
Drrrtttt
Drrrtttt
Flo mengambil handphonenya yang berada di atas meja, chat dari Kevin. Tangannya bergerak membuka password handphonenya.
Kevin
Udah pulang?
Flo
Blom
Kevin
Aku udah di depan kampus kamu
Aku tunggu disini ya.
Flo
Heii ini baru jam empat
Aku bilangkan jam lima đ
Kevin
Terlalu semangat Flo đđ
Flo
Ck, terserah dah
Aku keluar kelas jam lima
Kevin
Aku akan tunggu đđ
Flo
đđđđ
Kevin
Galak amat babe đ
Melihat Flo yang sibuk dengan handphonenya membuat Nela bertanya. "Flo lu lagi apa sih?sibuk banget kayanya?" Nela sedikit berbisik karena takut ketahuan dosen yang di depan.
"Ga papa, akulagi balas chat temen Ne." Flo juga berbisik.
Dave yang duduk sebelah kanan Flo menggelengkan kepala dan kemudian membuka suara.
"Lu berdua ngegosip mulu. Dengerin tuh dosen, ketauan tau rasa lu pada." Dave juga berbisik. Kalau sampai Dosen itu mendengar mereka sedang ngobrol mereka akan di suruh menjadi asisten dosen selama seminggu, asisten dosen killer, siapa yang mau. Mendengar ucapan Dave Flo dan Nela mendengus kesal.
1 jam kemudian
"Baiklah, kelas hari ini kita akhiri, selamat sore." ucap sang dosen kemudian keluar dari kelas di ikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi yang lain.
"Flo kita pulang bareng, yuk." ucap Nela yang sudah berdiri di hadapan Flo.
"Hari ini Flo bareng gua." seru Dave yang juga sudah berdiri di hadapan Flo.
"Ck, kemarinkan lu udah bareng Flo Dave. Jadi sekarang giliran gua.'' ucap Nela tak mau kalah. Beginilah mereka setiap hari, selalu saja memperebutkan untuk mengantar Flo pulang.
"Tapi kemarin ga jadi. Flo ngilang gitu aja ninggalin gua." Jelas Dave yang terlihat kesal. Flo tertawa dengan menunjukkan cengiran kuda.
"Sorry Dave, kemarin aku buru-buru jadi gak sempat pamit sama kamu. Dan hari ini aku pulang gak bareng kalian dulu, aku di jemput." Ucap Flo yang beranjak berdiri setelah selesai membereskan buku bukunya.
"Di jemput?" Suara Dave dan Nela bersamaan. Mereka terlihat bingung karena tidak seperti biasanya Flo pulang di jemput seseorang. Flo hanya menjawab iya dengan menganggukkan kepalanya.
"Pacar lu ya?'' Tanya Dave dengan senyum misteriusnya.
"Lu punya pacar Flo? Kenalin ke kita dong." Seru Nela dengan ekspresi yang sangat penasaran. Flo mendengus mendengar pertanyan kedua sahabatnya itu yang sangat kepo menurutnya.
"Kalian kepo deh. Bukan pacar tapi temen. Ntar dah aku kenalin ke kalian ya. Bye aku pergi dulu." Ucap Flo yang bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan tangan yang dada-dada.
"Lu percaya Dave?" Tanya Nela pada Dave dengan posisi mereka yang berdiri bersebelahan dan mata mereka yang masih setia menatap punggung Flo yang semakin menjauh.
"Enggak!" Ucap Dave singkat.
"Sama!"
"Tau nggak Ne, ada yang aneh." Kata Dave pada Nela yang kemudian duduk di kursi.
"Aneh? Aneh apanya ?" Tanya Nela penasaran.
"Kemarin gua lihat Axel menarik paksa tangan Flo menuju parkiran dan mereka kayanya pulang bareng."
"Akh serius lu. Gak mungkin. Lu salah lihat kali." Seru Nela yang kemudian ikut duduk di kursi sebelah Dave. Sekarang mereka terlihat seperti ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi.
"Gua gak rabun Ne. Mata gua masih jernih. Gua yakin seratus persen gak salah lihat." Ucap Dave meyakinkan Nela yang masih sedikit tidak percaya.
"Denger gak mereka ngomong apa gitu?" Tanya Nela lagi. Dia benar benar sangat penasaran sekarang.
"Gua gak dengar begitu jelas. Karna jarak gua sama mereka lumayan jauh. Yang dengan jelasnya gua dengar Axel bilang Terpaksa." Ucap Dave menatap langit-langit kelas mencoba mengingat apa yang ia dengar kemarin.
"Janga- jangan mereka ada hubungan. Gimana kalau kita tanya Flo?" Seru Nela yang memalingkan wajahnya menatap wajah Dave.
"Jangan sama Flo. Gua yakin dia gak akan bilang yang sebenarnya." Ucap Dave dan sesaat dia seolah berfikir.
"Trus tanya siapa dong? Axel? Gak mungkin, sampai dinosaurus hidup lagi dia gak bakalan ngaku Dave." Nela tahu betul sifat Axel. Keras kepala.
"Gua tau." Sesaat kemudian Dave tersenyum misterius.
"Siapa?"
"Albert. Kita harus tanya Albert. Hanya dia yang bisa buka mulut di antara mereka bertiga." Dave menatap Nela seolah meminta persetujuan. Tapi Nela malah tergagap.
"Ngg..mmm..lu aja deh yang nanya Albert." Ucap Nela kemudian.
"Kita berdua. Kalau gak lu aja yang nanya, gua yakin Al pasti jujur sama lu." Ucap Dave dengan nada yang serius dan meyakinkan. Sementara itu Nela merasakan pipinya memanas mendengar ucapan Dave. Sebelum Dave menyadari hal itu Nela membuka suara.
"Ck, apa apaan sih. Elu kan sepupunya pasti dia bakalan lebih jujur sama lu." Nela berusaha menutupi kegugupannya. Sebenarnya dia pun tidak tahu kenapa bisa dia secanggung ini hanya dengan mendengar nama Albert di sebut. Mendengar itu Dave yang tidak memperhatikan kecanggungan Nela hanya mengangguk tanda setuju.
Diparkiran
Terlihat di sudut parkiran Kevin sedang berdiri dan menyenderkan punggungnya pada pintu mobil, dengan tangan kiri yang ia masukkan kedalam saku celananya dan tangan kanannya sibuk dengan handphone yang ia genggam.
Flo berjalan kearah tempat Kevin berdiri.
"Heii...maaf lama banget ya?" Tanya Flo merasa sedikit bersalah. Menyadari kehadiran Flo dengan cepat Kevin memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.
"Gak kok. Seharian nunggu kamu juga gak masalah." Kevin tersenyum tulus pada Flo.
"Ok, kayanya kapan-kapan aku harus nguji kamu."Ucap Flo dengan raut wajah yang pura pura serius. Kevin tergelak mendengar penuturan Flo.
"Hahahaha. Oke oke, aku akan tunggu. Tapi sekarang ayo kita pergi karna aku udah lapar." Kevin menarik tangan Flo dan membukakan pintu mobil untuknya setelah menutupnya kembali Kevin berlari kecil mengitari mobil dan masuk menuju kursi pengemudi. Selama perjalan mereka bercerita dengan senangnya.
__ADS_1
"Mmm, Flo kamu mau makan dimana?" Kevin melirik Flo yang kemudian kembali fokus pada jalanan yang di hadapannya.
"Terserah sih. Soalnya aku belum hapal tempat makan yang enak di daerah sini." jawab Flo yang kemudian kembali fokus pada handphonenya membalas chat dari grup yang ia buat bersama Nela dan Dave.
Grup cenayang đťđť
Dave
Hayooo Flo lu bareng siapa tuh?
Nela
Temen lu cakep Flo? Kenalin ke gua dong, kali aja dia kecantol sama gua
Dave
Cihh lu kepedean bu, Albert aja noh kayaknya kalian cocok dahÂ
Flo mana? Keasikan berduaan ampe lupa sama sahabat ndiri?
Nela
Sompret lu Dave, napa jadi bawa-bawa tu ulat bulu sih! Lu mau gua tonjok !
Flo..lu dimana?
Flo
Ada apa? Kalian kangen sama aku?
Ntar deh aku kenalin sama kalian berdua.
Dave
Hmm iya dah
Hahaha lu kok marah Ne, sensi amat tiap kali nama Al disebut
Flo
Jangan-jangan ada sesuatu nihÂ
Nela
Kalian berdua apa apaan sih, gua benci kalau nama tu ulat bulu di sebut
Elu lagi Flo kok jadi ngikut si Dave ngeledek guaÂ
Dave
Dihh ngambek dia.
Jangan marah Ne ntar gua doain lu jodoh sama dia.
Flo
Aminn
Dave
Aminn (2)
Nela
Lu berdua ya nyebelin tau ga!
Dave
Aaa Nelampir berubahhhh
Kabur Flo sebelum kita bonyok
Hahahaha
Nela
Daviddddddd....
Flo tertawa geli melihat isi chat dari grup sahabat-sahabatnya. Melihat itu Kevin mendengus karena Flo tidak menghiraukannya.
"Kayanya asik banget ya? Sampai lupa kalau aku di sini." ucap Kevin kesal. Menyadari itu sontak Flo menyimpan handphonenya ke dalam tas yang ada di pangkuannya.
"Ehh, sorry Vin." Ucap Flo sambil tertawa cengengesan.
"Emang siapa sih? Asik banget kayaknya." Kevin penasaran.
"Sahabat-sahabat aku. Mungkin mereka ngelihat kita tadi di parkiran dan ujung-ujungnya di ledekin." Ujar Flo. Kevin ber Oh ria mendengar ucapan Flo dan masih fokus pada jalanan.
"Kok tadi gak kamu kenalin sama aku. Siapa tau bisa jadi sahabat juga." Kata Kevin yang kemudian memutar setir ke arah kiri memasuki area parkir sebuah restaurant.
"Pengennya sih gitu tapi aku takut kamu kelamaan nunggunya. Lain kali deh." Ucap Flo dengan girang.
"Ok gak masalah. Kita sampai. Yuk turun." Ajak Kevin yang kemudian membuka seatbeltnya lalu turun dari mobil dan di ikuti oleh Flo menuju restaurant.
Sesampainya di dalam restaurant mereka menuju meja yang ada di pojok kiri dari sana dapat di lihat suasana jalan raya yang ramai.
"Silahkan duduk princess." Kevin menarik kursi dan mempersilahkan Flo duduk. Lalu dia duduk di hadapan Flo.
"Makasih." senyum mengembang di wajah Flo melihat perlakuan Kevin padanya. Lalu dia duduk.
"Selamat sore, mau pesan apa mbak mas?" Tanya seorang waiters yang menghampiri mereka.
"Mau makan apa Flo?" Tanya Kevin pada Flo yang membalik-balikkan daftar menu.
"Kamu aja dulu. Aku mau lihat-lihat dulu." Ujar Flo yang masih setia menatap buku menu.
"Busyeett mahal-mahal banget. Harga satu makanan bisa beli lima kardus indomie ini. Gambarnya bagus bagus tapi gak ada yang menggugah selera." Gumam Flo dalam hati.
"Saya pesan soba dan  green tea  hangat ya." Ucap Kevin pada waiters itu dan segera ia menulis pesanan Kevin." Udah dapat Flo?" Kevin menatap Flo yang masih membaca buku menu. Kemudian Flo terlihat kebingungan dan menatap waiters yang berdiri di sebelah meja.
"Mie ayam gak ada ya mba?" Dengan wajah polosnya Flo bertanya seperti itu.
Kevin p.o.v
"Mie ayam gak ada ya mba?" Aku mengedipkan mataku dua kali mencerna apa yang di katakan oleh Flo. Seketika aku tertawa.
Hahahaha
Flo menatapku dengan bingung. Lalu waiters itu berkata dengan menahan tawanya.
"Maaf mba, di sini tidak ada mie ayam. Di sini makanan khas jepang semua."
"Ohh gitu ya."
Ya ampun Flo polos banget sih kamu? Pengen sekali rasanya aku menarik hidung mungilnya itu.
"Mmm ya udah deh saya pesan bihun goreng seafood sama lemon tea dingin ya." Waiters itu menulis pesanan Flo dan membacakan ulang.
"Saya ulangi ya. Mie soba satu, bihun goreng seafood satu, green tea hangat satu, dan lemon tea dingin satu.ada yang mau di tambah lagi?"Tanya waiters. Aku menatap Flo dan ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Itu aja mba." Ucapku
"Baik. Mohon di tunggu ya mba, mas. Permisi" Waiters itu tersenyum dan aku hanya menganggukkan kepala, lalu dia pergi.
"Kok tadi kamu ketawa Vin?" Tanya Flo. Kemudian aku tertawa kembali mengingat kejadian tadi.
Hahaha
"Kamu lucu Flo. Ngapain kamu cari mie ayam di sini. Kamu ga baca di depan itu tulisannya jepun restaurant " Ucapku yang masih menahan tawa.
"Ya aku mana tau. Tadi aku gak sempat baca." Flo mendengus kesal.
Lihat betapa imutnya dia seperti itu. Akan lebih cantik lagi kalau rambut dan behelnya itu di lepas. Aku bingung kenapa dia harus berpenampilan seperti ini. Ingin aku tanya tapi aku takut dia tersinggung dan malah menjauhi ku. Biarkan sajalah toh aku juga suka melihat tampilan dia seperti ini. Aku mandangi wajah cantiknya itu hingga suaranya membuyarkan menarikku ke alam nyata.
"Vin, ngapain sih bawa aku makan di sini? Malah menunya gak ada yang buat aku selera udah gitu mahal-mahal lagi."
Lihat betapa polosnya dia.
"Ya gak papa, lagian itu harga yang normal untuk restaurant seperti ini." Ucapku padanya.
"Normal apanya? Bahkan harga satu porsi makanan aja udah bisa beli mie instan lima box." Flo mendengus kesal.
Ya ampun Flo, kamu polos atau gimana sih. Itu memang harga normal bahkan terbilang murah untuk makanan khas jepang seperti ini. Apa katanya tadi lima box mie instan? Ckckck Flo..Flo.
"Mending tadi kita makan di pinggir jalan. Pecel lele, mie ayam, atau rumah makan padang." Lanjut Flo.
Apa?
Makan di pinggir jalan?
Pecel lele?
Mie ayam?
Rumah makan padang?
Yang benar saja, apa dia sadar mengucapkan itu.
Bukannya aku sombong atau gimana. Tapi jaman sekarang apa masih ada wanita seperti ini?
Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku.
"Ada apa? Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Flo kelihatannya dia sadar dengan raut wajahku yang aneh.
"Gak..gak salah....cuma..." Llihat dia mengedik-ngedikkan kedua alisnya. Aduh ingin rasanya aku menarik kedua pipinya itu." cuma aku bingung aja hari gini, jaman ini masih ada gadis seperti kamu?" Aku balik bertanya padanya.
"Memangnya kenapa?"
Ck Flo, aku yang bertanya malah di tanya balik.
"Ya,, aku heran aja Flo. Kamu tau jaman modren seperti sekarang ini jarang sekali ada gadis seperti kamu yang mau makan di pinggir jalan. Coba kamu lihat, rata-rata pengunjung restaurant ini kebanyakan anak anak remaja. Apalagi yang seusia kamu, pasti lebih dari ini kan?." Ucapku panjang lebar. Flo hanya tersenyum mendengar ucapanku.
"Kamu tau? Selama aku mengenal yang namanya perempuan selain mamah aku, belum pernah aku menemukan perempuan seperti kamu." Aku menatap Flo.
"Maksud kamu aku aneh begitu?" Flo memicingkan matanya.
Aduh Flo berhenti bersikap seperti itu, bisa bisa aku memciummu nanti. Aku benar-benar gemas kenpadanya.
"Bukan..bukan aneh. Tapi unik. Belum pernah aku menemukan wanita sederhana seperti kamu. Kamu tau, semua wanita yang pernah dekat denganku itu, hidup dalam kemewahan. Mereka bahkan tidak bisa hidup tanpa harta." ucapku padanya dan dia hanya tersenyum lalu menegakkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku berbeda dengan wanita wanita yang kamu kenal itu Vin." Ucapnya santai.
Hmm mungkin benar dia berbeda dengan wanita-wanita yang aku kenal. Mungkin ini saatnya aku mengenal dia lebih dalam.
"Memang. Tapi aku punya satu pertanyaan." Kulihat Flo tersenyum mungkin itu kode untuk melanjutkan ucapannku.
"Apa sih yang bisa buat kamu bahagia. Hal apa yang paling membahagiakan bagi kamu?". Flo tersenyum lagi. Hentikan senyumanmu itu Flo. Aku tidak kuat melihatnya.
"Sangat sederhana. Cukup aku tinggal dan di sayangi oleh orang-orang yang aku sayang itu sudah sangat membahagiakan aku."
Good.
Benar dugaanku dia berbeda.
"Masa sih? Tapi semua wanita yang aku tanya jawabannya berbeda denganmu. Meraka bilang hal yang paling membuat mereka bahagia itu adalah ya, punya uang yang banyak, mobil mewah, rumah impian, harta dan ketenaran."
Iya benar, semua wanita yang pernah dekat denganku berkata seperti itu. Mereka mendekatiku karena aku ini pengusaha sukses di usiaku yang terbilang muda.
"Sudah kukatakan Kevin, aku berbeda dengan mereka." Dengan nada yang sangat santai Flo mengucapakan itu.
"Cukup dengan aku di cintai di sayangi dan di inginkan oleh orang-orang yang aku cintai itu sudah sangat cukup membuat aku bahagia. Uang bisa dicari, kesehatan bisa di jaga. Tapi kebahagiaan apa bisa kita membeli atau menukarnya dengan mobil mewah, harta, emas, atau nafas sekalipun? Tidak. Kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya. Harta dan ketenaran itu hanya sementara Vin, itu semua tidak menjamin seseorang untuk bahagia."
Aku termangu mendengar perkataannya, Flo kamu benar-benar berbeda. Aku bangga padamu.
"Tapi itu kebahagiaan versi Flora, gak tau yang lain." Lanjutnya yang kemudian mengedikkan bahunya.
Flo bisakah aku memelukmu?
Husshhh apa yang aku pikirkan, ini belum saatnya Kevin. Bersabarlah.
"Apa saat ini kamu sudah mendapatkan kebahagiaanmu Flo?"
"Aku selalu bahagia dengan caraku sendiri. Tapi di inginkan dan di cintai....." Dia menggantungkan ucapannya.
Kenapa Flo menjadi murung begitu?
Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi? Apa aku membuatnya sedih?
"Flo maaf jika ucapanku tadi membuatmu sedih, aku tidak bermaksud...
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Flo sudah memotongnya.
"Tidak tidak. Sudahlah jangan di ungkit lagi, lebih baik kita makan. Makanannya sudah tiba." Ucapnya kemudian wajahnya berubah menjadi bahagia.
"Silahkan menikmati." Ucap waiters yang menghantarkan pesanan kami.
Aku masih tetap menatap wajah Flo.
Kenapa dia begitu sedih saat akan menjawab pertanyaanku tadi?
Apa ada sesuatu yang ia tutupi?
Tapi apa?
Aku takut jika aku bertanya lagi itu malah membuat dia semakin sedih. Aku tidak suka melihat wajah cantiknya itu bersedih.
Aku ingin selalu membuat dia tertawa bahagia.
Flora, aku menyayangimu. Ehh.
â˘â˘â˘â˘â˘â˘â˘â˘â˘â˘
ă
ă
ă
ă
__ADS_1