Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 15


__ADS_3

Sudah lebih dari lima belas menit Flo berada di depan pintu rumah Axel,sudah berkali-kali Flo menekan bel,tapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu untuknya.


Terdengar handphone miliknya berbunyi,ada panggilan masuk. Dengan segera Flo menjawab panggilan itu.


"Halo.."


"Flo,kamu udah dimana?"


"Aku udah di depan rumah mah,"


"Maafin mamah sayang,mamah lagi ke pasar."


"Oh gitu,pantesan aja dari tadi Flo tekan bel,ga ada yang bukain pintu."


"Apa? Jadi kamu masih di luar sekarang?"


"Iya mah"


"Tapi Axel ada di rumah Flo. Kamu tekan aja terus belnya,nanti dia pasti bukain pintunya kok. "


"Ya sudah mah,aku coba lagi ya"


"Iya Flo,bentar lagi mamah pulang kok. Bye Flo.


"Bye mah,hati hati."


Flo mengakhiri percakapannya dengan Ambar,dan kembali menekan bel.


Ting...tong..ting..tong...


Ting...tong..ting..tong...


Ting...tong..ting..tong...


Lain halnya dengan Axel,dia masih tertidur pulas.


Merasa terganggu dengan bunyi bel yang berkali-kali berbunyi,membuat Axel terpaksa bangkit dari tidurnya. Dia menggeram.


"Siapa sih yang datang pagi-pagi gini!" Gerutunya dengan raut wajah yang sangat kesal.


Axel keluar dari dalam kamarnya berjalan menuruni tiap anak tangga dari lantai dua.


Tiba di lantai dasar,masih dengan wajah kesalnya Axel berjalan menuju pintu. Dia menyingkapkan sedikit kain gorden untuk melihat siapa yang sudah mengganggu tidurnya.


Sontak matanya melebar melihat siapa yang ada di luar.


Axel mengepalkan tangannya,rahangnya mengeras.


"Kenapa dia terus yang ganggu ketenangan gua!" Geramnya dalam hati.


Saat Axel ingin memutar kunci,tiba-tiba gerakannya terhenti. Dia terlihat sedang berfikir. Dan kemudian Axel tersenyum sinis.


"Lu udah ganggu ketenangan hidup gua,dan sekarang lu ganggu tidur gua. Lihat aja apa yang akan gua lakuin untuk lu!" Bisik Axel dalam hatinya,dengan smirk yang menyeramkan.


Axel meninggalkan pintu,dan dia berjalan menuju kamarnya.


Di luar Flo masih tetap setia menekan bel.


"Duh,Axel kemana sih. Kok lama banget buka pintunya." Flo menjadi kesal karna sudah terlalu lama menunggu.


Handphonenya kembali berbunyi.


Dengan segera Flo menjawab panggilan setelah melihat siapa pemanggilnya.


"Halo Xel,kamu dimana? Bukain pintunya dong. Aku udah lama di luar."


"Lu ganggu tidur gua tau ga! Lu buka sendiri aja!"


"Tapi aku ga punya kuncinya Xel."


"Ya udah nih kuncinya gua lempar dari balkon atas. Lu berdiri di bawah balkon."


Mendengar ucapan Axel,Flo mengernyit.


"Tumben ngomongnya halus" batin Flo.


"Oh ya udah kamu lempar aja. Aku udah di bawah balkon." Flo berjalan ke arah balkon.


Flo melihat Axel berdiri di balkon.


"Mana kuncinya?" Tanya Flo.


"Tunggu sebentar." Jawab Axel dan kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.


"Ini!" Axel setengah berteriak dari atas.


Mendengar itu Flo mendongak ke arah balkon melihat Axel.


Byyuuurrrrrrrr


Bukan kunci yang diberikan oleh Axel,malah Ia mengguyur Flo dengan seember air dari atas balkon.

__ADS_1


Flo menjadi basah kuyup.


"Lu apa apaan sih Xel?!" Flo setengah berteriak dengan raut wajah kesalnya.


Sekarang dia tidak menggunakan kata aku kamu lagi,karna dia benar benar kesal dengan Axel.


Sementara itu,Axel hanya tersenyum sinis dari atas balkon.


"Itu pelajaran pertama buat lu. Tapi jangan khawatir masih banyak pelajaran lainnya yang gua sediain untuk lu!" Ucap Axel dengam smirk yang menyeramkan.


Plookk


Axel melemparkan kunci tepat dikepala Flo.


"Axel lu brengsek tau ga!" Pekik Flo dan kemudian mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Uppsss sorry, gua sengaja." Ucap Axel dengan santainya tanpa merasa bersalah dengan apa yang sudah Ia lakukan.


Wajah Flo menjadi merah padam. Dia marah. Tentu saja dia marah,coba bayangkan jika kalian yang ada di posisinya sekarang,apa yang akan kalian lakukan?.


Flo tidak mengambil kunci yang terjatuh tepat di bawah kakinya. Dia malah berjalan keluar meninggalkan rumah Axel.


Axel hanya mengedikkan bahunya tanda tidak peduli dengan Flo yang sudah berada di luar gerbang rumahnya. Dia berjalan memasuki kamarnya.


Flora p.o.v


"Axel sialan!!!!" .


Aku berteriak dijalan yang masih di dalam komplek perumahan Mamah Ambar.


Aku tidak peduli dengan tatapan orang orang yang melihatku.


Terserah mereka mau bilang apa,yang penting rasa kesal yang ada di hatiku bisa berkurang sedikit.


Aku keluar komplek,dan berdiri tepat di bawah pohon di pinggir jalan.


Dan menghentikan taksi yang lewat.


Taksinya berhenti tepat di hadapanku.


"Pak,anterin saya ke apartemen tree lakeside ya." Ucapku,yang kemudian berjalan menuju pintu penumpang.


"Ehh,tunggu,tunggu mba."


Aku menghentikan langkahku mendengar ucapan supir taksi.


"Ada apa pak?" Tanyaku sedikit bingung."


"Dalam keadaan seperti ini mba mau naik taksi saya? Tidak tidak,bisa bisa nanti kursi taksi saya basah semua."


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku taksinya sudah pergi.


"Ihhhh nyebelin.....!!!" Aku setengah berteriak dengan menghentak hentakkan kakiku.


"Ini semua karna Axel,awas aja,gua balas lu Axel!!!!!"


Ihhh nyebelin....nyebelin!!!


Kenapa sih semua orang itu nyebelin?


Ingin rasanya aku mencakar cakar wajah Axel,akan kubalas dia nanti,lihat saja.


"Terus gua pulangnya gimana dong?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


Arrggghhh...


Aku benci kamu Axel,lihat saja nanti akan kubalas kamu nanti.


Kusandarkan punggungku pada batang pohon yang ada ditepi jalan,menatap kendaraan yang berlalu lalang,sudah lebih dari dua taksi yang kuhentikan,tapi semua menolak mengantarku. Alasannya sama seperti yang pertama tadi.


Bajuku yang basah kuyup,belum juga kering,sementara aku sudah sedikit kedinginan.


Tubuhku merosot ke bawah hingga aku terduduk diatas akar pohon di pinggir trotoar jalan.


"Nasib gua malang banget ya?" Bisikku pada diri sendiri.


Aku menatap langit yang tidak terlalu terang namun tidak juga mendung. Awan awan putih yang seakan menari nari,aku menatap lekat pada awan itu. Seketika kumpulan awan itu berubah menjadi wajah Axel yang sangat menyebalkan,dia seperti menertawakanku.


Aku menatap tajam wajah Axel,"tunggu saja pembalasanku Axel!" Geramku  dalam hati.


Ingin rasanya aku melemparkan sepatuku ini ke wajah menyebalkannya itu.


_______


Flo duduk di bawah pohon di pinggir trotoar. Matanya menatap tajam kearah langit,entah apa yang sedang ia pikirkan. Seolah-olah ia ingin melenyapkan awan awan itu. Bibirnya yang bergerak gerak tidak jelas seperti itu membuat siapa saja yang melihatnya beranggapan bahwa dia sedang kerasukan jin penunggu pohon itu.


Sebuah mobil berhenti tepat sisi jalan. Terlihat pemilik mobil menekan klakson beberapa kali.


Tin..tin...


Tapi itu tetap tidak membuyarkan lamunan Flo. Pemilik mobil itu keluar dari dalam mobilnya,dia Kevin.

__ADS_1


Kevin menghampiri Flo yang masih tetap seperti posisi semula.


"Flo...Flora..." Kevin melambai lambaikan tangannya tepat di depan wajah Flo,namun tetap saja gadis itu tidak sadar akan kehadiran Kevin.


Kevin terlihat bingung dengan Flo,lalu dia berjongkok di samping gadis itu.


"Flora!!!" Pekik Kevin tepat ditelinga Flo.


Pekikan itu sontak membuat Flo terbangun dari lamunannya dan reflek tangannya memukul wajah seseorang yang mengagetkannya itu.


Bugghh


"Axel sialan!!!"


Suara pukulan itu bersamaan dengan pekikan dari Flo.


Karena terlalu kaget Flo yang sibuk dengan pikirannya terhadap Axel,mengira bahwa yang mengagetkannya itu ialah Axel.


"Uugghh!!". Kevin mengaduh kesakitan ketika pukulan Flo berhasil mendarat tepat di wajahnya.


Setelah sadar dan melihat siapa yang ada  di sebelahnya,mata Flo melebar.


"Kevin!! Ngapain lu di sini?!"


"Akhh,kamu apa apaan sih Flo?" Kevin menangkup pipinya sendiri tepat pada bagian yang di tonjok oleh Flo tadi.


"Ehh,ehh kok jadi lu yang kena tonjok sih? Bukannya si manusia es tadi?" Flo terlihat kebingungan,kenapa bisa ada Kevin di hadapannya? Sementara yang ia bayangkan tadi adalah wajah Axel.


"Manusia es apaan sih. Sakit nih! Kamu kenapa sih,kerasukan penunggu pohon ini!" Ketus Kevin.


"Sorry Vin,sorry...gua ga sengaja." Flo menyentuh pipi Kevin,membuat yang empunya meringis kesakitan.


"Sakit banget ya?" Flo menjadi merasa bersalah pada Kevin.


"Udah,udah. Ga papa. Tapi ceritain ke aku,kenapa kamu ada di sini,dan..kenapa kamu basah kuyup gini?". Terlihat Kevin sangat khawatir.


"Engg...mmm..ehh,itu. Tadi ada hujan lokal di sana." Gugup Flo. Dia tidak ingin menceritakan apapun yang dia alami pada orang lain. Cukup hanya dia yang tahu.


Mendengar penuturan Flo,Kevin mengernyit.


"Hujan lokal? Dimana? Ga ada hujan disekitar sini."


Menyadari kebohongannya,dengan cepat Flo mengalihkan pembicaraan.


"Eehh,ga usah dipikirin deh. Kamu maukan nganter aku pulang? Dingin nih." Ucap Flo dengan wajah yang sedikit memohon.


Kevin masih merasa sedikit penasaran terhadap Flo,kenapa bisa dia basah kuyup seperti ini sementara tidak ada hujan ataupun gerimis di sekitar sini. Tapi rasa tidak teganya jauh lebih besar dibanding rasa penasarannya.


"Ya sudah. Ayo aku antar pulang." Kevin berdiri dan mengulurkan tangannya pada Flo dan di sambut dengan senyuman manisnya.


Di dalam mobil mereka berbincang bincang,sepertinya mereka sudah terlihat akrab.


"Kok bisa sih kamu lewat sana Vin?" Tanya Flo.


"Kenapa? Ga bisa? Lagian itukan jalanan umum Flo." Jawab Kevin seadanya.


"Ia aku tau,itu jalanan umum." Ucap Flo seadanya juga,dan itu membuat Kevin tertawa kecil.


"Rumahku disana Flo." Ucap Kevin dengan pandangan yang lurus kedepan.


"Ehh,tapi bukannya kamu tinggal di apartemen ya?" Flo mengubah posisi duduknya menghadap pada Kevin.


"Bukan. Kamu kira aku tinggal di apartemen?" Tanya Kevin balik.


"Ia,abisnya aku slalu ketemu kamu di apartemenkan?" Posisi Flo masih tetap seperti tadi.


Mendengar itu,Kevin tersenyum.


"Bukan. Yang tinggal di apartemen itu sahabat aku." Jawab Kevin dan melirik ke arah Flo sebentar,lalu fokus kembali pada jalanan di hadapannya.


Flo mengerutkan keningnya,seperti orang sedang berfikir.


"Mmm,Dokter Reza?" Tanya Flo.


"Bukan. Namanya Yoga,dia Dokter juga sama seperti Reza. Kami lebih sering ngumpul di apartemennya Yoga. Bukan cuma ngumpul doang sih,tepatnya lebih sering nginap di sana." Ucap Kevin panjang lebar dan hanya ditanggapi oleh Flo dengan mulutnya yang berbentuk huruf O.


"Sahabat kamu dua duanya Dokter. Kenapa kamu ga jadi dokter sekalian? Ntar bisa buat grup Trio Dokter sehati." Ucap Flo kemudian memberi usul dengan polosnya.


Kevin tertawa terbahak bahak.


"Hahahaha. Kamu ada ada aja ya. Minat tiap orang itu berbeda beda Flo. Aku ga terlalu suka dengan profesi sebagai dokter,aku lebih suka memimpin." Ucap Kevin,dengan terus fokus pada pandangannya di depan.


"Ia sih.." Gumam Flo pada akhirnya.


Setelah mengantarkan Flo,Kevin langsung pamit untuk pergi,karna ada urusan mendadak.


Flo memasuki gedung apartemennya dengan cepat,sebelum banyak orang yang bertanya mengapa dia basah.


••••••••


Baca next partnya ya,,happy reading

__ADS_1


 


 


__ADS_2