Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Memaafkan Masa Lalu


__ADS_3

Hari ini Flo memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan masuk kuliah.


Benar yang dikatakan oleh mamahnya. Dia harus bisa memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Dia tidak ingin hidup dalam kegelisahan.


Flo berjalan menuju kelas. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Flora!!!!"


Suara itu membuat Flo menoleh kebelakang dan dapat ia lihat Nela berlari ke arahnya. Flo membalikkan tubuhnya setelah Nela sampai dihadapannya. Tanpa aba-aba Nela langsung memeluk Flo. Flo kaget tapi ia tersenyum.


"Lu kemana aja sih? Tiga hari menghilang gak ada kabar.  Tau gak kita semua khawatir sama lu." ucap Nela dengan sedih lalu ia melepaskan pelukannya dari Flo.


"Jangan khawatir aku baik-baik aja." senyum tulus Flo tercetak di bibirnya.


"Flo." suara itu membuat Flo melihat orang yang di belakang Nela. Wajah orang itu benar-benar tidak bersahabat tapi Flo  tersenyum ke arah orang itu. Flo tahu pria itu akan marah padanya.


"Kemana aja. Menghilang gitu aja kaya setan tau ga." ucap Dave dengan datar. Flo hanya tertawa cengengesan.


"Flo." suara dari orang yang berbeda memanggil Flo. Alex dan Albert bersamaan memanggil nama Flo.


"Lu baik-baik aja kan?" tanya Alex.


"Lu gak apa-apakan Flo?" tanya Albert.


Flo memutar bola matanya. Ia merasa jengah dengan pertanyaan sahabat-sahabatnya yang mengkhawatirkan dirinya.


"Astaga. Akubaik-baik aja. Lihat sekarang aku berdiri di sini. Gak usah terlalu khawatir gitu." ucap Flo dengan senyum tipis. Dalam hatinya bergumam " Kalian begitu mengkhawatirkan aku. Tapi tidak dengan orang yang aku harapkan. Dia di sini tapi menanyakan kabarku pun tidak."


Flo melirik Axel dengan ujung matanya. Axel biasa saja melihat Flo berbeda dengan teman-temannya yang sangat senang melihat Flo ceria kembali.


Tapi hal yang tidak diketahui siapapun. Axel benar-benar lega sekaligus bahagia melihat Flo baik-baik saja. Tapi ia tidak menunjukkan ekspresi bahagianya.


"Sebenarnya lu kemana aja sih. Kita nyari-nyari lu. Lu tau ga tunangan lu...


Ucapan Nela terhenti mendengar suara seseorang memanggil nama Flo dari belakang.


"Flora..." panggil orang itu dengan Lembut. Mata Flo melebar melihat orang itu.


Reno datang mendekati Flo. Flo menatap Reno tanpa ada rasa benci dan kecewa dalam hatinya.


Alex, Albert, Dave, Nela kaget melihat kedatangan Reno. Yang mereka tahu Reno ada di Sumatra. Tapi kenapa tiba-tiba dia ada di sini.


Lain hal nya dengan Axel. Tangannya mengepal melihat kehadiran Reno. Ia benar-benar muak melihat wajah Reno.


"Flo a..aku mau minta maaf." suara Reno terdengar sangat lembut dan tulus. Wajahnya penuh dengan rasa penyesalan.


"Aku minta maaf Flo. Aku benar-benar di jebak saat itu. Aku ga tau kalau dia akan menyakiti kamu. Maafin aku Flo. Maafin a....


Bugghhhh


Ucapan Reno terhenti ketika ia mendapatkan satu pukulan tepat di wajahnya.


Axel memukul wajahnya. Lalu ia menarik kerah baju Reno dan membawa Reno ke taman belakang gudang.


Flo terkejut melihat aksi tiba-tiba dari Axel dia berlari mengejar Axel dan Reno. Disusul oleh yang lainnya.


Sampai di taman belakang. Axel mendorong tubuh Reno hingga tersungkur ke bawah.


"Xel lu kenapa sih?!" tanya Reno yang kelihatan bingung dengan sikap Axel.


"Lu masih tanya kenapa?! Lu udah nyakitin Flo! Lu menghianati dia!" ucap Axel dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


Reno bangkit berdiri.


"Apa urusannya sih sama lu!" tanya Reno tidak suka dengan sikap Axel yang ikut campur masalahnya dengan Flo.


"Jelas ada urusannya sama gua! Flora itu tunangan gua Brengsek!"


Bughh


Bughh


Kembali Axel memukul wajah dan perut Reno. Pukulan Axel terhenti saat mendengar teriakan Flo.

__ADS_1


"Axel cukup!!!" Flo berlari menghampiri mereka berdua. Melepaskan cengkraman Axel dari kerah baju Reno.


"Kamu gak apa-apa Ren?" tanya Flo dengan khawatir. Ia menyentuh wajah Reno yang memar. Reno meringis dan dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa-apaan sih Flo. Ngapain nolongin dia! Gara-gara dia lu hampir...." ucapan Axel terhenti. Ia mengacak frustasi rambutnya " arggghhh" emosinya yang tertahan ia lampiaskan pada pohon besar yang ada di sana. Axel memukuli pohon itu dengan membabi buta.


Flo yang melihat Axel memukuli Pohon pergi menghampirinya.


"Axel cukup! Apa yang kamu lakukan?" tanya Flo. Namun Axel masih saja memukuli pohon itu. Axel bodoh. Untuk apa dia memukuli pohon itu yang ada dia sendiri yang terluka.


"Hentikan Axel!!!" teriakan Flo membuat Axel berhenti. Punggung tangan Axel mengeluarkan darah. Dengan segera Flo merogoh sapu tangan dari tasnya lalu membalut tangan Axel.


"Untuk apa kamu lakukan hal bodoh seperti ini?" tanya Flo dengan terus membalut luka di tangan Axel. Axel diam tak menjawab pertanyaan Flo.


"Dan darimana kamu tau tentang kejadian itu?" tanya Flo lagi.


"Zack. Dia udah ceritain semuanya sama gua." jawab Axel dengan datar.


Flo mendengus kesal.


"Dasar ember. Tukang gosip. Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan padanya." gumam Flo yang masih bisa di dengar Axel. Axel terus menatap Flo yang dengan telaten membalut lukanya.


"Sudah selesai." Flo menatap Axel. Tatapan mereka bertemu sesaat." dan kamu ga perlu ikut campur. Aku bisa mengatasi masalah aku sendiri." ucap Flo lalu ia berjalan menghampiri Reno. Axel menggeram. Rahangnya mengetat mendengar ucapan Flo.


"Reno kamu ga apa-apakan?" tanya Flo. Ia memastikan apakah Reno baik-baik saja atau tidak.


"Aku ga apa-apa Flo. Aku minta maaf. Aku tau aku salah. Tapi aku di jebak Flo. kalau  aku tau dia akan nyakitin kamu aku ga akan menyetujui permintaannya. Aku akan lebih memilih untuk di laporkan ke polisi dari pada harus nurutin permintaannya. Maafin aku Flo. Maaf.." ucap Reno dengan lirih ia menggenggam erat tangan Flo.


Di belakang mereka Nela,Dave,Albert,Alex dan Axel hanya melihat apa yang mereka lakukan.


"Sudah Ren. Aku sudah memaafkanmu." ucap Flo. Wajah Reno berbinar mendengar ucapan Flo.


"Benarkah Flo. Kamu sudah memaafkanku?" tanya Reno memastikan apakah dia salah dengar ucapan Flo.


"Aku serius aku sudah memaafkanmu. Tapi mungkin persahabatan kita tidak seperti dulu lagi. Kita akan menjadi teman biasa saja. Tidak lebih." ucap Flo.


"Terimakasih Flo." Reno memeluk Flo.


Flo tersenyum tulus.


"Flo ada seseorang yang sangat merindukanmu. Ia ingin bertemu denganmu. Orang yang kau cintai."


Mendengar ucapan Reno. Flo mengernyit. "Orang yang kucintai siapa?" tanya Flo dalam hati.


"Orang yang di cintai Flo?" tanya Axel dalam hati. Ia dapat mendengar jelas percakapan Flo dan Reno karna jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Itu dia." Reno menunjuk ke arah belakang Flo. Flo membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang di tunjuk oleh Reno.


Tubuhnya kaku setelah melihat orang yang di tunjuk Reno.  Flo tidak dapat bergerak. Jantungnya melaju dengan cepat.


Orang itu berlari ke arah Flo dan segera memeluk Flo dengan erat. Seakan enggan untuk melepaskannya.


Axel dan yang lainnya terkejut melihat apa yang terjadi. Mereka tidak tahu siapa pria yang memeluk Flo itu.


Flo masih mematung dalam pelukan pria itu. Ia tidak percaya ini adalah kenyataan. Hingga suara pria itu menarik Flo kedunia nyata.


"I miss you Sayang." ucap Pria itu ditengah pelukannya dengan Flo. Mendengar itu Flo membalas pelukan pria itu.


"I miss you too."  balas Flo.


Mereka berpelukan seakan tak ada orang lain disana.


Pria itu adalah Reyhan. Pacar Flo sewaktu SMA dulu.


"Maafkan aku sayang." ucap Reyhan lirih. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Sementara Axel yang melihat dan mendengarkan itu hanya bisa mengepalkan tangannya. Hatinya terasa nyeri. Ia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


Lalu Axel pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit pada siapapun. Ia pergi menuju parkiran memasuki mobilnya dan keluar dari kawasan kampus. Entah kemana dia pergi.


Dalam hatinya ia tertawa. Kenapa dia harus sedih? Bukannya itu lebih baik. Flo punya kekasih. Dan itu bisa menjadi alasan untuk mengakhiri perjodohan konyol ini.


Tapi...rasanya Axel tidak rela. Tidak rela jika harus mengakhiri semuanya.

__ADS_1


_______


Semenjak kejadian tadi siang di kampus. Axel tidak kelihatan.


Alex maupun Albert tidak mengetahui keberadaannya. Handphonenya tidak aktif. Bi Mar juga mengatakan Axel belum pulang ke rumah.


Sudah pukul 11 malam. Tapi Flo belum juga tidur. Ia terus memandangi laptopnya yang menunjukkan keadaan rumah Axel berharap Axel pulang. Namun nyatanya tidak. Flo semakin gelisah.


Bagaimana jika preman-preman itu mengganggu Axel.


Bagaimana jika mereka menghabisi Axel seperti yang mereka katakan itu?


Hal itu yang berputar dipikiran Flo. Tangannya menyambar handphone yang ada di atas kasurnya. Kembali ia mendial nomor handphone Axel.


Selalu saja operator yang menjawabnya.


Flo menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya saja tadi ia tidak lalai dengan Reyhan mungkin Flo masih bisa melacak keberadaan Axel.


Untuk panggilan yang kesekian kalinya akhirnya handphone Axel terhubung.


Ada rasa lega dalam hati Flo. Namun rasa lega itu hilang ketika Flo mendengar suara di seberang telepon itu.


"Halo.."


"Brengsek!! "


Bughhh


Bughhh


Terdengar beberapa teriakan dari seberang dan suara pukulan. Flo mematung. Mulutnya bergetar.


"Axel...." gumamnya pelan.


Tanpa pikir panjang lagi Flo mengambil pakaian yang biasa ia pakai untuk mengintai Axel. Dia berjalan terburu-buru menuju basement parking menunggangi motornya dan melajukannya dengan cepat. Di tengah jalan ia membuka aplikasi GPS di handphonenya. Mencari tahu dimana keberadaan Axel sekarang. Tanpa menunggu lama lagi ia menemukannya. Axel berada di club.


Suasana jalanan yang begitu lengah membuat Flo tidak berlama-lama untuk menemukan Club itu. Sampai di Club Flo langsung memasukinya.


Dan terlihatlah Axel sedang berkelahi dengan seorang pria. Mereka saling pukul. Namun keadaan Axel yang mabuk membuat ia sulit untuk membalas pukulan pria itu.


Tanpa pikir panjang Flo menghampirinya. Ia menendang pria itu dari belakang hingga tersungkur di atas sofa. Pria itu tidak tinggal diam ia menyerang Flo balik namun dengan sigap Flo menghindari serangan pria itu dan menendang perutnya dua kali hingga pria itu tak berdaya.


Flo menghampiri Axel yang sedang di bantu untuk berdiri oleh seseorang mungkin dia seorang bartender di club ini terlihat dari pakaiannya.


Tanpa banyak bicara Flo mengambil alih Axel dari pria itu.


"Sorry lu kenal Axel?" tanya pria itu pada Flo. Flo menganggukkan kepalanya.


Sepertinya pria itu berusaha untuk melihat wajah Flo. Tapi Flo selalu menghindar. Suasanan penerangan yang remang-remang dan topi yang Flo pakai membbuat pria itu kesulitan untuk melihat wajah Flo.


"Siapa dia?" gumam Pria itu setelah Flo membawa Axel keluar.


Sampai di luar club Flo bingung cara membawa pulang Axel. Ia tidak bisa mengmudikan mobil. Dan tidak mungkin Flo membawa Axel pulang dengan motor.


Lalu Flo memberhentikan sebuah taksi. Meminta supir taksi itu mengantarkan Axel ke alamat rumahnya. Lalu Flo mengikuti taksi itu dari belakang.


Sampai di depan rumah Axel Flo memapah Axel masuk ke dalam rumah namun hanya sampai pintu depan saja. Flo menekan bel beberapa kali. Tak menunggu lama Bi Mar membukakan pintu dengan tergesa-gesa. Setelah pintu terbuka Bi Mar terkejut melihat kondisi Axel yang acak-acakan.


"Ya Allah Aden ada apa ini?" tanya Bi Mar yang sangat khawatir dengan Axel. Flo menyerahkan Axel pada Bi Mar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan terus menunduk Flo meninggalkan mereka sebelum Bi Mar melihat wajah Flo.


Flo tidak memperdulikan Bi Mar yang memanggil-manggilnya. Flo menaiki motornya dan meninggalkan rumah Axel.


Flora merasa lega mengetahui Axel tidak di ganggu oleh preman-preman itu. Ya walaupun Axel babak belur tapi Flo datang tepat waktu untuk menolong Axel.


Ia berjanji dalam hati tidak akan lengah lagi untuk memantau Axel.


••••••


TBC


 


 

__ADS_1


__ADS_2