Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

Disinilah Flora. Di balkon atas rumah Zack. Dia termenung, pandangannya kosong mengarah ke taman bermain anak-anak. Entah apa yang ia pikirkan.


Sudah tiga hari dia begini. Diam. Kadang Flo hanya tersenyum pahit jika ada yang bertanya padanya.


"Flo sayang. Ayo kamu makan dulu. Dari tadi malam kamu belom makan." Bujuk Lena yang datang membawa nampan berisi makanan untuk Flo.


Magdalena adalah ibu Zack dan saudara kembar dari Margaretta mamah Flora. Wajah mereka sangat mirip hanya satu perbedaan mereka Lena memiliki tahi lalat di atas bibir sementara Retta tidak.


Flo hanya tersenyum tipis pada Lena.


"Flo sampai kapan kamu begini terus sayang?" Lena mengusap lengan Flo dengan lembut. Ia merasa sedih Flo menjadi seorang yang pemurung seperti ini.


Flo tidak merespon. Pandangannya tetap mengarah ke taman.


"Flo kamu tidak maukan Bunda kasih tahu mamah dan ayah kamu tentang keadaanmu sekarang?" Tanya Lena. Mendengar ucapan Lena Flo menatapnya. Matanya melebar.


"Jangan bun. Jangan kasih tau mereka." Jawab Flo dengan wajah memelas. Lena tersenyum ia tahu Flo tidak akan pernah mau memberitahu tahu kepada kedua orangtuanya tentang keadaannya karna itu akan membuat mereka sedih.


"Makanya kamu makan ya. Sedikit saja." Lagi Lena mengucapkannya dengan lembut. Flo menganggukkan kepalanya.


"Tapi Flo punya satu permintaan." Ujar Flo.


"Apa itu? Katakan sayang." Lena mengusap rambut panjang Flo.


"Tolong bunda ceritain semua kisah hingga Flo lahir ke dunia ini. Flo ingin tau semuanya." Ucap Flo yang menatap Lena.


Seketika wajah Lena berubah menjadi khawatir.


"Tidak. Kamu tidak perlu tau tentang itu semua Flo!" Tegas Lena dan membuang pandangannya ke arah lain.


Dengan segera Flo meraih tangan Lena dan menggenggamnya erat.


"Pliss bun. Aku mohon. Ini udah saatnya Flo tau semuanya. Aku udah cukup dewasa untuk mengetahui ini semua. Kenapa kalian selalu menutupinya?" Tanya Flo dengan wajah memohonnya. Namun Lena tetap tidak menggubrisnya.


"Bun pliss." Flo menggoyang-goyangkan tangan Lena." Aku sangat menderita dengan semua rahasia kalian ini." Akhirnya Flo menitikkan air matanya. Tapi Lena tidak mengetahuinya karna pandangannya ke lain arah.


"Bunda." Panggil Flo dan akhirnya suara tangisannya terdengar. Lena menatap Flo dengan rasa bersalah.


"Kamu kenapa menangis sayang?" Tanya Lena.


"Tolong ceritain semuanya bun." Pinta Flo lagi. Lena membawa Flo dalam pelukannya dan mengelus kepalanya.


"Maafkan bunda Flo. Bunda ga ada hak untuk menceritakan itu. Hanya ayah dan mamah kamu yang berhak menceritakan itu sayang." Kata Lena dengan nada sedih.


"Tapi ayah dan mamah ga akan pernah mau mengatakan yang sebenarnya bun. Aku sangat tersiksa dengan semua ini." Ucap Flo dengan tersedu-sedu.


Lena tidak tahu harus mengatakan apalagi. Memang semua rahasia ini Tian dan Retta yang meminta untuk tidak menceritakannya pada Flo. Karna mereka takut itu akan lebih menyakiti Flora.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka di belakang. Lalu orang itu datang mendekat.


"Bunda sebaiknya ceritakan saja semuanya pada Flo. Apa kamu tidak kasihan melihat Flo yang semakin tersiksa seperti ini. Sebenarnya tidak ada baiknya kalian merahasiakan ini dari Flo." Ujar Antonio suami Lena. Lena melepaskan pelukannya dari Flo saat mendengar suara suaminya. Lalu ia menoleh ke belakang.


"Bunda tahu yah. Tapi semua ini adalah permintaan mas Tian dan mba Retta. Bunda bisa apa?" Tanya Lena. Lalu Antonio menatap Flo dan tersenyum padanya seraya mengusap rambutnya.


"Flo kamu tenang saja ayah akan bantu kamu. Nanti ayah akan berbicara pada mamah dan ayahmu agar mereka mau menceritakan semuanya padamu." Ucap Antonio. Dan itu berhasil membuat Flo tersenyum lalu memeluk Antonio.


"Makasih ayah." Ucap Flo dengan antusias. Antonio hanya menganggukkan kepalanya.


Lena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kedekatan Flo dan Suaminya


Antonio dan Lena sudah menganggap Flo sebagai putri mereka sendiri. Mereka sangat menyayanginya. Bukan hanya Flo tapi juga saudara-saudara Flo yang lainnya.


Kadang Zack dan Nathan pura-pura merasa iri pada Flo karna kedua orangtua mereka sangat menyayangi Flora. Tapi itu hanya pura-pura saja karena mereka juga tahu jika orangtuanya melakukan itu hanya untuk menjaga dan melindungi Flora.


Skip


Di kamar Flo tetap melamun. Ia duduk di atas kasurnya dengan kaki yang memanjang dan guling yang ia peluk.


Tok..tok..tok.


Suara ketukan pintu terdengar. Hingga Lena masuk dengan wajah sumringah ia menghampiri Flo dan duduk di sisi ranjang.


"Flo sayang ini mamah kamu ingin bicara. Tapi maaf bunda sudah ceritakan semuanya. Kamu tau kan bunda tidak bisa berbohong pada mamahmu." Ucap Lena pada Flo. Flo mengangguk pasrah mendengar ucapan Lena. Tangannya terulur menerima handphone yang diberikan Lena padanya.


"Halo mah."


"Halo sayang. Gimana kabar kamu?"


"Arin baik kok mah. Mamah apa kabar?"


"Kami semua baik-baik saja sayang. Tadi bunda Lena bilang kamu ketemu Reno lagi ya?"


"Mmm i..iya mah." Dengan lesu Flo menjawab pertanyaan mamahnya.


"Apa yang dia katakan?"


"Dia ingin minta maaf tapi.." Ucapan Flo menggantung.


"Apa kamu dendam padanya?"


"Ga. Arin ga dendam mah. Cuma Arin ngerasa kecewa aja sama dia. Sahabat Arin tega menghianati Arin." Ucap Flo lirih.


"Arin dengar. Mamah tau ini berat nak. Tapi dengan kamu melupakan dan memaafkannya itu akan lebih baik. Mamah tau kamu sangat terluka saat itu. Tapi itulah takdir Tuhan. Berikan Reno kesempatan untuk meminta maaf. Setelah kamu memaafkannya mamah yakin hati kamu akan lebih tenang."


"Iya mah.Arin juga berharap seperti itu. Arin ga mau ada hal yang mengganjal di hati Arin lagi. Arin tersiksa dengan itu semua."

__ADS_1


"Maafkan mamah Arin. Mamah ga bermaksud membuat kamu tersiksa sayang. Mamah dan Ayah hanya tidak ingin kamu terpuruk nantinya setelah mendengar kenyataannya."


"Mah Arin udah cukup dewasa untuk mengetahui alasan sebenarnya. Arin kuat untuk menghadapi itu."


"Baiklah sayang. Biarkan Lena yang menceritakan semuanya padamu. Mamah harap kamu tidak akan membenci mamah dan ayah karna menyembunyukan ini dari kamu."


"Makasih mah. Gak. Arin ga akan pernah bisa membenci mamah dan ayah. Arin sangat menyayangi kalian semua."


"Ya sudah kalau begitu. Minta pada Lena untuk menceritakan semuanya sayang. Mamah tidak akan pernah sanggup untuk menceritakannya padamu."


"Iya mah. Makasih. Arin sayanga mamah."


"Ya sudah. Mamah tutup ya sayang."


Tut..tut..tut..


Wajah Flo seketika menjadi berseri setelah berbicara pada Retta melalui telpon. Lalu Flo memberikan handphone itu pada Lena.


"Ya udah kalau gitu kita makan dulu yuk." Ajak Lena pada Flo dengan senyum tulus.


"Makannya nanti aja bun. Aku mau bunda ceritain sekarang ya?" Ucap Flo.


"Ya sudah. Tapi kamu janji setelah bunda ceritain semuanya bunda harap kamu jangan pernah berubah ya sayang." Pinta Lena pada Flo seraya mengusap pucuk kepalanya. Lena takut Flora yang ia kenal berubah nantinya setelah mendengar kenyataan yang pahit.


Flo menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu ia melipat kakinya menjadi bersila. Dia siap untuk mendengarkan cerita Lena. Walaupun nantinya ini akan menyakiti hatinya tapi ini adalah keputusannya juga.


Lena menarik nafas sedikit pandangannya mengarah pada jendela, seolah ia menerawang kejadian itu.


Flashback on


Dulu ada empat orang pria yang bersahabat. Mereka sangat kompak, selalu ada satu dengan yang lain, dan selalu saling membantu. Mereka adalah Christian (ayah Flo), Robert (papah Axel), Daniel dan Bram. Mereka selalu bersama-sama sejak SMA hingga masuk kuliahpun mereka tetap bersama. Bram sebenarnya bisa dikatakan cupu. Karena ia memakai kacamata bulat yang besar, dia selalu takut pada orang yang ingin mengganggunya dan dia selalu bersembunyi di belakang ketiga sahabatnya yang lain.


Tapi Bram memiliki sifat yang berbeda dari mereka. Dia orang yang tertutup dan tidak pernah terbuka pada sahabat-sahabatnya itu. Meskipun begitu persahabatan mereka tetap seperti biasa hingga pada saat Tian melamar Retta disitulah semuanya berubah.


Bram iri pada Tian karena berhasil memiliki Retta. Sebenarnya Retta dan Tian sudah lama berpacaran tapi mereka tidak pernah memberitahu orang lain kecuali Robert dan Daniel. Sementara pada Bram mereka tidak memberitahunya karena dia selalu saja tidak peduli.


Setelah lulus kuliah Daniel dan Tian membangun sebuah perusahaan bersama-sama, sementara Robert melanjutkan perusahaan orang tuanya karena ia anak tunggal. Mungkin suatu keberuntungan untuk Tian dan Daniel perusahaan yang mereka bangun berkembang dengan baik. Dan itu membuat Bram iri pada mereka.


Bram merasa Tian telah merebut segalanya dari dia. Seharusnya dia yang memiliki Retta, seharusnya dia yang memiliki perusahaan Tian dan Daniel. Hingga suatu hari Bram punya keinginan besar untuk menghancurkan kehidupan Tian.


Di hari pernikahan Tian dan Retta Bram tidak hadir. Dia menghilang bak ditelan bumi. Robert dan Daniel berusaha mencarinya Namun mereka tidak menemukannya.


Satu  tahun setelah Tian menikah dengan Retta mereka memiliki seorang putri bernama Faustina. Mereka sangat bahagia.


Setelah itu Daniel menikah dengan Wulan, dan dikaruniai seorang putri.


Robert dan Ambar menikah tapi masih mengandung buah cinta mereka.


Ketiga sahabat itu sangat bahagia. Dengan kehidupan mereka yang terasa sempurna.


Bram di sambut dengan bahagia oleh ketiga sahabatnya. Namun ia merasa tidak senang dengan kebahagiaan masing-masing dari sahabatnya. Ia bertekad ingin membuat keluarga Tian hancur.


Saat malam perayaan hari pernikahan Tian dan Retta. Bram menjebak Tian bersama Wulan istri Daniel.


Kejadian itu disaksikan Retta dan Daniel langsung. Namun Robert mengetahui bahwa dalang dari semua ini adalah Bram. Dengan emosi yang sudah memuncak Tian dan Daniel mendatangi rumah Bram.


"Loh ada urusan pentingkah sehingga kalian datang kerumahku malam-malam begini?" tanya Bram tanpa merasa bersalah.


Tanpa babibu Daniel segera memukuli  Bram dengan membabi buta. Tian dan Robert segera melerainya.


"Dan kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin." ujar Tian yang menahan tubuh Daniel.


"Tidak ada kepala dingin untuk penghianat seperti dia Tian. Biadab!" Teriak Daniel tepat diwajah Bram.


"Apa yang kau katakan Dan aku tidak mengerti!" ucap Bram berpura-pura tidak tahu.


"Tidak mengerti katamu ********! Kau menjebak istriku untuk tidur bersama Tian. Brengsek!!" lagi Daniel meneriaki Bram.


"Apa yang kau katakan!" ketus Bram.


"Tidak perlu mengelak Bram. Aku mendengar semua percakapanmu dengan pelayan itu. Kau memberikan minuman beralkohol pada Tian dan Wulan." jawab Robert yang menahan tubuh Bram. Setelah mendengar ucapan Robert Bram menghempaskan tubuh Robert. Dan Bram tertawa terbahak-bahak sisi jahatnya telah keluar.


"Bagus jika kalian sudah mengetahui rencanaku. Jadi aku tidak perlu capek untuk menyembunyikannya dari kalian." ucap Bram dengan bangganya.


"Apa maksudmu Bram?" tanya Tian yang sudah melepaskan tubuh Daniel.


"Mmm maksudku?" Bram mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagunya seolah berfikir.


"Aku hanya menghancurkan kehidupanmu!" Teriak Bram dan menunjuk Tian.


Mereka semua terkejut.


"Aku! Apa salahku!?" tanya Tian.


"Kau sudah merebut semua yang ku inginkan. Wanita yang kucintai, Retta." ucap Bram. Mendengar itu Tian merasa geram dan memukul wajah Bram berulangkali.


"Brengsek! Ternyata selama ini kau mengincar istriku!" terus Tian memukuli wajah Bram tanpa ampun hingga bram tak berdaya lagi. Bukannya membalas atau menghindar Bram malah tertawa seperti orang gila.


"Benar-benar sahabat penghianat!" teriak Tian dan melepaskan Bram dari cengkramannya.


"Aku tidak pernah menganggap kalian sebagai sahabat. Kalian saja yang terlalu percaya denganku." Bram tersenyum licik.


Kini Robert yang tidak bisa menahan emosinya. Ia terus Bram dengan membabi buta hingga istri Bram datang melerainya baru Robert melepaskan Bram.


"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Istri Bram yang menangis dengan memeluk Bram yang sudah tersunkur di lantai.

__ADS_1


"Seorang penghianat pantas mendapatkan itu!" ketus Daniel dengan mata yang memerah dan mimik wajah yang menyeramkan. Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan rumah Bram tanpa tahu apa yang terjadi setelahnya.


Tiga minggu kemudian Wulan Istri Daniel positif  mengandung anak Tian. Kenyataan itu menghancurkan hati Retta,Tian,Daniel dan wulan sendiri.


Namun dengan penuh keikhalasan Retta menerima itu semua. Ia tahu suamunya tidaj mungkin berhianat padanya karna Tian begitu mencintai dirinya. Ditambah lagi bahwa mereka dijebak oleh Bram.


Berulangkali Wulan mencoba menggugurkan kandungannya tapi selalu digagalkan Daniel. Wulan tidak menerima kehamilannya ia merasa anak yang ia kandung adalah pembawa masalah dalam hidupnya. Lain halnya dengan Daniel yang dengan bahagia menerima kehamilan Wulan meskipun bukan Benihnya.


Hingga delapan bulan kemudian Wulan melahirkan Bayi perempuan yang cantik dan di berikan nama oleh Tian dan Daniel. Flora nama pemberian dari Tian Chatarina  nama pemberian dari Daniel.


Flashback end


Mendengar cerita Lena Flo tersenyum pahit.


"Jadi itu sebabnya aku di benci oleh ibu kandungku?" gumam Flo dalam hati.


Flo tersentak karena Lena menyentuh pundaknya.


"Flo bunda harap setelah kamu mengetahui semuanya kamu jangan pernah membenci siapapun yang sayang." Lena memeluk Flo.


"Ga bun. Malah Flo tenang bisa mengetahui semuanya. Flo ga akan membenci siapapun." kata Flo masih dalam pelukan Lena.


"Terus om Bram dimana sekarang?" tanya Flo. Lena melepaskan pelukannya.


"Entahlah sayang. Sejak kejadian itu dia menghilang begitu saja." ucap Lena.


Suara seseorang mengagetkan mereka berdua.


"Haloo baby!!" Teriak Zack yang masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Flo dan Lena meringis bersamaan.


"Zack ini bukan hutan! Ga usah teriak-teriak!" ketus Lena pada Zack. Pria itu hanya menunjukkan cengiran kudanya.


"Ehh ada bunda. Maaf bun. Kebiasaan." ucap Zack lalu datang menghampiri mereka dan mencium pipi Lena. Itu adalah kebiasaannya.


Saat Zack ingin mencium pipi Flo. Dengan cepat Flo menimpuk Zack dengan guling yang ia peluk.


"Lu bau! Jangan deket-deket ya!" ketus Flo dengan terus memukuli Zack.


"Ehh..ehh sembarangan. Gua wangi ya." ujar Zack kali ini dia ingin memeluk Flo. Dan berhasil. Itu membuat Flo sesak karena di peluk dengan Erat.


"Bundaaa..." rengek Flo seraya memukul-mukul pundak Zack. Lena yang melihat itu menggelengkan kepalanya.


"Sekarang lebih baik kamu mandi. Jangan cari masalah dengan Flo." ucap Lena yang sedang menjewer telinga Zack.


"Ehh..ehh i..ya..iya bun. Sakit..sakit.. Iya ga lagi kok." Zack meringis lalu melepaskan Flo dari pelukannya. Flo tertawa cekikikan.


"Mandi sekarang Zack!" perintah Lena.


"I..iya bunda. Tapi gimana mau mandi telinga aku bunda jewer terus." ujar Zack. Lalu Lena melepaskan tangannya dari telinga Zack. Zack mengusap-usap telinganya yang terasa panas dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah Flo. Bunda siapin makan malam dulu. Kamu nyusul ya." ucap Lena dengan lembut. Flo menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Sama Flo aja ngomongnya lembut banget." gerutu Zack.


"Kamu itu ga perlu di lembutin!" ketus Lena. Zack hanya menggerutu tidak jelas. Tapi ia tahu bundanya hanya pura-pura mengatakan itu karna Lena kesal dengan kejahilan Zack pada Flo.


"Ya sudah bunda keluar ya." ucap Lena lalu berjalan menuju pintu untuk keluar.


Flo tertawa melihat raut Wajah Zack yang sedang manyun. Merasa ditertawakan Zack melirik Flo dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa lu ketawa!?" kesal Zack. Namun Flo hanya menggelengkan kepalanya dengan terus tertawa.


Zack mendekatkan kepalanya pada Flo ia ingin membisikkan sesuatu.


"Lu tau gak. Tadi gua ketemu calon-suami lu." bisik Zack dengan menekankan kata calon suami. Mendengar itu Flo berhentu tertawa dan matanya melebar.


"Dia bilang apa?" tanya Flo.


Zack menjauhkan kepalanya dari telingah Flo.


"Rahasi!" ucap Zack dengan senyum misteriusnya.


"Zack kasih tau aku dia bilang apa?" tanya Flo penasaran.


"Ga gua ga mau kasih tau. Dah akh gua mau mandi." ucap Zack lalu berjalan menuju pintu.


"Zack! Kasih tau aku dia bilang apa?!" Flo setengah berteriak dia mulai kesal. Lalu melemparkan guling kearah Zack.


Zack tertawa terbahak-bahak.


"Ga akan gua kasih tau." ujar Zack dengan menjulurkan lidahnya. Lalu dia keluar dan menutup pintu.


"Zig-zag awas ya!!" pekik Flo dari dalam kamar. Zack hanya cekikikan di depan pintu kamar.


"ZACK KAMU APAIN FLO!!!" Pekik  Lena dari bawah. Zack meneguk salivanya dengan susah payah.


"Gak ko mah. Ga Zack apa-apain kok." teriak Zack dari atas. Lalu ia berlari menuju kamarnya. Sebelum Lena menghampirinya dan memberikannya semburan lahar panas.


••••••••


TBC


 

__ADS_1


 


__ADS_2