
Axel p.o.v
Aku benar benar sangat benci dengan keadaan saat ini.
Aaarrrggghhh
Rasanya aku ingin teriak sepuas puasnya.
aku benar benar tidak percaya apa yang akan aku alami saat ini.
Bertunangan??
Menikah???
Niat saja belum ada!
Dan Dengan orang yang tidak kukenal???
Ohh Tuhan,apa arti semua ini??
Ingin rasanya aku menolaknya,tapi melihat Mamah, wanita yang aku sayangi menangis dan sedih,aku merasa seperti Malin Kundang saja.
Aku tidak ingin Mamah menangis dan bersedih lagi,cukup kejadian menyakitkan itu yang menguras air mata Mamah.
Aku menyayangi Mamah,aku ingin Mamah bahagia.
Tak pernah kulihat raut wajah bahagia Mamah seperti tadi pagi,setelah kepergian Papah dan saudara kembarku 7 tahun lalu.
Kejadian yang begitu menyakitkan bagiku dan Mamah,sejak saat itu aku berjanji akan selalu membuat mamah bahagia,apapun caranya.
Aku menerima pertunangan ini,hanya karna MAMAH,garis bawahi itu.
Akkhhh sudahlah,
Sibuk dengan pikiranku sendiri,aku tidak menyadari kalau aku sudah sampai disebuah gapura yang bertuliskan UNIVERSITAS KUSUMAJAYA.
Aku memarkirkan mobilku.
Keluar dari mobil dengan wajah yang masih kesal,
Tidak kupedulikan orang orang yang menyapaku.
Bukannya menyombongkan diri,tapi aku sangat dihormati dikampus ini, dan dikagumi hampir semua mahasiswi mahasiswi dikampus ini.
Ntahlah aku tidak mengerti.
Tapi mungkin benar apa yang dikatakan oleh Alex ,itu semua karna aku adalah pewaris tunggal kampus ini.
Iya,Papahku adalah pemilik kampus ini.
Biarpun begitu,aku tidak bangga apalagi sombong.
Apa yang harus disombongkan,ini semua hanya titipan Tuhan bukan?
Orang orang saja yang berlebihan terhadapku.
Dan ucapan Albert yang kadang membuatku jengkel" ya,mungkin karna kegantengan lu diatas rata rata man". Apa apaan coba! Dia pikir aku ini nilai UN gitu? Diatas rata rata? Kalau bukan sahabatku sudah kutenggelamkan dia.
Aku berjalan menyusuri koridor kampus,dengan sapaan dan pujian yang tiada henti kudengar.
Aku pusing jika harus mendengar pujian pujian mereka.
Axel biarpun dingin tapi kegantengannya ga luntur
Ya Tuhan Axel,lihat kesini dong
Axel kapan kamu jadi milikku
Dan masih banyak lagi pujian pujian aneh lainnya.
Ck,aku bukan Tuhan yang harus dipuji,iyakan?
Terus terang aku tidak suka dengan wanita wanita seperti itu. Terlalu agresif menurutku.
Aku terus berjalan menuju kantin,disana pasti sudah ada dua anak curut yang sedang menungguku.
Tepat dugaanku mereka berdua sedang duduk dipojok kantin.
Aku menghampiri mereka,menarik kursi yang ada dihadapan mereka dan mendudukinya.
"Kenapa tu muka datar banget?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Albert.
"Emang pernah muka dia ada lekukannya,bukan Axel namanya kalau wajahnya ada ekspresi."
Mendengar pernyataan Alex,aku menatapnya tajam.
"Iya bener lu bro,kalau wajah dia ada ekspresi pasti karna kesambet penunggu toilet."
Aku mengalihkan pandanganku dari Alex kepada Albert,dan menatapnya tajam.
"Hahahaha"
Bukan aku yang tertawa tapi mereka berdua.
Sialan. Tapi memang benar sih,aku tidak pernah senyum pada siapapun kecuali pada Mamah,pak Deni supir pribadi Mamah,dan Bi Mar.
Kali ini aku tidak ada mood untuk berdebat dengan mereka.
Dan tidak ada tenaga untuk melemparkan tissue atau apalah yang bisa dilemparkan.
Aku pusing dengan apa yang menimpaku.
Aku memilih diam saja.
°°°°°°°°°°°
Alex p.o.v
Ga seperti biasanya Axel seperti ini.
Kalau aku dan Albert mencibirnya pasti dia akan melemparkan sesuatu atau berdebat dengan kami. Tapi ini tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Sebenarnya,dingin,dan datar bukan sifat asli Axel,dia orang yang ceria dan jahil,lebih jahil dari Albert.
Kejadian kejadian menyakitkan yang mengubah dia menjadi seperti ini.
Kami sudah bersahabat sejak SMP jadi aku pasti sudah tau seperti apa sifatnya yang sebenarnya.
Apapun yang dia alami pasti akan diceritakan padaku dan Albert.
Kami sudah seperti saudara.
Aku kembali menatap wajahnya,yang seakan memiliki beban yang sangat berat. Kepalanya mendongak kelangit langit kantin dengan mata yang terpejam
__ADS_1
"Kenapa,ada masalah?
Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Dia membuka matanya menatap aku dan Albert yang siap mendengarkan ceritanya.
"Gua lagi pusing."
"Pusing kenapa? Berasa kaya punya istri dan anak tiga aja lu."
Albert memang seperti itu ceplas ceplos,tapi dia bisa membaca sikon kok,
Tapi apa yang diucapkan Albert itu memang benar,bukan Axel yang akan mengatakan pusing jika hanya tidak menyelesaikan tugas atau mendapat hadiah hadiah dari pengagumnya.
Iya dia sering mendapat hadiah dari mahasiswi mahasiswi pengagumnya dikampus ini,hampir semua loh.
"Cerita aja."
Ucapku dan menyandarkan punggungku disenderan kursi dengan tangan yang terlipat didepan dada.
Dia menghela nafas,panjang...sangat panjang malah.
Sampai sampai Albert mengikuti helaan nafasnya.
Memang sahabatku yang satu ini rada rada gila.
"Helaan nafas lu panjang banget,mau lahiran lu?"
Ck,kan bener yang aku katakan,Albert emang rada gila.
Kalau bukan sahabat gua,udah gua tenggelamin dikali ciliwung serius!
"Lusa,gua bakal tunangan."
Apa??
Tunangan??
Axel???
Lusa??
Hening,aku dan Albert mencerna ucapan Axel.
Dan sedetik kemudian kami berdua tertawa terbahak bahak.
"Hahahahaha"
Suara tawa kami berdua benar benar membahana dikantin ini.
Tiba tiba tawa kami terhenti,bukan karna apa apa, tapi mulutku seperti tersumpal sesuatu,terasa penuh.
Kualihkan pandanganku pada Albert.
Kami saling memandang.
Sialan. Axel memasukkan gorengan yang selalu disediain ibu kantin diatas meja ke dalam mulutku dan Albert.
" lu berdua berisik tau ga!" wajahnya terlihat kesal.
Aku berusaha mengunyah dengan susah payah gorengan yang ada dimulutku,kalau dibuangkan,sayang, tidak baik membuang buang makanan.lain halnya dengan Albert yang mengoceh tidak jelas.
"Huu aha ahaan hih,heh muhu hua hehuh hih.
Sumpah,demi apapun aku benar benar tidak mengerti apa yang dikatan oleh Albert,entah bahasa planet mana aku tidak tau.
Tapi jujur,kalau saat ini ada Nela pasti dia akan tertawa bahagia melihat Albert seperti orang idiot ini.
"Parah lu man,kira kira dong kalau mau traktir kita.jangan paksa gini,mulut gua pegel tau. Kalau Albert sekilo juga muat dimulutnya."
Aku menggerak gerakan mulutku yang terasa pegal.
"Hamfet hu hek."
Kan,aku benar benar tidak mengerti apa yang dikatakannya
"Hah,apaan?gua ga ngerti?"
Kurasa wajahku seperti orang bego karna tidak paham apa yang dikatakan dia.
"Hamfet,hua huhah homoh."
"Hah!lu homo Al?"
Aku bener bener kaget dengan apa yang dikatakan Albert,dia homo??
Bukan cuma aku,tapi Axel juga sama sama kaget sepertiku.
Sahabat kami ini homo???
Ya Tuhan???
Apa karna dia terlalu lama menjomblo?
Wajah Albert memerah padam,ntah marah atau apa kami tidak tau.
"Huhan heho,ihi hohean helhahu haya,"
"Lu ngomong apaan sih?"
Axel menanyakan apa yang ingin kutanyakan
"Hahik,,hahik"
"Lu kenapa,mau apa?"
Axel mencondongkan wajahnya kehadapan Albert.
"Hua huhah homoh hahik uhu."
"Apa?????"
Demi apapun aku dan Axel benar benar kaget.
"Lu homo ama Hahik??"
Suara kami berdua seperti paduan suara benar benar membuat semua pandangan kearah kami.
Yang benar saja Albert homo dengan Hahik,pria sangar itu.
Ya Tuhan apa yang terjadi.
"Hamfet,hahik hahik" dia menunjuk nunjuk mulutnya.
"Lu kok bisa gini sih Al,gua tau lu jomblo akut,tapi ga harus dengan gini lu ngilangin rasa sepi yang lu rasa,lu tobat man!! Jalan lu ini salah!".
Aku memukul punggung Albert,semoga dengan apa yang kulakukan dapat menyadarkan dia,kalau jalannya ini salah.
Bukkk
__ADS_1
Uhukk
Suara pukulan dipunggung Albert bersamaan dengan gorengan yang keluar dari mulutnya.
Plakkk
Plakkk
Dia memukul jidat kami berdua.
"Kampret lu pada!,gua udah mau mati,lu pada masih asik asik bengong."
Albret memonyong monyongkan mulutnya.
Itu pasti pegal sekali.
Aku rasa mulutnya sudah makin melebar itu.
"Sialan lu Xel,kira kira dong,tu gorengan dua gede gede lagi,mulut gua bisa nyampe telinga ntar.''
Kami tidak merespon apa yang dikatakan oleh Albert.
Aku dan Axel menatapnya dengan penuh intimidasi.
Merasa diintimidasi,membuat Albert menatap kami
"Kenapa!"
Pertanyaan seperti pernyataan,sepertinya dia masih kesal dengan kejadian tadi.
"Lu beneran homo sama Hahik??"
Axel menyuarakan pertanyaanku dengan sedikit berbisik
Kami berdua bersiap siap mendengar jawabannya.
Plookk
Plookk
"Kampret,sakit!"
Suaraku dan Axel bersamaan,mengusap kening kami masing masing,karna disentil sama dia.
"Gila lu pada,gua masih normal ya! Tadi tu gua bilang tarik ,bukan Hahik,lu berdua praktekin aja gimana rasanya ngomong dengan mulut yang tersumpal."
Aku dan Axel mengelus dada,lega.
Ternyata sahabat kami ini masih lurus.
Terimakasih Tuhan.
"Emang lu ditunangin ma siapa sih? Pacar aja ga punya!"
Albert membuka pertanyaan pada topik yang sebenarnya.
Ini adalah kelebihan Albert,dia selalu mengingat hal hal yang kadang kita sudah lupa.
Axel hanya mendesah.
"Gua ga kenal tu cewek,tapi gua terpaksa,demi Mamah." ucap Axel dengan lesu.
"Kok bisa terpaksa,kan lu bisa nolak man."
Aku mengernyitkan dahiku.
"Kata mamah Ini permintaan terakhir Papah. Tadi malam gua coba nolak,gua ga sadar suara gua meninggi,Mamah ngerasa gua ngebentak beliau. Mamah nangis,lu berdua tau gua paling ga bisa ngelihat Mamah nangis. Apapun gua lakuin biar Mamah bisa maafin gua."
Mendengar itu aku dan Albert hanya menganggukkan kepala.
"Trus,tante Ambar kenal tu cewek darimana?"
Albert menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk di depan meja.
"Kata Mamah,putri dari sahabat baiknya Papah."
"Sekarang dia dimana?"
"Gua ga tau,males gua nanya nanya tentang dia,gua ga peduli dia dimana dan darimana."
"Lah,kalau dari hutan gimana dong?"
Kalian pasti tau kalau pertanyaan seperti ini berasal dari siapa.
Albert pastinya.
"Lu kata monyet dari hutan?"
Aku memandang Albert
"Kampret,jadi maksud lu gua nikah sama monyet gitu!"
"Bukan gitu maksud gua bro,tadikan lu bilang ga peduli dimana dan darimana tu cewek,ya kali aja dia dari hutan."
Lihat,wajahnya tanpa dosa itu.
Mendengar itu Axel hanya berdecak kesal.
"Kayanya otak lu perlu dicuci dah man.udah kebanyakan karat kayanya."
"Apaan,lu kata otak gua besi karatan segala. Otak Albert Einsten nih."
"Pretttttt!!! Albert Es teller iye!" aku mencibirnya
Jengah dengan perdebatan kami,Axel beranjak dari duduknya.
"Ck,lu berdua masih mau berdebat atau masuk kelas."
Axel berjalan meninggalkan kami.
"Eehhh eehh tungguin Xel."
Albert menyusul Axel dan kemudian aku mengikuti dari belakang.
Tunangan....
Yah,aku setuju setuju saja.
Agar dia tidak terlalu berharap dengan orang yang sudah meninggalkannya begitu saja.
Semoga ini yang membawa Axel yang dulu kembali lagi.
•••••••••••••••
Next part👉👉
Maklum cerita pertama,banyak typo berkeliaran. Semoga kalian menyukainya 😄😄
__ADS_1