Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 34


__ADS_3

Aku berjalan dengan lesu. Aku benar-benar kecewa pada Axel. Hingga sampai pagi ini pun aku masih dalam keadaan  badmood .


Sebenarnya aku merasa sedikit aneh. Sepanjang jalan dari gapura kampus sampai ke depan kantin semua orang memperhatikanku dengan tak henti-henti. Apa ada yang salah denganku?


Akhh sudahlah aku tidak peduli. Moodku lagi buruk hari ini.


Ting


Suara pesan di handphone ku.


Kulihat di layar handphone chat dari Nela.


Nela


Kita di kantin. Datang kesini aja.


Read.


Aku sudah tahu mereka di kantin. Tidak ada tempat mereka untuk bergosip selain di kantin.


Apasih. Dari tadi mata mereka memandangiku terus. Aku risih melihat orang-orang yang memperhatikanku sejak tadi.


Jangan buat moodku semakin buruk oke!


Bisa-bisa mereka habis kucakari.


Tapi rasanya ada yang aneh dalam diriku. Seperti ada yang kurang gitu.


Tapi apa? Aku tidak tahu.


"Ehh lu Flora kan?" Tanya April teman sekelasku.


Dia ini **** apa amnesia sih. Masa dia lupa denganku. Setiap kali ada tugas dia selalu memintanya dariku.


"Ya iyalah. Siapa lagi!" Ucapku ketus.


"Lu cantik banget." Ucapnya lagi.


"Baru tau!" Ketusku lagi. Aku benar-benar kesal padanya. Kutinggalkan dia begitu saja.


Ini ya perhatian buat para lelaki. Kalau cewek lagi badmood itu jangan di ganggu. Itu sama saja kalian membangunkan singa yang kelaparan. Kalau tidak ingin di timpuk dengan sepatu lebih baik kalian menghindar saja.


Aku berjalan gontai menuju kantin.


Dan kulihat di pojok sana ada Nela, Dave dan Axel Cs.


Ohh Nela bisa tidak pindah dari sana. Aku sedang tidak ingin melihat wajah Axel.


"Flora.." Panggil Nela antusias. Aku menghampiri mereka. Nela memelukku secara tiba-tiba.


Apalagi ini??


Dan Dave. Dia tersenyum puas melihatku.


Apa mereka begitu merindukan aku? Tapi tidak mungkinkan. Baru kemarin ketemu. Ya walaupun sebentar karena aku di larikan ke rumah sakit. Dan syukurlah karena Kevin membawaku ke  rumah sakit, aku merasa lebih baik sekarang.


Tapi tidak seperti biasanya mereka seperti ini.


"Akhirnya lu tunjukin diri lu yang sebenarnya." Kata Nela lalu melepaskan pelukannya.


Apalagi ini maksudnya aku benar-benar mengerti. Serius ✌✌.


Sesaat kulirik Axel, Albert dan Alex. Mereka menganga melihatku. Seperti orang idiot begitu. Sampai-sampai rokok yang Axel pegang jatuh ke meja.


Ada apa ini?


"Duduk Flo." Ajak Dave. Lalu aku duduk di hadapannya. Di sampingku ada Nela dan Alex. Lalu di hadapan kami ada Dave, Axel dan Albert.


Dave dan Nela senyum-senyum tak jelas. Sementara Axel dan yang lainnya tidak berkedip menatapku.


Heiii


Apa mereka kesambet penunggu kantin ini.


"Ehh semua orang pada kenapa sih? Kok ngelihatin AKu gitu banget?" Tanyaku yang kebingungan.


"Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanyaku lagi.


Ehh


Tunggu dulu.


Wajahku??


Ku raba wajahku, mulutku dan rambutku.


Oh my god.


Double shit!!!!


Apa-apaan ini. Kenapa aku bisa lupa memakai wig dan behelku.


Astaga Tuhan apa yang terjadi setelah ini. Apa Axel akan mengenaliku.


Aku memekik sendiri. Lalu aku berlari menuju toilet. Meninggalkan mereka begitu saja.


Ku dengar Nela memanggilku tapi ku hiraukan saja.


Aku masuk ke dalam toilet dan mengunci pintunya.


"Arghh bodoh..bodoh..bodoh!!" Aku merutuki diriku sendiri.


Bagaimana bisa aku lupa? Astaga Tuhan permintaanku hanya satu semoga Axel tidak mengenaliku.


Itu saja permintaanku untuk saat ini.


Akhh bagaimana ini.


Pantas saja semua orang menatapku dengan tatapan aneh begitu.


Siapa saja tolong aku sekarang juga.


______


Flora tidak berani lagi pergi ke kantin. Dia langsung menuju kelas. Di kelaspun banyak orang yang mengerumuninya termasuk laki-laki kebanyakan.


Ada yang meminta id line, nomor WA, pin BBM, dan masih banyak lagi. Flo tidak tahu harus berkata apa.


Ini semua karna kecerobohannya. Bisa-bisanya dia lupa.


Semakin lama semakin banyak orang yang mengerumuninya. Padahal kemarin-kemarin mereka tidak seperti ini. Hanya ada Nela dan Dave yang selalu di sampingnya.


Tapi sekarang banyak sekali yang mendekatinya.


Rasanya Flo ingin menangis saja.


"Woii pada ngapain nih!" Teriakan Dave membuat orang-orang itu menoleh ke arah pintu.


"Uhh Dave. Kamu emang pahlawan ku." Gumam Flo.


Dave dan Nela datang mendekati kerumunan itu.


"Apaan sih Dave. Lu ganggu aja. Kita lagi berusaha merebut hati  bidadari ini." Ucap seorang mahasiswa yang terus memandangi Flo yang menopang dagunya dengan tangannya dan selalu tersenyum pada Flo.


Flo benar-benar merasa jijik.


"Iya tapi sebelum kalian puas memandangi wajah Flo. Wajah lu pada udah hancur duluan." Ujar Dave yang berjalan ke arah kursi sebelah Flo." Minggir lu ini tempat duduk gua!" Ucap Dave dengan jengkel pada seorang mahasiswa yang duduk di kursinya. Mahasiswa itu berdiri.


"Maksud lu apa?" Tanya seorang yang lain. Mereka tidak mengerti maksud ucapan Dave.

__ADS_1


"Ohh ternyata kalian belum tau? Flora ini calon ISTRI Axel Frinandra Kusuma!" Dave menekankan kata Istri. Sontak semua mahasiswa kaget tak percaya dengan apa yang di katakan Dave.


"Serius lu." Ujar seorang yang lain.


"Ya tanya aja sama Flo sendiri. Atau tanya Axel." Ujar Nela yang berdiri di samping Dave. Nela tersenyum puas melihat para mahasiswa itu bubar begitu saja.


Ya tidak ada yang mau berurusan dengan Axel. Orang yang paling di segani di kampus ini. Bahkan para dosenpun segan terhadapnya.


"Thanks kalian udah nyelamatin aku." Ucap Flo. Setelah mahasiswa-mahasiswa itu membubarkan diri.


Dave dan Nela tertawa bersama.


"Kenapa?" Tanya Flo kebingungan melihat kedua sahabatnya itu.


"Wajah lu lucu banget kalau ketakutan gitu." Ledek Dave. Flo mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kenapa lu pergi tadi?" Tanya Nela setelah mereka berhenti tertawa.


"Aku malu." Jawab Flo.


"Kenapa harus malu? Bukannya udah siap nunjukin diri lu yang sebenarnya?" Tanya Dave.


"Bukan Dave. Ini tuh gka sengaja. Aku lupa pakai rambut sama behel ." Jawab Flo. Wajahnya terlihat kesal pada dirinya sendiri.


Hahahha


Mereka berdua tertawa lagi.


"Ketawa aja terus!" Ketus Flo. Sontak mereka berdua terdiam.


"Sorry. Udah ah jangan di pikirin. Bring enjoy aja." Ucap Nela yang mengusap lengan Flo. Flo menganggukkan kepalanya.


"Ok. Kalau gitu. Nanti lu harus ikut kita nongkrong. Di perempatan kampus ada Caffe yang baru buka. Kita mau coba menu di sana." Ucap Dave." Gua gak mau dengar penolakan." Sambung Dave lagi saat Flo membuka mulutnya ingin menolak ajakan Dave. Nela terkekeh melihat Flo yang mendengus kesal.


"Sekalian Dave mau balikan sama Anya." Ujar Nela dengan tawa kecil. Dave menatap tajam Nela.


"Maksudnya?" Tanya Flo tidak mengerti.


"Dave mantan pacarnya Anya sepupu Axel." Kata Nela tanpa memperdulikan pelototan maut dari Dave.


"Ohh ada maksud toh!" Ujar Flo saat dia sudah mengerti. Nela dan Flo tertawa terbahak-bahak melihat Dave yang mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.


_______


Saat ini mereka sudah berada di Caffe tempat yang Dave katakan tadi.


Bagi Flo suasana menjadi sangat canggung dan kaku. Ia merasa seakan baru bertemu dengan Axel, Alex dan Albert. Axel yang duduk di hadapan Flo hanya bisa menatapnya dengan tatapan kagum dan tak percaya.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu jika selama ini Flo menyembunyikan kecantikannya. Dan ternyata rambut dan behelnya itu hanya palsu." Batin Axel.


"Woii jangan pandangin Flo terus. Ntar jatuh cinta tau rasa lu!" Ucap Albert yang berada di ujung barisan Flo.


"Apaan sih lu! Gak mungkinlah!" Lagi Axel menyangkalnya. Flo tersenyum kecut mendengar ucapan Axel.


"Sudah biasa." Gumamnya dalam hati.


"Flo kok bisa lu tutupin diri lu yang sebenarnya?" Tanya Alex. Ini adalah pertanyaan terberat yang harus di jawab oleh Flo. Seakan-akan dia dalam sidang keputusan hakim. Penjara seumur hidup atau hukuman mati.


Flo meneguk salivanya dengan susah payah. Dia tidak tau harus menjawab apa.


"Maaf aku telat." Suara seorang wanita menyelamatkan Flo dari pertanyaan Axel. Flo bernafas dengan lega.


"Selamat...." Batinnya.


"Ehh Anya udah sampai?" Tanya Nela. Lalu mereka berpelukan.


Wanita cantik berambut hitam itu adalah Anya Anjani sepupu Axel.


"Ya ampun Ann lu makin cantik aja." Puji Albert lalu mereka bersalaman.


"Makasih. Hai Lex." Sapa  Anya pada Alex yang duduk di sebelah Axel.


"Ya gitulah. Haii Dave." Kini Anya berpaling kepada Dave yang di sebelah Flo.


"Hai." Ucap Dave kaku. Jantungnya benar-benar ingin meledak saat ini juga. Lalu Anya berpindah pada Flo.


Hanya Flo yang belum ia kenal disini.


"Hai aku Anya Anjani." Ucap Anya lalu ia menyodorkan tangan pada Flo dan di sambut baik oleh Flo.


"Flo." Jawab Flo singkat. Anya terkejut mendengar nama Flo.


"Flo. Flora?" Tanyanya. Flo menganggukkan kepalanya dan tersenyum." Flo calon istri Axel?" Tanyanya lagi. Flo menganggukkan kepalanya kaku. Entah bagaiman ekspresi Axel saat ini. Anya memeluk Flo.


"Ya ampun kamu cantik sekali. Tapi Axel bilang kamu ga menarik sama sekali. Apa matanya buta." Kesal Anya pada Axel yang mengatakan Flo tidak cantik. Axel hanya menggeretu tidak jelas, mengapa Anya mengatakan itu. Awas saja nanti dia akan mengomelinya.


"Maaf ya belum sempat mampir ke tempat kamu." Ucap Anya lalu ia melepaskan pelukannya.


"Gak papa." Jawab Flo dengan senyum indahnya." O iya. Kamu mantannya Dave ya?" Tanya Flo polos. Nela dan yang lainnya sedang menahan tawa mereka. Sementara Dave menunduk malu. Dan Anya pipinya bersemu merah. Malu mungkin.


"Gak usah malu gitu. Ayo duduk. Di sini di samping Dave." Ujar Flo lalu mendorong lembut pundak Anya hingga ia duduk di samping Dave.


"Mati gua. Lu tenggelamin aja gua Flo." Gerutu Dave dalam hati. Ia merutuki kepolosan Flo. Albert dan Alex sudah cekikikan.


Suasanapun menjadi canggung antara Dave dan Anya.


Flo melihat kearah Timur Caffe. Ia melihat seorang pria sedang marah pada seorang wanita.


"Kevin?" Gumamnya." Aku kesana bentar ya." Pamit Flo pada mereka semua. Flo menghampiri orang yang ia kenal seperti Kevin.


"Kevin." Panggil Flo. Dan benar dia adalah Kevin.


"Loh. Flo ya ampun kamu..kamu kok ada di sini?" Tanya Kevin. Ia terlihat bahagia melihat Flo berada di sana dan dengan penampilannya yang sebenarnya.


"Aku sama sahabat-sahabat aku." Tunjuk Flo kearah tempat duduk sahabat-sahabatnya." Kamu ngapain di sini?" Tanyanya balik.


"Ini caffe yang baru aku buka." Ucap Kevin.


"Wahh selamat ya. Tapi kok kamu gak kasih tau aku?" Flo cemberut.


"Maaf. Tadi aku mau ngasih tau kamu. Tapi karna kemarin kamu masuk rumah sakit. Aku tunda buat ngasih tau kamu." Ujar Kevin. Dan ia tersenyum melihat Flo yang cemberut.


"O gitu. Trus kenapa kamu kaya marah-marah gitu?" Tanya Flo lalu ia menatap wanita yang ada di hadapan Kevin.


"Oh ini. Dia penyanyi caffe disini. Tapi katanya dia ga bisa nyanyi karna suaranya serak. Padahal hari ini ada orang besar yang datang ingin memasang iklan caffe ini. Dan ini adalah kesempatanku untuk memperkenalkan caffe ini Flo." Kata Kevin panjang lebar. Kemudian ia melirik wanita yang di hadapannya itu dengan kesal.


"Maaf pak." Ucap wanita itu dengan suara seraknya. Suaranya benar-benar serak hingga tak enak untuk di dengar.


"Vin.. Suaranya benar-benar serak. Kalau kamu paksa dia kasihan kan? Dan lagi tamu kamu pasti tidak suka nantinya." Ujar Flo. Ia kasihan melihat wanita itu.


"Tapi Flo..


"Sudah jangan diperpanjang lagi. Biarkan dia istirahat. Dan kamu jangan coba-coba untuk memecatnya!" Tegas Flo pada Kevin. Entah kenapa Kevin menurut pada Flo. Padahal dia adalah manusia keras kepala. Tidak ada yang bisa membantahnya. Tetapi pada Flo ia tidak bisa berkutik.


"Flo kemana ya? Kok lama banget." Ujar Nela. Matanya mengitari seluruh ruangan caffe tapi tidak ada Flo.


"Tadi dia bilang kemana?" Tanya Dave.


"Dia ga bilang. Apa jangan-jangan tu anak tersesat?" Tanya Nela.


"Ehh Nelampir ini tuh Caffe. Bukan Grand Indonesia!!" Ketus Albert.


"Brisik lu. Ulat bulu diam deh!!" Ucap Nela tak kalah sinis. Alex dan Dave menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua. Sementara Anya tersenyum kecil. Dan Axel. Seperti biasa. Wajahnya datar.


"Ehh itu bukannya Flora ya?" Tanya Anya yang menunjuk kearah panggung kecil di depan.


"Iya. Tuh anak ngapain di sana?" Tanya Dave kebingungan. Sama halnya dengan Nela,Axel,Alex dan Albert juga bingung melihat Flo yang berada disana.


Ngapain Flo berada di atas pentas?

__ADS_1


Flo duduk dikursi tepat ditengah pentas yang dilapisi karpet merah. Ia memegang gitar dan mig yang berdiri dihadapannya.


Ia menoleh kebelakang, tersenyum pada seorang organis dan menganggukkan kepala seolah memberi isyarat.


Flo mulai memetik gitar dan diiringi dengan suara organ yang begitu merdu ia menyanyi.


Say something


Say something  i'm giving up on you


I'll be the one if you want me too


Anywhere,I would've followed you


Say something,I'm giving up on you


And I am feeling so small


It was over my head


I know nothing at all


And I will stumble and fall


I'm still learning to love


Just starting to crawl


Say something I'm giving up on you


I'm sorry that I couldn't get to you


Anywhere I would've followed you


Say something I'm giving uo on you


And I swallow my Pride


You're the one that I love


And I'm saying goodbye


Axel tak berkedip Flo yang berada di atas panggung. Ia tak bergerak saat mendengar suara Flo menyanyi. Sesekali Flo melirik Axel. Pandangan mereka bertemu. Namun dengan cepat Axel mengalihkan pandangannya.


"Gila. Suara Flo bagus banget man!" Ujar Albert. Yang lainnya hanya mengangguk menyetujui ucapan Albert dan terus mata mereka menatap Flo yang ada di depan.


Say something I'm giving up on you


I'm sorry that i couldn't get to you


Anywhere I would've followed you


Oo..oo..


Say something I'm giving up on you


Say something....


Flo mengakhiri lagunya. Semua pengunjung caffe bertepuk tangan dengan riuh.


Flo tersenyum lalu ia turun dari panggung itu menuju tempat duduk teman-temannya.


"Ya ampun Flo. Gua ga nyangka suara lu semerdu ini" puji Nela antusias.


"Ah Ne. Biasa aja." Jawab Flo malu-malu.


"Flo lu keren. Serius." Puji Albert.


Mereka semua kagum pada Flo. Namun Axel. Dia biasa saja.


"Flo." panggil seseorang dari belakang. Kevin menghampiri Flo dan berdiri dihadapannya. Tiba-tiba Kevin memeluk Flo dengan erat tanpa mempedulikan orang-orang disekitar mereka.


"Astaga. Makasih Flo. makasih." ucap Kevin ditengah-tengah pelukan mereka dengan penuh antusias.


Saking eratnya pelukan Kevin hingga Flo sulit untuk bernafas.


"Ehh i..iya Vin. Tapi..lepas..dulu aku gak..bisa nafass." Ucap Flo terengah-engah. Kevin melepaskan pelukannya.


"Ehh maaf Flo. Habisnya aku senang banget. Kamu tau kolega aku tadi setuju mengiklankan caffe ini." Kata Kevin dan kembali memeluk Flo dengan lembut.


Mereka terlihat seperti pasangan romantis saja.


"Iya sama-sama." Ucap Flo. Kevin mengurai pelukannya pada Flo. Raut wajah bahagia Kevin tidak luntur.


Tanpa ada yang menyadari sedari tadi Axel yang ada di samping mereka sedang menahan emosinya. Wajahnya memerah. Lain halnya dengan Nela, Dave, Anya, Alex dan Albert. Mereka hanya melihat pemandangan itu dengan ekspresi terkejut.


"Pak. Bapak ditunggu pak Gilbert diruangan Bapak." Ujar seorang waiters pada Kevin yang datang menghampiri mereka.


"Ehh baik. Saya akan menyusul." Jawab Kevin. Waiters itu pergi meninggalkan mereka.


"Flo aku kesana dulu ya." Ucap Kevin pada Flo. Flo menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Kevin melangkahkan kakinya tapi ia berbalik kearah Flo. Tiba-tiba Kevin mencium pipi Flo lalu berkata " I LOVE YOU." Ucapan yang dapat didengar oleh Axel dan yang lain. Lalu Kevin berlalu begitu saja.


Mata Flo melotot sempurna melihat aksi Kevin. Tangannya meraba pipi yang dicium oleh Kevin tadi. Iya tidak percaya Kevin menciumnya didepan orang banyak, sahabat, bahkan calon suaminya.


Nela dan Anya menutup mulut mereka dengan Tangan mereka sendiri. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sama halnya dengan Dave, Alex dan Albert mereka juga terkejut.


Axel. Rahangnya semakin mengeras dan tangannya terkepal sempurna.


Flo masih tetap tidak bergerak dari tempat ia berdiri.


Axel berdiri dan dengan penuh emosi dia menarik tangan Flo dengan paksa membawanya keluar caffe.


"Waw dramanya keren bro." Ucap Albert. Mereka semua hanya bisa menatap punggung Flo dan Axel yang semakin menjauh.


Sampai diparkiran Flo yang  sadar bahwa ia ditarik-tarik oleh Axel. Flo menghempaskan cekalan Axel yang ditangannya.


"Apa-apaan sih Xel! Sakit tau!" Ketus Flo. Luka yang dilengannya masih sakit tapi Axel malah menarik-narik tangannya.


Mata Axel memerah menatap tajam mata Flo.


"Kamu apa-apaan pelukan dan dicium orang itu didepan banyak orang! Kamu ga malu!" Bentak Axel pada Flo.


"Tapikan aku ga tau dia mau cium aku." Ucap Flo pelan.


"Alahhh alasan. Bilang aja kamu ada hubungan spesial sama dia. Untuk apa dia bilang i love you sama kamu!" Ucap Axel dengan tajam.


"Ya aku ga tau." Jawab Flo seadanya." Kenapa kamu jadi marah. Kan kamu yang bilang aku bebas melakukan apa saja." Ucap Flo. Mengingatkan Axel dengan ucapannya tadi malam.


Axel diam. Tak dapat berkata apa-apa. Ia mencoba mencari alasan.


"Ya. Kamu lihat disana ada Anya kalau dia kasih tau mamah bagaimana? Mamah pasti akan sedih." Ucap Axel. Itu hanyalah alasannya saja.


"Tenang saja. Anya pasti tidak akan memberitahu mamah. Dan aku akan bermain dengan hati-hati." Jawab Flo dengan santai. Flo mengucapkan itu hanya asal-asalan ia masih tidak ingin berinteraksi dengan Axel. Ia malas berbicara dengan Axel. Bukannya dia yang mengatakan jangan menggunakan perasaan dalam hubungan mereka. Ya inilah jadinya.


Axel yang mendengar ucapan Flo melebarkan matanya.


"Bermain dengan hati-hati? Jadi mereka ada hubungan?" Tanya Axel dalam hati. Ia masih mencerna ucapan Flo. Tapi Flo pergi meninggalkannya begitu saja masuk ke dalam caffe.


Ntah apa yang dirasakan oleh Axel. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


•••••••••


TBC


 


 

__ADS_1


__ADS_2