Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 16


__ADS_3

Dua pasang mata yang saling bertatapan,yang satu memberi tatapan dingin serta sinis dan yang satu lagi memberi tatapan membunuh. Seolah tatapan yang ia berikan ingin segera mencincang habis tubuh lawan jenis yang disampingnya.


Ya,itu Flo da Axel.


Terlihat mereka berjalan beriringan di koridor kampus, Flo yang sedari tadi tak berhenti menatap Axel dengan tatapan tajamnya hingga tidak memperhatikan jalannya lagi.


Bhuukkk


Flo menabrak pilar yang ada di hadapannya, itu mengakibatkan tubuhnya terhuyung kebelakang, seseorang segera menangkap tubuhnya.


"Aduhhh,,," Flo meringis dan menyentuh keningnya yang berciuman secara live dengan tiang yang di hadapannya.


Flo membuka matanya perlahan dan ia terkejut melihat siapa yang menopang tubuhnya sekarang. Matanya bertemu dengan mata orang yang sudah menopang tubuhnya.


Posisi Axel yang menopang tubuh Flo dari samping, dengan dada bidangnya yang menjadi sandaran punggung Flo, kedua tangannya menyentuh lengan Flo dari kedua sisi.


Axel menatap dalam manik mata Flo, begitu pula sebaliknya. Sudah banyak suara yang berbisik bisik dari mahasiswa yang melihat mereka.


Tidak ada pergerakan dari mereka berdua.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Bhhuuuukkkk


Dengan cepat Axel menjauhkan dirinya dari tubuh Flo dan melepaskan tangannya,alhasil Flo jatuh terduduk di lantai. Flo meringis dan memegang bokongnya yang dicium oleh lantai. Sakitnya sekarang menjadi double.


"Lu gila ya! Sakit tau!" Flo mengusap bokongnya yamg terasa sangat ngilu, wajahnya tidak bisa di gambarkan seperti apa, marah, kesal, kesakitan semua menjadi satu.


"Sakit ya? Tapi sayangnya gua ga peduli tuh!" Axel berjongkok di hadapan Flo, "dan ini belum seberapa." Raut wajahnya menjadi semakin datar,setelah mengucapkan itu Axel berdiri dan meninggalkan Flo begitu saja.


Mendengar itu, Flo semakin kesal dan berteriak.


"AXEL SIALAN!!GUA BALAS LU!!" Karna terlalu kesal, Flo tidak sadar banyak mahasiswa yang melihat kearahnya akibat dari teriakannya tadi. dia mencoba bangkit berdiri meski bokongnya masih sangat sakit.


"Ini tiang juga, berdiri sembarangan!" Gerutu Flo, dia terlihat seperti memarahi pilar yang di hadapannya itu.


"Lu yang ga merhatiin jalan, malah tiang yang lu salahin." Suara seseorang dari arah belakang Flo sontak membuat tubuhnya berputar untuk melihat siapa orang itu.


Mata Flo membelalak, tangannya mengepal melihat wajah seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak dengan cepat. Tatapan tajamnya itu seolah-olah ingin membunuh orang yang dihadapannya ini. Tapi dengan segera Flo pergi meninggalkan orang itu. Melihat reaksi Flo, orang itu kebingungan dan bergumam


"Cewek aneh!'' Lalu dia melanjutkan langkahnya lagi.


________


Axel p.o.v


"AXEL SIALAN!!GUA BALAS LU!!"


Aku hanya tersenyum sinis mendengar teriakan itu, tanpa menghentikan langkahku aku terus berjalan.


Ddrrrttt


Ddrrrttt


Getaran handphone yang ada di saku celanaku menghentikan langkahku, dan merogohnya.


Kulihat Mamah calling aku mengernyit, tidak biasanya mamah nelpon pagi pagi gini, dan tadi aku juga sudah pamitan pada mamah sebelum berangkat kekampus.


Ada apa ya?


Perasaannku menjadi tidak enak.

__ADS_1


Segera kugeser tombol berwarna hijau di layar handphoneku dan mendekatkannya pada telinga kananku.


"Halo,ada apa mah?"


"......"


"Hah! Ga, ga mah. Biar dia datang sendiri aja,biasanya juga dia sendirikan?"


"......"


"Hmm,oke,oke. Nanti Axel bawa dia"


Piipp


Aku hanya bisa mendengus setelah  mendengar ucapan mamah. Benarkan yang kukatakan tadi,perasaanku tidak enak. Dan inilah yang terjadi. Mamah memaksaku pulang ke rumah bersama Flo,apa apaan mamah ini,apa dia tidak tahu bahwa aku sangat benci berdekatan dengan wanita itu.


Ahhhkk sudahlah.


Tapi tidak apa, nanti dirumah aku akan memberinya lagi pelajaran.


Tunggu saja Flora Khatarina.


________


Axel berjalan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah setia menunggu kedatangannya.


Axel duduk di hadapan Albert.


"Wiisshhhh, dateng juga lu boss." Ucap Albert, yang kemudian mematikkan korek pada rokok yang ada dihimpitan jari tengah dan telunjuknya.


Iya mereka bertiga memang merokok.


"Lu berdua udah lama?" Tanya Axel pada kedua sahabatnya itu.


"Al, ada cewek tuh,seksi man. Lu gak mau deketin dia?" Alex bertanya pada Albert yang masih asyik dengan rokoknya. Dia berkata begitu karena di antara mereka bertiga hanya Albert yang paling menyukai cewek cewek seksi dan cantik.


"Siapa?" Tanya Albert.


"Lihat aja ke belakang, lu pasti suka man. Gua yakin." Ucap Alex, yang semakin membuat Albert penasaran. Tanpa tunggu lama lagi, Albert segera menoleh kebelakang dengan wajah yang berbinar. Setelah melihat siapa cewek seksi yang dikatakan oleh Alex tadi, raut wajah Albert menjadi datar.


Dengan segera Albert melemparkan bungkus rokok yang ada di hadapannya ke arah Alex setelah tubuhnya berbalik menghadap kedua sahabatnya itu.


"Sialan lu Lex!" Ketus Albert.


Alex dengan sigap menangkap bungkus rokok itu, dan terkekeh melihat wajah Albert.


"Ck, apa omongan gua salah? Tu cewekkan emang seksi man, lu nyari yang kaya gitukan?" Ucap Alex yang kemudian juga ikut menyalakan rokok.


"Gua masih waras kali! Ya kali gua ngedeketin cewek yang kaya begituan,mending gua jadi perjaka tua!" Ketus Albert.


"Lu berdua ga tau, kalau ini cuma pelarian gua aja." Ucap Albert dalam hatinya.


Albert menyukai gadia gadis cantik dan seksi bukan sifat dia yang sebenarnya, itu hanya pelarian. Pelarian, karena sampai saat ini hanya ada satu nama yang masih setia terukir di hatinya. Dan itu tidak akan bisa dihapus oleh siapapun.


"Ck, tu cewek, mahasiswi tercantik di kampus ini bro. Masa lu nolak dia?" Alex tetap menggoda sahabatnya itu yang sudah terlihat kesal.


"Cantik apanya kampret, Tu orang transgender!" kesal Albert,yang kemudian diiringi tawa oleh Alex.


Orang yang di tunjuk oleh Alex tadi adalah Sonia,seorang transgender yang sebelumnya bernama Soni.


"Cantik......"


Alex dan Albert saling memandang, dan sama sama menggelengkan kepala seolah berkata " bukan gua". Lalu mereka menatap Axel, yang sedang senyum senyum sendiri dan tatapannya lurus ke depan.


"Indah......"

__ADS_1


Lagi, itu Axel yang mengucapkan. Albert dan Alex semakin bingung,dan kemudian melihat kearah yang ditatap oleh Axel. Mata mereka berdua, melotot sempurna melihat apa yang di tatap oleh Axel, dia adalah Sonia.


"Coklat yang indah...."


Alex dan Albert semakin bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut Axel. Mereka berdua saling tatap.


"Dia kenapa?" Tanya Alex yang menunjuk Axel dengan jarinya dan wajahnya yang masih terlihat bingung.


"Ga tau gua, kesambet kali." Jawab Albert dengan raut wajah yang tak kalah bingung dari Alex.


"Woiii" Albert menepuk pundak Axel tiba-tiba, dan itu membuat Axel tersadar dari lamunannya.


"Ck, lu apa apaan sih, buat gua kaget aja!" Kesal Axel melihat Albert yang mengganggunya.


"Lu kenapa? Jangan bilang lu suka ma Sonia?" tanya Alex dengan raut wajah yang menatap Axel dengan curiga.


Mendengar itu,Axel bergidik ngeri.


"Apaan sih lu pada. Gua masih waras ya." ucap Axel.


"Ya dari tadi mata lu itu kearah Sonia mulu.'' kata Albert.


"Dan lu ngomong ga jelas." lanjut Alex


"Ck, apaan sih." hanya itu yang di ucapkan oleh Axel,dan raut wajahnya kembali datar seperti biasa.


"Ya syukurlah lu masih waras man. Tapi kok tadi lu bilang cantik, indah,coklat yang indah apaan tu maksudnya" tanya Alex.


Axel mengernyit, bingung.


"Gua gak ngucapin kata kata kaya gitu. Ngaur lu berdua." elak Axel, sebenarnya dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya tadi.


"Lu pikir kita budek?" ucap Albert, dan kemudian wajah Albert mendekat kearah Axel yang duduk di hadapannya, Albert tersenyum misterius yang membuat Axel bergidik ngeri.


"Atau jangan jangan...." Albert menggantungkan ucapannya.


"Jangan jangan apaan?" tanya Axel masih dengan wajah datarnya.


Melihat tingkah Albert, Alex mendengus dan menggelengkan kepalanya. Sahabatnya yang satu itu memang aneh, sok misterius, dan sok dramatis.


"Jangan jangan lu lagi jatuh cinta ya?" tanya Albert dengan senyum yang menjijikkan bagi Axel.


"Ck, ngaur lu." ucap Axel, yang kemudian bangkit berdiri dari kursinya, dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Alex juga ikut berdiri untuk menyusul Axel.


"Sok misterius lu!" ucap Alex yang kemudian mengusap wajah Albert dengan telapak tangannya lalu pergi.


"Cihhh,, tangan lu asin kampret!'' ucap Albert yang memelet meletkan lidahnya.


"Iya, tadi gua abis ngupil." ucap Alex lalu pergi dengan cepat,dan tertawa terbahak bahak.


"Alex awas lu ya, kampret!" teriak Albert,wajahnya sudah memerah. Lalu dia berlari menuju toilet pria.


Itu adalah hal biasa bagi mereka. Justru hal aneh seperti itu yang membuat persahabatan mereka semakin erat.


••••••••••••


Garing banget ya? Emang iya sih.


Hehehe sorry, this is my first story.


 


 

__ADS_1


__ADS_2