagia meski tidak bersamaku itu bullshit itu tidak benar. Buktinya hanya dengan melihat dia tersenyum bahagiapun saat aku berjanji padanya untuk meninggalkannya itu menyakitiku semakin dalam. Apalagi dia bahagia saat aku sudah meninggalkannya.


Kado di hari ulang tahunku ini aku rasa sangat spesial. Mungkin aku tidak akan pernah melupakannya. Di awalnya aku bahagia orang-orang yang aku sayang memberikan kejutan. Tapi di akhirnya orang yang aku cintai memberikan luka yang dalam.


Menyakitkan memang.


Tapi itulah kenyataannya.


Untuk kesekian kalinya aku mendengar ucapan itu.


Untuk kesekian kalinya aku tidak di inginkan dalam kehidupan mereka yang ku cintai.


Apakah aku sanggup untuk menanggung luka yang semakin dalam?


•••••••••••••


 


 

__ADS_1


__ADS_2