
Saat ini Flora sedang berada dibandara. Mengantarkan kedua orangtuanya.
Terlihat Flora dengan setia merangkul Mamahnya dari samping,dan kepalanya yang disandarkan pada lengan Retta.
"Arin,kalau kamu gini terus gimana Mamah mau pulang?"
Arin tidak menghiraukan ucapan Retta,dia masih setia dengan posisi seperti tadi.
"Dasar kamu ini anak manja ya. Udah umur 22 juga. Bentar lagi kamu akan menikah. Masa ia seperti ini terus.''
Christian mengacak acak rambut Flo.
Flo mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Biarin aja. Aku cuma ga mau jauh dari Mamah dan Ayah. Kita ga pernah sejauh ini."
Flora menangis dan memeluk Retta.
"Arin,udah dong Mamah jadi ga tega nih buat ninggalin kamu."
Retta mengusap punggung Flora yang bergetar karna menangis.
"Apa.. ga bisa.. diundur.. kepulangannya?"
Flora mengucapkan tiap katanya terbata bata ditengah tangisannya.
"Ga bisa sayang,Mamah dan Ayah ga bisa ninggalin adik adik kamu terlalu lama."
Melihat itu Christian benar benar tidak tega dengan putrinya itu.
Memang benar tidak pernah mereka terpisah sejauh ini.
Christian melepaskan pelukan istri dan putrinya itu. Meletakkan kedua tangannya diatas pundak Flora,dan menunduk sedikit untuk menyeimbangkan tubuh mereka.
"Dengarin Ayah. Kamu putri Ayah yang paling kuat dan tangguh. Mandiri,pemberani. Ayah percaya kamu pasti bisa menjalani semuanya. Bukan putri Ayah yang menangis ketika ditinggal sendirian. Bukan putri Ayah yang cengeng seperti ini."
Tiba tiba Flora memeluk Christian dengan erat.
"Maafin Arin Ayah,"
Christian mengusap rambut Flora dengan lembut.
"Sudah. Tidak apa apa. Kamu harus janji sama Ayah jangan cengeng seperti ini lagi. Oke!"
Flora melepaskan pelukannya,
"Arin janji." Ucap Arin seraya menghapus air matanya.
"Arin,nanti kalau ada waktu kami akan berkunjung kesini,atau kamu bisa datang ke Sumatra. Kita bukan terpisah untuk selamanya sayang. Hanya laut yang memisahkan kita. Jangan sedih lagi ya."
Mendengar ucapan Retta,Flora mengangguk.
"Ya udah kalau gitu,Ayah dan Mamah masuk ya. Kamu langsung pulang. Jaga diri baik baik. Jangan lupa berdoa."
Sekali lagi Flora memeluk orangtuanya secara bergantian.
"Mamah dan Ayah hati hati ya. Nanti kalau udah sampai kabarin Arin."
"Iya sayang. Ya udah Mamah dan Ayah pergi dulu. Kamu jaga diri baik baik."
Christian dan Margaretta berjalan meninggalkan Flora.
Flora melambaikan tangannya dengan mata yang sembab.
Dia menunggu sampai pesawat yang ditumpangi orangtuanya berangkat.
"Lindungi Mamah dan Ayah Tuhan. Aku sayang mereka."
Ucap Flora dalam hati.
Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar menemui pak Deni yang mengantar mereka tadi.
Flora masuk ke dalam mobil, pak Deni yang memejamkan matanya tiba tiba menoleh kearah kursi penumpang.
"Maaf ya pak,saya lama. Bapak pasti bosan nunggu saya.
Flora merasa tidak enak pada pak Deni.
"Tidak apa apa Non,saya bisa ngerasain apa yang Non rasain saat terpisah jauh dari orangtua."
Deni tersenyum tulus. Dan dengan perlahan melajukan mobil meninggalkan bandara.
"Kita langsung pulang Non?"
"Iya pak. Langsung ke apartemen aja."
"Baik Non."
"Pak Deni jangan panggil saya Non dong. Saya ga enak tau pak."
"Kenapa? Non Flora itu calon istrinya tuan muda,jadi saya harus memanggil dengan sebutan itu Non."
"Tapi saya tidak suka pak. Panggil saya Flo aja deh."
"Baiklah. Saya panggil Nak Flo saja bagaimana?"
"Nah,begitu lebih baik."
Flo tersenyum tulus pada Deni.
"Mmm,pak Deni udah kenal Axel berapa lama pak?"
Mendengar pertanyaan Flora Deni tersenyum dan masih fokus dengan pandangan lurus kedepan mengemudikan mobil.
"Saya sudah 20 tahun bekerja pada keluarga Kusama. Jadi saya tau bagaimana sifat Tuan muda Nak Flo."
Mendengar itu Flora semakin penasaran.
__ADS_1
"Dia orangnya seperti apa pak?"
"Tuan muda itu orangnya sangat baik. Dia sangat menghargai wanita. Dan sangat sayang pada Nyonya besar. Dia suka menolong orang yang kesusahan. Pokoknya dia orangnya baiklah Nak. Bapak yakin Nak Flo tidak akan menyesal menikah dengan Tuan muda."
Flora tersenyum mendengar perkataan Deni. Dia menatap ke arah luar jendela.
"Semoga saja pak.
Hanya itu yang diucapkan oleh dia.
Satu jam perjalanan dari bandara keapartemen yang ditinggali oleh Flora.
"Kita sudah sampai Nak Flo."
Suara Deni mengagetkan Flora. Dia tersentak.
"Oh,sudah sampai ya."
Flora bergegas ingin turun,dan diikuti oleh Deni.
"Bapak mau kemana?"
"Saya mau mengantar Nak Flo ke atas."
Flo tersenyum.
"Tidak perlu pak. Saya bisa sendiri. Bapak pulang saja,hari sudah mau gelap."
Mendengar ucapan Flora Deni tersenyum. Dan masuk ke dalam mobil.
"Hati hati pak."
Ucap Flora saat Deni membunyikan klakson dan membuka kaca mobil.
Setelah Deni pergi,Flora memasuki lift,menekan tombol 25.
Hanya dia sendiri yang berada di dalam Lift.
Sampai di depan pintu apartemen,dia langsung menekan password apartemen,dan memasukinya dengan wajah lesu.
Setelah mengunci pintu,dia berjalan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Setelah beberapa menit,dia beranjak dari tempat tidurnya,menuju kamar mandi.
Melepaskan semua yang ia pakai,dari ujung kepala hingga ujung kaki.
1 jam kemudian
Flora keluar dari kamarnya,dia hanya mengenakan hotpants berwarna coklat muda dan tangtop berwarna hitam.
Dia berjalan ke arah dapur.
Membuka lemari penyimpanan makanan dan ternyata kosong.
Dia berjalan kearah lemari Es membukanya dan dia mendesah.
"Astaga Tuhan,semuanya habis. Lah gua mau makan apa ini. Malah laper banget lagi!"
Mengambil jaket,handphone dan dompet miliknya yang berada diatas nakas.
Dia berjalan keluar.
Mengunci pintu dan kemudian memasuki lift.
Sampai di ground floor dia berjalan ke arah minimarket yang berada tepat di depan apartemen.
Masuk ke dalam minimarket dan mengambil keranjang kemudian memilih milih apa yang dia inginkan.
Mulai dari mie instan dengan rasa yang bermacam macam,berbagai macam cemilan,bubble gummy dengan lima rasa yang berbeda,dan tidak lupa ice cream rasa coklat.
Keranjang belanjaannya hampir penuh. Lalu dia bergegas menuju kasir.
"Totalnya jadi Rp 150.000 mbak."
"Segitu banyaknya belanjaan gua?". Tanya Flora dalam hati.
Kemudian dia mengambil dua lembar uang dari dalam dompetnya. Uang lembaran seratus dan limah puluh ribu.
Setelah menyerahkannya pada kasir,dia mengambil kantong plastik berisi belanjaannya.
"Terimakasih,selamat datang kembali."
Ucap kasir minimarket itu dan tersenyum.
"Sama sama."
Flora tersenyum dan pergi meninggalkan minimarket itu.
Saat berada di depan apartemen,dia melihat lift terbuka dan seseorang berjalan memasukinya.
Tanpa pikir panjang Flora berlari menuju lift sebelum pintunya tertutup.
"Tungguuuuuuuu!"
Flo berteriak.
Mendengar suara itu mengarah padanya,pria yang berada di dalam lift itu menekan tombol agar pintunya tidak tertutup.
Dengan cepat Flora berlari dan memasuki lift dengan nafas yang tersengal sengal.
Dia duduk di lantai lift.
Melihat Flora dalam keadaan seperti itu,pria itu bertanya.
"Are you okey?"
"Iya..hahh..hahh...ma..makasih.."
__ADS_1
Dengan nafas yang tersengal sengal Flora menjawab pertanyaan pria itu,dia mengatur nafas.
Setelah merasa tenang Flora bangkit berdiri.
Dia menatap pria itu yang terus menatapnya tanpa berkedip.
"Lu kenapa? Ada apa?"
Tanya Flora dengan mata yang disipitkan.
Mendengar itu,pria itu menggelengkan kepalanya.
"Eehhh ngga,ga papa. Justru saya yang bertanya seperti itu. Kamu kenapa lari lari begitu?" Pandangannya lurus ke depan.
"Ngejar lift. Biar ga ketinggalan."
Mendengar jawaban Flora pria itu menoleh kearahnya.
"Ck,kan kamu bisa nunggu dibawah saat saya sudah sampai.atau Memakai lift sebelah."
"Kelamaan kalau nunggu. Kalau lift sebelah itu lelet. Bisa bisa gua mati kelaparan di dalam."
Pria itu menggelengkan kepalanya. Dan menatap belanjaan yang dibawa oleh Flora.
"Belanjaan kamu banyak sekali,kamu bisa menghabiskan itu semua?"
Pria berkacamata itu terheran heran.
Flora jengkel mendengar pertanyaan pertanyaan pria itu.
"Bisa. Gua makannya banyak,jadi kalau lu mau nyulik gua,mikir mikir dulu. Ntar lu bangkrut lagi karna ngehabisin uang buat beli makanan gua."
Flora mengucapkannya dengan nada jengkel dan wajah yang datar.
Pria itu bingung dengan ucapan Flora. Keningnya berkerut.
"Siapa yang mau nyulik kamu?"
"Ya,dari tadi lu lihat lihat gua mulu. Kali aja lu mau nyulik gua. Tatapan lu itu mencurigakan!!!."
Flora memicingkan matanya.
"Ck,dasar gadis gila. Saya nyulik kamu buat apa? ga ada untungnya buat saya."
"Apa! lu bilang gua gila!!."
Flora menatap tajam ke arah pria itu.
Tiba-tiba lift berhenti dan terdengar bunyi ting pertanda sudah sampai.
"Iya lu gila,cewek stressss!!!"
Pria itu keluar dengan cepat saat pintu lift terbuka.
"Awas lu ya....
Belum sempat menyelesaikan ucapannya pintu Lift sudah tertutup kembali.
"Ck,sialan!. Awas aja ntar ketemu bakal gua hajar dia."
Flora mengomel sendiri di dalam lift.
Sampai di apartemen dia langsung menuju dapur. Menyalakan kompor dan merebus mie instan yang dia beli tadi.
Setelah matang dia memakannya sampai habis.
"Thank God. Aku kenyang."
Tiba-tiba handphone miliknya berbunyi.
Dia merogoh handphone dari dalam saku jaketnya.
Dia langsung menggeser tombol hijau,setelah melihat pemanggilnya.
"Halo, Mamah.."
"Hallo Rin,Mamah cuma mau memberi tahu kita sudah sampai dirumah."
"Oh,syukurlah. Tapi Mamah dan Ayah baik baik sajakan?"
"Iya,Mamah dan Ayah baik baik saja. Kamu sudah makan?"
"Udah Mah,baru aja selesai. Ayah mana? Si Abang sama si Adek mana?''
"Ayah lagi mandi. Adik adik kamu sudah tidur. Ya sudah kamu istirahat saja. Besok kamu harus kuliahkan?"
"Iya Mah,kalau gitu Arin istirahat ya."
"Iya,jangan lupa berdoa. Jaga diri baik baik ya. Syalom"
"Iya Mamah. Syalom. Selamat malam."
Setelah mengakhiri percakapannya Flora berjalan ke kamarnya,membuka jaketnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah itu dia berjalan ke arah tempat tidurnya.
Duduk diatas kasurnya,dia membuat tanda salib dan berdoa.
Selesai berdoa dia memadamkan segala cahaya dan menyisakan cahaya dari lampu tidur.
Merebahkan tubuhnya diatas kasur,menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Memejamkan mata dan berharap esok akan menjadi hari yang indah.
••••••••••••
__ADS_1