
Akhirnya Axel mau menjemput Flo dari apartemennya.
Setelah dipaksa oleh Ambar.
Saat ini Axel dan Flo sedang di perjalanan menuju kampus.
Tidak ada yang membuka suara.
Axel fokus ke depan dengan wajah datarnya.
Sedangkan Flo,sibuk dengan pemandangan diluar kaca mobil.
Dia terlihat bingung dengan jalan yang mereka lalui,baru sekali ini dia melewati tempat ini.
Suasana terasa kaku.
Tiba tiba Axel menghentikan mobilnya.
Flo mengernyit.
"Kok berhenti Xel,kan kita masih jauh dari kampus." Flo terlihat bingung.
"Lu pikir gua sudi satu mobil sama lu? antar jemput lu? Jangan mimpi!! Kalau bukan mamah yang maksa gua ga akan pernah sudi! Jijik gua lihat lu!!" Sinis Axel.
"Sekarang lu turun dari mobil gua." Ucapnya datar.
"Ta..tapi,aku ga tau ini daerah mana. Paling ga kamu turunin aku dijalan yang sedikit ramai gitu." Protes Flo.
"Lu jangan banyak protes! Sekarang lu turun!!" Emosi Axel memuncak.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Flo turun dari mobil,setelah menutup pintu mobil,dengan cepat Axel melaju dengan kecepatan tinggi.
Meninggalkan Flo dipinggir jalan.
Mata Flo menatap sekelilingnya.
Jalanan yang terlihat sangat sepi. Dan banyak pohon pohon dipinggir jalan. Jalanan ini terlihat seperti hutan. Sepertinya tak ada orang yang tinggal disini.
"Ini dimana?" Tanya Flo pada dirinya sendiri.
Ia hanya mendengar suara suara burung yang sahut menyahut.
Dia terlihat kebingungan.
Tiba tiba dia mendengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang.
Srraaaakkkkk
Srraaaaakkkk
Srrraakkkkkkk
Dia menoleh ke belakang,kearah suara itu.
Dia melihat semak semak bergoyang goyang.
Matanya melotot.
Kakinya gemetar.
Peluh bercucuran dari keningnya.
Dia bukannya takut pada orang jahat,preman,rampok atau apalah.
Dia jago karate,pasti dia bisa melawannya.
Yang dia takut jika itu binatang buas,anjing liar,serigala,harimau,singa,atau mungkin beruang.
Srrraaakkkk
Srrraakkkkk
Geerrrrrrrr
Geerrrrrrrr
Mendengar itu Flo berteriak.
"Mamahhhhhhhhhhh.....
Dia berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
Dan muncullah dari balik semak dua ekor kucing yang sedang berkelahi.
Dia tidak menoleh sedikitpun kebelakang,Flo terus berlari.
Hingga dia tidak memperhatikan apa saja yang menghalanginya.
Srraakkkkkk
Tangannya tergores ranting kayu kering yang menggantung ke bawah dari atas pohon.
"Akhhh shit..."pekiknya.
Tepat di bawah siku tangannya berdarah,
Dia mendesis kesakitan.
Dia terduduk di atas rumput,memegangi tangannya yang berdarah,dengan mata tertutup.
Dalam hatinya dia berdoa.
"Tuhan kirimkanlah seseorang untuk menolongku,kalau tidak aku akan dimakan oleh binatang buas itu."
Lalu dia berdiri untuk melanjutkan jalannya.
Dengan mata yang masih terpejam menahan sakit,Flo tidak memperhatikan jalannya.
Baaaabbbbb
Dia terjerembab diatas rumput,kakinya tersandung akar pohon. Dan lututnya terantuk pada batu.
"Akkhhh,," pekiknya.
Dia duduk,kakinya terasa sakit tidak bisa berjalan.
Dia berharap ada seseorang yang menolongnya saat ini.
_______
Kevin p.o.v
Aku mengemudikan mobilku,melewati jalanan sepi ini.
Entah kenapa aku ingin lewat jalan ini.
Sebenarnya jalan ini terkenal angker. Dan jarang sekali ada orang yang melewatinya. Dan bahkan bisa dikatakan dalam satu hari hanya ada satu,dua atau mungkin tidak ada kendaraan yang lewat.
Jalan Melati putih itu namanya.
Namanya saja sudah terdengar angker.
Tapi angkernya disini bukan tentang hal hal mistis. Jalanan ini terkenal dengan begal begal yang berkeliaran dan sadis. Mereka tidak akan segan segan membunuh siapa saja yang mereka anggap mangsanya.
Sudah banyak yang tertangkap tapi tetap saja masih ada yang berkeliaran.
Tidak hanya itu,binatang buas juga sering berkeliaran di sekitar sini.
Aku mengemudikan mobil dengan wajah yang berbinar binar. Tiba-tiba saja aku teringat dengan gadis yang belakangan ini selalu menghantui pikiranku.
__ADS_1
Gadis aneh. Yang kusebut dengan gadis stres.
Bagaimana tidak,setiap aku bertemu dengannya,kami selalu saja beradu mulut.
Tapi aku senang.
Saat pertama kali aku melihatnya yang berlari lari mengejar lift,seperti anak kecil yang mengejar tukang es krim.
Rambutnya yang panjang,matanya yang bulat,bibirnya yang merah membuat aku terpana saat pertama kali melihatnya.
Cantik.
Satu kata itu yang aku gumamkan dalam hatiku ketika pertama kali melihatnya.
Aku kembali bertemu dengannya dilift tapi penampilannya berbeda.
Dia memakai behel dan rambutnya sebahu berwarna hitam pekat.
Awalnya aku tidak mengenalinya,tapi ketika dia mengeluarkan suara,aku baru tau dia siapa.
Dan,tiga hari lalu. Aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukakan.
Aku melihat dia memarahi orang orang banyak yang mengerumuni seseorang.
Semua yang dilakukannya membuat aku terenyuh.
Seketika hatiku melunak mendengar tiap kata yang dia ucapkan. Saat itu aku hanya memperhatikannya dari dalam mobilku yang aku parkirkan tidak jauh dari kerumunan orang itu.
Aku ingin turun dari mobil hendak menolongnya.
Tapi langkahku terhenti melihat orang orang itu sudah membubarkan diri.
Dia sangat hebat.
Wanita pemberani.
Dia tidak takut pada orang banyak hanya untuk menolong seorang anak kecil.
Aku melihatnya mengejar anak kecil itu.
Memasuki gang kumuh,tak lama kemudian aku melihat dia memapah seorang ibu ibu yang berpakaian lusuh.
Menuju klinik,kurasa ibu itu sedang sakit,karna wajahnya yang sangat pucat dan tangannya memegangi perutnya.
Sesaat aku sadar,tidak ada dokter diklinik itu,karna dokter pemilik klinik itu adalah sahabatku.
Aku segera meneleponnya memintanya untuk segera datang keklinik karna ada keadaan darurat.
Dengan cepat dia datang,dia memintaku masuk ke dalam klinik. Tapi aku menolaknya. Bisa bisa aku dihajar oleh gadis aneh itu. Karna dia sudah berjanji untuk menghajarku jika bertemu denganku nanti.
Tapi akhirnya dia melihatku.
Dan akhirnya aku hanya bisa mencari alasan untuk menghindarinya.
Aku terkikik geli mengingat semua tingkahnya yang kuanggap lucu.
Kugelengkan kepalaku untuk membuang semua lamunanku tentang dia.
Aku fokus pada jalanan sepi ini.
Kulihat di depan sana ada seorang gadis memakai baju berwarna hitam sedang terduduk diatas rumput memegangi tangannya.
Sepertinya dia kesakitan.
Seketika aku berpikiran.
Jika itu hanya modus begal begal sekarang. Dengan membuat gadis sebagai umpannya.
Iya,sudah banyak korban seperti itu.
Mobilku semakin mendekat kearah gadis itu.
Bisa bisa aku yang dibegal nantinya.
Pandanganku beralih pada gadis itu.
Mataku melebar melihat gadis itu.
Dia gadis stres yang aku katakan itu.
Dia kenapa bisa ada disini?
Apa mungkin dia juga salah satu komplotan dari begal itu?
Tapi tidak mungkinkan,dengan apa yang sudah aku tau tentang dia tidak mungkin dia orang jahat.
Kuperhatikan wajahnya yang menahan rasa sakit.
Tanpa pikir panjang aku menghentikan mobilku dan keluar dari mobil,kuhampiri dia.
"Heii,kamu ngapain disini?" Tanyaku dan kemudian berjongkok di hadapannya.
Perlahan dia membuka matanya.
Awalnya dia terkejut melihatku.
Kulihat darah yang menetes di tangannya.
"Kamu kenapa?" Aku panik. Benar benar panik melihat apa yang terjadi padanya.
"Tolongin gua. Plisss..." dia meringis kesakitan.
"Ya udah. Ayo masuk ." kataku yang kemudian membantunya berdiri.
Dia memekik kesakitan.
" kenapa?" Tanyaku padanya
"Kaki gua sakit."
Dengan cepat aku menggendongnya,dan membawa dia ke dalam mobil.
Setelah masuk dan menutup pintu mobil aku dengan cepat melajukan mobilku,meninggalkan jalanan sepi itu.
Aku memberhentikan mobilku,setelah kami sampai dijalan yang sudah sedikit ramai.
Aku turun dari mobil mengambil kotak P3K yang aku simpan dijok belakang mobil.
Setelah menemukannya aku membawanya masuk ke dalam mobil.
Aku meraih tangannya.
Membersihkan darah yang menetes.
Mengobati goresan di tangannya,goresan itu tidak terlalu dalam. Tapi banyak darah yang menetes.
Kulihat wajahnya yang sesekali meringis menahan rasa sakit dengan mata yang terpejam.
Sesekali aku meminta maaf,saat dia meringis.
Aku membalut lukanya.
Tapi dia tetap memejamkan matanya.
"Heii,sudah selesai. Ngapain kamu tutup mata terus?"
Mendengar ucapanku dia membuka matanya sedikit mengintip.
"Udah belom?" Tanyanya.
__ADS_1
"Udah dari tadi".
"Darahnya ga ada lagikan?." Tanyanya sedikit ragu.
Aku mengernyit.
""Ya ga lah. Kan sudah saya bersihkan." Ucapku yang jengah dengan pertanyaan konyolnya itu.
Dia membuka matanya. Dan bernafas lega.
"Gua takut darah."
Aku terkekeh kecil mendengar ucapannya.
"Kamu aneh. Sama darah aja takut. Tapi ceritain deh,kok bisa kamu ada disana? Kamu tau tempat itu berbahaya. Banyak begal disana,dan mereka bisa saja membunuhmu jika mereka melihatmu. Dan sering juga binatang buas berkeliaran disana." aku menegakkan tubuhku kearahnya.
"Tadi ada rubah berekor sembilan (gumiho) yang bawa gua kesana. Dia ninggalin gua disana. Gua ga takut sama begal,preman atau perampok. Atau apalah."
Dengan santainya dia mengucapkan itu.
Aku benar benar bingung dengan dia. Dia tidak takut dengan orang jahat? Aneh.
"Ck,dasar aneh. Trus kenapa bisa kamu terluka begini?"
"Tadi gua berkelahi sama kucing,cakar cakaran. Karna gua ga sengaja nyolek dia."
Astaga Tuhan,jawaban apa itu.
Gadis ini benar benar aneh.
"Ck,sudahlah ngomong sama kamu itu ga nyambung tau ga." Aku benar benar pusing sama jawabannya.
"Btw,makasih udah nolongin gua." Pandangannya mengarah padaku dan dia tersenyum.
"Sama sama."
"Dan makasih atas bantuan lu tiga hari lalu.
Tiga hari lalu? Maksudnya?
Aku mengernyit.
Sepertinya dia paham dengan kebingunganku. Dan melanjutkan ucapannya.
"Dokter Reza udah ceritain semuanya kegua. Tapi bagaimana bisa lu tau?"
"Ohh, Reza. Aku melihat semua yang terjadi. Jadi apa salahnya aku membantu?." Aku tersenyum padanya.
"Jadi benar lu nguntit gua?" Dia memicingkan matanya,dan itu membuat dia semakin lucu.
"Hehehe,sorry. Tapikan ga sengaja."aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
Dia mencebikkan bibirnya.
"Udahlah. Gua maafin lu. Karna lu udah nolongin gua dua kali."
Aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya.
"Thanks. Kita belum kenalan. Kenalin, Kevin Jordan." aku menyodorkan tanganku.
"Ok. Flora Chatarina. Panggil Flo aja." Dia menyambut tanganku.
Nama yang indah,bisikku dalam hati.
"Kaki kamu gimana? Masih sakit?" Mataku terarah pada kakinya.
"Oh,udah baikan kok. Gua bisa minta tolong lagi ga?" Dia menatapku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Tolong anter gua kekampus dong." Pintanya.
"Hah! Kampus,kamu terluka. Masa ke kampus. Kamu harus istirahat." Aku menolak permintaannya.
"Ck,gua udah baikan. Lagian hari ini gua ada tugas penting. Ga bisa di tunda. Plisss anterin gua ya." Dia menunjukkan wajah puppy eyesnya itu,membuatku ingin mencubit pipinya.
"Ok. Tapi ada syaratnya." Aku tersenyum misterius.
"Syarat,syarat apaan?"
"Saya minta id line kamu."
Mendengar ucapanku itu,dia memberikanku pelototan yang mengerikan.
"Ga. Gua ga mau ngasih." Flo memalingkan wajahnya.
"Hmm,ya udah. Saya ga akan antar kamu ke kampus. Dan biarkan saja tugas kamu itu."
Sejenak kulihat dia berfikir.
"Ya udah deh. Siniin handphone lu."
Akhirnya,modus ku berhasil juga.
Aku tertawa dalam hati.
Kuberikan handphoneku.
Dia mengetikkan sesuatu. Dan mengembalikan handphone ku dengan wajah jengkelnya.
Aku tertawa geli dalam hati.
"Add ya,jangan diblokir." Ucapku was was.
"Iya akkh. Bawel!"
Kulihat dia mengambil handphonenya dengan wajah kesal.
"Handphone gua mati." Ucapnya dan menunjukkan handphone miliknya padaku.
"Gimana ya. Takutnya nanti kamu malah memblokirnya." aku berpura pura berfikir.
"Ck,gua janji ntar gua add dah,tapi buruan antar gua dulu." ucapnya dengan wajah memohon.
"Ok,ok. Tapi janji di add ya." aku memicingkan mataku.
"Iya bawel!" Ucapnya kesal.
Aku tertawa geli melihat tingkahnya yang seperti anak kecil itu.
Membuat aku gemas saja.
Entah kenapa aku suka sekali membuat dia kesal.
Lucu.
Dan kemudian aku melajukan mobilku. Untuk mengantarnya ke kampus.
Flora Chatarina,gadis aneh,galak tapi lucu.
Aku menyukainya.
••••••••••
__ADS_1