
Cahaya matahari yang menelusup masuk dari kaca jendela membangunkan aku dari tidurku.
Perlahan kubuka mataku untuk menyesuaikan penglihatanku.
Ini di kamarku.
Aku duduk di tengah kasur.
Kenapa bisa aku disini?
Seingatku kemarin sore aku di rooftop apartemen.
Dan aku bertemu dengan papi.
Papi?
Sadar akan apa yang aku ingat,aku mencari keberadaan Papi.
"Papi? Papi dimana?"
Tidak ada jawaban.
"Papi, Flo kangen papi."
Tetap tidak ada jawaban.
Aku mengusap wajahku setelah sadar akan apa yang sudah terjadi.
Mungkin pertemuanku dengan Papi hanya dalam mimpi.
Ku lirik jam dinding yang tergantung manis di atas pintu.
Pukul 9.30
Aku bangkit dari kasur,menuju kamar mandi. Setelah selesai aku keluar dari kamarku.
Saat membuka pintu kamar, aku mendengar suara televisi.
Apa jam segini Axel belum berangkat ke kantor?
Penasaran, aku menghampirinya ke ruang tamu.
Bukan Axel yang duduk di sofa.
Aku menghampirinya.
"Anya?" tanyaku sembari menyentuh pundaknya. Dia menoleh padaku. Dan benar dia Anya.
"Astaga Flo, kamu sudah sadar?" Dia berdiri dan bertanya padaku, ekspresi wajahnya itu menunjukkan rasa lega yang besar.
Dia kenapa?
Sadar?
Aku kan baru bangun tidur.
"Kamu ngapain disini?" tanyaku padanya. Tidak biasanya Anya ada disini tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
"Ya nungguin kamu lah." jawabnya.
Aneh!
Ngapain harus nungguin aku?
Aku mengerutkan dahiku. Tidak mengerti apa maksud ucapannya.
Tapi ya sudahlah. Aku malas membahasnya.
Aku lapar.
Aku berjalan ke arah dapur, dan Anya mengekoriku.
"Kamu udah lama disini?" tanyaku pada Anya tanpa menoleh ke belakang.
"Jam delapan tadi." jawabnya. Dengan terus mengekoriku.
"Aku lapar. Kamu udah makan?" aku membalikkan tubuhku menghadapnya.
"Belum." jawabnya. Lalu Anya duduk di kursi pantry membuka sebuah bungkusan.
"Kita makan bareng ya. Ini tadi di titipin tante Ambar." ucapnya. Aku duduk di sampingnya.
Ahh ini rejeki nomplok. Aku ga perlu repot-repot memasak mie instan.
"Ahh kebetulan sekali. Ayo kita makan." ajakku padanya dengan kegembiraan yang full.
Kami makan bersama-sama. Sesekali kami saling bertanya tentang kegiatan-kegiatan beberapa hari ini.
Aku menghentikan aktivitas makanku sejenak, meletakkan garpu dan sendok di atas piring.
"Gimana hubungan kamu dengan Dave?" aku menatap Anya yang masih menikmati makannya.
Sejenak dia melirikku sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya, begitu. Masih seperti semula." jawabnya santai.
Astaga, dia ini bagaimana?
"Kemarin Dave mengajakku keluar, tapi aku tidak mau." lanjutnya lagi.
"Kenapa?" tanyaku dengan terus menatapnya yang masih mengunyah makanan.
Dan dia hanya mengedikkan bahunya.
Ya ampun Anya, aku tahu dia masih mencintai Dave. Tapi kenapa dia tidak ingin kembali pada Dave.
Sepertinya aku punya ide untuk mengerjainya.
Ku raih sendok dan garpu milikku,dan kembali memakan sarapanku.
"Hari ini tidak ada jadwal ke kampus. Aku bosan di apartemen. Mau keluar bareng Nela, mobilnya rusak. Dengan Dave, dia pasti tidak bisa." aku berpura-pura mendengus kesal.
"Kenapa Dave tidak bisa?" tanyanya. Asyik, dia merespon ucapanku.
"Dave pasti kencan dengan Nina." jawabku tanpa melihat ke arah Anya.
Dari ujung mataku dapat kulihat Anya menghentikkan gerakan makannya.
"Nina?" tanyanya memperjelas. Aku tersenyum dalam hati. Nah loh,penasaran kan?
"Iya Nina." jawabku dan menatapnya yang juga sedang menatapku. Wajahnya sedikit tidak senang mendengar nama Nina. "Nina itu satu kelas denganku dan Dave di kampus. Kata Nela sih Nina sudah lama menyukai Dave. Semenjak mereka masuk kampus." kataku dengan santai. Wajah Anya terlihat memerah.
Apa dia cemburu?
Anya menatap kosong ke arah meja pantry, tapi aku tahu dia masih bisa mendengar ucapanku.
"Dan kamu tahu? Nina itu sangat agresif. Dia selalu dekat-dekat pada Dave. Aku takutnya Dave akan luluh padanya. Dan kamu ga punya kesempatan lagi untuk kembali pada Dave." sesaat kulirik ke arah Anya,tubuhnya menegang mendengar ucapanku itu.
Ternyata dia percaya dengan bualanku.
Tapi semua yang ku ucapkan itu ada benarnya juga. Nina itu memang menyukai Dave. Tapi itu dulu. Sejak Dave menolaknya Nina sudah menjauh dari Dave.
Nina maafkan aku ya,aku sudah mengkambing hitamkan kamu.
I'm so sorry Nina.
Anya meletakkan sendok dan garpunya di atas meja.
"Kamu ga bohong kan Flo?" Anya menatapku dengan tatapan menyelidik.
"Mmm terserah kamu percaya atau tidak. Aku hanya mengingatkan kamu saja. Agar nanti kamu ga nyesel." aku bangkit dari kursi menuju wastafel dapur untuk mencuci piringku yang sudah kosong.
"Hati itu sangat sensitif Ann. Dia bisa berpaling saat dia tahu perasaannya tak terbalaskan. Dan kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya." ku keringkan tanganku dengan kain serbet setelah selesai mencuci piring.
Ku hampiri Anya dan menyentuh pundaknya.
"Aku tahu kamu masih mencintai Dave. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku tahu Dave tidak seburuk yang kamu kira." aku tersenyum padanya.
Dengan gerakan kilat Anya meraih handphonenya. Dia menelepon seseorang.
Siapa?
"Jemput aku di apartemen Flo sekarang." Setelah mengucapkan itu,Anya memutuskan sambungannya.
Astaga, sesingkat itukah?
Aku tahu dia menelepon siapa.
Anya menatapku,lalu aku tersenyum.
"Pergilah, lakukan yang terbaik untuk kalian." ucapku padanya.
Anya berdiri dan memelukku.
"Makasih Flo. Makasih." ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku.
Anya mengurai pelukannya,lalu dia meraih tasnya.
"Aku pergi Flo." pamitnya,kini dia sudah berada di depan pintu. Wajahnya sangat bahagia.
"Have fun!" teriakku saat dia sudah ingin menutup pintu.
Aku tersenyum puas.
Semoga mereka bisa bersama lagi.
Suara notif chat WA menarikku ke dunia nyata.
Ku lirik handphoneku yang berada di atas meja.
Chat dari Kevin.
"Flo tiga puluh menit lagi kamu turun ya, aku otw apart kamu. Kita ke kantor"
Astaga! Aku lupa hari ini hari pertamaku kerja di kantor Kevin.
Langsung saja aku berlari ke dalam kamar.
____
Dave p.o.v
Jreng..jreng..jreng...
"Loving can hurt, loving can hurt sometime."
Bughhhhh
Aku melemparkan bantal yang aku gunakan untuk menutup kepalaku ke arah Albert yang duduk di sudut kamarku.
Dari tadi dia berisik sekali dengan gitar sialan itu. Bernyanyi dan hanya satu bait lagu itu saja yang dia ulang-ulang.
Ingin rasanya aku membungkus dia di dalam karung dan melemparnya ke sungai amazon.
"Lu bisa diam ga sih!" ketusku padanya. Dia tidak tahu apa,aku sedang galau.
"Lu kenapa sih, gua kan cuma nyanyi. Biar bisa ngehibur elu." jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
"Suara lu kaya radio rusak tau ga!" ucapku. Lalu kubalikkan tubuhku di atas kasur yang posisiku tadi tengkurap.
__ADS_1
"Ck, cuma karna Anya ga mau kecan sama lu. Lu galau dari kemarin? Cemen lu!" ucapnya,lalu dia datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Dia tidak tahu betapa berartinya Anya bagiku.
"Lu ga tahu apa yang gua rasain. Gua masih cinta sama dia Al. Gua ga tahu dulu gua punya salah apa sama dia. Tiba-tiba aja dia putusin gua dan pergi ninggalin gua." ucapku dengan terus menatap langit-langit kamarku.
Albert menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.
"Menurut gua sih, dia kecewa sama lu. Lu pernahkan ga kasih kabar sama dia waktu kalian pacaran. Lu tahu, waktu itu dia terus ngehubungi gua buat nanyain lu. Bukan cuma itu, tiap hari dia datang kesini buat nyariin lu. Tapi dia ga pernah ketemu sama lu." mendengar ucapan Albert,aku duduk di atas kasur dan menatapnya.
"Tapi lu tahu kan Al, kejadian waktu itu benar-benar ngehancurin gua. Bukan cuma gua, nyokap, bokap, dan semua keluarga kita." jawabku padanya.
Albert tahu, kejadian waktu itu. Kejadian pilu itu yang membuat aku sedingin sekarang. Kejadian itu yang membuat mamah mengurung diri selama ini.
"Gua tahu Dave. Tapi lu salah, kalau memang lu cinta sama dia, lu ga akan nyembunyiin kejadian itu dari dia. Kalau lu udah anggap dia bagian dari hidup lu, pasti lu akan cerita sama dia. Bukannya menghindari dan ga ngasih kabar sama dia."
Aku terpaku mendengar ucapan Albert. Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Aku memang salah. Aku yang bersalah dalam hal ini. Tidak seharusnya aku menghilang waktu itu. Seharusnya aku menceritakan semuanya pada Anya.
"Hati wanita itu sensitif man. Saat lu ga ngasih kabar sama dia, saat lu ga ngehubungi dia,dia akan ngerasa kalau dia itu ga berarti lagi buat lu. Dia akan berfikir kalau lu udah ga cinta lagi sama dia."
Aihh sejak kapan Albert bijak seperti ini?
Tapi benar juga apa yang dia katakan.
"Ternyata lu bijak juga ya. Padahal lu ga pernah pacaran!" ucapku dengan nada mengejek. Dan seketika batal melayang tepat di kepalaku.
Bugghh
"Kampret! Walaupun gua ga pernah pacaran. Tapi sampai saat ini gua masih mencintai satu orang wanita, dan ga akan pernah di gantikan oleh siapapun!" ucapnya tegas. Albert yang rada eror bisa tegas juga ya.
Aku tertawa melihat wajahnya yang memerah itu.
"Lu yang ****! Ya ungkapin ke dia lah. Lu yang cemen, bukan gua!" ledekku padanya.
"Gua ga berani Dave." katanya lalu dia beranjak dari kasur menuju pintu keluar kamarku.
Hahahahaha
Seketika tawaku pecah mendengar ucapannya.
Seorang Albert tidak berani mengungkapkan perasaannya?
"Ga laki lu! Cemen lu!" ejekku.
Albert mendengus, dan membuka pintu kamar.
"Serah lu mau ngomong apa! Gua habisin milk shake lu ya." ucapnya dengan senyum setan lalu menutup pintu.
Seketika tawaku terhenti mendengar ucapannya.
"Al awas lu ya! Jangan sentuh milk shake gua!" teriakku. Tapi percuma saja dia tidak akan mendengarnya. Karna kamar ini kedap suara.
Ketika aku ingin menyusul Albert. Handphoneku berbunyi.
Astaga! Apa aku sedang bermimpi?
Anya menelponku?
Dengan cepat aku mengangkatnya.
"Ha-
"Jemput aku di apartemen Flo sekarang!"
Tut.. Tut..tut
Astaga sesingkat itukah?
Tapi tadi apa dia bilang?
Menjemputnya?
Sekarang juga?
Setelah sadar akan apa yang di ucapkan Anya. Aku berjalan mondar-mandir di depan kasur.
Ya Tuhan, benarkah ini sebuah kenyataan?
Ceklekkk
Aku menatap ke arah pintu kamarku yang terbuka. Terlihat Albert yang sedang nyengir dengan beberapa milk shakedan banyak buah yang ada di dekapannya.
Astaga! Anak ini.
Tapi,ya sudahlah. Itu tidak penting sekarang.
"Al gua lagi ga mimpikan? Ini gua ada di alam nyatakan?" tanyaku padanya yang kini sudah ada dihadapanku. Ku guncang-guncangkan kedua pundaknya.
Dia hanya mangap-mangap menyeruput milk shake yang tak kunjung masuk ke dalam mulutnya.
"Al bilangin kalau gua lagi ga mimpi!" aku mengguncang pundaknya lebih cepat hingga kepalanya manggut-manggut dengan cepat.
"Ini nyatakan?" tanyaku lagi. Kini aku sudah berhenti mengguncang pundak Albert. Matanya berkedip-kedip seolah-olah ingin pingsan.
"Biasa aja dong kampret! Kepala gua jadi pusing nih! Dan lihat, milk shakenya nyembur kemana- mana." tunjuknya ke arah lantai. Aku nyengir melihat lantai yang sudah basah.
"Lu kenapa sih! Tadi galau. Sekarang kaya orang kesurupan aja lu!" ucapnya yang terdengar kesal. Dia berjalan ke arah sofa dan meletakkan semua milk shake yang ia bawa itu di atas meja.
Aku berjalan ke arahnya.
"Lu tahu, tadi Anya nelpon gua." ucapku dengan cepat.
"Terus?" tanyanya santai,dengan menyilangkan kakinya dan menyeruput milk shake.
"Dia bilang, jemput aku di apartemen Flo sekarang." ucapku sangat antusias.
"Tapi, tapi ini nyatakan Al?" tanyaku untuk memastikan. Karna aku takut ini mimpi seperti hari-hari sebelumnya.
"Ya nyatalah. Masa ia ini di negri dongeng!" ketusnya.
"Ko lu ga senang gitu sih. Anya ngajak gua kencan. Masa ekspresi lu biasa aja sih?" tanyaku padanya. Seharusnya sebagai seorang sepupu dia turut senang bukan? Aku punya harapan untuk kembali padanya.
"Lah truss gua mau gimana lagi David?? Apa gua harus nari Zumba? Atau joget baby shark dudu dudu du, baby shark?" Albert berdiri dan menirukan joget baby shark. Aku mendengus kesal.
"Ya tapi ga gitu juga kali!" ketusku padanya.
"Ya udah pergi sana! Ntar Anya nunggu lama. Dan lu di tinggalin lagi." mendengar ucapannya aku tersadar dan bangkit dari dudukku. Karna tadi aku duduk di atas kasur.
"Astaga, lu bener." aku meraih jaketku yang tergantung manis di dalam lemari.
"Gua pergi ya." pamitku padanya dan meraih handphoneku.
"Ok, good luck boy, gua habisin milk shake lu ya!" ucapnya sedikit berteriak.
"Iya habisin aja. Sekalian sama kotak-kotaknya. Jangan sampai sisa." aku menutup pintu sebelum dia berteriak seperti orang utan.
Di dalam mobil,jantungku benar-benar berdendang ria.
Aku gugup.
Ko bisa gugup ya? Padahal bukan ini pertama kalinya aku jalan dengan Anya. Bahkan aku adalah mantan pacarnya.
Ku tarik nafasku dengan kasar dan menghembuskannya perlahan setelah aku sampai di apartemen Flo.
Setelah melihat mobilku berhenti di depan apartemen Flo,Anya datang menghampiriku dan masuk ke dalam mobil,duduk di sebelahku.
"Maaf, kamu lama ya nunggunya?" tanyaku sedikit kikuk. Anya tersenyum setelah selesai memasang sabuk pengamannya.
"Ga terlalu lama ko."
Astaga!
Hanya dengan dia tersenyum saja ingin membuatku pingsan.
"O..o..ke, kita mau kemana?" rasa gugupku benar-benar tidak hilang.
"Kita ke taman." ucapnya dengan senyum. Aku hanya mengangguk.
Aku tidak tahu kenapa sejak dulu jika berdekatan dengannya jantungku tidak pernah berdetak dengan normal.
Hahh
Tenang.....
Rapalku dalam hati.
Ku lajukan mobil menuju taman tempat kami sering berdua dulu.
Di taman
"Tamannya ga berubah ya?" ucapnya dengan memandangi tiap sudut taman.
Kami berjalan beriringan. Sesekali aku mencuri-curi pandang padanya.
Dia masih tetap seperti dulu. Cantik.
"Taman ini ga akan pernah berubah. Sama halnya dengan perasaanku padamu. Ga akan pernah berubah." ucapku secara spontan dan terus menatap wajah cantiknya. Terlihat semburat merah di pipinya.
"Kamu ga berubah. Masih tetap suka menggombaliku." dia tersenyum mengucapkan itu. Aku merasa kikuk ketika dia menatapku.
Aku tertawa kecil dan menggaruk kepalaku yang tak gatal. Dia mendahuluiku dan duduk di kursi taman yang berwarna kuning.
Aku ikut duduk di sampingnya.
"Terasa sudah sangat lama ya? Terakhir kali kita bertemu disini. Dengan kamu membawa kekasihmu." . Hatiku teriris mendengar ucapannya.
Kekasih katanya?
Aku tidak pernah memiliki kekasih selain dirinya.
Ku hadapkan tubuhku padanya. Ku genggam tangannya erat. Memberi dia keyakinan jika memang aku tidak pernah selingkuh darinya.
"Ann, aku ga pernah selingkuh. Aku ga punya kekasih selain kamu." ucapku meyakinkannya.
"Lalu wanita itu?" dia memalingkan wajahnya dariku. Aku tahu dia tidak ingin menatap mataku.
"Dia itu Becca, saudara sepupuku. Sepupu jauh." terus ku genggam tangannya.
"Ok. Anggap saja itu benar. Lalu kenapa kamu menghindariku? Kenapa kamu tidak memberiku kabar selama berminggu-minggu? Kamu tahu aku khawatir!" suaranya sedikit meninggi,dan kini dia sudah menatapku dengan matanya yang tajam. Tersirat kesedihan di wajahnya.
Aku tidak ingin membuatnya sedih.
Ku lepaskan genggaman tanganku.
Aku menatap lurus ke depan.
Mungkin aku memang harus memberitahunya yang sebenarnya.
Kejadian itu terputar kembali di memoriku.
Flashback on
"Dave, anterin gua yuk."
Clara, saudara kembarku. Terus menarik-narik lenganku memintaku untuk mengantarnya.
"Lu mau kemana sih Clar? Lu ga lihat gua lagi sibuk?" tanyaku tanpa melihat ke arahnya. Aku sedang fokus mengerjakan tugasku dan sekalian tugas Anya, dia memang tidak memintanya. Tapi aku membantunya. Karna aku tahu tugasnya menumpuk.
"Anterin gua ke toko bunga yang dekat taman itu." rengeknya padaku.
__ADS_1
"Gua ga bisa. Minta supir aja yang anterin." aku terus melanjutkan pekerjaanku.
"Pliss Dave, kali ini aja. Ntar gua bantuin deh ngerjain tugasnya." dia terus menarik-narik lenganku hingga tugas yang ku kerjakan tercoret.
Ku hentikan gerakanku dan menatapnya tajam.
"Tugas gua jadi rusak! Ini semua gara-gara lu!" kataku ketus. Tugas ini hampir selesai dan aku harus mengulangnya lagi karna coretan yang panjang.
"Ihh lu nyebelin ya! Lu ngebentak gua!'' suaranya sedikit meninggi. Dan wajahnya sedikit memerah. Dia pergi meninggalkanku.
Astaga. Apa yang sudah ku lakukan?
Aku sudah membentaknya.
"Clar tunggu, Clar!" aku mengejarnya. Aku merasa bersalah padanya. Aku tidak bermaksud untuk membentaknya seperti tadi.
Aku mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Kini dia sudah ingin melajukan mobilnya untuk meninggalkan rumah.
"Clar, maafin gua clar. Gua ga maksud ngebentak lu." suraku terdengar memohon. Namun hasilnya nihil. Dia tetap pergi melajukan mobilnya meninggalkan aku yang terlihat frustasi.
"Arrggghhhh." aku kesal dan menendang pot bunga.
Clara sangat sensitif,dia tidak bisa di bentak. Dia akan menangis dan mendiamiku selama seminggu atau bahkan lebih. Aku tidak bisa di diami olehnya.
Aku menelpon nomornya. Tapi tidak di angkat sama sekali.
Handphoneku berdering,tapi bukan Clara yang memanggil. Melainkan Papah.
"Halo pah, ada apa?" tanyaku sedikit tenang.
"Clara dimana Dave?!" suara papah terdengar khawatir. Apa yang harus ku katakan.
"Itu,pah. Clara pergi keluar." jawabku dengan gugup.
"Dia kemana? Apa dia pergi bersama Alex?"
"Ga pah. Clara pergi sendirian. Dia bawa mobil."
"Dia bawa mobil yang mana?!" ada apa dengan papah? Tidak biasanya papah khawatir seperti ini.
"Mo..mobilnya.." jawabku gugup. Pasti terjadi sesuatu hingga papah seperti ini.
"Astaga Tuhan! Kenapa kamu biarin?!" ada apa ini. Aku benar-benar bingung. Papah tidak pernah melarang Clara membawa mobil. Lalu sekarang kenapa Papah marah?
"Ada apa pah?" jantungku sekarang menjadi tidak karuan.
"Mobil itu remnya blong Dave!!" seketika tubuhku menjadi lemas tak bertenaga mendengar pekikan Papah. Aku berlutut tepat di depan pintu dengan handphone yang ku arahkan pad telingaku.
Clara...
Ku dengar di seberang telepon,seseorang berbicara dengan papah.
"Maaf pak. Ada berita buruk. Mobil nona Clara mengalami kecelakaan."
Masih terdengar jelas suara pekikan Papah diseberang sana.
Kepalaku menunduk. Dan satu tanganku bertapak pada lantai. Aku menangis. Tak kuat menahan kesedihan ini.
Ini semua salahku. Jika tadi aku menuruti permintaannya. Mungkin aku bersamanya sekarang. Mungkin aku bisa menghindarkan dia dari kecelakaan ini.
Aku berdiri dengan sekuat tenaga menuju motorku. Ku lajukan motorku dengan kecepatan maksimal. Mencari dimana tempat kecelakaan itu.
Di sebuah pertigaan yang salah satu arahnya menuju hutan aku melihat banyak orang berkerumun. Dari jauh aku mengenali jika itu adalah mobil Clara.
Aku menghampirinya.
Namun sampai di sana,aku tak menemukan Clara.
Aku bertanya-tanya pada orang-orang yang disana. Tapi mereka mengatakan tidak menemukan siapapun di dalam mobil.
Aku berteriak.
Aku frustasi.
Clara adalah aku. Dan aku adalah Clara. Bagaimana mungkin aku kehilangan diriku.
Semua suruhan Papah dan juga polisi sudah di kerahkan. Namun hasilnya nihil. Tidak ada jejak ataupun tanda-tanda keberadaan Clara.
Aku hancur.
Bukan hanya aku. Mamah. Dia mengurung diri.
Ini semua salahku.
Ini memang salahku.
Aku memutuskan untuk mencari Clara ke hutan. Mungkin saja dia mencari bantuan ke arah hutan saat kecelakaan itu.
Aku berpesan pada semua orang. Jangan pernah katakan apa yang terjadi pada Anya. Aku tidak ingin dia bersedih.
Selama berminggu-minggu aku di hutan mencari Clara. Tapi tetap saja aku tidak menemukannya.
Albert datang menjemputku. Awalnya aku tidak mau. Namun dia mengatakan jika mamah masuk rumah sakit.
Akhirnya aku pulang.
Tiba di rumah, Anya menghubungiku. Dia meminta untuk bertemu di taman. Aku tahu dia pasti khawatir tidak mendapat kabar dariku.
Becca menemaniku karna aku masih dalam keadaan tidak baik saat itu.
Namun aku hancur bersamaan ketika Anya memutuskanku. Dia pergi meninggalkanku dalam kesedihan.
Setelah itu aku dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Karna syok.
Aku tidak sanggup. Di tinggalkan kedua orang yang benar-benar berarti bagiku. Aku hancur.
Flashback end
__
Anya p.o.v
Aku terpaku mendengar cerita Dave.
Ku bawa dia dalam pelukanku. Ku biarkan dia menangis.
Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Kami menangis bersama.
Aku tahu seberapa hancurnya dia menerima pukulan seperti itu.
Clara..
Apa benar dia...
Clara gadis yang baik. Aku sangat dekat padanya. Aku tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi padanya.
"Kenapa kamu ga cerita sama aku? Hiks hiks." tanyaku padanya. Dia tidak menjawab. Dia hanya menyembunyikan wajahnya di balik ceruk leherku.
"Kalau aku tahu yang sebenarnya. Aku ga mungkin ninggalin kamu." masih dengan terus menangis aku mengucapkannya.
"Apa aku ga kamu anggap dalam hidupmu?"
Mendengar ucapanku. Dave mengangkat wajahnya dan terhatlah matanya yang basah. Wajahnya terlihat terluka. Aku tidak sanggup melihatnya.
"Aku hanya ga ingin kamu sedih. Aku ga bisa lihat kamu sedih." ucapannya terdengar bergetar.
"Sama saja kamu membuatku sedih dengan menyembunyikan hal ini." ucapku sedikit meninggi.
"Maaf. Maafkan aku sayang." aku tidak sanggup mendengar dia berkata seperti itu.
Ku tangkup kedua pipinya. Ku tatap matanya dalam-dalam. Aku ingin dia membagi luka yang dia rasakan padaku. Aku ingin merasakan luka itu juga. Agar tidak hanya dia yang terluka.
"Kamu mempercayaiku?" Dave menganggukkan kepalanya.
"Kamu menyayangiku?" dia terus mengangguk.
"Apa aku penting bagimu?" dia mengangguk lagi.
"Berjanjilah untuk tidak mengulangi hal seperti ini lagi. Apapun yang terjadi berbagilah denganku. Karna aku memcintaimu." ucapku penuh keyakinan.
Aku mencintainya. Akan tetap mencintainya.
Aku juga bersalah dalam hal ini. Tidak seharusnya aku meninggalkan dia begitu saja.
Ku pejamkan mataku. Dahi kami bertemu. Masih dengan air mata yang terus mengalir.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi." aku menganggukkan kepalaku.
"Karna aku akan semakin hancur jika kau meninggalkanku lagi. Aku mencintaimu. Dan tidak akan pernah berubah." aku mengangguk lemah. Lemah mendengar suaranya yang begitu rapuh ku rasa.
Ku rasakan sebuah kecupan di bibirku. Kecupan yang begitu lembut yang pernah aku rasakan.
"I love you now and forever." ucapnya yang membuat jantungku berdegup kencang.
Tak pernah berubah. Saat dia mengucapkan kalimat itu, jantungku selalu berdetak dengan cepat.
Perlahan ku pejamkan mataku ketika bibirnya menyentuh bibirku. Ciuman yang aku rindukan.
Aku mencintaimu DAVID PRATAMA.
__
Ku tekan tiap tombol sandi dengan kuat.
Aku kesal. Benar-benar kesal.
Ku dorong pintu. Dan hal pertama yang aku lihat adalah wajah datarnya manusia bunglon itu.
Astaga Tuhan. Maafkan aku karna aku mengatai suamiku.
"Darimana" tanyanya dengan datar. Ralat itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.
"Tidak lihat aku berpakaian seperti ini. Ya dari kantorlah." jawabku dengan nada tak senang.
Axel berdiri tepat di hadapanku.
"Kamu bekerja? Dimana? Kenapa tidak menberitahuku." wajahnya juga terlihat tidak senang.
"Apa pentingnya bagimu. Bukankah kamu yang bilang kalau kamu tidak akan melarangku melakukan apapun?" tanyaku padanya.
Memang benarkan dia mengatakan hal itu.
Kenapa dia bisa lupa.
Dia diam. Tak mampu menjawab?
"Sudahlah. Temui saja kelasihmu itu. Dia sudah menunggumu di lobby." aku berjalan meninggalkannya. Itu yang membuat aku kesal.
Wanita itu. Dengan nada menjijikkannya memintaku untuk memberitahu Axel jika dia ada di bawah.
"Dia merindukanmu katanya. Benar-benar pasangan serasi." itu bukan pujian melainkan cibiran dariku.
Aku terus melanjutkan langkahku menuju kamarku.
Aku lelah. Aku kesal. Aku cemburu.
Jelas aku cemburu.
••••••
__ADS_1